
" Sepertinya akan sulit untuk kita membuktikan jika Vida bersalah." Ujar Arthur putus asa.
Tiba tiba Mara ingat sesuatu yang ia simpan di saku celananya.
" Sebentar Mas." Mara mengambil sesuatu itu lalu memberikannya kepada Arthur. Sebuah gelang bermanik warna warni dengan tulisan huruf di tengahnya.
" Vida." Gumam Arthur membaca tulisan itu.
" Iya Mas, saat Vida mendorongku aku mencoba meraih tangannya berharap agar dia ikut terjebur bersamaku namun malah aku hanya mendapatkan gelangnya saja." Ujar Mara.
" Baiklah ini akan kita jadikan bukti agar Vida mengakui semua perbuatannya. Segeralah sembuh, kita akan menghukum Vida dan orang yang bekerja sama dengannya." Ujar Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mara.
" InsyaAllah Mas." Sahut Mara.
" Mas aku masih ingin makan rujak mangga muda, apa kamu bisa membelikannya untukku?" Tanya Mara menatap Arthur.
" Nanti Mas belikan, tapi sebelum itu kamu harus makan nasi lebih dulu agar perutmu tidak sakit. Sekarang Mas siapkan air hangat duku buat kamu mandi, pasti rasanya sangat lengket karena dari kemarin siang kamu tidak mandi." Ujar Arthur.
" Iya Mas." Sahut Mara.
Arthur menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Mara.
" Sudah siap sayang, ayo Mas bantu. Kamu bawa botol infusnya, Mas akan gendong kamu." Ucap Arthur melepas botol infus dari tiangnya.
Arthur menggendong Mara dengan sangat hati hati, ia menurunkan Mara di atas closet.
" Mas bantu buka." Ucap Arthur membantu Mara membuka baju tanpa ragu.
Glek...
Arthur menelan kasar salivanya saat melihat sesuatu yang menyembul di balik bra yang di pakai oleh Mara.
" Mas aku bisa sendiri." Ujar Mara.
" Tidak apa apa, kau tidak perlu malu. Toh Mas sudah melihat semuanya." Ujar Arthur.
" Apaan sih Mas." Ucap Mara malu malu.
" Kenapa malu malu seperti itu hmm? Tumben banget, biasanya langsung menendang Mas." Ujar Arthur menggoda Mara.
" Mulai... " Ucap Mara.
" Iya iya enggak deh." Ucap Arthur.
__ADS_1
" Aku lagi nggak bisa marah marah sekarang Mas, tubuhku terasa sangat lemas. Bahkan aku merasa terus mengantuk dan ingin tidur Mas. Apa jangan jangan aku mengidap penyakit mematikan Mas?"
" Sttt! Jangan berbicara hal mengerikan seperti itu sayang. Mas tidak menyukainya. Kau sehat dan kau baik baik saja. Kau akan selalu bersama Mas dan bersama anak anak kita sayang. Jangan pernah berpikir seperti itu, sekarang cepat mandi. Mas akan menyuapimu sarapan terus membelikan rujak untukmu." Ujar Arthur.
Arthur mengguyur tubuh Mara dengan air hangat. Ia juga menggosok tubuh Mara dengan bisa sabun yang lembut. Mara tersenyum bahagia mendapat perhatian seperti ini dari suaminya.
" Sesuai janjiku Mas, aku akan segera mengutarakan perasaanku padamu. Kaulah yang terbaik untukku, terima kasih papa kau telah memberikan jodoh yang sangat menyayangiku. Papa benar, aku bahagia sekarang pa. Semoga papa juga bahagia di alam sana." Ujar Mara dalam hati.
Selesai mandi, Arthur memakaikan baju kepada Mara. Ia menyisir rambut Mara dengan lembut. Segala perlakuannya kepada Mara, ia lakukan dengan penuh cinta dan kelembutan.
" Sudah cantik, sekarang waktunya makan." Ucap Arthur mengambil jatah makan Mara di atas nakas.
" Sebentar Mas cicipi dulu, Mas tidak mau sampai ada kesalahan lagi." Ujar Arthur mencicipi bubur sayur yang di berikan oleh pihak klinik.
Mulai sekarang ia harus hati hati dalam segala hal. Ia tidak mau sampai terjadi hal buruk lagi kepada Mara. Ia harus memastikan segala sesuatunya untuk keselamatan Mara.
" A' sayang." Arthur menyodorkan sesendok makanan ke mulut Mara.
Mara menerima suapan demi suapan yang Arthur berikan padanya.
