AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
TERLAMBAT MAKAN BIKIN PINGSAN


__ADS_3

Hari ini ada rapat yang membahas tentang promosi produk yang di luncurkan oleh perusahaan Arthur. Mara nampak mengikuti sambil sesekali menguap karena mengantuk. Di depan sana, pihak bagian promosi sedang menjelaskan cara mempromosikan produk mereka, namun Mara mulai tidak fokus dengan jalannya rapat tersebut karena semakin ke sini ia semakin mengantuk.


" Sayang kamu mengantuk?" Tanya Arthur menatap Mara yang nampak menyangga kepalanya di atas meja.


" Iya Mas aku ngantuk banget." Sahut Mara.


" Kalau gitu kembali saja ke kamar, kamu tidur di sana. Setelah rapat selesai Mas langsung menyusul." Ujar Arthur.


" Nggak mau ah Mas, lagian sebentar lagi selesai. Aku mau di sini saja." Sahut Mara.


" Baiklah." Ucap Arthur.


Arthur merapatkan kursinya ke kursi Mara. Ia menarik pelan kepala Mara untuk bersandar ke bahunya sambil mengelus pelan pipi Mara. Hal itu membuat yang lain nampak iri dengan perhatian Arthur.


Tiga puluh menit kemudian, rapat pun selesai. Arthur menggendong Mara menuju ruangannya. Lagi lagi, para karyawan Arthur menatap iri melihat keharmonisan mereka berdua.


Sampai di ruangannya, Arthur merebahkan tubuh Mara di atas ranjang. Ia membungkukkan badannya lalu mengecup kening Mara.


" Kamu nampak sangat lelah sayang, maafkan Mas yang telah membuatmu seperti ini." Ucap Arthur.


Arthur kembali ke kursinya, ia menelepon pihak HRD untuk membuka lowongan khusus pria untuk menjadi sekretarisnya. Ia tidak mau sampai Mara kecapekan karena sibuk bekerja menjadi sekretarisnya. Setelah itu ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Sampai jam makan siang, Mara masih tertidur. Arthur segera memesan makanan lalu membawanya ke kamarnya. Ia meletakkan pesanannya di atas nakas, lalu mendekati Mara di tempat tidur.


" Sayang bangunlah! Kamu harus makan siang dulu." Ucap Arthur mencium pipi Mara.


Mara yang terusik pun membuka matanya.


" Mas kamu menganggu tidurku saja." Ucap Mara sambil mengucek rambutnya.


" Kamu harus makan dulu sayang, kasihan anak kita kalau sampai dia kelaparan." Ujar Arthur merapikan anak rambut Mara.


" Aku mau tidur aja Mas. Aku pusing kalau tidurku terganggu gini, masa' gitu aja kamu nggak tahu sih Mas. Lain kali kalau aku lagi tidur, jangan pernah menggangguku. Atau aku akan marah sama kamu." Ancam Mara.


" Tapi sa...


" Udah ah minggir! Aku mau tidur lagi aja, kalau kamu lapar tinggal makan duluan. Aku nanti aja makannya kalau tidurku sudah puas." Ucap Mara tanpa membuka matanya.


Arthur menghela nafasnya pelan. Ia kembali ke kursinya tanpa menyentuh makanannya. Hingga sore hari terjadi keributan di ruangan Arthur membuat Mara membuka matanya.


" Ada apa sih kok ramai ramai gini." Gumam Mara.

__ADS_1


Mara keluar dari kamar Arthur, matanya membola saat melihat pekerja Arthur membopong tubuh Arthur ke sofa.


" Ya Tuhan Mas Arthur, kenapa dengan suami saya?" Tanya Mara mendekati Arthur.


" Kami tidak tahu Nyonya, saat saya mengantar kopi tiba tiba tuan Arthur sudah pingsan." Sahut salah satu OB.


" Tolong pindahkan ke kamar saja, dan tolong panggilkan dokter." Ucap Mara.


" Baik Nyonya."


Arthur di pindah ke ranjang kamar pribadinya. Mara menemaninya sambil duduk di tepi ranjang.


" Kamu kenapa bisa pingsan begini sih Mas? Membuat aku khawatir saja." Ujar Mara.


Tak lama dokter datang bersama asisten Arthur. Dokter segera memeriksa keadaan Arthur.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok? Apa ada penyakit yang serius?" Tanya Mara memastikan.


