
Siang ini Mara berkunjung ke perusahaan Adijaya. Di sana ia di sambut ramah oleh para karyawan lainnya.
" Pagi Nona Mara."
" Pagi Nona."
" Pagi." Sahut Mara.
Mara berkeliling dari divisi satu ke divisi yang lain melihat cara kerja para karyawan yang bekerja di perusahaannya. Sampai saat ia melewati bar kantor ia melihat seorang pekerja wanita yang sedang membuat kopi. Gerakngeriknya sangat mencurigakan.
Mara mengeluarkan ponselnya lalu ia mengambil gambar video wanita itu.
Nampak pekerja wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja yang ia pakai lalu menambahkannya ke kopi itu.
" Bubuk apa itu? Apa itu semacam s****a atau obat per@ngs@ng?" Gumam Mara.
" Beres.. Setelah minum ini tuan Arthur akan menjadi milikku."
Mata Mara membulat sempurna mendengar ucapan wanita itu. Saat wanita itu hendak keluar, Mara segera bersembunyi dari sana. Wanita itu membawa kopi keluar lalu berjalan menuju lift.
" Aku akan melihat sampai mana kau bertindak Nona cantik." Gumam Mara.
Dengan santai Mara masuk lift menuju ruangan presdir.
Sampai di depan ruangan, Mara membuka pintunya dengan pelan. Nampak wanita itu mendekati Arthur yang sedang sibuk dengan komputernya.
" Tuan Arthur, sepertinya kau terlihat lelah. Aku membuatkan kopi untukmu. Minumlah selagi panas!" Ucapnya sambil meletakkan kopi itu di meja samping Arthur.
" Tidak terima kasih, saya sedang tidak ingin minum kopi." Ucap Arthur membuat Mara tersenyum.
" Tapi aku sudah membuatkannya untukmu Tuan, setidaknya kau bisa mencicipinya sedikit untuk menghargai usahaku." Ujarnya berdiri di samping Arthur.
" Anda bisa duduk di sofa sambil menunggu saya meneliti dokumen ini Gita." Ujar Arthur.
" Aku menunggu di sini saja." Sahut Gita.
" Anda hanya mengacaukan konsentrasi saya saja Nona Gita, jika mau tetap di situ maka diamlah. Jangan berbicara terus! Saya harus segera menyelesaikan pekerjaan saya." Ucap Arthur.
" Baiklah aku akan diam." Ucap Gita tanpa mau berpindah dari tempatnya.
Arthur tidak peduli dengan apa yang di lakukan sekretarisnya, ia fokus pada pekerjaannya.
Gita berjalan di samping kursi Arthur sampai tiba tiba...
Srek...
Kaki Gita tergelincir hak tingginya membuat tubuhnya terhuyung ke belakang sampai...
Brugh....
" Hati hati!" Ucap Arthur menangkap tubuh Gita. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Gita agar Gita tidak terjatuh.
Keduanya nampak saling menatap satu sama lain. Hal itu membuat Mara menjadi kesal.
" Ehm ehm... "
Arthur menoleh ke asal suara yang sangat familiar baginya.
__ADS_1
" Sa.. sayang." Sontak Arthur langsung melepas Gita.
Brugh...
" Awh." Pekik Gita saat tubuhnya mendarat sempurna di atas lantai.
" Sayang kamu ke sini?" Arthur segera mendekati Mara.
" Kenapa? Apa kau tidak suka aku kemari?" Mara balik bertanya.
" Bu... Bukan begitu sayang, kamu salah paham. Mas malah senang kalau kamu mau ke sini menjenguk Mas yang sedang bekerja." Sahut Arthur.
" Bukan menjenguk tapi memantau, siapa tahu ada pelakor kegatelan yang sedang berusaha merayumu." Ucap Mara melirik Gita.
Gita beranjak, ia berdiri di depan Mara.
" Siapa pelakor yang kau maksud? Apa kau berusaha menyindirku?" Tanya Gita yang tidak tahu siapa Mara karena ia baru bekerja satu bulan di sini.
" Siapa lagi? Buktinya kamu tersindir dengan ucapanku." Ucap Mara.
" Kurang aja kau! Kau tidak tahu siapa aku." Ucap Gita sombong.
" Memangnya siapa kau? Aku tidak perlu tahu siapa kau karena itu tidak penting bagiku." Ucap Mara menatap remeh ke arah Gita.
" Sudah sudah! Jangan bertengkar! Tidak baik bertengkar seperti ini." Ucap Arthur menengahi.
" Pecat dia dan aku yang akan menggantikan dia menjadi sekretarismu Mas." Ucap Mara membuat Arthur dan Gita terkejut.