" Hmmpptttt." Tiba tiba Mara membekap mulutnya menggunakan tangannya sendiri.
" Sayang kenapa?" Tanya Arthur cemas.
Huek.. Huek...
Mara memuntahkan isi perutnya, dengan sigap Arthur memijat pelan tengkuk Mara.
Huek...
Setelah di rasa perutnya kosong, Mara mengelap mulutnya menggunakan tisu. Arthur segera membuang plastiknya ke tempat sampah.
" Sayang minum dulu." Arthur memberikan segelas air putih kepada Mara.
" Nggak mau, rasanya mual Mas membayangkan minum air putih itu." Ujar Mara.
" Lalu kamu mau minum apa hmm?" Tanya Arthur mengusap kepala Mara.
" Aku mau minum jus mangga, sekalian sama rujaknya." Sahut Mara.
" Baiklah, tunggu sebentar lagi! Ibu sedang dalam perjalanan ke sini. Mas tidak mau kamu sendirian di sini, bisa bisa kamu di culik orang." Ujar Arthur.
" Hmm." Mara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Arthur duduk di kursi sebelah ranjang sambil menggenggam tangan Mara.
" Mas sebenarnya aku kenapa? Aku sakit apa? Kenapa rasanya nano nano seperti ini Mas? Aku merasa serba salah, mau ini salah. Mau itu juga salah. Jika memang benar aku sakit, katakan saja Mas aku tidak apa apa. Aku bisa menerima semuanya." Ujar Mara menatap Arthur.
Arthur mengenal nafasnya panjang.
" Mas sudah bilang kalau kamu tidak sakit sayang, kamu sehat." Ucap Arthur.
Ingin sekali Arthur memberitahu yang sebenarnya kepada Mara, namun ia takut reaksi Mara akan berlebihan. Ia takut kalau Mara menolak anak dalam kandungannya.
" Lalu kenapa aku muntah muntah begini Mas? Aku berhak tahu kondisiku Mas, jangan sembunyikan apa apa dariku. Karena kalau aku tahu dari orang lain, aku akan sangat kecewa padamu Mas." Ujar Mara.
" Apa jika kamu tahu yang sebenarnya kamu tidak akan marah?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Marah? Marah bagaimana Mas? Memangnya aku kenapa?" Tanya Mara lagi.
" Kamu hamil." Ucap Arthur cepat.
" Apa???" Pekik Mara membuat Arthur memejamkan matanya.
" Iya sayang kamu sedang hamil saat ini, jaga baik baik calon anak kita." Ujar Arthur.
" Bagaimana aku bisa menjaganya Mas? Aku saja tidak bisa menjaga diriku sendiri. Bagaimana kalau aku tidak bisa mengurusnya? Akan kasihan sekali nasib anak kita Mas punya ibu seperti aku." Ujar Mara membuat Arthur tersenyum.
" Sayang kamu jangan khawatir! Kita akan menjaganya bersama sama. Mas akan menjagamu dan anak kita. Kita akan sama sama belajar untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak kita nanti. Jadi jangan pikirkan hal ini! Pikirkan saja bagaimana cara menjaga dirimu dengan baik, dengan begitu anak kita pasti akan baik baik saja." Ujar Arthur mengelus perut rata Mara.
Mara tersenyum senang.
" Heh... Aku mau jadi seorang ibu, ya Tuhan... Aku tidak pernah menyangka di usiaku yang masih sangat muda aku akan memiliki seorang bayi lucu." Ucap Mara mengusap perutnya sendiri.
" Mas bagaimana aku bisa menggendongnya? Dia pasti terlalu kecil dan sangat ringkih untuk aku gendong. Nanti kalau dia jatuh gimana?" Tanya Mara menatap Arthur.
" Pikiranmu sudah sampai ke sana sayang, kalau nanti kamu tidak bisa menggendongnya, biarkan Mas yang menggendongnya. Mas akan mengurus kalian dengan baik. Mas tidak akan membiarkan kamu mengeluh dalam mengurus anak kita. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini sayang, kau membuat Mas menjadi pria yang sempurna. Mas mencintaimu." Ucap Arthur mengecup kening Mara.
" Aku ju.... " Mara menjeda ucapannya.
" Hampir saja keceplosan." Batin Mara merutuki kebodohannya sendiri.
" Aku ju... " Arthur menatap Mara sambil mengerutkan keningnya.
" Aku pengin rujaknya sekarang Mas. Itu yang mau aku katakan." Ujar Mara.
" Sabar dulu ya, tunggu ibu sampai sini." Ucap Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mara.
__ADS_1
TBC.....