AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
DUA PASANGAN


__ADS_3

Mara masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil salep di kotak p3k. Ia duduk di sofa sambil mengoleskan salep pada tangan kanannya yang melepuh. Ia nampak kesusahan karena mengoles menggunakan tangan kiri. Arthur yang baru saja masuk segera menghampirinya.


" Biar Mas saja." Ucap Arthur mengambil salep dari tangan Mara. Ia duduk di samping Mara lalu mengoleskan salep pada luka Mara.


" Sssss." Desis Mara menahan sakit. Tangannya terasa panas dan perih menjadi satu.


Dengan perlahan Arthur meniup tangan Mara. Mara menatap Arthur dengan perasaan entah. Ia merasa kesal tapi sayang jadi satu.


" Awh." Mara menarik tangannya saat tangan Arthur terlalu menekan luka Mara.


" Maaf sayang Mas tidak sengaja, perasaan sudah pelan tapi masih menyakitimu. Sekali lagi Mas minta maaf." Ucap Arthur.


" Bagaimana kalau kita ke dokter saja? Mas takut lukamu ini infeksi sayang." Ujar Arthur.


" Aku tidak mau." Sahut Mara.


" Baiklah tidak apa apa, nanti kamu minum pil anti biotik saja yang aman untuk ibu hamil. Kalau lukanya biar Mas perban tipis supaya tidak tergores gores nantinya." Ujar Arthur.


Arthur mengambil kain kassa di kotak lalu ia memasangkannya di tangan Mara dengan penuh hati hati.


" Sudah selesai, sekarang mau istirahat atau mau sarapan dulu? Kalau mau sarapan biar Mas ambilkan untukmu." Tawar Arthur.


" Aku tidak mau apa apa." Sahut Mara berjalan menuju ranjangnya.


Arthur menghela nafasnya pelan lalu mengikuti Mara. Ia duduk di tepi ranjang menatap Mara yang sedang berbaring saat ini.


" Sayang sudahi donk marahnya! Mas sudah minta maaf berkali kali masa' tidak di maafin. Harusnya Mas yang marah sama kamu karena kecerobohanmu kamu jadi terluka. Mas tahu niat baikmu, tapi kalau tidak mampu jangan di paksakan sayang. Tidak apa apa kamu tidak mengurus Mas, Mas bisa mengurus diri Mas sendiri. Tapi kamu harus mengurus dirimu sendiri dengan baik, jangan seperti tadi memaksakan keadaan malah menjadi musibah untukmu. Mas mohon mengertilah! Pahami apa yang Mas pikirkan dan inginkan sayang. Please jangan marah lagi." Ucap Arthur menggenggam tangan Mara yang tidak sakit.


Mara hanya diam saja tanpa mau menyahut ucapan Arthur. Arthur mengelus perut Mara dengan lembut.


" Anaknya Papa juga sedang marah ya sama Papa. Papa minta maaf ya, bukan maksud Papa menyakiti kalian berdua sayang. Papa hanya mengkhawatirkan keadaan kalian berdua. Tolong beri pengertian pada mama kamu supaya mama kamu tidak marah marah lagi sama Papa. Papa tidak sanggup di diamkan seperti ini sama mama kamu sayang." Ucap Arthur mencium perut Mara.


Arthur naik ke atas ranjang, ia berbaring di samping Mara sambil memeluknya.


" Istirahatlah! Mas akan menemanimu." Ujar Arthur.


" Lalu siapa yang memimpin rapat pagi ini Mas? Kamu harus datang lebih awal sebelum rapat di mulai." Ujar Mara membuat Arthur tersenyum. Bagaimana bisa Mara begitu mencemaskan rapat di banding dengan perasaan Arthur.

__ADS_1


" Mas tidak peduli perusahaan, yang Mas pedulikan hanya kamu. Selama kamu masih marah sama Mas, Mas tidak mau bekerja. Biarkan Aditya yang menghandle semuanya." Sahut Arthur.


Mara membalikkan posisi menghadap Arthur.


" Kau mau membuat perusahaan bangkrut?" Tanya Mara.


" Mas tidak peduli urusan harta, yang Mas pedulikan keutuhan keluarga kita. Jika kamu terus marah begini dan Mas tidak berhasil membujukmu, maka keluarga kita bisa tercerai berai sayang. Dan Mas tidak mau sampai hal itu terjadi." Sahut Arthur.


