AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
PINDAH RUMAH 2


__ADS_3

Sampai di halte bis, Mara bertambah kesal karena harus berhimpitan dengan calon penumpang lain. Ia terlihat sangat risih karena badannya bertubrukkan dengan yang lainnya. Melihat itu Arthur segera pasang badan, ia memutar tubuh Mara menghadap ke arahnya lalu ia menarik Mara hingga wajah Mara membentur dada bidangnya.


" Aku akan membuat perhitungan padamu Bang karena telah membuatku menderita seperti ini." Ucap Mara kesal sambil menghentak hentakkan satu kakinya.


" Inilah kehidupanku Nona Mara, kau harus terbiasa dengan semua ini." Ujar Arthur.


" Aku nggak sudi jika harus mengikuti hidupmu yang serba kekurangan ini. Kalau miski ya miskin aja. Jangan ngajak ngajak aku! Baru pertama kali ini aku menemukan pria yang tega menarik istrinya ke dalam kemiskinan. Aku akan mengutukmu Bang, aku berdoa semoga hidupmu tidak bahagia. Kau tidak akan menemukan kebahagiaan, apalagi hidup bersamaku. Kau akan menyesal karena telah menikahiku." Gerutu Mara.


Arthur memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menjalar di dalam hatinya. Ucapan Mara benar benar menusuk hatinya.


" Jika aku tidak bahagia, tidak apa apa aku terima dengan lapang dada. Asalkan kau bahagia selamanya Nona Mara." Sahut Arthur membuat Mara bungkam.


Brugh...


" Awh." Pekik Mara saat bahunya tertubruk penumpang lain. Rupanya bis yang hendak mereka tumpangi sudah datang.


" Nona Mara ayo masuk!" Ucap Arthur.


Mara membalikkan badannya lalu menatap bis yang berhenti di depannya itu. Penuh, sesak dan banyak dari mereka yang berdiri sambil berpegangan pada pegangan yang ada.


" Ayo keburu bisnya jalan!" Ajak Arthur menggandeng tangan Mara.


" Nggak mau!" Ucap Mara menahan langkahnya.


" Menurutlah Nona Mara! Ini bis terakhir yang bisa mengantarkan kita ke rumah." Ujar Arthur.


" Aku nggak mau berdesakan dengan mereka, kita naik taksi saja." Ujar Mara.


" Taksi tidak boleh masuk ke area pedesaan rumahku, karena akan merusak jalanan desa yang masih alami." Ucap Arthur.


" Sebenarnya kamu mau membawaku kemana sih? Ke pelosok desa atau ke hutan belantara hah? Kau benar-benar membuat hidupku sengsara. Nyesel aku nikah sama kamu." Cebik Mara.


Tiba tiba Arthur menarik paksa tangannya lalu masuk ke dalam bis.


" Aku tidak mau." Ucap Mara membuat semua penumpang menatap ke arahnya.


" Diamlah! Kau membuat kita jadi pusat perhatian." Ucap Arthur.


" Biarin saja! Aku tidak mau naik bis jelek ini. Apa kamu tidak lihat tempat duduknya sudah penuh? Bahkan mereka harus berdiri seperti ini, aku tidak mau berdesakan dengan mereka atau aku akan muntah. Membuat perutku mual saja." Cebik Mara.


" Kau sombong sekali Nona, kalau tidak mau naik bis ya naik mobil saja. Kalau naik mobil anda bisa santai tanpa harus berdesakan sama kami." Ucap salah satu penumpang.


" Mohon maaf! Istriku tidak terbiasa naik bis jadi dia merasa tidak nyaman." Ucap Arthur.


" Bagaimana aku bisa nyaman kalau harus berdesakan gini." Ujar Mara.


Mara menatap penumpang yang mencibirnya tadi.


" Harusnya kamu bilang tuh sama pria miskin ini! Sudah tahu aku nggak nyaman naik bis masih juga di paksa." Ucap Mara kesal.


" Mungkin suamimu tidak punya duit buat beli mobil Nona, tampang aja yang tampan tapi dompet bolong." Sahutnya sambil tertawa.


Arthur hanya diam saja, ia tidak peduli dengan penilaian orang terhadapnya.


" Aku mau turun." Ucap Mara.

__ADS_1


" Tidak bisa! Diamlah di sini atau aku akan mengadukan sikapmu yang telah mempermalukan suamimu ini kepada papamu." Ancam Arthur menahan bahu Mara.


" Bisanya cuma mengancam." Kesal Mara menepis tangan Arthur.


Arthur tersenyum menatap Mara. Bis mulai melaju meninggalkan halte, tubuh Mara terhuyung membuat Arthur menarik ke arahnya. Arthur melingkarkan tangannya ke pinggang Mara.


" Lepas!" Bisik Mara.


" Diamlah atau kau akan jatuh." Ucap Arthur membuat Mara diam.


Bis melaju semakin jauh, sampai di persimpangan jalan tiba tiba...


Huek....


Mara muntah tepat mengenai jaket yang di kenakan oleh Arthur.


" Pak berhenti Pak!" Ucap Arthur pada pak sopir.


Pak sopir pun menghentikan bisnya di tepi jalan.