" Atas dasar apa kau memejatku Nona? Kau yang menuduhku sebagai pelakor dan aku tidak terima itu." Ujar Gita tanpa takut.
" Aku memecatmu atas dasar niat burukmu kepada suamiku. Kau berniat menjadikan suamiku milikmu. Dan itu menyalahi kode etik di perusahaan ini." Ucap Mara membuat Gita melongo.
" Dia menambahkan sesuatu di kopi itu Mas."
Deg....
Jantung Gita terasa berhenti berdetak.
" Ba.. Bagaimana dia bisa tahu akan hal itu? Apa dia melihatku? Siapa sebenarnya dia? Apa benar dia istri tuan Arthur?" Batin Gita.
" Benar begitu Gita?" Selidik Arthur menatap tajam ke arah Gita.
" Ti.. Tidak Tuan, dia berbohong." Sahut Gita.
" Bagaimana kau bisa menuduh istriku berbohong? Istriku tidak akan menuduhmu tanpa bukti. Bukan begitu sayang?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Iya, aku memang punya buktinya." Sahut Mara menunjukkan video di ponselnya kepada Arthur.
Arthur nampak sangat murka, ia menatap Gita dengan tajam.
" Saya tidak menyangka jika anda serendah ini Nona Gita. Beruntung istri saya memergoki perbuatan hina anda. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya saat ini." Ucap Arthur geram.
" Saya memecat anda sekarang juga Nona Gita. Segera kemasi barang barangmu dan segera pergi dari sini. Saya tidak mau melihay wajahmu lagi." Ucap Arthur penuh penekanan.
" Saya minta maaf tuan Arthur, saya khilaf. Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi untuk tetap bekerja di sini. Saya mohon!" Ucap Gita.
" Saya tidak menerima maafmu dan saya tidak membutuhkanmu lagi di sini. Saya sudah mendapat sekretaris baru yang jauh lebih hebat daripada kamu. Sekarang pergilah! Hubungi pihak HRD untuk menandatangani surat pemecatan dan sisa gajimu bulan ini." Ucap Arthur.
__ADS_1
Akhirnya dengan terpaksa Gita keluar dari ruangan Arthur untuk mengemasi barang barangnya. Ia menyesali kebodohannya karena telah berniat jahat pada Arthur.
Di dalam ruangan, Arthur menarik tangan Mara untuk duduk di sofa.
" Terima kasih sayang, kau telah menjadi penyelamat Mas hari ini." Ucap Arthur menggenggam tangan Mara.
" Sama sama Mas. Lain kali kau harus lebih berhati hati lagi. Karena aku yakin, kejadian seperti ini akan sering terjadi ke depannya." Ujar Mara.
" Tentu sayang." Sahut Arthur mengelus pipi Mara membuat Mara nampak malu malu.
" Oh ya, apa kau sudah makan siang?" Tanya Arthur.
" Belum, tapi aku ingin makan siang di resto seafood kemarin Mas. Sekalian aku...
" Nggak boleh." Sahut Arthur cepat.
" Ih kok nggak boleh sih... Kan aku mau main lagi di pantai sama anak anak kemarin." Ujar Mara.
" Mau main apa mau di suapin lagi sama pelayan itu?" Selidik Arthur.
" Maksud kamu Mas Zian."
" Jangan sebut namanya di depan Mas!" Ucap Arthur kesal. Entah mengapa ia sangat kesal mendengar nama itu.
" Begitu ya kalau lagi cemburu." Ujar Mara mengangguk anggukkan kepala.
" Cemburu itu artinya sayang Mara. Kalau Mas cemburu sama kamu itu artinya Mas sayang kamu. Dan kalau kamu yang cemburu dengan Mas, itu tandanya kamu sayang sama Mas." Ucap Arthur.
" Benarkah?" Tanya Mara memastikan.
" Iya, begitulah teorinya." Sahut Arthur.
" Tapi aku nggak pernah cemburu tuh sama kamu, itu berarti aku tidak sayang kamu." Ucap Mara.
" Yang bener?" Tanya Arthur.
" Iya." Sahut Mara.
" Buktinya suka jelous kalau Mas sama wanita lain." Ujar Arthur.
" Siapa bilang?" Tanya Mara.
" Beneran nih enggak?" Goda Arthur.
" Bener ih." Sahut Mara.
" Berarti Mas boleh donk deket deket sama wanita lain." Ujar Arthur.
" Nggak boleh." Ucap Mara spontan.
Arthur tersenyum menatap Mara. Ia mengacak rambut Mara karena saking gemasnya.
" Apaan sih Mas." Cebik Mara merapikan rambutnya.
" Cemburu sayang." Sahut Arthur.
" Bodo' ah." Cebik Mara.
__ADS_1
TBC....