
Aldo dan Mara duduk di sofa kamarnya. Mara menggenggam tangan Aldo sambil menatapnya dengan intens.
" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Aldo menatap Mara.
" Aku sangat merindukanmu." Ucap Mara.
" Benarkah kau merindukanku? Kalau kau merindukan aku kenapa kamu menikah dengan orang lain? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku saat itu? Bagaimana sakitnya aku ketika tahu jika kau sudah menjadi milik orang lain?" Tanya Aldo.
" Maafkan aku!" Ucap Mara.
" Hatiku sangat sakit Mara, di saat aku berjuang mengumpulkan uang untuk pernikahan kita, kau justru menikahi pria lain." Ujar Aldo.
Inilah yang ingin Mara tanyakan sedari tadi.
" Mengumpulkan uang? Mengumpulkan uang gimana? Kamu pergi tiba tiba tanpa kabar dan penjelasan apapun di saat hari pernikahan kita, kamu mencoreng nama baik keluargaku dengan sikapmu yang tidak bertanggung jawab itu, lalu aku harus bagaimana saat papaku memintaku untuk menyelamatkan kehormatan keluarga dengan menikahi bang Arthur? Apa aku harus diam saja dan membiarkan keluargaku di cemooh oleh banyak orang? Aku ingin kau menjelaskan bagaimana dan kemana kau pergi meninggalkan aku. Apa alasanmu dan kenapa sekarang kau kembali?" Titah Mara terpancing emosi.
" Ayahmu sengaja memisahkan kita."
" Apa?" Pekik Mara tidak percaya.
" Ya, Om Adi sengaja merencanakan semua ini agar kau tidak menikah denganku." Ujar Aldo.
" Bagaimana kau punya pemikiran seperti itu Aldo? Papaku merestui hubungan kita selama ini. Dia juga bersikap baik kepadamu selama ini kan, tidak mungkin papaku melakukan hal ini. Kau jangan bercanda Aldo." Ujar Mara.
" Tidak sayang, aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kebaikan yang om Adi tunjukkan di depanku itu semuanya palsu. Dia hanya berpura pura abaikan kepadaku demi membodohiku." Ucap Aldo merapikan anak rambut Mara.
" Jangan lupakan jika dia papaku Aldo, kau tidak bisa berkata sembarangan tentangnya." Ucap Mara.
" Aku tidak melupakannya Mara, aku menghormati papaku seperti aju menghormati papaku sendiri. Aku tidak akan bilang kalau aku tidak punya buktinya." Sahut Aldo.
" Dengarkan aku!" Ucap Aldo.
" Sehari sebelum pernikahan, Om Adi datang ke rumahku. Dia memintaku untuk menjalankan proyek pembangunan rumah sakit di sebuah desa terpencil. Aku sangat terkejut saat itu, aku bertanya kepadanya tentang pernikahan kita. Om Adi bilang kalau kau setuju menunda pernikahan kita sampai aku kembali dan semua persiapan sudah di batalkan. Awalnya aku tidak percaya, tapi Om Adi memberikan aku sebuah surat yang kau tulis supaya aku tidak curiga dengan kebohongannya. Aku sama sekali tidak menaruh curiga padanya Mara karena di surat itu kau menuliskan jika kau akan menunda pernikahan sampai aku kembali." Terang Aldo.
__ADS_1
Masa teringat saat papanya memintanya untuk menulis kata kata itu dengan alasan teman wanitanya ingin menunda pernikahan namun ia tidak bisa menulis karena tangannya sakit akibat kecelakaan. Itu sebabnya Mara menulisnya.
" Aku ingin menolak, tapi om Adi mengancam kalau aku tidak mau berangkat, dia tidak akan merestui pernikahan kita sampai kapanpun. Aku berangkat saat itu juga, aku mencoba menghubungimu untuk berpamitan tapi nomermu tidak aktif. Saat aku sampai di lokasi, ternyata di sana tidak ada signal internet. Tanpa aku sadari ternyata aku telah di tipu olehnya. Dan betapa bodohnya aku terlalu percaya dengan ucapan papamu. Aku yakin dia sudah merencanakan semua ini jauh jauh hari." Ucap Aldo.
Mara teringat satu hari sebelum pernikahannya, papanya menyita ponselnya. Tuan Adi baru memberikan ponsel Mara setelah hari pernikahan.
