
Satu bulan berlalu, hubungan Arthur dan Mara terlihat semakin dekat namun tetap banyak perdebatan yang menghiasi hari hari mereka. Hal itu membuat hidup mereka banyak warna. Seperti pagi ini, Arthur baru saja kembali dari luar kota kerena sebuah pekerjaan yang di berikan oleh mertuanya. Ia masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya.
Ceklek....
Arthur membuka pintu kamarnya, ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ia menggelengkan kepalanya begitu melihat kamarnya yang seperti kapal pecah. Bagaimana tidak? Baju, handuk, bathrobe, dan yang lainnya berserakan dimana mana, sedangkan penghuni kamar malah keenakan tidur meringkuk di bawah selimut.
Arthur masuk ke dalam memunguti pakaian pakaian yang berserakan tadi. Sampai tangannya mendapati sebuah baju tidur yang sangat tipis dan ****** ***** yang nampak seperti sebuah tali saja. Ia menjerengnya di depan mata sambil mengamati benda itu, Mara yang baru saja terbangun langsung melongo melihat semua itu.
" Jangan sentuh benda lucknut itu!" Ucap Mara beranjak duduk.
" Apa ini Nona Mara? Apa ini yang di namakan lingerie? Apa kau sengaja menyiapkan baju ini untuk malam pertama kita yang telah lama tertunda?" Tanya Arthur menatap Mara.
Mara segera turun dari ranjang, lalu merebut pakaian keramat itu dari tangan Arthur.
" Jangan berpikir aneh aneh! Mana mungkin aku mempersiapkan ini untukmu. Kemarin temanku datang ke sini memberikan kado pernikahan karena dia tidak bisa datang waktu pernikahanku. Saat aku membukanya ternyata isinya pakaian lucknut ini. Ya aku buang lah." Sahut Mara.
" Lalu kenapa kau tidak membuangnya ke tempat sampah? Kenapa malah ada di sini? Atau jangan jangan sebelum berniat membuangnya kau mencobanya lebih dulu. Jadi pengin lihat bagaimana cantiknya kamu memakai pakaian itu." Ucap Arthur mengerlingkan matanya.
" Idih jijay banget aku Bang. Nggak bakalan ya aku pakai pakaian seperti ini di depanmu. Jangankan pakaian seperti ini, pakaian terbuka pun aku juga tidak mau." Ujar Mara.
" Pakaian terbuka." Gumam Arthur sambil tersenyum.
" Kenapa senyum senyum begitu?" Tanya Mara.
" Yakin tidak mau memakai pakaian terbuka di depanku." Ucap Arthur menatap Mara dari atas sampai bawah.
Mara melihat ke arah tubuhnya sendiri.
" Hah... " Mara menarik selimut di atas ranjang lalu melilitkannya ke badannya. Ia baru menyadari jika ia hanya memakai thanktop dan hotpants saja membuat tubuhnya tereskpos.
" Kau ini lucu sekali." Ucap Arthur mengacak rambut Mara.
" Bang!!" Teriak Mara.
" Apa sayang?" Goda Arthur.
" Nggak usah sayang sayangan, aku nggak sayang sama kamu. Aku malah membencimu, sikapmu benar benar membuatku kesal." Ucap Mara.
" Kau cantik kalau marah marah begini." Ucap Arthur.
" Kau menyebalkan." Cebik Mara menghentakkan kakinya. Ia membuang selimutnya ke sembarang arah lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit kemudian Mara telah selesai mandi, tapi ia nampak kebingungan karena ia tidak membawa handuk ataupun bathrobe. Mau memakai pakaian sebelumnya, ia merasa risih.
__ADS_1
" Duh gimana nih? Masa' iya aku mau minta tolong bang Arthur buat ambilin handuk. Entar yang ada dia godain gue, kan malu gue... " Gumam Mara.
Tok... Tok...
" Nona Mara apa kau sudah selesai? Perutku tiba tiba mulas nih." Ujar Arthur.
" Bentar Bang, aku belum siap. Mending Bang Arthur pakai kamar mandi di dapur deh." Ujar Mara.
" Nggak mau, aku nggak nyaman kalau di sana. Buruan keluar jangan lama lama!" Ucap Arthur.
Ceklek...
Mara membuka pintunya, ia menongolkan kepalanya keluar menatap Arthur.
" Buruan keluar! Aku sudah kebelet banget ini." Ujar Arthur.
