AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
KEMARAHAN MARA


__ADS_3

Pagi ini nampak warga setempat berbondong bondong menuju rumah bibi Hanum untuk membantu mengolah makanan untuk acara besok pagi. Mara yang baru selesai mandi hanya bisa duduk di kasur busa di dalam kamar saja, sedangkan Arthur duduk lesehan sambil memangku laptop meneliti laporan yang di kirimkan oleh asistentnya.


" Mas aku bosan di dalam sini." Ucap Mara membuat Arthur mengalihkan pandangannya.


" Kamu bosan? Lalu mau apa? Apa kamu mau ikut membantu bibi Hanum bersama mereka? Kalau kamu mau Mas akan mengantarmu kepada ibu." Ujar Arthur.


" Bukan begitu juga Mas, aku ingin jalan jalan kemana kek gitu." Ujar Mara.


" Jalan jalan." Gumam Arthur.


" Jalan jalan kemana ya? Mas juga tidak tahu daerah sini." Sambung Arthur.


" Tapi kalau kamu mau jalan jalan, nanti Mas antar deh. Mas selesaikan pekerjaan Mas dulu." Ujar Arthur.


Tiba tiba Mara mendekati Arthur, ia duduk di pangkuan Arthur sambil menatap laptop Arthur.


" Sayang, gimana Mas bisa fokus mengerjakan pekerjaan Mas kalau kamu begini hmm? Tumben banget manja, biasanya tidak seperti ini." Ujar Arthur mengelus pipi Mara.


" Lagi pengin aja Mas bermanja manja sama kamu." Sahut Mara mengelus wajah Arthur dengan kedua tangannya. Mara melirik ke depan pintu dimana Vida sedang berdiri di sana sambil mengamati mereka berdua.


" Baiklah, Mas akan menyudahi pekerjaan Mas dan mengajakmu jalan jalan, karena kamu prioritas utama dalam hidup Mas." Ucap Arthur.


Arthur mematikan laptopnya setelah menyimpan data datanya. Ia meletakkan laptop di sampingnya lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Mara.


Keduanya nampak saling melempar pandangan sampai...


Cup...


Arthur mengecup pipi Mara.


" Mas kamu suka banget mencuri kesempatan ih." Ucap Mara.


" Kenapa? Mencuri kesempatan sama istri sendiri kan tidak apa apa sayang." Ujar Arthur.


" Akunya belum siap Mas." Ujar Mara.


Arthur menahan tengkuk Mara lalu mencium bibir Mara dengan lembut. Arthur merasa heran karena Mara tidak menolaknya. Ia berpikir Mara sudah mulai menerimanya, ia mencecap bibir Mara dengan lembut.


Vida yang kesal melihat itu, segera berlalu dari sana. Mara tersenyum smirk melihatnya.


" Akan aku tunjukkan dimana posisiku yang sebenarnya Vida. Mas Arthur milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Walaupun kau berusaha keras untuk memisahkan kami sekalipun." Batin Mara.


Di rasa kehabisan nafas, Arthur melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Mara dengan jempolnya.


" Terima kasih sayang." Ucap Arthur menempelkan hidungnya ke hidung Mara.


" Hmm." Gumam Mara menganggukkan kepalanya.


" Ayo kita jalan jalan! Kalau nggak salah tidak jauh dari sini ada sawah yang terhubung langsung dengan jalan kereta." Ujar Arthur.


" Wah aku mau lihat Mas, ayo!" Sahut Mara.


Keduanya beranjak keluar sambil bergandengan tangan.


" Arthur, Mara, kalian mau kemana nak?" Tanya bi Ningsih menghampiri mereka membuat semua orang yang sedang sibuk membuat makanan melihat ke arah mereka.


" Mara bosan bu di dalam kamar saja, aku ingin mengajaknya jalan jalan melihat pemandangan di sekitar sini. Bukankah ada sawah di dekat sini?" Ujar Arthur.


" Ada, kau berjalanlah ke arah selatan. Di sana kau bisa menemukan sawah dan sungai kecil. Suasana di sana juga nampak sejuk Arthur." Sahut bibi Hanum.


" Iya Bi." Sahut Arthur.


" Mas aku dan Vida mau ikut. Kita bisa bermain bersama di sana." Ucap Gania menarik tangan Vida mendekati mereka.


