AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
SEPERTI MIMPI


__ADS_3

Jam sembilan malam Mara keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni anak tangga menuju mobilnya. Melihat itu, Arthur segera berlari menyusulnya.


" Nona Mara, kamu mau kemana malam malam begini?" Tanya Arthur kembali menutup pintu mobil yang sempat di buka oleh Mara.


" Bukan urusanmu Bang." Sahut Mara.


" Kamu sedang dalam keadaan tidak baik baik saja saat ini, aku melarangmu pergi apalagi mengendarai mobil sendiri. Aku tidak mau kamu kenapa napa." Ucap Arthur.


" Kalau begitu antar aku sekarang!" Titah Mara.


" Kemana?" Tanya Arthur.


" Ke club." Sahut Mara.


" Club?" Arthur mengerutkan keningnya.


" Ya." Sahut Mara.


" Tidak boleh, aku tidak mau sampai kamu ma...


" Kalau tidak mau, aku bisa pergi sendiri." Sahut Mara memotong ucapan Arthur.


Arthur menghela nafasnya pelan.


" Ah tidak tidak.. Baiklah aku akan mengantarmu." Ucap Arthur mengalah.


Mara memutari mobil lalu membuka pintu depan. Ia duduk di kursi samping kemudi.


" Jalan Bang!" Ucap Mara.


Arthur segera melajukan mobilnya menuju club terdekat di kota itu.


" Dengarkan aku Nona Mara! Sampai di sana kau tidak boleh jauh jauh dariku, jangan minum minuman beralkohol! Dan ja...


" Memang tujuanku ke sana mau minum. Lalu untuk apa kau melarangku? Kalau kau tidak suka dengan apa yang akan aku lakukan. Lebih baik kamu turun di sini! Biarkan aku sendiri yang ke sana." Ucap Mara lagi lagi memotong ucapan Arthur.


" Hah baiklah, aku akan membiarkanmu minum tapi sedikit saja." Ujar Arthur.


" Aku tidak janji." Sahut Mara cepat.


Sampai di depan club, Mara turun dari mobil tanpa menunggu Arthur. Setelah memarkirkan mobilnya, Arthur segera berlari menyusul Mara. Arthur menggenggam tangan Mara membuat Mara menghentikan langkahnya.


" Jangan jauh jauh dariku! Di sini banyak lelaki hidung belang yang siap menerkammu." Ujar Arthur.


" Hah baiklah terserah kau saja." Sahut Mara tidak ambil pusing. Ia cukup lelah menerima kenyataan yang ada. Ia tidak hanya di permainkan oleh kekasih, sahabat, dan suaminya, namun papanya juga.


Keduanya berjalan menuju meja bartender sambil bergandengan tangan. Mara duduk di kursi depan meja di ikuti Arthur yang duduk di sebelahnya.


" Beri aku minuman!" Ucap Mara kepada seorang bartender.


" Baik Nona." Sahut sang bartender.


Bartender menuangkan minuman ke dalam gelas sloki.


" Ini Nona." Ucapnya.


Mara langsung meminumnya sekali tegukan.


" Berikan lagi!" Ucap Mara menyodorkan gelasnya.


Bartender tersebut menatap Arthur, Arthur menganggukkan kepala tanda mengijinkannya. Bukannya Arthur tidak bisa mendidik istrinya, namun Arthur memahami kondisi psikis Mara saat ini. Ia sengaja memberikan kesempatan pada Mara untuk meluapkan kesedihannya.


" Sudah jangan minum lagi! Kau akan mabuk jika banyak minum." Ucap Arthur.


Mara menatap Arthur dengan tajam.

__ADS_1


" Kau berani melarangku untuk ini? Memangnya siapa kau? Jangan pernah mengaturku seperti papaku! Papa yang telah menyakiti hatiku dan membuat aku kecewa. Aku membenci papa... Aku juga membencimu. Biarkan aku minum sepuasnya." Ucap Mara.


Mara mengambil botol minuman yang ada di atas meja lalu menenggaknya.


" Mara." Arthur segera merebut botolnya.


" Minggir! Biarkan aku meminumnya." Mara kembali merebut botolnya lalu menenggaknya hingga tandas.


