AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
DIA SUAMIKU


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Mara menjadi sekretaris Arthur. Dengan berpenampilan sedikit seksi dan make up tipis yang menghiasi wajah putihnya membuatnya semakin cantik. Arthur bahkan tidak kedip memandangnya sedari tadi, ia tidak fokus pada presentasi yang di bacakan oleh Mara di depan sana.


Ya.. Saat ini mereka sedang berada di ruang rapat pembahasan pembangunan proyek baru di kota K bersama para kolega. Arthur benar benar terpesona dengan kecantikan sang istri tercinta hari ini. Sampai suara tepuk tangan menandakan presentasi Mara sudah selesai menyadarkan Arthur dari lamunannya.


" Wah anda hebat sekali Nona Mara, saya tidak pernah menyangka anda sekompeten ini dalam bidang usaha." Ucap Gibran, klient yang hendak kerja sama dengan perusahaan Arthur.


" Terima kasih tuan Gibran." Ucap Mara mengulas senyuman.


" Saya setuju bekerja sama dengan perusahaan anda tuan Arthur. Saya akan langsung mentransfer dana untuk proyek ini." Ucap Gibran.


" Terima kasih tuan Gibran." Sahut Arthur.


Setelah rapat selesai, Mara dan Arthur keluar dari ruang rapat.


" Nona Mara." Panggil Gibran berlari kecil menghampiri Mara.


" Ya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mara menatap Gibran.


" Tidak, ini bukan masalah pekerjaan. Saya hanya ingin mengajak anda makan siang saja. Apa anda bersedia? Hitung hitung sebagai perayaan terjalinnya kerjasama kita." Ujar Gibran.


Mara menatap Arthur yang nampak menggelengkan kepala.


" Bagaimana Nona Mara?" Tanya Gibran.


" Maaf Tuan Gibran, suami saya tidak mengijinkannya." Ucap Mara.


" Suami? Anda sudah bersuami?" Tanya Gibran memastikan.


" Iya, saya sudah menikah." Sahut Mara.


Sebenarnya ingin sekali Mara memaki pria di depannya ini, ia paling tidak suka di tanya masalah pribadi. Kalau bukan karena menjaga etika dengan kolega, Mara tidak mau bersikap sok manis seperti sekarang. Mara benar benar merasa jengah.


" Tapi suami anda tidak tahu, jadi kita bisalah pergi sekali ini saja." Ujar Gibran.


" Suami saya ada di depan anda Tuan, Tuan Arthur Adijaya adalah suami saya." Sahut Mara.


" Apa???" Pekik Gibran.


Gibran Baskara adalah anak dari pimpinan GB Group yang baru pulang dari negara L. Ia tidak tahu menahu soal pimpinan AM Group yang baru di pimpinan oleh Arthur. Ya.. Di bawah pimpinan Arthur, nama perusahaan di ganti menjadi AM Group. Perpaduan dari nama Arthur dan Mara.


Walaupun Arthur hanya meneruskan perusahaan mertuanya namun ia mengubah semua konsep dengan konsep yang baru. Termasuk pemasaran dan pengelolaan bahan bahan bangunan.


" Ya, Tuan Arthur adalah suami saya." Sahut Mara mengapit lengan Arthur.


Tidak kuasa menahan malu, Gibran berlalu begitu saja.


" Setelah menjadi sekretaris Mas, kau bisa sabar menghadapi sikap orang lain." Ujar Arthur.


" Aku hanya pura pura Mas. Sebenarnya mah pengin tak maki maki tuh orang. Nggak bisa banget lihat cewek cantik." Sahut Mara membuat Arthur terkekeh.

__ADS_1


" Ayo kita makan siang!" Ajak Arthur menggandeng tangan Mara.


" Nggak usah gandeng gandeng gitu aku bisa berjalan sendiri. Seperti orang mau menyebrang jalan saja." Ucap Mara berjalan mendahului Arthur.


Arthur tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Mara.


" Buruan Mas! Aku sudah lapar." Ujar Mara menoleh ke belakang.


" Iya sayang." Sahut Arthur segera menyusul Mara.


Mereka keluar perusahaan lalu menuju restoran xx dengan mengendarai mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari Mara dan Arthur nampak lelah sepulang dari kantor. Mereka masuk ke dalam kamar.


