
Sampai di rumah Mara segera membersihkan dirinya ke kamar mandi. Sedangkan Arthur menunggunya sambil duduk bersandar di atas ranjang.
Tak lama Mara keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama tidurnya, ia naik ke atas ranjang duduk di samping Arthur. Ia menjadikan bahu Arthur sebagai sandaran.
Mara mendongak menatap Arthur yang sedari tadi senyam senyum sendiri.
" Mas kenapa senyam senyum sendiri seperti itu? Apa ada sesuatu yang lucu atau yang membuatmu bahagia?" Tanya Mara.
" Mas bahagia karena Mas baru saja mendapatkan ungkapan cinta dari wanita yang paling Mas cintai. Mas tidak pernah menyangka hari ini akan tiba sayang. Mas berpikir wanita keras kepala sepertimu tidak akan pernah bisa membalas cinta dari pria seperti Mas, walaupun Mas ayah kandung dari anakmu." Ujar Arthur.
" Aaa.. Kau merendahkan aku Mas." Rengek Mara menyusupkan wajahnya ke dada Arthur.
" Walaupun aku keras kepala, tapi aku punya hati Mas. Hatiku akan luluh jika setiap harinya kamu sirami dengan cinta dan kasih sayang. Bukan hanya aku saja, semua wanita pasti akan merasakan hal yang sama denganku Mas." Ujar Mara.
" Mas akan selalu mencintaimu sayang, Mas akan selalu menyayangimu selamanya." Ucap Arthur mencium pipi Mara.
" Terima kasih Mas untuk cinta dan perhatianmu selama ini. Jujur aku juga sangat bahagia bisa memiliki suami sebaik dirimu. Papa benar, hanya kamu pria yang benar rbrnar tulus mencintaiku dan mampu membuat hidupku bahagia." Ucap Mara melingkarkan tangannya ke perut Arthur.
Mara menatap Arthur begitu sebaliknya. Tiba tiba Arthur merubah posisinya, ia mengukung tubuh Mara sambil terus menatap mata Mara membuat jantung Mara berdetak sangat kencang. Arthur memajukan wajahnya hingga hidungnya menempel pada hidung Mara.
" Mas ingin sayang" Ucap Arthur.
" Ingin apa?" Tanya Mara.
" Ingin menjenguk babby kita." Sahut Arthur.
" Gimana caranya?" Mara bertanya kembali sembari menggoda Arthur.
" Dengan itu." Sahut Arthur.
" Itu apa?" Tanya Mara.
" Alat perekam." Sahut Arthur.
" Emangnya punya?" Lagi lagi Mara memberikan pertanyaan pada arthur membuat Arthur terkekeh karena sadar telah di goda oleh Mara.
" Punya sayang, jika Mas menggunakan alat itu, kamu pasti akan menyebut nama Mas sepanjang malam. Bolehkah Mas melakukannya sekarang? Mas ingin memilikimu malam ini dengan cara yang benar." Ucap Arthur menggerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Mara menjawabnya dengan anggukkan kepala. Arthur tersenyum menatap Mara. Ia mulai mencecap bibir Mara dengan lembut. Mara mengalungkan tangannya ke leher Arthur, ia membalas ciuman Arthur tak kalah lembut.
Suara decapan memenuhi ruang kamar mereka. Puas saling bertukar saliva, ciuman Arthur pindah ke leher Mara. Ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana membuat sang empu mendesis pelan menikmati sensasi panas dingin yang Arthur berikan.
Entah siapa yang memulai, kini tubuh keduanya mendadak menjadi polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Arthur mengarahkan senjatanya menuju goa surga dunia. Ia kembali menjadikan Mara sepenuhnya malam ini.
Mara benar benar terbuai dengan kelembutan yang Arthur mainkan sampai ia terus mengeluarkan suara indahnya. Suara erangan dan des@h@n mengiringi kegiatan mereka malam ini. Setelah sama sama mencapai puncak nirwana, Arthur menyudahi permainannya. Ia tumbang di samping Mara, ia menyelimuti tubuhnya dan tubuh Mara dengan selimut yang sama.
" Terima kasih sayang." Ucap Arthur memeluk Mara sambil mencium pucuk kepala Mara.
" Sama sama Mas." Sahut Mara menyusupkan wajahnya ke dada bidang Arthur.
Keduanya memejamkan mata menuju alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Huek... Huek.... Huek...
Pagi ini Mara nampak sedang muntah muntah di kamar mandi. Arthur yang mendengarnya segera berlari ke kamar mandi menyusul Mara.
" Sayang kamu tidak apa apa?" Arthur memijat tengkuk Mara dengan pelan.
