
Setelah mandi, Mara mengemas barang barangnya membuat Arthur panik. Ia tidak mau Mara pergi begitu saja sebelum acara selesai.
" Sayang kamu mau kemana? Mas mohon tetaplah di sini sampai acara pernikahan Alena selesai. Setidaknya sampai besok pagi sayang. Mas minta maaf kalau menurutmu Mas salah! Mas memintamu untuk diam, karena Mas tahu benar sifat paman. Bagi paman yang banyak bicara dan menarik perhatian agar di bela, dialah yang salah sebenarnya." Ujar Arthur berdiri di belakang Mara.
" Aku tidak peduli, yang jelas aku tidak di hargai di sini. Sejak awal aku tahu kalau Gania dan Vida tidak menyukaiku. Aku tidak memaksa mereka untuk suka padaku, tapi setidaknya mereka tidak perlu menuduh dan menghinaku seperti itu." Ucap Mara.
" Sayang dengarkan Mas!" Arthur menyentuh kedua bahu Mara.
" Kita abaikan mereka berdua, kita harus menghormati paman dan bibi demi ibu dan ayah. Kalau kau pergi dari sini, bagaimana perasaan ibu dan ayah sayang? Pertama mereka pasti malu dengan kejadian ini, yang kedua mereka akan merasa segan dengan paman dan bibi. Mas janji, besok setelah acara Alena selesai malamnya kita langsung pulang. Bagaimana hmm?" Ujar Arthur merapikan anak rambut Mara yang terlihat basah.
Mara nampak sedang berpikir.
" Aku tahu seburuk buruknya tingkahmu, kau tidak akan membiarkan ayah dan ibu menanggung rasa itu." Batin Arthur.
" Baiklah aku akan tetap di sini demi ayah dan ibu." Ucap Mara. Arthur tersenyum senang, tanpa sadar ia menarik Mara ke dalam pelukannya.
" Entah mengapa semakin ke sini, aku semakin nyaman berada di dekat mas Arthur. Apa mungkin hatiku sudah mulai condong kepadanya? Apa mungkin aku mulai mencintai Mas Arthur? Semua perhatian dan kasih sayangnya membuatku terlena." Batin Mara.
Tok tok...
Pintu di ketuk dari luar, Arthur melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah pintu.
" Paman, ada apa Man?" Tanya Arthur mendekati paman Eko.
Paman Eko menggeser tubuhnya hingga menampilkan Vida dan Gania yang berdiri di belakangnya sambil menundukkan kepala.
" Gania, Vida." Ucap Arthur.
" Mereka mau meminta maaf pada nak Mara, mereka berdua sudah mengakui kesalahannya. Mereka mengaku sengaja berbuat hal buruk kepada Mara untuk membuat Mara tidak nyaman berada di sini." Ucap paman Eko membuat Arthur terkejut.
" Kami minta maaf Mbak Mara." Ucap keduanya bersamaan.
" Kenapa kalian melakukan itu?" Tanya Arthur.
Gania menyenggol lengan Vida.
__ADS_1
" Aku tidak suka dengan Mara karena aku merasa dia merebut Mas Arthur dariku. Aku yang lebih dulu kenal dan mencintaimu Mas, tapi dia yang memilikimu." Ucap Vida.
" Darimana kau tahu aku yang merebut Mas Arthur darimu? Kau salah Vida. Aku tidak pernah merebut Mas Arthur dari siapapun, tapi Mas Arthur lah yang mendekat ke arahku. Dan aku tidak akan memaafkan perbuatanmu itu. Harga diriku jauh lebih berharga di banding kata maaf itu." Ucap Mara.
" Nak Mara, memaafkan kesalahan orang lain itu perbuatan yang mulia Nak." Ujar paman Eko.
" Maaf Paman, aku tidak semurah itu. Jika aku bermurah hati untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain, yang ada mereka juga akan selalu melakukan kesalahan dengan kesalahan yang sama ataupun berbeda." Sahut Mara.
" Baiklah tidak apa apa, yang penting Vida dan Gania sudah mengakui kesalahannya. Paman juga minta maaf padamu jika dalam penyambutan maupun dalam menyediakan segala sesuatunya kurang berkenan di hatimu." Ucap paman Eko.
" Paman tidak bersalah jadi tidak perlu meminta maaf. Aku yang seharusnya meminta maaf karena kehadiranmu menyusahkan Paman dan keluarga. Dan ya.. Aku tidak mengeluhkan apa yang telah paman berikan kepadaku, terima kasih telah menerimaku dengan baik." Ucap Mara.
