
" Apa??" Pekik Mara menatap Arthur.
" Jangan keras keras sayang! Atau mereka akan mengira kalau kita sedang ngapa ngapain. Kecuali kalau memang kamu mau ngapa ngapain sih nggak apa apa." Ucap Arthur mengerlingkan sebelah matanya.
" Boro boro mau ngapa ngapain Mas, mau tidur saja tidak bisa. Ranjang sesempit ini yang seharusnya untuk tidur satu orang, harus buat tidur berdua." Gerutu Mara duduk di samping ranjang yang terbuat dari kayu.
" Aku mau tidur di hotel saja." Ucap Mara beranjak.
" Jangan!" Arthur mencekal tangan Mara.
" Kalau kamu tidur di hotel, itu akan melukai harga diri bibi Hanum sayang. Mas mohon terimalah apa yang mereka siapkan untuk kita. Mas mohon, jangan mengeluh lagi! Setidaknya sampai kita pulang." Ujar Arthur.
" Tapi aku nggak nyaman Mas tidur di tempat sempit seperti ini, kamar ini terasa pengap karena terlalu kecil. Nggak ada ACnya lagi." Ujar Mara.
" Mas akan tidur di bawah kalau kamu tidak nyaman tidur berdua. Jadi kamu bisa leluasa bergerak kemanapun kamu mau." Ujar Arthur.
Mara menatap lantai yang terbuat dari ubin itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya jika tidur di bawah sana.
" Jangan Mas! Nanti kalau kamu tidur di bawah kamu bisa sakit, yang ada nanti aku yang repot karena harus mengurus kamu." Ucap Mara.
" Repot apa khawatir?" Goda Arthur menatap Mara.
" Repot." Sahut Mara.
" Masa'?" Arthur mencoba menggoda Mara lagi.
" Aku nggak bakalan khawatirin kamu, mau kamu sakit, mau kamu sehat aku nggak peduli." Ucap Mara membuat hati Arthur mencelos.
" Baiklah, Mas sadar jika Mas tidak berarti." Ucap Arthur membalikkan badannya hendak pergi.
" Mau kemana?" Tanya Mara mencekal tangan Arthur.
" Mau keluar ngumpul sama saudara." Sahut Arthur.
" Maafkan ucapanku." Ucap Mara.
" Kamu tidak bersalah." Ujar Arthur melangkah meninggalkan Mara.
Tiba tiba...
Grep....
Tubuh Arthur menegang saat Mara memeluknya dari belakang.
Deg... Deg... Deg...
Jantung Arthur berdetak sangat kencang, begitupun dengan Mara.
" Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau sendirian." Ucap Mara membuat Arthur menyunggingkan senyumannya.
Arthur membalikkan badannya lalu memeluk tubuh Mara. Mara merasa nyaman berada di dalam pelukan Arthur.
" Baiklah Mas tidak akan meninggalkanmu. Sekarang istirahatlah! Mas akan menemanimu." Ujar Arthur.
Keduanya naik ke atas ranjang.
__ADS_1
" Butuh pelukan?" Tanya Arthur menatap Mara.
Mara tersenyum lalu memiringkan badannya menghadap Arthur. Ia menjadikan lengan Arthur sebagai bantalan, tak lupa ia memeluk perut Arthur begitupun sebaliknya. Benar benar posisi yang nyaman.
Arthur merasa bahagia melihat perubahan Mara saat ini, Ia merasa Mara telah membuka hati untuknya.
Jam sebelas malam rumah bibi Hanum masih ramai, para warga akan begadang sampai pagi hari jika ada warga yang lain yang hendak melaksanakan hajatan.
Tidur Mara nampak terganggu. Ia mengerjapkan matanya, Mara terkejut karena tidak menemukan Arthur di sana.
" Kemana Mas Arthur sih, katanya tidak akan meninggalkan aku. Ini malah aku di tinggal sendiri, mana mau keluar ramai banget lagi." Monolog Mara.
Mara mengambil ponselnya, ia mencoba menelepon Arthur namun ternyata Arthur tidak membawa ponselnya. Mara hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
Mara terpaksa keluar dari kamar karena ingin buang air kecil, ia menuju dapur untuk mencari kamar mandi karena biasanya rumah di pedesaan hanya punya satu kamar mandi.
Deg...
Jantung Mara terasa berhenti berdetak saat melihat Arthur sedang meniup niup jari Vida di dapur. Entah apa yang terjadi sehingga Arthur melakukan itu, Mara tidak tahu. Yang jelas saat ini hati Mara terasa seperti di sayat sembilu melihat kedekatan mereka.
" Nak Mara kamu di sini?"
Pertanyaan bibi Hanum membuat Arthur menoleh ke belakang. Arthur sangat terkejut, ia langsung melepas tangan Vida begitu melihat Mara yang sedang menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Tanpa berkata apa apa, Mara segera kembali ke kamarnya.
" Aku ke kamar dulu." Ucap Arthur segera menyusul Mara.
Arthur masuk ke kamarnya, ia terkejut melihat Mara yang sedang memakai jaketnya seperti mau pergi.
" Pulang." Ketus Mara.
" Jangan gila Mara! Ini sudah larut malam, kau mau pulang naik apa?" Ujar Arthur menatap Mara.
