AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
RENCANA GANIA


__ADS_3

Tiba tiba....


Brugh...


Pundak Gania bertubrukkan dengan Aditya. Keduanya saling bertatap muka.


Deg... Deg...


" Ga... Gania." Gumam Aditya. Entah kenapa ia teringat dengan Gania.


Tanpa membuang waktu, Gania segera berlalu dari sana. Aditya menatap kepergian Gania dengan perasaan entah.


" Kamu tidak apa apa Dit?" Tanya Alma menatap Aditya.


" Tidak sayang, aku kembali ke kantor dulu." Ujar Aditya meninggalkan Alma.


Aditya melajukan mobilnya menuju perusahaan Arthur. Hati dan pikirannya melayang mengingat tatapan mata wanita itu yang sangat mirip dengan mata Gania.


Sampai di perusahaan, Aditya segera bergegas menuju pantry untuk memastikan jika Gania ada di sana. Dan benar saja, Gania sedang duduk santai bersama Lidya.


" Gania."


Gania menoleh ke arah Aditya.


" Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Gania mendekati Aditya.


" Kamu darimana?" Tanya Aditya.


Gania mengerutkan keningnya menatap Aditya.


" Maksud Bapak apa? Saya dari tadi di sini menunggu perintah Bapak untuk membuatkan kopi. Tapi ternyata tidak ada perintah sama sekali sampai sekarang. Memangnya Bapak darimana? Saya tadi lihat Bapak keluar kantor." Gania balik bertanya membuat Aditya gelagapan. Gania tersenyum sinis melihat ekspresi Aditya yang nampak gugup.


" Pak Arthur memerintahku untuk menemui client." Sahut Aditya.


" Benarkah cuma client? Bukan seseorang yang spesial kan?" Tanya Gania membuat Aditya semakin gelagapan.


" A.. Apa maksudmu sayang? Mana mungkin aku menemui seseorang yang spesial di luar sana sedangkan seseorang itu ada di depanku sekarang." Ucap Aditya menyelipkan rambut Gania ke telinga.


" Pandai sekali kau bersilat lidah Mas. Sayang sekali aku tidak akan tertipu lagi dengan rayuanmu Mas. Kau akan tahu bagaimana aku membuat kejutan untukmu nanti. Tunggu satu bulan, aku akan memberikan kejutan itu tepat di hari pernikahan yang akan kau janjikan padaku." Ujar Gania dalam hati.


" Berarti yang aku lihat tadi bukan Gania, syukurlah kalau begitu." Batin Aditya.


" Saat makan siang nanti, kita pergi makan bareng ya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Ujar Aditya.

__ADS_1


" Baiklah." Sahut Gania menganggukkan kepala.


" Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu." Ucap Aditya meninggalkan Gania.


" Cie cie yang hatinya sedang berbunga bunga.... " Lidya menggoda Gania.


" Apaan sih Mbak." Ucap Gania terkekeh.


" Kelihatannya pak Aditya sangat menyayangi kamu." Ujar Lidya.


" Mungkin." Sahut Gania menganggukkan kepala.


" Aku akan menjadikannya kenyataan Mbak." Batin Gania.


Siang hari Aditya bersama Gania menuju Cafe xx di depan kantor. Sampai di sana keduanya duduk di meja paling belakang.


" Mau pesan apa?" Tanya Aditya menatap Gania.


Gania menyangga dagunya di atas meja sambil menatap Aditya.


" Kalau aku memesan hati dan cintamu hanya untukku, apakah kau akan memberikannya Mas?" Pertanyaan Gania menohok hati Aditya.


" A.. Aku.. " Aditya nampak gugup.


" Mas, aku ingin kau berjanji bahkan kau harus bersumpah akan memberikan hati dan cintamu hanya untukku. Jika sampai kau mengkhianatinya, kau akan mendapatkan kehancuran. Bagaimana? Apa kau bisa mengambil sumpah itu?" Tanya Gania menatap Aditya.


" Kena kau Mas, aku ingin melihat bagaimana kau berani mengambil sumpah itu untukku." Batin Gania.


" Jujur aku sangat sangat mencintaimu Mas. Aku tidak mau kehilanganmu untuk beberapa saat ataupun selamanya. Aku ingin kita hidup bahagia bersama penuh dengan cinta bersama anak anak kita nanti." Ucap Gania beranjak.