" Tuan Arthur mengalami penurunan daya tahan tubuh Nyonya, sepertinya tuan Arthur belum makan sejak pagi." Sahut dokter membuat Mara terkejut. Ia teringat saat Arthur membangunkannya untuk makan. Ia menatap makanan yang ada di atas nakas.


" Kapan suami saya sadar Dok?" Tanya Mara.


" Mungkin sebentar lagi, jika imunnya sudah kembali pasti beliau sadar Nyonya. Saya akan memberikan vitamin untuk menjaga staminanya. Ini di minum dua kali sehari Nyonya." Ucap dokter memberikan dia kaplet vitamin kepada Mara.


" Sama sama Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter undur diri di ikuti oleh asisten Arthur.


Mara menatap Arthur dengan seksama.


" Kasihan sekali kamu Mas, gara gara aku kamu jadi begini. Seharusnya kamu makan lebih dulu bukan malah menunggu aku. Aku jadi merasa bersalah kan atas kondisimu seperti ini." Monolog Mara.


" Engh." Lenguh Arthur membuka matanya. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.


" Mas kamu sudah sadar?" Ucap Mara senang.


" Mas kenapa sayang?" Tanya Arthur menyandarkan punggungnya pada head board.


" Kamu pingsan Mas, sepertinya kamu belum makan dari pagi. Kenapa tidak makan duluan sih? Kenapa juga harus menunggu aku bangun. Kalau kamu makan dulu kan kamu nggak akan pingsan begini Mas. Buat aku jadi khawatir dan merasa bersalah aja." Gerutu Mara mengerucutkan bibirnya.


Arthur tersenyum mendengar ocehan Mara.


" Sayang, Mas tidak makan itu karena Mas tidak mau, Mas kenyang tapi kamu dan anak kita kelaparan. Jadi biar adil, kita sama sama kelaparan." Ujar Arthur.

__ADS_1


" Prinsip darimana itu Mas? Aku malas makan karena setiap makan pasti mual. Itu sebabnya aku lebih memilih tidur saja." Ucap Mara.


" Tapi kamu tetap harus makan sayang, setidaknya ada nutrisi yang masuk ke tubuh kamu." Ucap Arthur menggenggam tangan Mara.


" Ya sudah baiklah terserah kamu saja, lebih baik sekarang kita makan. Kamu harus minum obat begitupun denganku Mas. Aku sudah memesan makanan yang baru untuk kita." Ucap Mara membuka bungkus makanan yang tadi sempat ia pesan.


" Mau Mas suapi?" Tawar Arthur.


" Lain kali aja Mas, kali ini kamu sedang tidak enak badan biar aku makan sendiri saja." Ujar Mara.


" Baiklah." Sahut Arthur.


Mara mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia memesan ayam geprek dan ayam lada hitam kesukaannya.


" Sayang lain kali kamu harus memesan sayur hijau, biar kamu dapat vitamin dari sayuran itu." Ujar Arthur.


" Mas kamu tahu sendiri aku tidak suka sayuran, jangan maksa deh! Atau aku tidak mau makan sekalian." Sahut Mara.


Arthur menghembuskan nafasnya kasar, Mara selalu memberikan bantahan kepadanya. Namun meskipun begitu, Arthur tetap sabar menghadapi Mara.


" Baiklah, tapi lain kali di coba ya. Barang kali kalau kamu mencobanya, kamu bisa suka." Ucap Arthur.


" Hmm." Gumam Mara.


Mereka melanjutkan makan dengan khidmat. Arthur tersenyum mengingat kemarin saat memeriksakan kandungan Mara. Ia merasa sangat bahagia bisa melihat calon janinnya untuk yang pertama kalinya. Walaupun yang ia lihat hanya titik hitam saja, dokter bilang kandungan Mara sehat. Dan saat ini berusia lima minggu. Ia harus menjaganya dengan baik, karena ia tidak mau kehilangan calon bayinya.


" Mas kok senyam senyum begitu?" Tanya Mara.


" Mas ingat adegan semalam sayang, dimana kamu.... "


Mara langsung membungkam mulut Arthur dengan telapak tangannya.


" Awas kalau kamu berani berbicara masalah itu lagi Mas." Ucap Mara mengancam.


" Iya iya baiklah sayang, Mas tidak akan mengatakannya." Sahut Arthur.


" Itu lebih baik." Sahut Mara melanjutkan makannya.


" Mas suka dengan gayamu yang super ganas itu."


" Maassss..... "

__ADS_1


TBC....


__ADS_2