
Pak Jaka dan yang lain menjenguk Mara di ruangannya. Tak lupa Gania dan Vida juga ikut berdiri di sana.
" Nak Mara bagaimana keadaanmu saat ini?" Tanya bibi Hanum.
" Alhamdulillah Bi, aku baik baik saja. Tuhan masih melindungi aku sampai saat ini." Sahut Mara.
" Nak, bagaimana kamu bisa sampai sana?" Tanya bi Ningsing.
Mara menatap Arthur yang menggelengkan kepala.
" Aku tersesat Bu karena ingin bersembunyi dari mas Arthur, aku merasa kesal sama mas Arthur karena tidak mau mengambilkan mangga muda untukku." Ujar Mara.
" Kenapa Mara tidak mengatakan yang sebenarnya? Apa yang sedang ia rencanakan? Atau mungkin dia amnesia?"
" Tidak mungkin, buktinya dia masih mengenal kami semua." Ujar Vida dalam hati.
" Oh ya mumpung kalian semua ada di sini, aku ingin membagikan kabar gembira kepada kalian semua. Saat ini Mara sedang hamil, aku mohon doa kalian semua semoga Mara dan calon bayinya sehat dan selalu di lindungi dari orang orang yang berniat jahat kepadanya." Ucap Arthur.
" Alhamdulillah."
" Amin."
" Sayang, Ibu bahagia sekali mendengar kabar ini Nak. Semoga kalian berdua selalu sehat dan selalu dalam LindunganNya. Jaga baik baik cucu Ibu, Nak Mara." Ucap bi Ningsih mengelus perut Mara dengan haru.
" Amin, terima kasih Bu. Aku akan selalu berusaha untuk menjaganya." Sahut Mara.
" Selamat Mbak, semoga kamu dan bayimu sehat dan proses persalinannya lancar. Doakan juga untukku semoga akan segera hadir Alena dan Ali junior di dalam sini." Ucap Alena mengelus perutnya sendiri.
" Amin, aku doakan yang terbaik untukmu." Ucap Mara.
" Gania, apa kau tidak mau mengucapkan selamat kepada kakak iparmu?" Ujar Arthur menatap Gania.
" Sebenarnya aku terlalu malu untuk mengatakannya, karena aku pernah benruat kesalahan pada mbak Mara, Mas." Sahut Gania.
" Aku sudah melupakannya Gania, dan aku sudah memaafkanmu. Kata mas Arthur, bagaimanapun sekarang kita keluarga jadi harus saling memaafkan." Ucap Mara.
" Terima kasih Mbak, kau memang baik hati. Aku ucapkan selamat atas kehamilanmu, semoga Tuhan selalu melindungimu dari orang orang yang berniat jahat padamu." Ucap Gania melirik Vida, begitupu dengan Arthur.
Vida mengepalkan erat tangannya.
" Mara, aku juga ingin memberikan selamat untukmu. Semoga berbahagia." Ucap Vida.
" Kebahagiaanku terletak dimana tidak ada seseorang yang menginginkan suamiku dan berniat untuk menyingkirkan aku." Sahut Mara membuat semua orang terkejut kecuali Arthur dan pak Jaka.
" Apa maksud ucapanmu Nak? Apa ini ada kaitannya dengan kondisimu saat ini?" Tanya paman Eko menatap Mara.
__ADS_1
" Aku tidak akan menjelaskan apa apa Paman, biar Vida sendiri yang menjelaskannya." Sahut Mara menyudutkan Vida.
" Apa maksudmu Mara? Aku tidak paham dengan semua yang kau ucapkan." Kolah Vida.
" Wow... Fantastis... " Decak Mara.
" Aku kira kau seorang aktris junior, tapi ternyata kau seorang aktris senior." Sambung Mara membuat yang lain semakin tidak mengerti.
" Katakan pada intinya Mara! Apa maksud ucapanmu!" Ujar bibi Hanum.
" Vida, cepat katakan apa yang kau perbuat padaku di kebun itu!" Titah Mara.
" Aku tidak melakukan apapun!" Sahut Vida tegas.
" Dimana gelang yang biasa kau pakai?" Tanya Mara.
Vida nampak mencari cari di tangannya.
" Sial... Apa dia berhasil mendapatkan bukti dari gelang itu?" Batin Vida.
" Gelang ku terjatuh entah dimana. Aku berharap semoga tidak ada yang berniat jahat padaku dengan memanfaatkan gelang itu." Ucap Vida.
Mara mengangguk anggukkan kepalanya.
Deg...
Jantung Vida terasa berhenti berdetak.
" Polisi? Kenapa ada polisi di sini? Apa mas Arthur melaporkan aku ke polisi? Tidak... Ini tidak boleh sampai terjadi. Aku dan keluargaku akan menanggung malu jika sampai aku di tangkap polisi. Tenanglah Vida! Mara tidak punya bukti apa apa." Ujar Vida di dalam hatinya.
