AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
SUKA DAN DUKA


__ADS_3

Aditya menatap Gania dengan seksama seolah meminta penjelasan dari Gania. Gania hanya menganggukkan kepala.


Aditya mengambil topi dan sepasang kaos kaki dari kotak kado yang di berikan Gania. Di bawah topi itu ada baju bayi berwarna merah. Aditya menjerengnya, ada tulisan "miss you Dad" pada baju itu. Aditya semakin tidak mengerti dengan maksud Gania, ia hanya bisa menduga duga dengan jantung yang berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.


Dan yang terakhir, ada sebuah tespack di dalam kotak itu. Aditya mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia melihat dengan seksama alat itu.


" Sayang ini dua garis merah." Ucap Aditya menatap Gania.


Gania menganggukkan kepalanya.


" Apa ini artinya kamu hamil?" Tanya Aditya memastikan.


" Iya Mas." Sahut Gania.


" Benarkah?" Aditya bertanya lagi.


" Apa aku terlihat bercanda?" Tanya Gania.


" Bukankah kemarin kamu bilang kalau kamu sedang haid?" Tanya Aditya.


" Aku sengaja membohongimu Mas untuk membuat kejutan ini. Maafkan aku!" Ucap Gania.


Aditya menarik Gania ke dalam pelukannya.


" Nakal kamu ya." Ucap Aditya menciumi pucuk kepala Gania.


" Terima kasih telah menyiapkan kejutan dan kado terindah untukku sayang. Aku sangat bahagia sayang. Jaga buah hati kita dengan baik, dan mulai sekarang jaga dirimu dengan baik juga. Kau tidak boleh kelelahan. Pokoknya kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Kau harus bedrest total supaya kalian baik baik saja." Ujar Aditya mengeluarkan ultimatumnya.


" Iya Mas, mulai hari ini aku akan menjadi ratu di istanamu ini. Aku akan menjaga anak ini dengan baik sampai dia lahir nanti. Aku juga sangat bahagia Mas setelah aku tahu kalau aku hamil. Terima kasih telah menyempurnakan hidupku sebagai seorang ibu." Ucap Gania mengelus perutnya sendiri.


" Sama sama sayang." Sahut Aditya mencium pipi Gania.


Aditya membalikkan badan Gania menjadi menghadapnya. Ia menangkup wajah Gania dengan tangannya lalu mencium bibir Gania. Gania memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Aditya. Ia membuka mulutnya membiarkan Aditya mengekspos setiap deretan giginya.


Suara decapan memenuhi kamar yang menjadi saksi cinta mereka berdua. Setelah di rasa kehabisan nafas, Aditya melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Gania menggunakan jempolnya.


" Sampai di sini dulu, kita bisa melakukan lebih setelah kamu di periksa oleh dokter kandungan. Aku tidak mau sampai anak kita kenapa napa." Ujar Aditya.


" Iya Mas, aku juga tidak mengharap lebih kok." Sahut Gania.


" Ya sudah sekarang potong kuenya." Ucap Gania.


" Iya sampai lupa." Sahut Aditya.

__ADS_1


Keduanya duduk di sofa. Mereka melanjutkan acara dengan mengobrol empat mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oek... Oek...


Babby Axel menangis karena haus. Arthur segera menggendongnya lalu memberikannya kepada Mara yang sedang duduk bersandar pada head board.


" Sayang Axel haus, susui gih kasihan dia." Ucap Arthur.


" Nggak mau Mas, payudaraku sakit. Lecet semua di hisap sama Axel, kalau di paksain nanti malah berdarah. Lagian sepertinya payudaraku juga membengkak Mas." Sahut Mara.


" Sayang walaupun sakit tetap harus di susu oleh Axel, kamu tidak lancar menyusui Axel itu sebabnya payudaramu membengkak. Karena kepenuhan Asi Mara." Ujar Arthur menimang Axel.


" Aku nggak mau Mas, kamu nggak ngerasain jadi aku sih. Mending kamu buatkan susu formula saja buat Axel." Sahut Mara.


" Axel baru beberapa hari lahir sayang, belum di anjurkan untuk minum susu formula. Asimu jauh lebih baik untuk kesehatan dan kekebalan tubuh Axel. Buruan gih susui!" Ucap Arthur menurunkan Axel ke pangkuan Mara.


" Apa apaan kamu sih Mas, sukanya maksa terus. Ini nih yang aku tidak suka kalau kita punya babby. Aku belum siap untuk semua ini." Ucap Mara memancing emosi Arthur.


" Jangan pernah sekali kali kamu mengucapkan kata kata itu lagi di depan anak kita. Kau tidak tahu bagaimana perasaan dia kalau dia tahu jika kehadirannya tidak di inginkan oleh ibunya sendiri." Ucap Arthur penuh penekanan.