" Memangnya kamu mau bermain apa di sawah Gania? Mending temenin Mbak di rumah." Ujar Alena sang calon pengantin.


" Nggak mau ah. Ayo Mas aku tunjukkan jalannya biar nggak tersesat." Gania berjalan mendahului Arthur sambil menggandeng Vida.

__ADS_1


Arthur dan Mara mengikuti Gania dari belakang. Nampak rumah rumah penduduk yang terlihat padat tidak seperti saat Arthur terakhir ke sini.


" Nah itu sawahnnya Mas." Ucap Gania menunjuk ke depan. Dimana hamparan sawah dengan tanaman padi yang nampak hijau terbentang luas di depan sana. Aliran sungai kecil serta jalan kereta api di ujung sana membuat pemandangan tampak indah.


" Masih sangat alami ya Mas, tidak seperti di kota kota yang sudah banyak berdiri bangunan pabrik." Ujar Mara.


" Ya jelas lah, kalau orang orang kota mah mata duitan makanya punya tanah sejengkal aja di jual buat di bikin pabrik. Kalau di sini kan enggak, para petani lebih mempertahankan sawahnya daripada uang." Sahut Gania.


" Aku rasa kalau mendapat penawaran yang menggiurkan, para petani mau menjual tanahnya. Bagaimana kalau aku membeli satu petak sawah mereka dengan harga setengah milyar?"


Mata Gania membulat sempurna begitu mendengar uang setengah milyar.


" Tidak akan, kami orang pedesaan tidak tergiur dengan uang sebanyak itu. Kami tetap akan mempertahankan sawah kami, bukan begitu Mas Arthur?" Ujar Vida menatap Arthur.


" Hmm." Gumam Arthur menganggukkan kepala.


" Mbak Mara, ayo kita turun ke sawah." Ajak Gania.


" Apa? Turun ke sawah?" Pekik Mara.


" Iya, kita jalan lewat jalanan tanah yang ada di pinggir sawah itu, kita ambil foto buat kenang kenangan." Ujar Gania.


Vida tersenyum smirk.


" Nggak mau, nanti kalau ada ular aku di gigit. Bisa bisa aku mati, ihh ngeri." Sahut Mara bergidik ngeri.


" Tidak lah Mbak. Kalau ada ular, ularnya udah lari duluan." Ujar Gania.


" Iya sayang, kita ambil foto di sini buat kenang kenangan kalau kita pernah kemari." Ucap Arthur.


" Vida tolong fotoin kami." Arthur memberikan ponselnya pada Vida.


" Iya Mas." Sahut Vida.


Arthur menarik tangan Mara turun ke sawah.


" Tidak perlu takut ada Mas di sini sayang." Ujar Arthur.


Arthur berdiri di hamparan sawah yang luas sambil memeluk Mara dari belakang.


" Udah Da." Ucap Arthur.


Vida segera mengambil potret mereka dengan perasaan kesal. Arthur mengganti gaya dengan menggendong Mara dengan mesra, Mara nampak menampilkan senyum terbaiknya. Terakhir Arthur mencium pipi Mara membuat Vida bertambah kesal.


" Mas sekarang gantian kami bertiga yang foto, aku ingin punya kenang kenangan bersama mbak Mara. Setelah itu kita bertiga yang foto, aku Mas Arthur dan Vida." Uajr Gania.


" Tidak, kalian saja yang foto. Aku tidak mau." Sahut Arthur menjaga perasaan Mara.


" Baiklah terserah Mas Arthur saja." Sahit Gania.


Gania dan Vida bertukar tempat dengan Arthur. Gania nampak memepet tubuh Mara begitupun dengan Vida.


" Eh jangan mepet mepet gini donk! Aku bisa jatuh nanti." Ucap Mara.


" Tenang saja Mbak, nggak akan jatuh kok." Sahut Gania. Mereka bertiga mengambil posisi berbaris dengan posisi Mara di tengah.


" Sudah ya." Ucap Arthur.


" Iya Mas." Sahut Gania.


" Satu.. Dua...


Pada hitungan ketiga tiba tiba Vida mendorong Mara dari belakang hingga membuat tubuh Mara terhuyung ke depan. Lalu....


Byurrr....


Mara jatuh tersungkur ke sawah membuat seluruh tubuhnya terkena lumpur.

