
Sinar matahari masuk ke dalam kamar Mara melalui celah celah korden kamarnya. Ia mengerjapkan matanya menatap ke sekeliling, ia merasa lega setelah tahu ia berada di dalam kamarnya.
" Shhh kepalaku sakit sekali." Rintih Mara duduk bersandar pada ranjang.
" Astaga apa yang terjadi." Ucap Mara saat menyadari tubuhnya tidak memakai sehelai baju pun. Mara segera menutupinya dengan selimut.
" Apa yang terjadi padaku? Apa.... " Mara mencoba mengingat ingat kejadian semalam.
Bayangan bayangan ia mencium bibir Arthur terlintas di kepalanya.
" Sialan!!! Bang Arthur mencuri kesempatan. Aku akan memberinya pelajaran." Ucap Mara.
" Arthur!!!!!!" Teriak Mara menggema di dalam rumahnya. Beruntung kamarnya tidak kedap suara sehingga Arthur yang sedang sarapan di bawah bisa mendengarnya.
" Astaga singa betina sudah bangun. Dia pasti akan menyerangku setelah ini. Aku harus siap siaga." Ucap Arthur meletakkan sendoknya.
Belum juga Arthur beranjak tiba tiba...
" Sialan lo Bang, lo apain gue hah?" Teriak Mara menatap Arthur tajam.
Ya... Setelah memakai baju, Mara langsung berlari menuju dapur mencari Arthur sambil menahan rasa tidak nyaman di bagian bawahnya. Dan benar saja ia menemukan Arthur di sini.
" Memangnya apa yang aku lakukan padamu Nona?" Tanya Arthur.
" Kau memperkos@ aku." Sahut Mara dengan nada tinggi.
" Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu." Ucap Mara mengambil sapu ijuk.
Bugh... Bugh... Bugh...
Mara memukul punggung Arthur dengan keras. Arthur mencoba menghindar namun tidak bisa. Ia mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya.
" Awh sakit Nona, maafkan aku. Bukan aku yang mau tapi kamu yang minta. Aku hanya memberi saja." Ucap Arthur membuat Mara menghentikan kegiatannya.
" Apa kau bilang hah? Aku yang menginginkannya?"
" Jangan bohong kamu Bang! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau.." Mara hendak memukul Arthur lagi namun Arthur mencekal tangan Mara.
Arthur mengambil sapu dari tangan Mara lalu membuangnya begitu saja.
" Aku tidak bohong." Ucap Arthur menarik tubuh Mara mengikis jarak mereka.
Mara menatap Arthur begitupun sebaliknya, wajah mereka nampak sangat dekat membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang. Tanpa sadar Arthur merapikan anak rambut Mara.
__ADS_1
" Semalam kau mabuk, tiba tiba kau menciumku dengan penuh n@fsu. Awalnya biasa saja tapi lama lama aku terlena dengan setiap sentuhanmu. Setelah itu kau memintaku untuk menyentuhmu karena kau ingin menjadi milikku selamanya, aku sudah menolaknya, bahkan aku sudah beranjak pergi tapi kau menarik aku hingga aku jatuh ke dalam pelukanmu." Terang Arthur.
Mara kembali mengingat apa yang terjadi dengan dirinya semalam.
" Aku sudah berkali kali bilang kepadamu kalau kau akan menyesal jika kita melakukannya, tapi kau bilang kau tidak akan pernah menyesalinya. Kau terus menyentuhmu sampai membuatku kembali terlena dan melakukannya. Kau nampak sangat buas semalam, kau benar benar memberikan pengalaman yang luas biasa Nona Mara." Ucap Arthur.
" Entah mengapa semalam aku merasa kepanasan Mas. Ada gelenyar aneh dalam tubuhku hingga membuat aku tidak bisa mengendalikan diriku." Ucap Mara.
" Bartender salah memberikan minuman padamu, minuman yang kau minum sudah di campur obat per@ngs@ng. Beruntung dosisinya rendah, kalau dosisnya tinggi aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu." Ucap Arthur membuat Mara terkejut.
" Jangan jangan itu bukan tidak sengaja, tapi kau yang memintanya untuk menambahkan obat itu ke dalam minumanku." Ucap Mara menatap Arthur dengan tatapan menyelidik.
" Pikir pakai logika! Kalau aku sengaja, aku tidak akan mengatakannya padamu kan? Aku pasti akan merahasiakan semua ini darimu. Hmm." Ucap Arthur mengelus pipi Mara.
" Aku mengutuk bartender itu, gara gara dia aku kehilangan kehormatanku. Benar benar memalukan." Ucap Mara mengepalkan erat tangannya.