" Ada apa ini Pak polisi? Apa ada masalah sehingga anda datang kemari?" Tanya paman Eko.
" Kami kemari untuk penangkapan atas nama nona Vida Tuan."
Semua orang menoleh ke arah Vida.
" Me... Menangkap saya Pak? Memangnya apa salah saya?" Tanya Vida pura pura tidak tahu.
" Anda di tuduh telah melakukan percobaan pembunuhan kepada nona Mara. Anda harus ikut kami ke kantor polisi sekarang juga untuk pemeriksaan lebih lanjut." Ucap salah satu polisi.
" Tidak mau. Aku tidak bersalah Pak, kalau dia menuduh saya, dia harus punya bukti." Ucap Vida.
" Semua bukti sudah ada di tangan kami Nona. Gelang milik anda dan sidik jari anda yang menempel di baju nona Mara tepat di bagian dadanya."
Jeduaarrr....
__ADS_1
Vida sangat terkejut mendengar semua itu. Ia tidak pernah berpikir jika dia bermain main dengan orang yang salah.
" Kau salah memilih lawan Vida. Aku sudah bilang padamu, sekuat apapun kau berusaha untuk memisahkan kami, kamu tidak akan pernah terpisahkan karena cinta kaki tidak selemah itu Vida. Pertanggung jawabkan semua perbuatanmu di dalam penjara!" Ucap Mara.
Vida nampak emosi, tiba tiba ia mendekat ke arah Mara hendak melakukan penyerangan. Beruntung Arthur dengan sigap menangis tangannya hingga membuat Vida jatuh tersungkur ke lantai.
" Anda bisa di jerat dengan pasal berlapis Nona karena melakukan penyerangan. Ayo ikut kami."
Kedua polisi itu menyeret Vida keluar ruangan.
" Terima kasih atas bantuannya Pak." Ucap Arthur kepada salah satu polisi.
" Sama sama Pak, kami permisi."
Setelah kepergian polisi, Arthur mendekati Mara.
" Sayang kamu tidak apa apa kan?" Tanya Arthur menatap Mara
" Aku tidak apa apa Mas." Sahut Mara.
" Bibi tidak percaya, Vida bisa melakukan hal seburuk itu. Dia terlihat seperti gadis yang baik di depan kami semua. Ternyata kami telah tertipu dengan kepolosannya." Ucap bibi Hanum.
" Maafkan aku Bi, aku harus melakukan semua ini untuk melindungi istriku. Maafkan aku! Karena aku hubungan keluarga bibi dengan keluarga Vida akan terpecah setelah ini." Ucap Arthur.
" Kau tidak salah Arthur, Bibi tidak peduli mau keluarganya membenci Bibi sekalipun. Bibi juga tidak terima dia telah menyakiti keponakan dan calon cucu Bibi. Dia memang pantas di hukum." Ucap bibi Hanum.
" Terima kasih Bi." Ucap Arthur.
" Paman minta maaf pada kalian semua. Padamu juga mbak Ning dan Mas Jaka. Niatku mengundang kalian ke sini justru berakhir seperti ini. Kami hampir saja membuat nyawa menantu kalian dalam bahaya. Kami benar benar meminta maaf yang sebesar besarnya terutama kamu Mara. Kamu harus mengalami kejadian buruk saat pertama kamu berkunjung kemari. Paman harap kamu tidak kapok untuk datang kemari lagi." Ucap paman Eko.
" Tidak apa apa Paman. Semua sudah terjadi, kita ambil saja hikmah dari semua ini." Ucap Mara membuat Arthur tersenyum. Ia tidak menyangka sang istri bisa bersikap sedewasa ini.
" Oh ya, aku ada hadiah pernikahan untuk kalian berdua Alena dan Ali." Ucap Mara.
Alena dan Ali menatap Mara dengan mata berbinar.
" Apa itu Mbak?" Tanya Alena.
" Kalian tidak perlu mencari kontrakan kalau mau pindah ke Jakarta. Aku dan mas Arthur sudah membelikan rumah untuk kalian tempati. Itu kado pernikahan dari kami, yah walaupun jauh lebih kecil dari rumah yang aku tempati, tapi semoga kamu suka dan semoga kalian berbahagia." Ucap Mara.
" Ya Tuhan Mbak Mara.... Aku tidak percaya bisa mendapat kejutan seperti ini. Ini benar-benar membuatku terkejut Mbak. Terima kasih telah memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk kami. Rumah adalah sesuatu yang sangat kami butuhkan saat ini Mbak, terima kasih. Terima kasih Mas Arthur." Ucap Alena senang.
" Sama sama." Ucap Arthur.
TBC........
__ADS_1