
Gania sedang memasak di dapur untuk sarapan ia dan Aditya. Tiba tiba Aditya datang menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang.
" Selamat pagi sayang." Ucap Aditya mencium pipi kanan Gania.
" Pagi Mas, lepas gih! Aku lagi masak." Ujar Gania yang sedang sibuk dengan spatulanya.
" Masak apa sih sayang?" Tanya Aditya.
" Aku masak pecak kangkung sama mau goreng ikan." Sahut Gania.
" Sini aku bantu." Ucap Aditya melepas pelukannya.
" Kamu bantu goreng ikannya saja Mas." Ucap Gania menunjuk ikan gurameh yang sudah ia bumbui.
" Baiklah, pakai penggorengan yang mana?" Tanya Aditya.
" Yang itu aja." Sahut Gania menunjuk teflon yang ada di raknya.
Aditya segera mengambilnya lalu meletakkannya di atas kompor. Ia menyalakan kompor lalu menuangkan minyak ke dalamnya.
" Terus ini gimana sayang? Kapan aku masukin ikannya?" Tanya Aditya.
" Nunggu minyaknya panas Mas." Sahut Gania.
" Oke baiklah." Sahut Aditya.
Aditya menunggu sejenak, setelah minyaknya panas ia memasukkan ikan ke dalamnya.
Sreng....
Aditya langsung berlari terbirit birit saat minyaknya meletup letup. Gania yang melihatnya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
" Mas jangan lari! Katanya mau membantu, kenapa malah lari begitu?" Ujar Gania.
Aditya kembali mendekati Gania, ia menarik tangan Gania menjauh dari kompor.
" Kamu sengaja mengerjai aku ya, kenapa tidak bilang kalau minyaknya bakal meletup hmm?" Tanya Aditya mengelus pipi Gania.
" Aku tidak tahu kalau ternyata kamu tidak pernah memasak selama ini. Aku pikir kamu terbiasa masak sendiri sebelum menikah." Ujar Gania.
" Ya enggak lah sayang, ada bi Ida yang selalu menyiapkan makanku." Sahut Aditya.
Aditya menarik pinggang Gania hingga mengikis jarak di antara mereka. Keduanya saling menatap sampai pada Aditya mencium bibir Gania dengan lembut. Gania mengalungkan tangannya ke leher Aditya, tidak peduli jika tubuhnya bau bumbu dapur. Suara decapan terdengar jelas di dalam dapur sampai...
" Mas bau gosong." Ucap Gania.
__ADS_1
" Ikan kamu." Ucap Aditya.
Keduanya menatap ikan yang ada di dalam penggorengan yang nampak berwarna coklat kehitaman. Keduanya saling menatap lalu tertawa lepas menertawakan kebodohannya.
" Ha ha ha... Bisa bisanya sampai masakannya gosong begini Mas. Kamu mengacaukan segalanya." Ucap Gania mematikan kompornya.
" Jadi nggak bisa di makan deh." Gerutu Gania.
" Ya maaf sayang, aku tidak sengaja." Ucap Aditya.
" Aku goreng yang baru lagi deh, kali ini tidak akan gosong." Sambung Aditya.
" Terserah kamu saja Mas." Sahut Gania.
Keduanya berkutat dengan pekerjaan masing masing. Setengah jam kemudian masakan mereka matang. Gania menatanya di atas meja makan.
" Makan dulu Mas." Ucap Gania mengambilkan sepiring makanan untuk Aditya.
" Terima kasih sayang." Ucap Aditya di balas anggukkan oleh Gania.
Keduanya makan dengan khidmat.
" Mas aku mau bekerja lagi seperti dulu, lagian kamu juga masih bekerja di kantor Mas Arthur kan sampai aku bisa melahirkan penerus keluarga." Ujar Gania.
" Iya sih, tapi aku bosan kalau harus di rumah sendirian saat kamu kerja." Ujar Gania.
" Kamu bisa main ke rumah Arthur kan, kamu bisa menemani Mara di sana." Ucap Aditya.
" Iya sih tapi nggak setiap hari juga Mas." Sahut Gania.
" Aku tetap tidak setuju sayang. Besok pagi aku akan mengantar surat resignmu ke bagian HRD. Kamu di rumah saja istirahat." Ucap Aditya tegas.
" Baiklah Mas terserah kamu saja. Aku akan menurut." Ucap Gania.
" Gadis pintar." Ucap Aditya.
Mereka melanjutkan makannya sambil mengobrol.
