
" Arthur." Panggil wanita itu.
" Ya." Sahut Arthur dan anak kecil itu.
Arthur dan Mara menoleh ke arah anak kecil yang tadi mengajak Mara bermain.
Wanita itu semakin mendekat, ia nampak membulatkan matanya saat melihat Arthur ada di sana.
" Mas Arthur... " Pekiknya.
" Siapa ya?" Arthur mengerutkan keningnya.
" Ini aku Indah Mas. Masa' kamu lupa sama aku." Ujarnya duduk di samping Arthur membuat posisi Arthur berada di tengah tengah antara Mara dan wanita itu.
Mara menatap wanita itu dengan intens, kulit bersih, tubuh langsing, dan terkesan sederhana. Ada rasa tidak suka di dalam hatinya melihat wanita itu mendekati Arthur.
" Maaf aku tidak mengingatmu, apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" Tanya Arthur menatap wanita bernama Indah itu.
" Aku asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumah tuan Adi enam tahun lalu. Aku keluar dari sana saat hamil anakku." Ujar Indah.
Arthur nampak sedang mengingat ingatnya.
" Oh ya aku ingat, rupanya itu kamu. Apa dia anakmu?" Tanya Arthur menunjuk anak kecil itu.
" Iya. Waktu hamil dia, aku suka sama Mas Arthur. Makanya aku memberinya nama Arthur juga."
Ucapan Indah membuat Mara terkejut, sontak ia langsung menatap Arthur dan Indah bergantian.
" Sepertinya ini saat yang tepat untuk mengetahui perasaan Mara kepadaku. Aku ingin melihat apakah dia menunjukkan rasa cemburu atau tidak." Ujar Arthur dalam hati.
Arthur duduk serong menghadap Indah dan membelakangi Mara.
" Sampai segitunya kamu suka sama aku? Apa suamimu tidak marah saat kau memberikan namaku pada putramu?" Tanya Arthur.
" Tidak... Suamiku juga tahu kamu Mas." Sahut Indah.
" Berapa usia Arthurmu sekarang?" Tanya Arthur.
" Enam tahun kurang." Sahut Indah.
Mara nampak jelous dengan sikap Arthur yang sok akrab dengan wanita lain.
" Mas Arthur kayaknya sengaja deh bikin aku kesel. Awas aja, pasti aku balas kamu Mas." Gerutu Mara.
Mara mengamati satu persatu pelayan pria yang ada di sana sampai tatapannya terpaku pada seorang pelayan yang paling tampan di antara yang lainnya.
" Mas." Panggil Mara kepada pelayan.
Pelayan itu mendekati Mara.
" Ya Mbak, ada yang bisa saya bantu." Ucapnya.
" Mas aku mau makan kepiting ini, tapi aku tidak tahu cara mengambil dagingnya, bisa tolong bantu aku?" Ujar Mara.
" Biar Mas yang membantumu." Ucap Arthur.
" Tidak usah Mas, aku mau Mas nya aja yang membantuku. Silahkan Mas." Ucap Mara menyodorkan piring berisi menu kepiting itu kepada pelayan.
__ADS_1
" Baik Mbak." Sahutnya duduk di depan Mara.
Arthur nampak mengepalkan erat tangannya. Pelayan itu nampak memisahkan daging dari cangkangnya.
" Ini Mbak, taruh dimana?" Tanya pelayan itu.
" Langsung suapin ke mulutku aja Mas." Ujar Mara membuka mulutnya.
Pelayan itu pun menyuapkan daging kepiting itu ke mulut Mara. Arthur merasa sangat kesalahan melihat hal itu.
" Arthur... " Indah mengajak Arthur mengobrol. Namun fokus Arthur ke Mara dan pelayan itu.
" Oh ya Mas, namanya siapa?" Tanya Mara.
" Zian Mbak." Sahut pelayan yang ternyata bernama Zian.
" Tampan tampan kok jadi pelayan?" Ujar Mara.
" Mau gimana lagi Mbak buat nyambung hidup." Sahut Zian.
Mara melirik Arthur yang memasang muka kesal.
" Besok kalau aku punya anak laki laki, bolehkah aku memberikan namamu kepada anakku?"
" Tidak boleh." Ucap Arthur tegas.
Mara tersenyum sinis menatapnya, lalu ia kembali menatap ke depan.
" He he.. Sama suaminya tidak boleh Mbak." Ucap Zian.
" Kalau tahu saya suaminya, ngapain kamu menyuapi istri saya? Di depan saya lagi." Ketus Arthur menatap Zian.
