
Satu bulan sudah sejak lamaran Aditya di terima oleh Gania. Kini tiba saatnya acara pernikahan. Acara di gelar di rumah sederhana milik pak Jaka. Beruntung Aditya tidak mengenali rumah ini jika rumah ini milik Arthur. Para tamu undangan banyak yang hadir, kini tinggal menunggu mempelai pria dan wanitanya saja.
Di dalam kamar pengantin, nampak kedua mempelai sudah selesai bersiap. Aditya mengambil nafas sedalam dalamnya untuk menghilangkan rasa gugup pada dirinya.
" Kenapa Ditya? Apa kamu merasa gugup?" Tanya nyonya Nuri.
" Iya Oma." Sahut Aditya.
" Mau menikahi satu wanita saja gugup, sok sok an mau menikahi dua wanita." Batin Gania tersenyum kecut.
Nyonya Nuri tersenyum menatap Gania begitupun sebaliknya.
" Ya sudah, ayo kita turun!" Ucap nyonya Nuri.
" Iya Oma." Sahut Aditya.
" Ayo sayang kita turun, semua tamu undangan sudah datang. Pak penghulu sudah siap memulai acaranya." Ujar Aditya menggenggam tangan Gania.
" Iya Mas." Sahut Gania.
Kedua mempelai turun dari kamar mereka dengan mengapit nyonya Nuri yang berjalan di tengah. Kedua mempelai duduk di kursi ijab yang sudah di sediakan pihak wedding organizer.
Acara segera di mulai, setelah pak penghulu membacakan doa pra nikah, Aditya menjabat tangan pak Eko.
" Saudara Aditya Prayoga." Ucap pak Eko.
" Saya." Sahut Aditya tegas.
" Saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan anak saya Gania Junianti dengan mas kawin berlian seberat dua ratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai." Ucap pak Eko.
" Saya terima nikah dan kawinnya Gania Junianti binti Eko Subagyo untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Bastian dengan lantang.
" Bagaimana saksi?"
" Sah."
" Alhamdulillah."
Selesai acara ijab qobul, acara di lanjut dengan acara resepsi. Nampak beberapa tamu undangan memberikan selamat dan doa terbaik untuk sepasang pengantin baru itu.
" Selamat untuk pernikahan kalian sayang, selamat datang di keluarga Prayoga. Semoga kalian hidup bahagia menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warrohmah." Ucap nyonya Nuri memeluk Gania.
" Jangan lupa rencana selanjutnya." Bisik nyonya Nuri di balas anggukkan kepala oleh Gania.
" Terima kasih Oma." Sahut Gania.
Arthur dan Mara hanya bisa melihat kebahagiaan saudaranya dari kejauhan. Mereka sengaja tidak menampakkan batang hidung mereka agar Aditya tidak tahu siapa Gania sebenarnya.
Setelah acara resepsi selesai, Aditya langsung memboyong Gania ke rumahnya. Sampai di rumah, Aditya membawa Gania ke kamarnya.
Ceklek...
Aditya menggandeng tangan Gania masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah di rias layaknya kamar pengantin pada umumnya. Gania nampak terkejut, ia menjadi bimbang dengan apa yang akan ia lakukan. Bagaimana kalau Aditya meminta haknya malam ini? Apa yang akan Gania lakukan? Pikir Gania.
__ADS_1
" Tenanglah Gania! Tidak mungkin mas Ditya meminta semua itu padaku. Mungkin sebentar lagi dia akan pergi menikahi wanita itu." Batik Gania.
Grep...
Aditya memeluk Gania dari belakang membuat Gania terkejut.
" Kenapa kaget begitu? Apa kamu gugup hanya melihat ranjang pengantin kita sayang?" Tanya Aditya menempelkan dagunya pada pundak Gania membuat Gania risih.
" I.. Iya Mas." Sahut Gania.
" Tidak perlu gugup, aku akan melakukannya dengan lembut kok." Ujar Aditya.
" Sepertinya kamu belum bisa melakukannya sekarang Mas, karena aku sedang datang bulan saat ini." Ujar Gania.
" Tidak apa apa, aku akan menunggu sampai tamu bulananmu pergi. Setidaknya aku bisa tidur sambil memelukmu, itu sudah membuat aku bahagia." Ujar Aditya. Gania tersenyum kenyut mendengar ucapan Aditya. Ia merasa semua kata kata yang keluar dari bibir Aditya adalah kebohongan.
" Jujur, aku sangat mencintaimu sayang. Kebersamaan, perhatian dan sikap manjamu selama ini membuat aku jatuh cinta padamu. Hanya kamu yang wanita yang aku inginkan, maafkan aku jika suatu saat nanti aku melakukan kesalahan. Tapi percayalah! Hanya kamu wanita yang mengisi hatiku saat ini, nanti dan selamanya." Ucap Aditya mencium pipi Gania.
" Memangnya kesalahan apa yang akan kau perbuat setelah ini?" Tanya Gania berharap Aditya bisa jujur padanya.
" Aku sendiri tidak tahu, yang jelas jika seandianya aku melakukan kesalahan sekalipun, itu pasti karena terpaksa." Sahut Aditya.