" Astaga Nona Mara.. Kau akan mabuk setelah ini." Ucap Arthur.


" Aku tidak peduli." Sahut Mara.


Belum lama Arthur bicara, kepala Mara sudah terasa pusing. Pandangannya kabur, ia merasa bumi berputar putar.


" Shh.... Kepalaku sakit sekali." Rintih Mara memegangi kepalanya.


" Kamu mabuk Nona, ayo kita pulang." Ucap Arthur.


" Tidak mau, aku masih mau di sini. Orang orang bilang di sini bisa melupakan segala masalah yang sedang kita hadapi. Aku ingin membuktikannya sendiri. Aku ingin melupakan masalah yang telah menimpaku."


" Aldo kekasih brengsekku tega menyakiti aku hanya karena dia mengira aku yang menyebabkan adiknya tiada. Papa yang selama ini aku percaya dan aku sayangi ternyata membohongiku. Dia punya anak dari wanita lain selain mamaku. Aku sangat kecewa dengan mereka berdua, mereka adalah dua orang yang aku sayangi selama ini dan sialnya mereka justru membuatku seperti ini. Aku membenci mereka Bang." Ucap Mara mulai meracau.


" Kau bisa meluapkan kesedihanmu di rumah, jangan di sini! Sekarang mending kita pulang." Ucap Arthur menarik Mara.


" Aku belum mau pulang Bang, masalahku belum bisa aku lupakan. Aku mau di sini saja, aku mau minum lagi." Ujar Mara memberontak.


Tanpa membuang waktu, Arthur mengangkat tubuh Mara seperti membawa karung beras berjalan keluar.


" Bang turunin aku! Aku tidak mau pulang, di rumah sepi kalau di sini ramai." Ucap Mara memukuli punggung Arthur.


Arthur menurunkan Mara di mobilnya lalu menutup pintunya. Arthur segera berlari masuk ke mobil lalu menjalankan mobilnya meninggalkan club malam.


" Kau menyebalkan Bang! Aku belum mau pulang, biarkan aku menghabiskan waktuku di sini. Kau jahat Bang, Bang Arthur jahat seperti papa dan Aldo hiks... " Ucap Mara tiba tiba menangis.


" Aku membenci mereka Bang, aku sangat membenci mereka. Aku tidak mau bertemu dengan mereka Bang, bawa aku pergi sejauh jauhnya." Racau Mara.


Sampai di rumah, Arthur menggendong Mara ala bridal style ke kamarnya. Sampai di kamar Arthur merebahkan tubuh Mara di atas ranjang.


" Istirahatlah!" Ucap Arthur menatap wajah Mara.


Tiba tiba Mara mengalungkan kedua tangannya ke leher Arthur membuat Arthur terkejut.


" Kalau di lihat lihat, wajahmu tampan juga Bang, kau jauh lebih tampan di bandingkan dengan Aldo brengesek itu. Aku jadi ingin memilikimu selamanya Bang." Ucap Mara mengelus pipi Arthur.


Arthur memejamkan matanya menahan gelenyar aneh dalam jiwanya.


Mara mengangkat kepalanya lalu...


Cup...


Arthur membulatkan matanya ketika Mara mengecup bibirnya. Mara mendorong keras tubuh Arthur membalikkan posisi.


" No.. Nona Mara." Ucap Arthur gugup.


" Kenapa hmm?" Mara kembali mengelus pipi Arthur.


" Kendalikan dirimu Nona! Atau aku akan kehilangan kendali." Ucapan Arthur.


" Kau bilang aku istrimu, maka jadikan aku istrimu yang sesungguhnya. Aku sudah tidak mau lagi mengharapkan cinta si Aldo brengsek itu. Aku mau kau memberinya pelajaran karena telah menyakiti hati istrimu ini. Dia bahkan menghamili gadis yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Hiks... Hiks... Dia jahat padaku. Aku membencinya." Ucap Mara kembali terisak.


" Tenanglah Nona!" Ucap Arthur mengelus punggung Mara.


Mara menatap wajah Arthur dengan intens. Ia memajukan wajahnya lalu kembali mengecup bibir Arthur dengan lembut. Arthur yang semula menolak kini menjadi terlena. Ia membalas ciuman Mara dengan baik, suara decapan terdengar memenuhi ruang kamar mereka.