" Aku lupa bawa handuk Bang." Ucap Mara nyengir kuda.
" Astaga Nona Mara... Kenapa kau ceroboh sekali sih." Ujar Arthur.
" Siapa yang ceroboh? Aku hanya lupa saja." Sahut Mara tidak terima.
" Itu sama saja ceroboh, handuk saja sampai lupa membawanya." Gerutu Arthur mengambilkan handuk Mara.
" Kamu tutup mata! Jangan lihat lihat! Aku mau keluar." Ujar Mara.
" Memangnya kenapa harus tutup mata segala?" Tanya Arthur.
" Aku hanya memakai handuk saja Bang." Sahut Mara kesal.
" Memangnya kamu pikir aku bakal tertarik dengan tubuh kerempengmu itu Nona?"
Mara membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya mendengar ucapan Arthur. Tidak terima di sebut kerempeng, Mara segera melilitkan handuk ke tubuhnya lalu keluar begitu saja membuat Arthur terkejut melihat keberaniannya.
Glek...
Arthur menelan kasar salivanya saat melihat tubuh putih Mara yang terekspos begitu saja. Leher jenjang, bahu mulus dan paha seputih susu membuat jiwa kelakiannya meronta.
" Bagaimana Bang? Apa kau tidak tertarik setelah melihat semua ini?" Tanya Mara dengan nada menggoda. Ia mendekati Arthur membuat jantung Arthur berdebar dengan sangat kencang.
" A.. Aku.. " Ucap Arthur gugup.
" Aku tertarik." Sahut Arthur di balas senyuman sinis oleh Mara.
__ADS_1
Tiba tiba Arthur hendak memeluk Mara namun Mara segera menghindar sampai...
Brugh....
Arthur jatuh tersungkur masuk kamar mandi.
" Ha ha ha." Mara tertawa lepas melihat semua itu.
" Kasihan sekali kamu Bang, gara gara terpesona dengan tubuhku yang kerempeng ini kamu sampai terperosok ke dalam kamar mandi." Ucap Mara terkekeh.
Arthur segera beranjak, ia mendekati Mara membuat Mara menghentikan tawanya.
" Ma... Mau apa Bang?" Tanya Mara memundurkan langkahnya.
Arthur memajukan langkahnya, Mara terus memundurkan tubuhnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang, tanpa sengaja Mara menarik dasi Arthur hingga....
Brugh...
Keduanya terjatuh di atas ranjang dengan posisi Arthur berada di atas Mara. Untuk sesaat keduanya saling menatap dengan jantung yang terus berdebar.
" Ya Tuhan tampan sekali Bang Arthur." Batin Mara.
" Jantungku berdebar sangat kencang terasa mau copot dari tempatnya, ya Tuhan... Cantiknya ciptaanmu.. Tapi aku jatuh cinta padanya bukan karena kecantikannya. Tapi karena kepribadiannya yang sebenarnya manja tapi selalu menampakkan ketegarannya. Yang sebenarnya baik tapi selalu menutupi kebaikannya dengan sikap urakannya. Aku tulus menerimanya apa adanya." Ujar Arthur dalam hati.
Arthur mengerutkan kenjngnya saat ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Mara dan Arthur saling menatap lalu melihat ke arah tangan Arthur.
" Astaga." Pekik Arthur segera menjauh dari tubuh Mara. Mara segera meraih selimut untuk menutupi dadanya.
" Ya Tuhan apa tadi? Kenapa rasanya padat dan kenyal? Dan bentuknya begitu menggiurkan, ingin sekali aku meremasnya." Batin Arthur dengan pikiran kotor.
" Bego' lo Mara... Bagaimana bisa lo tidak menyadari kalau handukmu melorot. Ahhhh.. Malu banget gue Bang Arthur melihat itu." Jerit Mara dalam hati.
Tanpa berkata apa apa, Arthur segera masuk ke kamar mandi untuk menjernihkan otaknya yang mulai liar.
" Argh... " Arthur mengacak rambutnya sendiri.
" Buang pikiran. itu Arthur, lupakan bayangannya!"
" Hah hanya melihat seperti itu saja junior ku berulah, sabar ya junior! Tunggu waktunya tepat, kau pasti bisa masuk ke kandangmu." Monolog Arthur.
Arthur mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sedangkan Mara segera memakai bajunya sebelum Arthur keluar.
TBC..
__ADS_1