AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
MASIH EMOSI


__ADS_3

Makan malam berlangsung dengan khidmat karena tidak ada yang berani membuka suara sedikit pun melihat wajah Mara yang memasang wajah marahnya. Ia nampak tidak berselera makan karena dari tadi hanya mengaduk aduk makanannya saja.


" Sayang kenapa tidak makan hmm? Apa kamu ingin memakan menu lainnya?" Akhirnya Arthur membuka suara.


Mara hanya menggelengkan kepalanya saja.


" Kamu pengin makan apa biar Mas belikan atau Mas buatkan." Ucap Arthur.


" Aku tidak mau merepotkanmu." Ucap Mara beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan.


" Sayang tunggu!" Teriak Arthur namun Mara sama sekali tidak menghiraukannya.


Arthur menatap bi Ningsih dan pak Jaka.


" Maafkan sikap Mara, Ibu, Ayah." Ucap Arthur.


" Tidak apa apa Nak, Ibu yang seharusnya minta maaf karena tidak menyajikan makanan sesuai keinginan Mara." Ujar bi Ningsih.


" Aku rasa sebenarnya bukan itu Bu, tapi karena ucapanku tadi pagi sehingga membuat dirinya marah sampai sekarang ini. Ibu tidak perlu memikirkan hal seperti itu! Aku ke kamar dulu." Ucap Arthur meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamarnya.


Ceklek...


Arthur membuka pintu kamarnya, ia menghampiri Mara yang sedang berdiri di dekat jendela menatap keluar sambil bersedekap dada.


" Sayang maafkan Mas." Ucap Arthur memeluk Mara dari belakang.


Mara mencoba memberontak namun Arthur semakin mengeratkan pelukannya.


" Bukannya Mas mengeluhkan sikapmu selama ini, Mas hanya khawatir tentang keadaanmu sayang. Kamu lebih banyak tidur dari pada makan atau sekedar bergerak. Mas takut kesehatan kamu dan calon anak kita terganggu. Itu sebabnya Mas berkata seperti itu pada ibu. Mas ingin meminta penjelasan dari ibu yang jauh lebih berpengalaman daripada Mas. Maafkan Mas ya." Ucap Arthur panjang lebar.


Mara hanya diam saja. Ia terlalu malas untuk berbicara dengan Arthur. Hatinya masih kesal, ia merasa Arthur hanya sedang mencoba membujuknya saja.


" Sayang berbicaralah! Jangan diam saja seperti ini! Mas tidak sanggup menahan diammu ini." Ujar Arthur.


" Sudahlah Mas tidak perlu membujuk ku seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi." Ucap Mara melepas tangan Arthur yang melingkar di perutnya. Ia naik ke atas ranjang lalu berbaring miring memunggungi Arthur.


Arthur menghela nafasnya pelan. Ia ikut naik ke atas ranjang, ia berbaring miring menghadap Mara. Mara menghembuskan kasar nafasnya sambil memutar bola matanya malas.


" Sayang." Arthur menggenggam tangan Mara.


" Jika kamu belum ingin memberikan maaf untuk Mas, tidak masalah. Mas bisa menerimanya." Ucap Arthur.

__ADS_1


" Tapi Mas mohon jangan siksa diri kamu dan anak kita sayang! Kau butuh makan yang banyak supaya kau dan anak kita sehat. Kalau kau sedang tidak mau memakan masakan ibu, kita bisa makan di luar. Bagaimana?" Tawar Arthur menatap Mara.


" Aku tidak tertarik dengan tawaranmu Mas. Aku mau tidur, besok aku harus bangun pagi pagi untuk menyiapkan keperluanmu." Ucap Mara.


" Tidak sayang, Mas tidak memintamu untuk melakukan itu. Mas...


" Aku tidak mau kamu mengeluhkan sikapku lagi. Sekarang aku mau tidur, dan tolong jangan ganggu aku lagi." Ucap Mara membalikkan posisi menjadi memunggungi Arthur.


Lagi lagi Arthur hanya bisa menghela nafasnya pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam setengah enam pagi, Mara memaksakan diri untuk bangun. Ia turun dari ranjang lalu mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi. Setelah itu ia membuka almari menyiapkan baju ganti untuk Arthur. Setelah semua siap, ia turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan Arthur kopi.


Saat menuruni tangga tiba tiba rasa kantuk kembali menyerang.