Mara menghela nafasnya, ia menatap Arthur di balas senyuman manis oleh Arthur.


" Kalau kamu mau Mas bekerja, maka biarkan Mas bekerja dengan tenang. Berikan senyuman terindah yang tulus dari dalam hatimu dan berjanjilah untuk tidak marah lagi sama Mas." Ucap Arthur merapikan anak rambut yang menutupi wajah Mara.


" Baiklah aku tidak marah lagi." Ucap Mara.


" Benarkah?" Tanya Arthur memastikan.


" Iya aku tidak marah lagi, aku memaafkanmu Mas." Ujar Mara.


" Terima kasih sayang." Ucap Arthur mencium Mara. Mara menganggukkan kepalanya.


" Sekarang istirahatlah, Mas bersiap dulu." Ujar Arthur.


" Kenapa aku jadi sensi begini ya, apa memang seperti ini wanita hamil? Atau hanya aku saja karena memang sebelum hamil aku sudah emosian." Monolog Mara memejamkan matanya yang terasa mengantuk.


Selesai mandi, Arthur segera bersiap memakai pakaian kantornya. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat Mara yang tertidur lagi. Ia mendekati Mara lalu mencium keningnya dengan hati hati agar tidur Mara tidak terganggu.


" Mas berangkat dulu sayang." Lirih Arthur.


Arthur keluar dari kamarnya menuju meja makan. Ia makan sedikit untuk mengganjal perutnya sebelum rapat nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aditya menghampiri Gania yang sedang membereskan tempat tidur.


" Sayang tolong pakaikan dasinya." Ucap Aditya menyodorkan dasi kepada Gania.


Gania segera mengambilnya lalu memasangkannya di kerah Aditya.

__ADS_1


Cup.. Cup.. Cup..


Aditya menciumi pipi Gania dengan gemas.


" Mas kalau begini tidak kelar kelar pakai dasinya Mas." Ujar Gania.


" Kamu gemesin sih sayang." Sahut Aditya.


" Gemesin dari mana? Orang aku diam saja dari tadi kok." Ujar Gania kembali mengikat dasinya.


Aditya menarik pinggang Gania hingga mengikis jarak keduanya. Gania mendongak menatap Aditya begitupun sebaliknya.


Cup...


Aditya mengecup bibir Gania. Gania mengalungkan tangannya pada leher Aditya. Ia membalas ciuman Aditya dengan mesra. Aditya mencecap bibir Gania, ia menekan tengkuk Gania memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruang kamar mereka. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva.


Setelah di rasa keduanya kehabisan pasokan oksigen, Aditya melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Gania menggunakan jempolnya.


" Manis." Ucap Aditya.


" Apa sih Mas." Ujar Gania malu malu.


" Semoga segera hadir Aditya junior di sini sayang, aku sangat mengharapkan kehadirannya." Ujar Aditya mengelus perut Gania.


" Apa karena perusahaan oma?" Selidik Gania.


" Kamu ini bicara apa sayang, tentu saja bukan itu alasan utamanya. Alasannya karena aku ingin segera menimang babby yang lucu." Sahut Aditya.


" Aku harap kau tidak membohongiku lagi Mas. Kalau sampai kau berbohong, aku akan pergi darimu bersama dengan anak kita nanti. Dan aku tidak akan pernah mau memaafkanmu lagi." Ujar Gania.


" Jangan berpikir hal buruk tentang aku sayang, aku sudah tobat. Aku tidak mau melakukan kesalahan lagi dengan menyakitimu. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu dan anak kita. Aku ingin kita selalu hidup bersama selamanya. Apa kau percaya itu hmm?" Tanya Aditya mengelus pipi Gania.


" Aku percaya padamu Mas tapi tidak ada salahnya aku berjaga jaga. Karena hati yang pernah tersakiti mungkin bisa sembuh tapi tidak akan pernah bisa melupakan semuanya. Aku harap kau paham dengan perkataanku." Ujar Gania.


" Aku sangat paham sayang." Sahut Aditya mencium kening Gania.


" Tidak aku sangka ternyata Gania belum sepenuhnya percaya padaku. Maafkan aku yang pernah menyakitimu." Batin Aditya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2