" Aku mandi dulu Mas." Ucap Mara.


" Pakailah air hangat, jangan air dingin! Atau kau bisa sakit nanti." Ujar Arthur tanpa di jawab oleh Mara.


Mara masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka bajunya. Saat ia hendak menyalakan shower tiba tiba ada kecoak yang membuatnya terkejut.


" Aaaaaaaaa." Teriak Mara langsung memakai handuk kelaur dari kamar mandi tanpa sadar.


" Ada apa sa.... "


Glek...


Tiba tiba...


Grep....


Mara melompat ke tubuh Arthur, Arthur segera menangkap Mara dengan kaku. Alhasil Mara berada dalam gendongan Arthur layaknya sang kanguru.


" Ada kecoak di kamar mandi Mas, aku geli." Ujar Mara mengeratkan tangan yang melingkar di leher Arthur.


Jantung Arthur berdetak sangat kencang seolah hampir copot dari tempatnya. Sesuatu di bawah sana nampak berdiri dengan tegak tanpa sopan.


" Sial!!! Juniorku bereaksi. Dia tahu saja saat saat mendebarkan seperti ini." Batin Arthur.


Sadar Arthur hanya diam saja, Mara melepaskan tangannya, ia menatap Arthur yang memejamkan mata menahan sesuatu yang sesak di bawah sana.


Mara langsung turun dari gendongan Arthur. Ia menjadi salah tingkah, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.


" Mas akan membuang kecoaknya lebih dulu." Ucap Arthur masuk ke dalam kamar mandi.


" Hah... Jantungku terasa hampir meledak berada di dekat bang Arthur." Gumam Mara mengelus dadanya.


Begitupun dengan Arthur, ia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


" Ya Tuhan... Aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku di depan Mara. Kulit putihnya membuat semuanya nampak terasa indah." Monolog Arthur.


" Hah apa apaan sih kamu Arthur... Tidak usah membayangkannya! Atau kau akan semakin tersiksa. Lupakan lupakan dan lupakan! Kalau rejeki pasti datang sendiri seperti waktu itu." Ujar Arthur.


" Eh tapi waktu itu kan Mara sedang mabuk, apa sekarang aku suruh dia mabuk lagi kali ya biar bisa mencetak gol lagi." Ucapan Arthur mulai ngelantur, pikirannya mulai berkelana kemana mana.


Tok tok..


" Mas udah belum? Aku mau mandi nih terus mau istirahat, aku capek banget." Ujar Mara di luar sana.


" Ah iya sebentar sayang." Sahut Arthur.


Arthur mencari cari kecoaknya barang kalau masih ada di sana, namun sepertinya kecoaknya itu sudah pergi. Ia pun keluar dari kamar mandi.


" Bagaimana Mas? Apa kecoaknya masih ada?" Tanya Mara.


Tiba tiba terbesit ide jahil di kepala Arthur.


" Kecoaknya nggak kena, pasti masih bersembunyi di dalam." Sahut Arthur.


" Terus gimana donk? Masa' aku harus mandi di bawah. Mana aku sudah melepas baju gini lagi." Ujar Mara.


" Mas punya solusi." Ujar Arthur.


" Apa?" Tanya Mara.


" Kita mandi bersama, jadi jika nanti kecoaknya keluar, Mas bisa membunuhnya. Dengan begitu kau bisa mandi dengan nyaman." Ucap Arthur.


Mara membulatkan matanya menatap Arthur.


" Kamu mau mandi bareng sama aku?" Tanya Mara.


" Iya, biar aku bisa menjagamu dari kecoak itu." Ujar Arthur.


" Emang pengin banget mandi sama aku?" Mara bertanya lagi.


" Hmm." Gumam Arthur menganggukkan kepala.


" Kalau begitu ayo!" Ucap Mara membuat Arthur terkejut.


" Emang boleh?" Tanya Arthur dengan mata berbinar.


" Ogah."


Brak...


Arthur berjingkrak kaget saat Mara menutup pintu kamar mandi dengan keras.


" Astaga istriku.... " Geram Arthur.

__ADS_1


" Untung sayang, kalau tidak huh... " Sambung Arthur.


TBC.....


__ADS_2