
Hari ini Mara, Arthur, bi Ningsih dan pak Jaka sedang dalam perjalanan menuju kota Solo yang ada di provinsi Jawa tengah. Adik dari bi Ningsih mengadakan hajatan menikahkan anak mereka, daripada di rumah sendiri Mara memilih untuk ikut.
Mara nampak sangat kesal karena kedua mertuanya menolak untuk naik pesawat, alasan mereka karena takut. Akhirnya mereka mengendarai mobil untuk sampai ke kota tersebut.
" Sayang jangan cemberut gitu donk!" Ucap Arthur menggenggam tangan Mara.
" Maaf Nak Mara, gara gara ibu sama bapak kamu jadi capek naik mobil." Ucap bi Ningsih.
" Sudah lah Bi tidak masalah." Sahut Mara.
Arthur menghela nafasnya pelan.
" Sayang, biasakan memanggil ibu dengan sebutan ibu. Tidak pantas jika nanti keluarga ibu mendengar panggilanmu." Ujar Arthur.
" Hmm." Gumam Mara menatap keluar jendela.
Di tengah perjalanan Arthur menghentikan mobilnya di sebuah restorant untuk makan siang.
" Ayah, ibu, kita makan siang dulu sambil istirahat." Ucap Arthur.
" Baiklah." Sahut bi Ningsih dan pak Jaka turun dari mobil.
Arthur menatap Mara yang nampak diam saja.
" Ayo sayang kita turun! Sekalian kita sholat dhuhur dulu." Ucap Arthur.
" Aku lagi dapet, dan aku juga masih kenyang. Kamu sama mereka aja yang makan." Sahut Mara.
Lagi lagi Arthur menghela nafasnya pelan, ia jadi tahu kalau ternyata Mara sedang masa PMS.
" Nanti kalau di sini kamu kepanasan, nggak mungkin kan kamu nyalain AC. Lagian kamu pasti lapar, perjalanannya masih enam jam lagi sayang, apa kamu yakin bisa menahan lapar selama itu?" Ujar Arthur dengan lembut.
" Apa? Enam jam? Yang bener aja Mas, kita hanya membutuhkan waktu satu jam jika naik pesawat." Gerutu Mara.
Bi Ningsih dan pak Jaka saling melempar pandangan.
" Sayang kamu membuat ayah sama ibu semakin merasa bersalah." Bisik Arthur.
" Bodo' amat." Ketus Mara.
" Turun sekarang atau Mas tinggal kamu di sini, sana pulang ke Jakarta sendiri." Bisik Arthur penuh penekanan.
" Ckk... Bang Arthur rese'." Cebik Mara.
Arthur menutup kaca mobilnya lalu...
Cup...
Mara membulatkan matanya saat Arthur mengecup pipinya.
" Sialan lo Bang!!!" Mara memukuli dada Arthur.
Cup...
Kali ini Arthur mengecup kening Mara. Mara langsung membuka pintunya keluar dari mobilnya. Ia menutup pintunya dengan keras.
" Ayo Yah, Bu kita masuk!" Ucap Mara menggandeng tangan bi Ningsih dan pak Jaka.
Bi Ningsih dan pak Jaka saling melempar tatapan. Sedangkan Arthur menyunggingkan senyuman lebar di bibirnya melihat semua itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Selesai makan siang, Arthur kembali melanjutkan perjalanan.
" Sayang kalau kamu mengantuk, bersandar di pundak Mas tidak apa apa." Ujar Arthur.
" Nggak Mas." Sahut Mara.
Mara memasang headset di telinganya. Ia memutar musik pada ponselnya, ia nampak menggelengkan kepala mengikuti alunan musik. Tak terasa ia terlelap begitu saja. Melihat itu Arthur menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia memakaikan bantal pada leher Mara lalu kembali melajukan mobilnya.
Jam tujuh malam Arthur sampai di kediaman bibinya. Bi Ningsih dan pak Jaka turun lebih dulu, sedangkan Arthur membangunkan Mara.
" Sayang bangun! Kita sudah sampai." Ucap Arthur menepuk pipi Mara dengan pelan.
Mara mengerjapkan matanya.
" Aku baru saja memejamkan mata Mas, kamu sudah membangunkannya. Kepalaku jadi pusing." Ujar Mara.
Ya Mara kembali tidur setelah Arthur berhenti untuk sholat maghrib.
" Kamu bisa melanjutkan tidur di dalam nanti. Badanmu akan sakit semua kalau kelamaan tidur di sini." Ujar Arthur.
" Malas ah, di dalam pasti aku nggak bisa tidur." Sahut Mara menyandarkan kepalanya sambil memeluk Arthur.
Arthur menggelengkan kepala melihat tingkah Mara. Ia mengelus kepala Mara sambil sesekali memainkan rambutnya.
Tak lama seorang gadis seumuran Mara menghampiri mobil mereka bersama temannya.
" Mas Arthur... Mas Arthur." Teriaknya memanggil Arthur.
Mara yang memejamkan mata pun kembali membuka matanya.