" Dasar pembual! Aku sudah tidak percaya dengan setiap kata yang kelaur dari bibirmu. Tujuanku saat ini hanya balas dendam saja padamu Mas karena kau berani bermain main denganku." Batin Gania.
" Maafkan aku sayang! Aku terpaksa harus menepati janjiku dengan menikahi Alma. Walaupun sejujurnya aku sudah tidak punya rasa dengannya, seandainya saja Alma tidak mengancam akan bunuh diri, aku pasti tidak akan menikahinya. Aku tidak tega dengannya yang selama ini telah menemaniku. Dia selalu ada di saat aku susah maupun senang. Aku tidak bisa melepas wanita sepertinya begitu saja. Katakan jika aku egois, biarlah aku memiliki kalian berdua." Batin Aditya.
Drt... Drt...
Ponsel Aditya berdering tanda panggilan masuk. Gania melirik layar ponsel Aditya yang menyala.
" Maaf sayang, aku harus segera pergi. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan sekarang juga." Ucap Aditya melepas pelukannya.
" Aku mencintaimu." Ucap Aditya mengecup kening Gania.
Gania duduk di meja rias, ia segera menghapus jejak bibir Aditya dengan hati terluka.
" Aku tahu pekerjaan apa yang akan kau selesaikan Mas, aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku sendiri." Monolog Gania.
Gania segera keluar dari kamarnya, di ruang keluarga nyonya Nuri, Arthur, Mara dan pak Eko sudah menunggunya tanpa sepengetahuan Aditya.
" Ayo kita berangkat sebelum terlambat!" Ajak Arthur.
Mereka semua masuk ke dalam mobil. Arthur segera melajukan mobilnya menuju rumah Alma.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah yang cukup mewah mikik Alma hasil mengeruk uang Aditya. Gania segera turun lalu masuk ke dalam.
Di dalam rumah, nampak Aditya menjabat tangan pak penghulu sambil mengucapkan ijab qobul, namun ia salah mengucapkan nama sehingga pak penghulu memintanya untuk mengulanginya.
Prok.. Prok.. Prok...
Gania menepuk tangannya dengan keras membuat semua orang menoleh ke arahnya begitupun dengan Aditya dan Alma.
" Sa... Sayang." Aditya langsung berdiri menghampiri Gania.
__ADS_1
" Sayang ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku... "
" Memangnya apa yang harus aku pikirkan Mas? Aku sudah tahu rencanamu dari awal. Itu sebabnya aku sampai sini tepat waktu."
Deg...
Jantung Aditya berdetak sangat kencang.
" A.. Apa maksudmu?" Tanya Aditya menatap Gania.
Gania memberikan kode pada seseorang untuk menyalakan layar proyektor yang menyorot ke dinding.
Sebuah rekaman video saat Gania menguntit Aditya dan Alma di sebuah cafe saat itu. Detak jantung Aditya berdebar sangat kencang, nafasnya tercekat seolah olah dia akan akan kehilangan nafasnya saat itu juga
" Kau mau menikahinya kan? Sebelum kau menikahinya, kau harus melihat rekaman ini dulu." Ucap Gania.
Video kembali di putar dimana Alma dan kakaknya sedang berbicara di sebuah taman rumah sakit. Aditya nampak tercengang melihat itu semua. Ia tidak menyangka Alma bisa berbuat setega itu padanya.
Alma dan Jodi saling melempar tatapan. Aditya menatap tajam ke arah Alma, ia mengepalkan erat tangannya.
Rekaman terakhir yaitu dimana saat nyonya Nuri menjelaskan semuanya kepada Gania sebelum acara lamaran. Lagi lagi, Aditya sangat terkejut dengan apa yang ia lihat dan ia dengar.
" Sekarang kau sudah melihat semuanya, aku tidak mau ikut campur lagi dalam urusan kalian. Aku harap kau bisa menyelesaikan semua ini dengan Alma." Ucap Gania.
" Sayang aku..
" Dan ya, jika kamu masih mau menikahinya silahkan saja! Aku tidak akan menghentikannya lagi." Ucap Gania meninggalkan Aditya.
Aditya menatap orang orang berdiri di depan pintu, ia kembali terkejut saat melihat Arthur dan Mara yang berdiri di sana.
" Arthur... " Aditya mendekati Arthur.
" Dia adik sepupuku, anak dari pamanku. Aku kecewa padamu karena kau telah mengkhianatinya. Aku harap kau bisa menyadari kesalahanmu saat ini." Ucap Arthur segera berlalu dari sana.
Aditya menatap Nyonya Nuri.
" Oma aku... "
Nyonya Nuri mengangkat tangannya tanda ia tidak mau mendengar apa apa dari Aditya. Ia menyusul yang lainnya meninggalkan rumah Alma dengan perasaan kecewa.
Aditya membalikkan badannya, ia mengedarkan pandangannya mencari Alma dan Jodi namun tidak ada.
" Aku akan membuat perhitungan pada kalian." Ucap Aditya geram.
Di dalam mobil, Gania nampak diam saja.
" Gania, apa keputusanmu selanjutnya?" Tanya Arthur.
" Aku.... "
Apa ya? Penasaran? Mau pergi atau menetap nih? Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat.
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...