
Arthur menyalakan laptopnya, lalu menancapkan sebuah flashdisk berisi bukti kejahatan Aldo yang berhasil ia kumpulkan.
" Perlu kamu tahu, semua bukti yang akan aku tunjukkan padamu bukan berasal dariku melainkan dari tuan Adi sendiri sebelum beliau meninggal dunia. Mau percaya atau tidak inilah kenyataannya." Ucap Arthur membuat Mara semakin penasaran.
Arthur memutar video pertama yang berisi sebuah video dimana Aldo sedang bersama kekasihnya yang di pergoki oleh tuan Adi.
Mara membulatkan matanya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Bagaimana bisa kekasih dan sahabatnya mengkhianatinya selama ini?
" Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Aldo berbuat sejahat itu padaku. Video ini pasti editan. Kau sedang berusaha meracuni pikiranku kan Bang?" Mara menatap tajam ke arah Mara.
" Kau bisa tidak percaya dengan video ini, tapi aku kira kamu pasti percaya dengan CCTV audio yang tuan Adi berikan kepadaku." Ucap Arthur.
Arthur memutar rekaman CCTV saat sebelum tuan Adi meninggal.
Deg... Deg...
Jantung Mara berdetak dengan kencang, bahkan saking kencangnya membuat dadanya terasa sesak. Ia menatap gambar dia orang yang sangat ia cintai dengan perasaan tak menentu.
Tes... Tes..
Air mata menetes begitu saja di pipinya. Terlalu gengsi terlihat lemah di depan Arthur, ia segera mengusap air matanya.
" Ini surat yang tuan Adi titipkan untukku. Kau bisa membacanya, setelah itu aku akan memperlihatkan bukti keterlibatan Aldo atas kematian tuan Adi."
Deg..
Ucapan Arthur membuat Mara sangat terkejut. Ia segera merebut kertas di tangan Arthur lalu membacanya.
Mara lebih terkejut setelah membaca surat yang papanya tuliskan untuk Arthur.
" Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Kenapa aku merasa seperti sedang di permainkan?" Lirih Mara.
" Apa kau masih mau melihat bukti selanjutnya?" Tanya Arthur menatap Mara.
Sebenarnya Arthur tidak tega melihat Mara terpukul. Ingin sekali ia memeluk Mara saat ini, tapi ia tidak mau melakukannya. Dia harus menjaga batasannya, ia ingin tahu bagaimana perasaan Mara terhadapnya. Apakah benar tidak ada rasa cinta sama sekali untuknya? Atau Mara hanya belum menyadarinya saja? Pikir Arthur.
" Aku ingin melihatnya Bang agar semuanya jelas. Wanita yang ada di video itu adalah temanku, aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan untukku." Ucap Mara.
" Baiklah." Sahut Arthur.
Arthur memutar bukti ketiga dimana Aldo sedang berdiskusi dengan seorang mantan karyawan di cafe itu sebelum tuan Adi datang. Setelah tuan Adi dan Aldo berbincang, ia membuat kopi yang di campur dengan bubuk s*****a. Ia meminta pegawai baru untuk mengantar ke meja tuan Adi Teman teman mereka tidak menaruh curiga dengan pria suruhan Aldo, karena kebetulan kafe sedang ramai saat itu dan ada tiga karyawan yang tidak berangkat membuat mereka tidak mengamati satu sama lain.
" Pria ini adalah pria suruhan Aldo, anak buahku sudah menangkapnya dan saat ini dia sedang berada di kantor polisi. Ini rekaman suara pengakuannya." Ucap Arthur.
Arthur memutar rekaman suara pria itu yang mengaku jika ia di suruh oleh Aldo untuk menambahkan bubuk s*****a ke dalam kopi tuan Adi. Mara nampak mengepalkan erat tangannya menahan sesak, kesal, sakit yang bercampur jadi satu.
" Aku harus menemui Aldo dan meminta penjelasan darinya. Aku merasa tidak pernah menabrak seseorang sebelumnya, apalagi sampai kondisinya parah seperti itu." Ucap Mara beranjak dari kursinya.
__ADS_1
" Aku akan menemanimu." Ucap Arthur.
" Tidak perlu! Ini urusanku Bang, kau tidak perlu ikut campur. Aku tidak butuh bantuanmu." Ucap Mara segera berlalu dari sana.
Arthur yang tidak mau sampai Mara kenapa napa, segera menyusul Mara. Ia mengikuti mobil Mara yang melaju dengan kencang.
" Astaga Mara... Kendalikan dirimu! Kurangi kecepatanmu!" Monolog Arthur.
Arthur mencoba menelepon Mara untuk memintanya mengurangi kecepatan mobilnya, namun Mara tidak menerima panggilannya.
" Ya Tuhan lindungilah istriku!" Ucap Arthur.
Sampai di kediaman Aldo, Mara segera turun dari mobil. Ia masuk ke dalam rumah Aldo yang kebetulan pintunya terbuka.