" Shhh rasanya ngantuk lagi, kenapa sih aku selalu merasa mengantuk seperti ini. Tidak tahu apa aku harus menjadi istri yang baik untuk suamiku. Aku tidak mau sampai dia mengeluh lagi." Gerutu Mara masuk ke dapur.


Di sana sudah ada bi Ningsih yang mulai menyiapkan makanan untuk sarapan.


" Mara kamu sudah bangun? Apa ada yang kamu butuhkan Nak?" Tanya bi Ningsih menghentikan kegiatannya.


" Sudah Bu, aku mau buat kopi untuk mas Arthur." Sahut Mara.


" Tidak usah Bu, terima kasih." Sahut Mara.


Mara mengambil ceret kecil untuk merebus air, ia mengisinya dengan segelas air lalu meletakkannya di atas kompor yang menyala. Setelah itu ia menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Sambil menunggu air mendidih, Mara berdiri di samping kompor. Sesekali ia menguap menahan rasa kantuk yang menderanya.


Setelah air mendidih, ia menuangkan air tersebut ke dalam cangkir. Namun naas, karena kurang fokus tutup ceret terbuka dengan sendirinya hingga membuat airnya tumpah tepat mengenai tangan Mara.


" Awh... " Pekik Mara kepanasan.


Bi Ningsih yang mendengarnya segera menoleh ke arah Mara yang sedang mengibas ngibaskan tangannya.


" Astaga Mara." Bi Ningsih langsung mendekati Mara.


" Arthur... Arthur... " Teriak bi Ningsih memanggil Arthur.


Arthur yang kebetulan sedang mencari Mara setelah bangun tidur langsung berlari menuju asal suara. Ia masuk ke dapur menghampiri bi Ningsih yang sedang mengucuri tangan Mara dengan air dingin di wastafel.


" Apa yang terjadi Bu?" Tanya Arthur cemas.

__ADS_1


" Tangan Mara tersiram air panas Nak, tangannya melepuh seperti ini. Sepertinya dia mengantuk makanya tidak fokus saat menuangkan air mendidih ke dalam cangkir Nak. Dia ingin membuatkan kopi untukmu." Jelas bi Ningsih.


Arthur menatap Mara dengan tajam, Mara menundukkan kepalanya sambil menahan perih dan panas pada tangannya.


" Cepat bawa Mara ke dokter Nak, ibu takut kulitnya infeksi, dia juga harus mendapatkan perawatan karena lukanya." Sambung bi Ningsih.


" Iya Bu." Sahut Arthur.


Arthur menarik tangan Mara yang tidak sakit. Mara hanya bisa mengikutinya begitu saja.


Sampai di ruang tamu Arthur menghentikan langkahnya.


" Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Arthur menatap tajam.


Mara tidak bergeming.


" Untuk menunjukkan jika kau seorang istri yang baik karena melayani suaminya begitu?" Tanya Arthur dengan nada tinggi.


" Apa sekarang kau bisa merasakan akibat kecerobohanmu ini? Apa kau bisa merasakan akibat dari keras kepalamu? Mas sudah bilang jangan melakukan apapun. Mas minta maaf jika Mas menyinggung perasaanmu tentang ucapanku pada ibu waktu itu. Mas sudah bilang berkali kali kalau Mas hanya khawatir padamu Mara. Dan Mas tidak mengharapkan semua ini darimu. Sekarang siapa yang merasakan sakit? Kamu kan." Ujar Arthur.


Mara menyentak kasar tangan Arthur hingga genggamannya terlepas.


" Sudah selesai bicaranya?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Sayang Mas...


" Ya kau benar... Aku ceroboh, aku keras kepala, aku pemalas dan aku tidak punya sisi positif sedikitpun." Ucap Mara sambil menunjukkan ujung jarinya di depan Arthur.


" Sayang bukan begitu maksud Mas, Mas.. "


" Alah sudahlah Mas, tidak perlu mengelak lagi. Kalau kau bisa melakukan apapun sendiri, lakukan saja! Tapi jangan pernah mengeluhkan sikapku lagi." Ucap Mara berlalu dari sana. Ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Arthur mengacak rambutnya, ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang terus membuat kesalahpahaman ini terjadi.


Sabar ya Mas Arthur.. Namanya lagi hamil, ngga hamil aja pemarah...


Jangan lupa tekan like koment vote dan mawar yang banyak...


Terima kasih...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2