" Alasan." Cebik Arthur.
" Ya sudah Mas, biar suami aku yang melanjutkan. Terima kasih Mas Zian." Ucap Mara dengan nada di buat buat membuat Arthur semakin kesal.
Arthur beranjak dari kursinya.
" Ayo kita pulang!" Arthur menarik tangan Mara meninggalkan tempat makan tersebut.
" Terima kasih Om, kakak cantik." Teriak anak anak senang mendapat makanan gratis.
Arthur terus menarik Mara menuju mobilnya.
" Mas tunggu!" Zian mengejar mereka berdua menghentikan langkah Arthur.
" Ada apa lagi? Apa kau mau ikut pulang bersama istriku juga?" Tanya Arthur menatap Zian kesal.
" Bukan begitu Mas, Masnya belum membayar billnya." Sahut Zian membuat Mara menahan tawa.
Arthur melepaskan tangannya dari tangan Mara, ia mengambil dompet di saku celananya.
" Berapa?" Tanya Arthur.
" Total semuanya satu juta dua ratus ribu Mas." Sahut Zian.
Arthur mengambil sepuluh lembar uang pecahan seratus ribuan.
__ADS_1
" Nih satu juta, yang dua ratus ribu kau yang harus membayarnya sebagai denda karena telah berani menyuapi istriku di depanku." Ucap Arthur membuat Zian melongo.
" Ya nggak bisa begitu donk Mas, aku kan hanya di perintah oleh Mbaknya." Ujar Zian.
" Aku nggak mau tahu, kalau mau segitu kalau tidak mau sini kembalikan!" Ucap Arthur hendak meminta kembali uang itu.
" Eits ya jangan dong Mas, ini aja aku udah tombok." Ujar Zian.
Mara mengambil uang di dalam tasnya bejumlah lima ratus ribu.
" Ini lima ratus ribu, yang dua ratus ribu buat nombokin kurangan suamiku, dan yang tiga ratus ribu tips buat kamu karena telah menyuapi aku. Lain kali aku akan datang ke sini untuk meminta bantuanmu lagi." Ucap Maea menyodorkan uang itu kepada Zian.
Bukannya menerima Zian malah terbengong.
" Tidak bisa, kita tidak akan kemari lagi." Ucap Arthur mengambil yang dari tangan Mara lalu meletakkannya di tangan Zian.
Arthur kembali menarik tangan Mara meninggalkan Zian.
" Terima kasih Mbak." Teriak Zian di balas lambaian tangan oleh Mara.
Sampai di mobil, Arthur membukakan pintu depan untuk Mara.
" Masuk!!!" Titah Arthur tegas.
Tanpa perlawanan, Mara segera masuk ke dalam. Arthur memutari mobil duduk di kursi kemudi. Arthur segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran pantai tersebut.
Di dalam perjalanan Arthur nampak membisu. Mara terkekeh melihatnya.
" Syukurin... Emang enak di komporin. Sok sokan mau buat aku cemburu tapi malah sendirinya yang cemburu." Ucap Mara dalam hati.
" Mas pelayan tadi tampan juga ya."
Ckittt....
Arthur menginjak rem mendadak membuat tubuh Mara terhuyung ke depan. Beruntung jidat Mara tidak terpentok dashboard.
" Mas kamu apa apaan sih? Gimana kalau jidatku terpentok? Kan sakit." Ucap Mara degan nada tinggi.
" Kamu yang apa apaan, di depan suami kamu malah menggoda pria lain. Kamu bahkan memujinya di depan Mas Mara, apa kamu tidak menjaga perasaan Mas sama sekali." Ucap Arthur menatap Mara dengan kesal.
" Kamu yang memulai Mas. Kamu mengabaikan aku karena asyik mengobrol dengan wanita yang bernama Indah tadi. Apa kamu juga tidak menjaga perasaanku?" Pertanyaan Mara tiba tiba membuat Arthur tersenyum.
" Kenapa senyum senyum begitu?" Tanya Mara mengerutkan keningnya.
" Kamu bilang menjaga perasaan, memangnya perasaan yang mana? Apa kamu punya perasaan sama Mas? Apa kamu cemburu melihat Mas dan Indah mengobrol?"
Deg...
" Benarkah aku cemburu melihatnya bersama wanita lain? Benarkah aku memiliki perasaan terhadap Mas Arthur?"
Benar nggak nih?
Jangan lupa untuk selalu dukung karya author ya..
Terima kasih...
Miss U all...
__ADS_1
TBC...