Arthur kembali membawa Axel dalam gendongannya.


" Baiklah kalau kamu tidak mau menyusui Axel, jangan susui Axel dan jangan urusi Axel lagi. Aku akan mengurus Axel sendiri." Ucap Arthur kesal membuat Mara tercengang.


Oek.. Oek...


Bi Ningsih yang mendengar tangisan Axel langsung berlari menghampiri Arthur.


" Arthur, kenapa Axel menangis?" Tanya bi Ningsih.


" Sepertinya Axel haus Bu." Sahut Arthur masuk ke dapur.


" Kenapa tidak kamu berikan pada Mara untuk di susui? Kenapa malah kamu bawa ke sini?" Tanya bi Ningsih.


Arthur menghela nafasnya pelan.


" Payudara Mara sedang sakit Bu, aku tidak tega memaksanya untuk memberikan asinya pada Axel. Aku akan berikan Axel susu formula saja untuk sementara." Sahut Arthur menutupi sikap buruk Mara dari ibunya.


Mara yang mengikuti Arthur pun mendengarnya. Ia menjadi merasa bersalah kepada Arthur dan putranya.


" Tolong Bu buatkan susu untuk Axel, ditnya ada di laci." Ucap Arthur.

__ADS_1


" Tapi kamu bilang kalau Axel tidak akan kamu kasih sufor dulu. Apa tidak apa apa kalau Axel di aksih sufor sekarang? Apa tidak akan mempengaruhi pencernaannya Nak?" Tanya bi Ningsih ragu.


" Mau bagaimana lagi Bu? Daripada Axel terus menangis seperti ini, aku tidak tega mendengarnya." Ujar Arthur menimang Axel yang terus menangis.


" Ust... Ust.. Ust.. Sayang, sabar ya.. Nenek mau buatin susu buat Axel dulu. Sabar ya sayang." Ucap Arthur.


Mara berjalan menghampirinya.


" Biar aku kasih asi saja Mas." Ucap Mara mengulurkan kedua tangannya.


Arthur menatap ibunya sekilas lalu menatap Mara.


" Payudaramu sedang sakit sayang, biar Axel minum sufor aja." Ucap Arthur membuang pandangannya. Hati Mara mencelos melihat sikap Arthur yang seperti itu.


" Tidak apa apa Mas, berikan Axel padaku! Kasihan dia kalau harus menangis lebih lama lagi." Ujar Mara.


Tidak mau membuat keributan di depan ibunya, Arthur memberikan Axel kepada Mara. Mara duduk di kursi meja makan lalu ia segera menyusui Axel.


Axel menyusu dengan lahap karena saking hausnya. Mara nampak meringis kesakitan menahan perih pada putingnya.


" Sakit banget ya sayang." Tanya Arthur mengelus kepala Mara.


Mara menganggukkan kepalanya. Melihat itu bi Ningsih segera pergi dari sana menuju kamarnya.


Mara mendongak menatap Arthur.


" Aku minta maaf Mas." Ucap Mara.


" Mas maafkan karena Mas tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi Mas mohon jangan pernah ulangi kata katamu yang menyakitkan itu. Mas tidak mau anak kita merasa tidak di harapkan kehadirannya." Ucap Arthur.


" Iya Mas." Sahut Mara menganggukkan kepalanya.


" Apa kau tidak melihat bagaimana bahagianya anak kita saat ia sedang minum asimu? Lihatlah! Matanya selalu menatap mata kamu. Di sini ikatan batin dan jalinan kasih sayang terjalin secara alamiah sayang. Saat inilah moment yang paling berharga menjadi seorang ibu. Mas berharap kamu tidak akan melewatkan kesempatan ini sedikit pun." Ucap Arthur.


Mara menunduk menatap mata Axel yang saat ini menatapnya. Bibir Axel terus bergerak menyesap asi. Mata merasa terharu melihat itu, ia baru menyadari jika memang moment inilah moment yang paling indah. Tak terasa air mata menetes di pipinya.


" Maafkan Mama sayang." Ucap Mara mencium pipi Axel.


" Jangan menangis sayang! Mas tidak bisa melihat air mata kesedihanmu. Lebih baik mulai sekarang kita harus mengurus Axel dengan baik. Jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi." Ujar Arthur mengelus kepala Mara. Ia berjongkok di depan Mara lalu mengusap air mata istrinya.


" Maafkan aku Mas." Ucap Mara.


" Mas maafkan sayang, jangan bersedih lagi. Kasihan Axel tuh jadi mau nangis lagi melihat mamanya bersedih." Ujar Arthur menunjuk Axel.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Mara.


TBC....


__ADS_2