" Mas bagaimana dengan kasus Alma? Apa dia sudah tertangkap?" Tanya Gania menatap Aditya.
" Polisi sudah menangkapnya dua hari yang lalu, saat ini dia masih dalam penyelidikan. Aku tidak akan pernah melepaskannya begitu saja, dia harus mendapatkan hukuman yang seberat beratnya." Sahut Aditya menekan gagang sendok sampai bengkok karena saking kesalnya.
" Syukurlah kalau begitu Mas, memang dia pantas mendapatkan semua itu." Ucap Gania di balas anggukkan kepala oleh Gania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di dalam kamar, Mara yang baru saja bangun tidur segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, ia turun ke bawah menuju dapur. Sayup sayup ia mendengar Arthur sedang berbicara pada ibunya.
" Tapi sekarang Mara tambah malas Bu. Jam segini saja dia belum bangun tidur, terus nanti kalau dia bangun paling cuma mandi terus tidur lagi. Aku takut...
" Kalau kamu takut tidak terurus, jangan jadikan aku sebagai istrimu."
Arthur dan bi Ningsih menoleh ke belakang, mereka benar benar terkejut melihat Mara yang berdiri di depan pintu.
" Ya Tuhan pasti Mara salah paham lagi." Batin bi Ningsih.
" Sayang kamu jangan salah paham, Mas..
" Salah paham apa lagi Mas? Jelas jelas aku mendengar keluhanmu kepada ibumu. Apa pantas seorang suami mengadu pada ibunya tentang sikap istrinya?" Tanya Mara menatap Arthur dengan tajam.
" Aku seperti karena siapa? Karena kamu Mas. Seandainya aku tidak hamil, aku tidak akan bersikap semalas ini. Kau yang membuatku seperti ini, dari awal sudah aku bilang kalau aku tidak mau hamil tapi kau tetap memaksaku untuk mempertahankan anak ini." Ucap Mara.
" Mara.. Tidak baik berbicara seperti itu Nak, bayimu sudah mulai bisa mendengar apa yang kamu katakan Nak." Ujar bi Ningsih.
" Memang seperti itu kenyataanya Bu, menyesal aku telah mengandung anak dari putramu." Ucap Mara meninggalkan mereka berdua.
" Kenapa malah jadi salah paham begini Bu? Ya Tuhan Mara... Sejak dia hamil emosinya semakin labil saja." Ujar Arthur.
" Sabarlah Nak! Hormon ibu hamil meningkat membuatnya emosinya tidak stabil." Ujar bi Ningsih.
" Iya Bu. Aku susul Mara dulu." Arthur beranjak dari kursinya menyusul Mara ke kamarnya.
" Sayang." Arthur memutar knop pintu yang ternyata terkunci di dalam.
" Sayang buka pintunya! Kamu salah paham sayang. Bukan maksud Mas seperti itu. Mas minta maaf, Mas memang mengeluhkan sikapmu tapi itu semua karena Mas mengkhawatirkan kesehatanmu sayang. Mas takut dengan kamu menghabiskan waktu untuk tidur, itu bisa mengganggu kesehatanmu dan bayi kita sayang. Mas sedang meminta penjelasan pada ibu untuk menghilangkan kekhawatiran Mas sayang. Tolong buka pintunya!" Ucap Arthur menempelkan telinganya pada daun pintu.
Mara yang sedang duduk di atas ranjang memasang earphone pada telinganya. Ia memutar musik dj india slow membuat hatinya semakin melow. Namun ia tidak terbawa suasana, ia menggelengkan kepala mengikuti alunan musik tanpa terganggu dengan suara Arthur.
Arthur yang di luar menghela nafasnya pelan.
" Pasti Mara memakai headset seperti biasanya kalau lagi marah. Aku akan masuk lewat pintu balkon saja kalau begitu." Monolog Arthur.
Arthur segera kelaur dari rumah. Ia mengambil tangga lalu menyandarkannya pada pembatas balkon kamarnya. Ia menaiki anak tangga dengan hati hati.
Sampai di di atas, ia masuk ke dalam kamarnya pelan pelan. Ia mengelengkan kepalanya saat melihat Mara yang nampak tertidur. Earphone masih menempel di telinganya.
Arthur mendekat ke arah Mara. Ia melepas earphone yang di pakai Mara dengan hati hati. Ia menyelimuti Mara hingga batas dadanya lalu mencium kening Mara dengan lembut.
" Maafkan Mas sayang yang telah melukai hatimu." Gumam Arthur.
TBC....
__ADS_1