Tanpa Arthur sadari, tangannya meremas salah satu gundukan kembar milik Mara.

__ADS_1


" Ssshhhh." Desis Mara membangkitkan jiwa kelakiannya.


" Maaf Nona." Ucap Arthur setelah menyadari perbuatannya.


" Kenapa minta maaf? Kau bisa melakukannya sesuka hatimu." Ucap Mara membuat Arthur terkejut.


" Tidak Nona, aku tidak mau melukai harga dirimu. Saat ini kau sedang mabuk, aku pergi dulu." Ucap Arthur mendorong Mara hingga terjerembab di atas ranjang.


Tidak terima dengan penolakan Arthur, Mara langsung menarik tangan Arthur, Arthur kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya jatuh menimpa Mara.


Brugh....


" Apa aku terlalu jelek di matamu hingga kau tidak mau melakukannya denganku?" Tanya Mara di bawah sisa kesadarannya.


" Bukan begitu, aku...


Mara mendorong tubuh Arthur, ia mengukung Arthur lalu mencium bibir Arthur dengan paksa. Tanpa Mara sadari, ia melepas bajunya sendiri karena ia merasakan panas pada tubuhnya.


" Nona apa yang kau lakukan?" Tanya Arthur panik.


" Kau terlalu lama Bang! Aku akan memulainya lebih dulu." Ujar Mara hilang kendali.


" Kendalikan dirimu Mara! Atau kau akan menyesali perbuatanmu ini." Ucap Arthur.


" Aku tidak akan pernah menyesali perbuatanku Bang. Jika kau tidak mau melakukannya maka aku akan melakukannya dengan yang lain." Ancam Mara.


" Jangan!" Ucap Arthur.


Keduanya kembali saling melempar tatapan, Arthur kembali membalikkan posisi.


" Kau yang memaksaku untuk melakukannya. Jangan pernah sesali ini setelah kau sadar nanti." Ucap Arthur. Mara menganggukkan kepalanya.


Arthur mencium bibir Mara dengan lembut. Mara membalas ciuman Arthur tak kalah lembut. Keduanya terhanyut dalam suasana yang menggairahkan. Ciuman yang semula lembut kini menjadi ciuman yang menuntut. Arthur memainkan lidahnya pada leher Mara membuat tubuh sang empu menggelinjang.


" Shhhh" Desis Mara saat Arthur mencetak stempel kepemilikan di lehernya hingga meninggalkan bekas merah.


Tak kuat menahan hasrat yang membuncah di tubuhnya, Arthur membuka bajunya. Ia menuntun pusakanya menuju goa sempit milik Mara. Ia mendorongnya dengan pelan membuat Mara memekik kesakitan.


" Awh... " Mara mencengkeram erat sprei menahan sakit di bagian bawahnya.


Arthur mengerutkan keningnya, bukankah ini bukan yang pertama untuk Mara? Kenapa Mara memekik kesakitan seperti itu? Pikir Arthur.


Arthur berusaha lebih keras lagi hingga ia berhasil membobol gawang dengan sempurna. Ia memacu tubuhnya dengan pelan membuat Mara yang berada di bawahnya terus mendes@h nikmat.


Suara des@h@n dan er@ng@n memenuhi kamar mereka. Hingga satu jam lamanya, Arthur tumbang di samping Mara.


" Terima kasih sayang." Ucap Arthur mencium kening Mara.


Arthur tersenyum bahagia ketika melihat bercak merah yang menodai sprei.


" Ternyata kau membohongiku, aku tidak tahu bagaimana reaksimu setelah sadar nanti." Ucap Arthur.


Arthur memakai bajunya kembali, ia mengambil ponselnya lalu menelepon manager club untuk memastikan sesuatu. Tak lama manager club pun meneleponnya.


" Bagaimana?" Tanya Arthur setelah mengangkat panggilannya.


" Maaf Tuan, bartender kami salah memberikan minuman kepada istri anda. Minuman itu telah di campur dengan obat per@ngs@ng Tuan."


" Hah???"


TBC.....


Jangan lupa tekan like koment vote dan mawarnya ya buat author...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


__ADS_2