" Maaf saya harus turun." Ucap Arthur.


" Ayo Nona!"


Arthur menggandeng Mara turun dari mobil setelah membayar ongkosnya. Setelah turun Mara kembali memuntahkan seisi perutnya.


Huek... Huek...


Dengan sigap Arthur memijat pelan tengkuk Mara.


" Kamu di sini saja! Aku akan membelikan minum untukmu." Ucap Arthur meninggalkan Mara.


Arthur melepas jaketnya lalu membuangnya ke tempat sampah yang ia lewati. Ia menuju minimarket yang ada di seberang jalan. Ia masuk ke dalam membeli minuman bersoda berwarna putih yang di percaya bisa mengobati orang mabuk.


Setelah mendapat apa yang ia mau, ia kembali ke tempat dimana ia meninggalkan Mara.


" Kemana Mara?" Gumam Arthur mengerutkan keningnya saat mendapati koper Mara saja tanpa tahu Mara kemana.


" Ya Tuhan kemana istriku? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Ujar Arthur cemas.


Arthur segera mengambil ponsel di saku celananya, lalu ia menelepon Mara.


Panggilan tersambung namun Mara tidak mengangkatnya.


" Mara angkat donk sayang! Jangan membuatku khawatir seperti ini." Monolog Arthur celingak celinguk mencari Mara.


Arthur kembali menelepon Mara untuk yang ketiga kalinya namun lagi lagi Mara tidak mengangkatnya.


" Ya Tuhan kemana Mara pergi sih? Kenapa dia meninggalkan kopernya di sini?" Ujar Arthur menarik kasar rambutnya. Ia nampak frustasi.


Tin... Tin..


Sebuah mobil pagero baru berhenti tepat di depan Arthur. Arthur mengerutkan keningnya menatap mobil berwarna hitam tersebut.


Kaca mobil turun dengan sendirinya, Arthur menatap sang pengemudi yang tak lain adalah istrinya.

__ADS_1


" Nona Mara." Gumam Arthur.


Mara turun dari mobil lalu menghampiri Arthur.


" Pakai mobilku untuk sampai ke rumahmu. Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan mau ikut denganmu. Aku akan pergi sendiri ken suatu tempat dimana kamu tidak akan bisa menemukan aku Bang." Ucap Mara penuh penekanan.


" Kamu membeli mobil ini?" Tanya Arthur memastikan.


" Ya, dan jangan sampai kau mengadukan hal ini pada Papa! Atau aku akan membuat perhitungan padamu." Sahut Mara.


" Aku akan pergi dan membuat seolah olah aku di culik oleh seseorang. Papa pasti akan marah padamu karena kamu tidak bisa menjaga aku dengan baik." Sambung Mara membuat Arthur menggelengkan kepala.


" Astaga... Istriku ini benar benar genius. Bisa bisanya dia membeli mobil hanya karena mabuk saat naik bis. Hah tingkahnya membuat aku merasa gemas, jadi semakin cinta." Batin Arthur.


" Mau atau tidak?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Baiklah aku mau." Ucap Arthur.


" Kali ini aku akan mengalah daripada Mara tidak mau ikut denganku." Batin Arthur.


Arthur memasukkan koper Mara ke dalam mobil sedangkan Mara masuk ke dalam mobil di susul Arthur yang duduk di kursi kemudi. Ia melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Empat puluh lima kemudian, Arthur sampai di sebuah pedesaan yang masih nampak asri. Rupanya Arthur membawa Mara ke puncak dimana perkebunan teh melintang luas mengelilingi rumahnya. Rumah satu satunya yang jauh dari tetangga. Arthur sengaja memilih rumah ini karena ia yakin jika akan banyak keributan yang di timbulkan Mara. Ia tidak mau keributan itu di dengar oleh tetangga lainnya.


" Setahuku rumahmu bukan di sini Bang." Ujar Mara saat Arthur menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana namun nampak mewah.


" Ini rumahku yang aku beli dari hasil keringatku sendiri. Mulai sekarang kita akan tinggal di sini." Ujar Arthur.


" Terserah kau saja Bang, aku protes pun tidak ada artinya." Sahut Mara malas berdebat.


" Ya sudah ayo turun!" Ucap Arthur turun dari mobil.


Arthur memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Mara. Mara segera turun dari mobilnya, ia menatap ke sekeliling yang nampak sepi.


" Kenapa rumah ini hanya sendiri? Kenapa tidak memilih rumah yang banyak penduduknya?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Karena aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja tanpa adanya gangguan dari orang lain." Sahut Arthur mengerlingkan sebelah matanya.


" Ganjen." Cebik Mara.


" ayo masuk!" Arthur menggandeng tangan Mara masuk ke dalam rumahnya.


Sampai di dalam Mara mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Ruangan yang lumayan cukup besar dengan ukuran tiga kali tiga, dan tatanan rumah yang rapi membuat rumah terasa nyaman.


" Semoga kamu betah tinggal di sini." Ucap Arthur.


" Kita lihat saja." Sahut Mara


" Oh ya rumah sekecil ini tapi tetap ada pelayannya kan?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Tidak, semua pekerjaan rumah harus kamu sendiri yang mengerjakannya."


" Apa???"


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2