Mara tidak mampu menjawab pertanyaan Arthur. Dengan setia Arthur menemani Mara.
Di rasa sudah mendingan, Mara membersihkan mulutnya dengan air bersih.
" Hah... Kenapa harus seperti ini sih Mas. Aku nggak sanggup kalau harus muntah muntah setiap pagi begini. Ini sangat menyiksa Mas, kenapa tidak kamu saja yang mengalami semua ini. Banyak yang bilang kalau suami benar benar mencintai istrinya, dia akan mengalami kehamilan simpatik saat istrinya hami. Tapi pada kenyataannya kamu tidak, itu berarti cintamu tidak sebesar yang aku bayangkan." Ujar Mara membuat Arthur terkejut.
" Tidak semua pria yang mencintai istrinya mengalami kehamilan simpatik sayang. Kalau seandainya kita bisa bertukar posisi, Mas pasti mau menggantikan posisimu saat ini. Biarkan Mas yang merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi mau bagaimana lagi? Mas tidak bisa melakukannya sayang." Ujar Arthur merapikan anak rambut Mara.
" Iya itu berarti cinta Mas kepadaku masih biasa biasa saja, belum luas biasa Mas." Ujar Mara kembali ke ranjangnya.
" Mas sangat mencintaimu sayang, cinta Mas padamu melebihi apapun. Mas tidak berbohong sayang, Mas sangat sangat sangat mencintaimu." Ucap Arthur mengikuti Mara dari belakang.
Mara duduk bersandar di atas ranjang, sedangkan Arthur duduk serong di tepi ranjang menghadap Mara.
" Aku tidak percaya. Besok besok aku tidak mau hamil lagi." Ucap Mara.
__ADS_1
" Tapi sa...
" Jangan minta aku untuk hamil lagi, masih masa ngidam aja rasanya sudah seperti. Apalagi nanti saat aku melahirkan Mas, pasti rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa mengeluarkan anak kita dari dalam sini, belum lagi cara mengurusnya. Hadueh... Hanya membayangkan saja rasanya sudah stres sendiri." Ucap Mara mengusap keringat yang menetes di dahinya.
" Sayang." Arthur menggenggam tangan Mara.
" Tidak baik berkata seperti itu sayang! Seharusnya kita banyak bersyukur kepada Tuhan, banyak di luar sana yang menginginkan seorang anak, namun sampai sekarang belum mendapatkannya." Ujar Arthur.
" Ya itu karena mereka belum tahu aja rasanya hamil Mas. Kalau sudah tahu seperti ini, mereka bakal mikir dua kali." Sahut Mara.
" Ya tidak juga gitu sayang, kamu salah. Ka...
" Kamu berani menyalahkan aku Mas?" Tanya Mara menatap tajam ke arah Arthur.
Glek...
Arthur menelan kasar salivanya.
" Ya Tuhan aku salah lagi, aku lupa kalau hormon ibu hamil meningkat. Dia pasti emosian seperti saat PMS. Hah.. Aku jadi ingat dia telah membohongiku saat pergi ke kota Solo. Dia bilang sedang PMS padahal dia sedang hamil saat itu. Mara Mara... Tidak hamil saja kau tidak mau di salahkan, apalagi sedang hamil begini." Batin Arthur sambil menggelengkan kepala.
" Mas aku tanya padamu." Ucap Mara kesal sambil mengguncang lengan Arthur membuat Arthur tersadar dari lamunannya.
" Enggak sayang, Mas sedang tidak menyalahkanmu. Mas yang salah bukan kamu, kami benar mereka belum merasakan bagaimana masa masa sulit saat kehamilan. Maafkan Mas yang tidak bisa mengerti apa yang kamu rasakan saat ini." Ujar Arthur.
" Aku mau makan rujak mangga, Mas belikan gih di depan kedai es krim sekalian sama beliin eskrim mix*e rasa lucky strawberry sundae porsi besar. Aku tunggu di rumah saja." Ucap Mara.
" Baiklah Mas belikan, apa hanya itu yang ingin kamu makan?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Tidak, aku ingin makan ayam geprek, sate ayam, ayam lada hitam, rica rica bebek, soto betawi, terus kerak telor, martabak manis sama... " Mara nampak sedang berpikir.
" Kenapa banyak sekali yang ingin kamu makan sayang? Memangnya kamu mau menghabiskan semuanya?" Tanya Arthur.
" Tidak." Sahut Mara.
" Lalu siapa yang mau menghabiskan semua pesananmu itu?" Tanya Arthur.
" Kamu."
__ADS_1
" Hah??"
TBC.....