" Tapi aku akan berterima kasih kepadanya, karena dia aku bisa menjadikanmu milikku sepenuhnya. Dan aku bisa tahu tentang kebohonganmu yang mengatakan telah menghabiskan malam dengan Aldo saat itu." Ujar Aldo.
" Aku berbohong kepadamu. Sebenarnya malam itu aku tidak bersama Aldo tapi bersama Riva, temanku satu sekolah dulu." Entah mengapa Mara ingin menjelaskannya kepada Arthur.
" Tidak masalah, yang penting kamu baik baik saja." Sahut Arthur menangkup wajah Mara.
Entah mengapa Mara nampak terbuai dengan ketampanan Arthur. Ia mengelus pipi Arthur dengan lembut.
Tiba tiba....
Arthur mengecup bibir Mara membuat Mara membulatkan matanya karena terkejut. Untuk beberapa saat keduanya saling pandang tanpa mau menjauhkan bibit mereka.
Sampai...
" Ah maaf maaf, ibu tidak melihat apapun." Ucap bi Ningsih membalikkan badannya membuat keduanya tersadar.
" Bi.. Bi Ningsih." Gugup Mara.
" Ini tidak seperti yang Bibi pikirkan. Aku ke kamar dulu." Ucap Mara meninggalkan dapur.
" Cie cie... Sepertinya sudah ada kemajuan nih." Goda bi Ningsih setelah kepergian Mara.
" Apaan sih Bu." Ucap Arthur.
" Bukankah kemarin Nona Mara bersikukuh meminta cerai? Lalu kenapa sekarang kalian nampak dekat?" Tanya bi Ningsih menatap Arthur.
" Ah iya Ibu benar, terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku kembali ke kamar dulu Bu." Ujar Arthur meninggalkan bi Ningsih.
__ADS_1
Arthur masuk ke kamar, ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
" Rupanya dia sedang mandi." Gumam Arthur.
Arthur berjalan menuju laci mengambil surat perpisahan yang sudah di tanda tangani oleh Mara. Ia duduk di sofa menunggu Mara selesai mandi.
Ceklek....
Mara keluar dari kamar mandi dengan memakai baju santai dan handuk yang di gulung di atas kepala.
" Ada yang ingin aku bicarakan padamu, kau duduklah!" Ucap Arthur.
Tanpa membantah Mara segera duduk di samping Arthur.
" Ini surat perpisahan kita, sebelum aku menandatanginya aku ingin bertanya padamu." Ucap Arthur.
" Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Mara menatap Arthur.
" Setelah mengetahui semuanya, apa kau masih ingin berpisah dariku?" Tanya Arthur menatap Mara.
Mara nampak sedikit berpikir, ia bingung harus menjawab apa.
" Jujur... Awalnya aku ingin menyerah untuk mendampingi hidupmu setelah kau bersikeras untuk berpisah denganku. Tapi setelah apa yang kita lakukan semalam, aku berubah pikiran. Aku ingin memperjuangkan hubungan kita sampai akhir hayat memisahkan kita. Aku tidak mau berpisah darimu karena memang sejak awal aku mencintaimu."
Deg...
Mara langsung menatap Arthur dengan tatapan intens.
" Ya... Aku mencintaimu jauh sebelum kita menikah. Namun aku sadar diri siapa aku dan siapa dirimu. Aku tidak mau memaksakan kehendakku untuk mendapatkanmu. Itu sebabnya aku tidak pernah mengutarakannya perasaanku padamu." Arthur menghela nafasnya pelan.
" Tapi ternyata Tuhan mempersatukan kita dalam pernikahan, aku sangat bahagia saat itu. Tapi kebahagiaanku hancur ketika mau meminta berpisah dariku. Aku berharap pernikahan ini tidak akan pernah ada kata perpisahan sampai kapan pun. Aku ingin kita hidup bersama dengan calon anak anak kita nanti. Tapi..."
" Tapi jika aku tidak bahagia bersamamu, apa kau akan tetap mengikatku dengan hubungan ini?" Tanya Mara memotong ucapan Arthur.
" Tidak... Kebahagiaanmu lah yang utama. Jika perpisahan membawa kebahagiaan untukmu, maka aku akan memberikannya." Sahut Arthur.
" Kalau begitu lakukanlah! Kenapa harus menunjukkan drama drama dengan ungkapan cinta segala? Tinggal tanda tangani semua akan beres." Ucap Mara.
Arthur kembali menghela nafasnya karena usahanya membujuk Mara tidak berhasil. Arthur mengambil pena, tiba tiba.....
Apa ya??? Penasaran??? Berikan jejak terbaik dulu untuk Mara dan Arthur.
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC.....