" Siapa sih Mas berisik banget." Gerutu Mara membenarkan posisi duduknya.
" Cie Mas Arthur kembali, lihatlah Vida sudah sedari tadi menunggumu." Ucapnya.
" Gania, jangan bicara seperti itu! Nanti kakak iparmu bisa salah paham." Ujar Arthur.
" Lagian Mas Arthur begitu sih, sudah tahu Vida suka sama Mas Arthur sejak dulu e malah Mas Arthur menikah sama gadis lain." Ujar Gania. Anak dari bibinya Arthur.
Mara menatap Arthur dan kedua gadis itu bergantian.
" Norak banget sih jadi cewek." Gumam Mara yang masih bisa di dengar Arthur.
" Mas Arthur di minta bibi untuk masuk ke dalam." Ucap Vida sopan.
" Kalian duluan saja, istriku masih ingin di sini meluruskan pinggang dan kakinya karena pegal seharian duduk di mobil." Ujar Arthur.
" Baiklah, mari Mas." Vida menarik tangan Gania masuk ke dalam.
Arthur menatap Mara yang nampak jelous.
" Itu tadi Gania dan Vida. Gania adalah anak dari bibi Hanum. Sedangkan Vida tetangga sebelah sekaligus temannya Gania. Maaf jika ucapan Gania membuatmu tidak nyaman." Ucap Arthur.
" Aku mah bodo' amat dia mau bilang apa. Kalau kamu suka sama cewek tadi, aku juga tidak apa apa." Sahut Mara.
" Dan ya... Aku salut dengan sambutan yang di berikan keluargamu. Sambutan dari dua gadis yang sangat sopan itu." Sindir Mara kesal.
Entah apa yang membuatnya kesal, karena ucapan Gania atau karena Vida. Ia sendiri juga tidak tahu.
" Sekarang lebih baik kita masuk ke dalam, mereka semua pasti sudah menunggu kita." Ucap Arthur turun dari mobilnya.
Arthur memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Mara.
__ADS_1
" Ayo!" Arthur mengulurkan tangannya.
Mara menyambut uluran dari tangan Arthur lalu turun dari mobil. Mereka nampak berjalan bergandengan tangan menuju rumah bibinya Arthur.
" Assalamu'alaikum." Sapa Arthur.
" Wa'alaikumsallam." Sahut mereka semua yang ada di dalam.
" Duh pengantin baru romantisnya, sampai bergandengan tangan segala." Goda seorang wanita paruh baya.
" Bibi bisa saja." Sahut Arthur menyalami bibinya dengan takzim di ikuti oleh Mara.
" Kenalkan sayang, ini bibi Hanum." Ucap Arthur.
" Mara Bi." Sapa Mara.
" Yang ini suaminya bibi Hanum, namanya paman Eko."
" Mara Paman."
Arthur memperkenalkan Mara kepada keluarga besar ibunya yang mayoritas orang Jawa semua.
Setelah itu Arthur dan Mara ikut bergabung dengan mereka. Mereka duduk lesehan di ruang keluarga sambil berbincang bincang.
" Hanum, sepertinya anak dan menantuku sangat lelah. Bisa kau tunjukkan dimana kamar mereka supaya mereka bisa istirahat." Ucap bi Ningsih.
" Ah iya Mbak, akan saya tunjukkan." Sahut bibi Hanum.
" Ayo Arthur, Bibi tunjukkan kamar kalian. Tapi maaf jika tempatnya tidak sesuai yang kalian harapkan." Ujar bibi Hanum berjalan menuju kamar mereka di ikuti keduanya dari belakang.
" Tidak apa apa Bi, kami bisa tidur dimana saja." Sahut Arthur.
" Ya kamu bisa Mas, kalau aku mah enggak." Batin Mara.
" Aku yakin saat ini Mara pasti sedang menggerutu." Batin Arthur.
" Ini kamar kalian, selamat beristirahat. Kalau butuh sesuatu kalian bisa bilang sama Bibi atau yang lainnya." Ujar bibi Hanum.
" Terima kasih Bi." Ucap Arthur.
Bibi Hanum meninggalkan mereka berdua.
Ceklek....
Arthur membuka pintunya, mereka masuk ke dalam. Mara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang nampak sempit bagi Mara.
" Mas ini kamar kita?" Tanya Mara memastikan.
" Iya." Sahut Arthur.
" Mas kamar ini jauh lebih kecil dari kamarku Mas, bahkan lebih kecil dari kamar ibumu yang ada di rumahku. Lalu bagaimana aku bisa tidur di sini Mas?" Ujar Mara.
" Sayang, kamar di daerah pedesaan mayoritas seperti ini. Bahkan ada yang lebih kecil lagi. Untuk sementara saja tidak apa apa sampai acara pernikahan anaknya bibi Hanum selesai." Ujar Arthur.
" Memangnya berapa lama kita di sini Mas?" Tanya Mara.
" Satu minggu."
" Apa???"
TBC.....
__ADS_1