" Aku berhasil meracuni pikiran Mara dengan menyalahkan suaminya sebagai penyebab kematian ayahnya." Ucap Aldo.
" Ha ha ha... Aku yakin saat ini Mara sudah menceraikan suaminya. Suami yang sangat mencintai wanita bodoh seperti Mara. Aku sangat senang Al, aku sudah tidak sabar melihat Mara menderita sebagai istri keduamu." Ucap Melin.
" Kalianlah yang akan menderita karena berani macam macam kepadaku."
Melin dan Aldo menoleh ke asal suara, mereka nampak tercengang melihat Mara berjalan menghampiri mereka yang saat ini duduk di sofa.
" Ma.. Mara." Ucap Aldi berdiri.
Plak....
" Beraninya kau." Bentak Melin mendorong keras tubuh Mara.
Tubuh Mara terhuyung ke belakang, beruntung Arthur segera menopangnya sehingga Mara tidak terjatuh.
" Katakan padaku Aldo! Apa benar kau mendekatiku karena balas dendam? Apa benar kau terlibat dalam kematian papaku? Katakan Aldo! Katakan yang sebenarnya!" Bentak Mara menarik kerah Aldo.
" Ya... " Aldo menyentak kasar tangan Mara membuat Mara tercengang. Aldo tidak mau mengelak lagi karena sejujurnya ia tersiksa melihat Mara terluka. Entah apa yang di rasakannya hanya dia sendiri yang tahu. Tapi ia lebih menuruti egonya karena dendamnya kepada Mara.
" Aku memang melakukan semua itu, selama ini aku hanya membohongimu tentang perasaanku. Aku tidak mencintaimu Mara, tapi aku mencintai Melin. Aku bahkan membencimu, aku sangat membencimu. Aku memang ingin balas dendam kepadamu atas kematian adikku. Aku sengaja menjadikanmu mesin pencetak uangku untuk memperkaya diriku sendiri, aku menjadikanmu budak cintaku sehingga apapun yang aku minta kau selalu menurutinya seperti apa yang kamu lakukan malam itu kepadaku." Ucap Aldo.
" Brengsek kau Aldo!!!" Teriak Mara memukuk dada Aldo.
" Lalu kenapa kau melibatkan papaku dalam hal ini? Seharusnya aku saja, bukan papaku hiks..." Isak Mara.
" Aku marah pada papamu karena dia menghancurkan semua rencanaku. Dia mengetahui rencanaku sehingga dia membuatmu menikahi orang lain, itu sebabnya aku membunuhnya." Teriak Aldo.
" Aldo!!!"
Plak...
Bentak Mara kembali menampar pipi Aldo.
__ADS_1
" Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku? Kenapa kau tega menghancurkan hidupku? Apa salahku padamu hah? Katakan apa kesalahan yang pernah aku lakukan padamu Aldo." Teriak Mara menatap tajam ke arah Aldo.
" Sama seperti aku merenggut nyawa ayahmu, kau juga merenggut nyawa adikku." Ucap Aldo.
" Adikmu? Adikmu yang mana yang kau maksudkan?" Mara mengerutkan keningnya.
" Sudahlah Al, tidak perlu memberitahunya. Biar itu menjadi kenangan menyakitkan untuk kita berdua saja." Ucap Melin mengelus lengan Aldo.
" Tidak.. Aku ingin tahu alasan Aldo yang sebenarnya. Bagaimana dia bisa menuduh aku merenggut nyawa adiknya sedangkan aku sama sekali tidak mengenalnya." Ujar Mara.
" Diamlah Mara! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini." Ucap Melin.
Mara menatap Melin dengan intens.
" Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Kenapa Aldo tidak boleh menjelaskannya kepadaku? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu?" Selidik Mara.
" Ya." Sahut Aldo.
" Apa yang kau maksud, kecelakaan mobil di jalan xx yang menimpa seorang gadis kecil?" Mara bertanya lagi.
" Ya.. Dan gadis kecil yang kau tabrak itu adalah adikku." Ucap Aldo.
" Heh.. " Mara menyugar rambutnya sambil terkekeh.
" Aku yang menabraknya?" Tanya Mara menunjuk dirinya sendiri.
Aldo nampak bingung melihat reaksi Mara.
" Darimana kau mendapat informasi itu Aldo?" Tanya Mara.
" Dari Melin." Sahut Aldo.
Mara menatap tajam ke arah Melin membuat Melin merasa ketakutan.
" Kenapa kau percaya begitu saja dengan kata katanya?" Pertanyaan Mara semakin membuat Aldo bingung.
" Yang menabrak gadis kecil itu memang mobilku, tapi yang mengendarainya adalah Melin."
Jeduarrr....
Nah loh... Bener nggak nih? Jadi salah sasaran kan?
Jangan lupa tekan like, koment vote dan 🌹yang banyak buat author ya...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....