" Sama sama, Paman ke depan dulu." Ucap paman Eko meninggalkan kamar Mara di ikuti oleh Vida dan Gania.
" Gania." Ucap Arthur menghentikan langkah Gania dan Vida.
" Aku sangat kecewa padamu, kau adikku tapi kau bisa berbuat seperti itu pada kakak iparmu. Jika kau tidak menghargai kakak iparmu setidaknya kamu menghargai aku sebagai kakakmu." Ucap Arthur.
" Maafkan aku Mas." Ucap Gania melanjutkan langkahnya.
" Terima kasih sayang." Ucap Arthur menatap Mara.
" Untuk apa?" Tanya Mara.
" Kau sudah bersikap baik pada paman. Mau makan sesuatu? Aku lihat tadi ibu membuat makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan." Ucap Arthur.
" Aku nggak suka, aku ingin makan steak dan rujak buah yang asem Mas." Ucap Mara.
" Kalau rujak buahnya mungkin ada, kita bisa beli atau buat sendiri. Tapi kalau steak sepertinya tidak ada sayang. Kalaupun ada kita harus ke kota. Perjalanan di sini sampai kota lumayan menguras waktu sayang. Mau bagaimana? Mas menurut kamu saja." Ujar Arthur.
" Emangnya nggak bisa delivery Mas? Aku pengin makan banget tapi aku malas mau kemana mana." Ucap Mara.
" Mas coba tanya Gania dulu." Ucap Arthur keluar kamar.
Mara duduk di tepi kasur busa, ia membuka ponselnya yang ternyata ada pesan dari Aldo.
__ADS_1
Hai Mara, bagaimana kabarmu? Aku ingin mendengar suaramu, bolehkah aku meneleponmu ~Aldo
Drt... Drt...
Baru juga di baca, Aldo sudah melakukan panggilan kepada Mara.
" Halo." Sapa Mara mengangkat panggilannya.
" Halo Mara." Balas Aldo.
" Rasanya bagaikan tersiram air es di tengah gersangnya padang pasir setelah aku mendengar suaramu. Aku sangat merindukanmu Mara, aku baru menyadari perasaanku padamu. Aku mencintaimu Mara, mungkin ungkapan ini sudah tidak berarti lagi untukmu. Tapi aku lega bisa mengutarakannya padamu saat ini. Maafkan aku Mara, aku adalah laki laki paling bodoh yang terlahir di dunia ini karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu." Ucap Aldo.
Entah mengapa ucapan Aldo tidak berpengaruh apa apa bagi Mara. Apa benar hati Mara sudah terpaut pada Arthur.
" Mara katakanlah sesuatu! Waktuku tidak banyak." Ucap Aldo.
" Aku tidak tahu harus mengatakan apa Aldo. Hatiku terlalu sakit dengan apa yang kau lakukan padaku. Entah aku bisa memaafkanmu atau tidak, tapi yang jelas aku ingin berterima kasih padamu. Karena kamu, aku bisa menemukan jodoh terbaik untukku. Mas Arthur, pria yang menjadi idaman setiap wanita kini telah menjadi milikku. Dia sangat mencintai dan menyayangi aku melebihi apapun. Tidak ada pria yang bisa menyayangi dan mencintai aku melebihi mas Arthur. Terima kasih untuk pengkhianatanmu Aldo. Setelah ini hiduplah dengan baik, semoga kau bisa menemukan kebahagiaan seperti aku." Ucap Mara membuat hati Aldo mencelos.
" Baiklah Mara terima kasih atas waktunya, terima kasih juga untuk doanya. Namun aku tidak yakin jika aku bisa mendapatkan kebahagiaan setelah berpisah darimu. Aku tutup teleponnya, sekali lagi maafkan aku! Aku mencintaimu." Ucap Aldo menutup panggilan teleponnya.
Arthur tersenyum mendengar ucapan Mara yang telah memujinya.
" Ehm ehm.. Sepertinya ada yang baru memuji Mas nih." Ucap Arthur menghampiri Mara.
" Siapa? Maksud Mas si Vida Vida itu?" Tanya Mara berkilah.
" Bukan, tapi wanita yang selalu ada di hati Mas." Ucap Arthur duduk di depan Mara sambil menatapnya.
" Siapa?" Tanya Mara mendekatkan wajahnya ke wajah Arthur.
" Kamu." Sahut Arthur menyentuh hidung Mara.
Mara nampak tersenyum sipu malu malu.
TBC.....
__ADS_1