__ADS_1


" Astaga sayang." Ucap Arthur langsung berlari menghampiri Mara.


Vida dan Gania menahan tawanya.


" Sayang bangun." Arthur membantu Mara berdiri.


Mara menatap Vida dengan tajam lalu..


Plak....


Tamparan keras mendarat di pipi Vida.


" Mara!!" Bentak Gania.


" Apa apaan kau ini hah? Beraninya kau menampar sahabatku." Teriak Gania menatap Mara dengan tajam.


" Karena dia mendorongku." Balas Mara dengan berteriak.


" Kau saja yang tidak bisa berdiri dengan baik, lalu kenapa kau menyalahkan Vida. Dasar gadis kota, gadis manja, gadis tidak tahu aturan." Ucap Gania.


" Siapa yang tidak tahu aturan hah? Aku akan menunjukkan padamu bagaimana gadis tidak tahu aturan ini memberimu pelajaran." Ucap Mara kesal.


Mara menarik tangan Vida dan Gania dengan keras membuat keduanya terpeleset lalu jatuh ke sawah.


" Mara!!!" Teriak keduanya.


Gania menarik tangan Mara lalu menjambak rambut Mara dengan keras. Tidak mau kalah, Mara pun membalas perbuatan Gania. Alhasil mereka berdua saling jambak menjambak membuat tanaman di sana menjadi rusak.


" Hentikan! Mara hentikan! Gania hentikan!" Ucap Arthur mencoba melerai mereka.


Melihat itu Vida tersenyum penuh kemenangan.


" Aku tidak akan melepaskanmu." Teriak Mara.


" Aku juga tidak akan melepaskanmu gadis sombong." Balas Gania.


Keributan mereka mengundang perhatian warga setempat. Hingga kedua orang tuanya Gania dan Arthur menghampiri mereka.


" Hentikan semua ini!" Teriak paman Eko menghentikan mereka berdua.


" A.. Ayah." Ucap Gania menatap sang ayah.


" Kemari kalian bertiga!" Ucap paman Eko.


Gania, Vida dan Mara berjalan menghampiri paman Eko. Arthur mendampingi Mara dengan berdiri di belakangnya. Paman Eko dan yang lainnya menatap ketiga gadis yang saat ini berdiri di depannya. Kondisi Vida tidak parah, yang parah adalah Mara dan Gania, rambut mereka nampak acak acakkan, wajah mereka nampak di penuhi oleh lumpur sawah.


" Bagaimana bisa kalian bertingkah seperti anak kecil seperti ini hah? Apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian semua warga di sini." Ucap paman Eko.


" Mara duluan Yah, dia jatuh sendiri tapi malah menyalahkan Vida. Aku tidak terima itu, malah dia marah dan menarik kami sampai jatuh ke sawah." Ucap Gania.


" Iya Paman, Mara jatuh sendiri tapi dia malah menarik kami sampai kami jatuh. Bahkan dia menampar pipiku, sakit sekali rasanya." Ujar Vida menyentuh pipinya.


" Tidak seperti itu, Vida mendorongku lebih dulu." Sahut Mara membela diri.


" Sayang diamlah!" Bisik Arthur membuat Mara salah paham. Ia berpikir Arthur sedang membela Vida.


" Kenapa aku harus diam hah?" Ucap Mara dengan anda tinggi sambil menatap Arthur.


Semua orang terkejut, mereka menatap ke arah keduanya.


" Apa aku harus diam saja saat aku di tuduh melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan begitu? Memangnya siapa dia berani melakukan itu padaku? Bahkan selama ini tidak pernah ada yang membantah ucapan Mara, tapi apa yang mereka lakukan padaku? Mereka membuatku kotor seperti ini, lalu mereka menghinaku Mas. Dan kau.." Mara menunjuk Arthur.


" Kau hanya diam saja melihat istrimu di rendahkan seperti itu. Mungkin kau terbiasa di rendahkan seperti ini, tapi aku tidak. Aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan aku termasuk keluargamu." Ucap Mara meninggalkan mereka semua.


" Mara!!" Teriak Arthur memanggil Mara namun Mara tidak peduli Ia terus berjalan kembali ke rumah bibi Hanum. Bisik bisik tetangga pun terdengar di telinga Mara namun Mara tidak peduli.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2