" Aku punya mobil, aku pulang naik mobil lah. Mau naik apa lagi?" Ucap Mara dengan nada tinggi.
" Sayang Mas tahu kamu sedang marah, kamu pasti salah paham melihat Mas dan Vida barusan. Dengarkan penjelasan Mas dulu! Dan tolong pelan kan suaramu atau mereka semua akan mendengar suaramu." Ucap Arthur memegang kedua tangan Mara.
" Lepas!!! Aku tidak mendengar apapun darimu. Aku juga tidak peduli jika mereka mendengar suaraku." Ucap Mara kesal.
" Mara!!!" Tekan Arthur.
" Kau bisa bersikap sesuka hatimu jika itu di rumahmu, tapi tidak di sini. Kau akan membuat keluargaku malu jika kau keluar dari sini. Dan Mas tidak akan membiarkan sampai itu terjadi." Ucap Arthur penuh penekanan. Ia menatap Mara dengan tajam membuat Mara sedikit takut karena tidak biasanya Arthur bersikap seperti ini.
" Kau tidak bisa mengancamku Arthur! Aku akan tetap melakukan apapun yang aku mau." Sahut Mara.
Tiba tiba Arthur mendorong tubuh Mara ke ranjang, ia menjatuhkan tubuhnya di atas Mara hingga...
Kretak...
Brugh...
" Awhhh!!" Pekik Mara dengan keras memancing perhatian orang orang yang ada di luar.
Kedua orang tua Arthur dan yang lainnya berlari menuju kamar yang Arthur tempati. Mereka berpikir terjadi hal buruk terhadap penghuni kamar.
__ADS_1
Sampai di sana mereka malah merasa malu sendiri melihat posisi Arthur dan Mara yang sangat intim. Bagaimana tidak? Saat ini Arthur sedang menindih tubuh Mara. Namun mereka juga menahan tawa begitu melihat ranjang yang mereka tempati patah.
" Arthur pelan pelan Nak! Jangan terburu buru jika mau membobol gawang. Ranjang di sini tidak sekuat ranjangmu di kota." Ucap paman Eko terkekeh.
Mara membulatkan matanya mendengar ucapan paman Eko.
" Maaf Paman." Ucap Arthur menutupi wajah Mara dengan tubuhnya karena ia tahu jika Mara sedang menahan malu yang teramat sangat saat ini.
" Bangunlah! Paman akan membereskan ranjangnya. Kalian tidur di kasur saja, tidak perlu pakai dipan. Dipan itu sudah lapuk jadi tidak kuat menahan goncangan." Ujar paman Eko.
" Tidak usah paman, biar aku saja yang membereskannya. Maaf sudah menimbulkan keributan di sini." Ucap Arthur tanpa menjauh dari tubuh Mara.
" Iya kau benar, kau menimbulkan keributan di ranjang. Saking kuatnya sampai sampai ranjang bibi ambruk." Sahut bibi Hanum membuat Mara bertambah malu.
" Ya sudah ayo kita keluar! Biarkan mereka melanjutkan kegiatan mereka." Ucap paman Eko.
Mereka semua keluar dari kamar Arthur.
" Sayang kamu baik baik saja?" Tanya Arthur membantu Mara berdiri.
" Apa ada yang sakit hmm? Maafkan Mas!" Ucapan Arthur menyelipkan rambut Mara di telinga.
Mara menepis tangan Arthur.
" Kau duduklah di sana sebentar, Mas akan membereskan semua ini dulu biar kau bisa tidur kembali." Ucap Arthur.
" Aku nggak mau, pokoknya aku mau pulang. Di sini tidak nyaman, aku tidak bisa bebas ngapa ngapain." Sahut Mara memulai perdebatan.
Arthur menghela nafasnya.
" Jangan memancing emosi Mas! Atau Mas akan melakukan apa yang paman Eko pikirkan." Ucap Arthur memberi ancaman.
" Selalu saja seperti itu, kau bisanya hanya mengancam mengancam dan mengancam saja. Tapi kali ini aku tidak takut, lakukan jika kau bisa." Tantang Mara.
Arthur langsung mendekati Mara membuat Mara ketakutan.
" Mau dimana kita melakukannya? Mau di atas kasur, lantai, atau di atas ranjang ambruk itu? Ayo kita lakukan sekarang juga!" Ucap Arthur menarik pinggang Mara hingga mengikis jarak mereka.
" Mau mulai darimana sayang?" Tanya Arthur menyusupkan wajahnya ke leher Mara.
" Tidak tidak.. Aku hanya bercanda saja. Jangan lakukan itu! Baiklah aku akan diam di sini. Aku tidak akan memancing emosimu lagi." Ucap Mara ketakutan.
" Yakin?" Tanya Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mara.
" Gadis pintar." Ucap Arthur mengelus pipi Mara.
Arthur melepas pelukannya, ia mulai membereskan papan ranjang yang patah tadi.
" Duduk di sini!" Ucap Arthur mengangkat kasur lalu meletakkannya di lantai.
Mara duduk manis sambil memainkan ponselnya. Ia bergidil ngeri membayangkan jika Arthur benar benar melakukan ancamannya.
" Kelinciku nampak imut sekali kalau lagi nurut gitu." Batin Arthur sambil tersenyum.
TBC....
__ADS_1