Gania membungkuk di depan Aditya membuat wajah mereka sangat dekat. Lalu...


Cup....


Gania menngecup bibir Aditya tanpa malu. Jantung Aditya berdebar sangat kencang.


" Sial!!! Aku harus bersikap seperti wanita murahan hanya untuk mendapatkan hati pria baj!ng@n sepertinya. Sabar Gania... Semua pasti akan indah pada waktunya." Batin Gania menatap mata Aditya.


" Ya Tuhan kenapa jantungku berdebat seperti ini? Ada sesuatu yang berdesir di dalam hatiku. Entah kenapa rasanya sangat nyaman berada di dekat Gania sedekat ini. Apakah hatiku sudah mulai condong kepadanya? Bahkan tadi berdekatan dengan Alma tidak ada debaran sama sekali di hatiku. Kenapa aku mendadak jadi gugup seperti ini? Aku bimbang pada perasaanku sendiri." Ujar Aditya di dalam hati.


" Apa kau berjanji padaku demi nyawamu sendiri?" Ujar Gania duduk kembali di kursinya.


" Ehm.. " Aditya berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.

__ADS_1


" Aku berjanji padamu. Itulah yang ingin aku bicarakan padamu." Ujar Aditya.


" Tentang apa?" Tanya Gania.


" Pernikahan kita." Sahut Aditya.


" Apa? Pernikahan?" Tanya Gania merasa senang. Lebih tepatnya pura pura senang.


" Iya, apa kau senang jika aku akan segera menikahimu?" Tanya Aditya menatap Gania.


" Aku senang sekali Mas, akhirnya kita bisa hidup bersama. Aku tidak menyangka kau seserius ini kepadaku. Kapan kita akan menikah?" Tanya Gania.


" Bulan depan." Sahut Aditya.


" Bulan depan, aku akan mempersiapkan semuanya mulai hari ini." Ujar Gania.


" Tidak perlu, biar aku saja yang menyiapkan semuanya. Kau hanya terima beres saja." Ucap Aditya.


" Bukan itu yang ingin aku persiapkan Mas, tapi kehancuranmu." Batin Gania.


" Baiklah tidak masalah, itu akan lebih baik. Jadi aku tidak perlu capek capek mempersiapkan semuanya." Sahut Gania.


" Aku akan segera melamarmu, bilang pada kedua orang tuamu kalau malam ini aku akan membawa oma datang ke rumah." Ujar Aditya.


" Tenang saja, aku akan memberitahu mereka. Sepertinya jam makan siang telah selesai. Aku kembali ke kantor dulu, kalau kau masih mau di sini silahkan. Jam kerjamu lebih bebas dariku." Ujar Gania.


" Aku masih ingin di sini, kamu hati hati." Ucap Aditya di balas anggukkan kepala oleh Gania.


Gania meninggalkan Aditya yang merasa galau sendirian.


" Kenapa aku jadi bimbang seperti ini? Sentuhannya membuat hatiku berdebar debar. Aku bahkan sudah lama tidak merasakan debaran ini saat bersama Alma. Ya Tuhan... Sebenarnya kemana hatiku akan berlabuh? Gania atau Alma? Bertahun tahun aku berhubungan dengan Alma, tapi tidak pernah merasakan seperti ini. Tapi sekarang... Aku merasa bahagia hanya menatap senyuman di wajahnya saja. Aditya... Kau harus menentukan pilihan, kalau tidak kau akan menyesal karena telah kehilangan seseorang yang tulus mencintaimu." Monolog Aditya.


Gania menyetop taksi setelah mengirim pesan kepada Arthur untuk ijin pulang.


" Bougenvile residence Pak." Ucap Gania masuk ke dalam mobil.


" Baik Non."


Taksi melaju menuju alamat yang di inginkan Gania.


" Aku harus menemui oma dan memberitahu semuanya. Aku akan meminta bantuannya untuk melancarkan rencanaku. Semoga saja oma mau percaya dan mau membantuku. Ya Tuhan... Aku tidak bisa berlama lama menghadapi pria brengsek seperti Aditya. Hatiku tidak kuat bila terus berdekatan dengannya. Jangan sampai aku kalah dengan perasaanku sendiri. Semangat Gania! Semoga Tuhan melancarkan jalan yang akan aku tempuh. Oma tolong bantu aku, aku yakin oma orang yang baik." Ujar Gania dalam hati.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2