AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
WELLCOME TO THE WORD


__ADS_3

Hari hari berlalu, tak terasa usia kandungan Mara mencapai sembilan bulan. Perutnya besar, berat badannya bertambah sepuluh kilo. Saat ini ia sedang berdiri di depan cermin mengamati tubuhnya sendiri, sedangkan Arthur sedang duduk di sofa fokus pada laptopnya.


" Mas." Panggil Mara.


" Iya sayang, ada apa?" Tanya Arthur menatap Mara.


" Lihat deh! Badanku jadi gemuk begini. Mirip badut yang ada di perempatan jalan itu. Badan besar, perut juga besar." Ujar Mara.


" Tidak apa apa sayang, umumnya wanita hamil memang seperti itu." Sahut Arthur.


" Itu sebabnya banyak laki laki di luar sana yang tergoda dengan wanita lain karena tubuh istrinya tidak menarik lagi." Ucap Mara.


" Atau jangan jangan kamu juga seperti itu Mas." Sambung Mara.


Arthur beranjak dari sofa lalu mendekati Mara.


" Kok bicaranya gitu sih sayang. Jangan samakan Mas dengan pria lain donk! Mas tidak seperti itu, Mas setia selamanya sampai akhir hayat memisahkan kita." Ucap Arthur merapikan anak rambut Mara.


" Lagian kamu seperti ini kan karena Mas sayang, di sini. " Arthur mengusap perut buncit Mara.


" Ada harta yang paling berharga yang Mas miliki. Tidak peduli seperti apa bentuk tubuhmu nanti, yang jelas cinta Mas tulus tanpa memandang fisik atau pun yang lainnya sayang. Seburuk buruknya sifatmu Mas menerimanya, sejelek jeleknya dirimu bagi Mas kamu tetap yang paling cantik. Dan seperti apapun kamu, Mas akan tetap mencintamu. Apa kamu mengerti maksud Mas hmm?" Tanya Arthur.


" Apa aku masih cantik?" Bukannya menjawab, Mara malah balik bertanya.


" Sangat cantik." Sahut Arthur sambil tersenyum.


" Bagaimana orang lain memandangku?" Mara bertanya lagi.


" Tetap cantik." Sahut Arthur.


Mara tersenyum menatap Arthur. Ia memeluk Arthur dengan erat, ia merasa bahagia memiliki suami yang seperti Arthur. Suami penurut, perhatian dan selalu sabar dalam menghadapi sifatnya yang menjengkelkan.


Tiba tiba...


" Awh.. " Pekik Mara memegangi perutnya.


" Kenapa sayang?" Tanya Arthur cemas.


" Mas tiba tiba perutku sakit sekali." Ucap Mara.


" Duduk dulu sauang." Arthur membantu Mara duduk di tepi ranjang.


" Ssshhh Mas sakit." Rintih Mara.


" Tarik nafas dalam dalam sayang, lalu keluarkan." Ujar Arthur.


" Sakit Mas.. " Ucap Mara.


" Atau kamu mau melahirkan sayang." Tebak Arthur.

__ADS_1


" Apa iya Mas? HPLnya dua minggu lagi Mas. Tapi ini rasanya sakit banget Mas." Ujar Mara menekan perutnya yang terasa sakit.


" Aku panggil Ibu dulu sayang." Ujar Arthur meninggalkan Mara.


Saat Arthur mau membuka pintu tiba tiba Mara memanggilnya lagi.


" Mas ke sini!" Ucap Mara.


" Ada apa lagi sayang?" Tanya Arthur kembali mendekati Mara.


" Mas aku seperti buang air kecil, aku ngompol Mas." Ujar Mara.


Arthur melihat kaki Mara, dan benar saja. Mengalir cairan putih seperti air dari sela sela kaki Mara. Arthur menempelkan tangannya lalu mencium air itu.


" Ini air ketuban sayang, kamu benar benar mau melahirkan." Ucap Arthur.


" Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Sambung Arthur menggendong Mara.


" Mas jangan di rumah sakit! Aku takut. Kita ke klinik saja." Ujar Mara.


" Di rumah sakit alatnya lebih lengkap sayang, kalau ada apa apa kamu langsung bisa di tangani." Ujar Arthur kelaur dari kamarnya.


" Tapi aku takut Mas, di sana juga ramai. Aku tidak suka keramaian Mas." Sahut Mara sambil menahan rasa sakit yang mendera di dalam perutnya.


Bi Ningsih yang sedang menyapu lantai segera menghampiri Arthur yang baru saja menuruni anak tangga.


" Mara mau melahirkan Bu, perutnya sakit." Sahut Arthur.


" Alhamdulillah kalau begitu, kamu bawa Mara ke rumah sakit sekarang. Ibu akan menyusul membawakan pakaian ganti untuk Mara dan anaknya nanti." Ujar bi Ningsih.


" Mara tidak mau ke rumah sakit Bu, Mara ingin ke klinik xx saja. Ibu segera menyusul ke sana ya." Ujar Arthur.


" Baiklah, ibu berkemas dulu." Sahut bi Ningsih menuju kamar Mara.


Arthur membawa Mara keluar menuju mobilnya. Setelah masuk ie mobil, Arthur segera melajukan mobilnya menuju klinik bersalin yang ada di jalan xx.


Sekitar sepuluh menit mereka sampai di sana. Arthur kembali menggendong Mara ala bridal style masuk ke dalam. Seorang suster menghampirinya.


" Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya suster.


" Istri saya mau melahirkan Sus, tolong tangani istri saya dengan baik." Ucap Arthur.


" Baik Pak, kami dan dokter Mila pasti akan menangani pasien dengan baik. Silahkan baringkan di sana Pak!" Ujar suster menunjuk brankar.


Arthur membaringkan tubuh Mara pada brankar. Suater segera mendorongnya menuju ruangan bersalin yang tak jauh dari sana. Arthur terus menggenggam tangan Mara mengikutinya masuk ke dalam.


Sampai di dalam, Mara segera di periksa oleh dokter spesialis kandungan pemilik klinik tersebut melalui USG.


" Bayi anda sudah berada di depan jalan lahir Nyonya. Ikuti instruksi saya untuk mendorongnya keluar." Ujar dokter Mila.

__ADS_1


Mara hanya menganggukkan kepalanya saja.


Dokter Mila meminta Mara untuk membuka kakinya lebar lebar setelah menutupinya dengan selimut. Ia memberikan instruksi kepada Mara untuk mendorong bayinya.


Satu kali dorongan belum berhasil. Dorongan kedua pun demikian.


" Sakit Mas.. " Rintih Mara menghentikan usahanya untuk beristirahat sejenak.


" Sabarlah sayang! Kau harus tetap kuat. Sebentar lagi anak kita akan lahir, pasti rasa sakit itu akan langsung hilang." Ujar Arthur mengelus dahi Mara yang penuh dengan keringat.


" Ayo di coba lagi Nyonya! Nanti setelah kepalanya keluar, jangan berhenti untuk mengej@n karena bisa menjepit lehernya." Ujar dokter Mila.


" Dorong setelah hitungan ketiga ya, satu.. Dua.. Tiga.. Dorong dengan kuat!" Ucap dokter Mila memberikan instruksi.


Mara mencoba mendorong dengan kuat, ia mengeluarkan seluruh tenaganya dengan harapan calon bayinya bisa segera lahir. Sampai...


Oek... Oek... Oek....


Mara dan Arthur bisa bernafas lega setelah mendengar tangisan anaknya yang baru saja lahir ke dunia ini.


" Alhamdulillah putra anda lahir dengan selamat Tuan, Nyonya. Dia terlahir sempurna tanpa kurang suatu apapun." Ujar dokter Mila.


" Alhamdulillah." Ucap Arthur.


Setelah itu dokter Mila meminta Mara untuk melakukan inisiasi menyusu dini kepada bayinya. Ia menengkurapkan bayi Mara ke dada Mara. Bayi Mara mencari cari ****** susu Mara lalu menyesapnya.


" Mas geli." Ucap Mara.


Arthur tersenyum menahan tawa mendengar ucapan Mara.


" Tahan sayang, kalau pertama memang seperti itu. Nanti kalau sudah terbiasa tidak geli lagi." Ujar Arthur.


Arthur menatap putranya yang sedang menyesap kuat ****** susu Mara sambil tersenyum bahagia.


" Anak Papa pinter banget sih minumnya, haus banget ya sayang baru keluar dari perut Mama." Ujar Arthur mengelus lembut kepala putranya yang masih basah.


" Mas.. Kalau di rasa rasakan semakin lama jadi pedih ya Mas. Lidah anak kamu terasa kasar banget gini." Ujar Mara.


" Bagaimana ini Dok? Apa memang begini kalau bayi baru lahir?" Tanya Arthur menatap dokter Mila.


" Iya Tuan, ini pasti terjadi pada ibu yang baru melahirkan karena memang lidah kasar bayi anda akan melukai ****** payudara Nyonya Tamara." Terang dokter Mila.


" Baiklah Dok." Sahut Arthur.


" Terima kasih sayang telah menjadikan Mas sebagai pria yang sempurna. Selalu sehat untuk Mas dan anak kita. Mas mencintai kalian berdua." Ucap Arthur mencium kening Mara.


Lengkap sudah kebahagiaan mereka berdua dengan hadirnya babby tampan pewaris keluarga Aditama.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2