" Tidak ini tidak mungkin, kau pasti bohong. Papaku tidak mungkin melakukan hal sekeji ini dengan memisahkan putrinya dari orang yang sangat putrinya cintai. Ini tidak mungkin." Ujar Mara tidak percaya papanya bisa melakukan hal seperti itu.
" Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada suamimu. Aku yakin dia juga terlibat dengan rencana ini." Ucap Aldo membuat Mara nampak terkejut.
" Aku yakin jika suamimu sengaja membujuk papamu untuk menikahkanmu dengannya. Dia pasti ingin mengangkat derajatnya dari seorang sopir menjadi penguasa keluarga Adijaya. Suamimu itu sangat licik Mara, aku jadi curiga kalau dia sengaja melenyapkan papamu demi bisa menguasai hartamu. Buktinya papamu tiada setelah surat pengalihan harta di ajukan ke pengadilan, papamu meninggal secara mendadak pula." Ucap Aldo mencoba meracuni pikiran Mara.
Mara segera bergegas keluar kamarnya di ikuti Aldo dari belakang.
" Bang Arthur." Bentak Mara berdiri di depan Arthur yang sedang duduk di sofa.
" Kenapa Nona Mara?" Tanya Arthur.
" Apa benar kepergian Aldo dan pernikahan kita sudah di rencanakan oleh papa?" Tanya Mara menatap Arthur dengan tatapan menyelidik.
" Jangan bohong!" Bentak Mara.
" Kau pasti sengaja meminta papa untuk melakukan semua ini kan? Kau sengaja menikahiku untuk merebut semua hartaku. Itu sebabnya kau tidak menolak saat papa memintamu untuk menjadi mempelai pria kan? Jawab Bang!!!" Teriak Arthur menarik kaos Arthur pada bagian leher.
" Sabar Nona Mara! Aku akan menjelaskan apa yang aku tahu." Ucap Arthur membuat Mara menjauhkan tangannya.
" Ini memang rencana tuan Adi, tapi aku sama sekali tidak terlibat di dalamnya." Ucap Arthur membuat Mara benar benar terkejut.
" Bagaimana tidak terlibat hah? Aku tidak percaya dengan ucapanmu." Ucap Mara.
" Tuan Adi memberitahuku setelah pernikahan, kau mungkin berpikir jika tuan Adi jahat ataupun tega. Tapi perlu kau tahu, tuan Adi melakukan semua ini pasti karena ada alasannya." Sambung Arthur.
" Alasan apa? Apa kau bisa memberitahu kami?" Tanya Aldo.
__ADS_1
" Alasannya karena.... " Arthur menjeda ucapannya.
" Tidak... Aku tidak boleh memberitahu sekarang, bukti keterlibatan Aldo atas kematian tuan Adi belum aku dapatkan. Jika aku mengatakannya sekarang maka dia akan tahu pergerakanku selanjutnya. Aku harus menundanya sampai aku bisa mendapatkan semua bukti bukti kejahatannya." Batin Arthur.
" Kenapa Bang? Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak tahu apa alasannya atau karena kau takut belangmu terlihat?" Tanya Mara.
" Aku tidak tahu apa alasan tuan Adi melakukan semua itu." Sahut Arthur.
" Lalu jika kau tidak memberikan jawaban, apa kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu?"
" Tidak Bang, aku lebih percaya Aldo daripada kamu." Ucap Mara.
" Biar aku kasih tahu alasannya, alasannya karena papa begitu mempercayaimu. Dia tidak berpikir jika seorang Arthur adalah seorang pria licik yang mengincar hartanya. Aku jadi curiga kepadamu, jangan jangan kepergian papa bukan karena penyakitnya tapi karena ada yang sengaja melakukannya." Ucap Mara menatap Arthur sinis.
" Apa seburuk itu aku di matamu?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Apapun bisa di lakukan orang rendahan sepertimu. Buktinya sekarang sedang dalam masa pengajuan pemindahan harta papa kepadamu kan? Kenapa tidak atas namaku? Itu membuktikan papa lebih percaya padamu sehingga dengan mudahnya kau membohongi papaku dengan kedok menjadi pahlawan yang menyelamatkan nama baik keluagaku." Sahut Mara menusuk hati Arthur.
" Tidak Nona, bukan begitu." Ucap Arthur.
" Lalu? Kalau memang aku salah sekarang jawab pertanyaanku. Apa benar papa mengajukan surat pengalihan seluruh hartanya atas namamu?" Tanya Mara menatap Arthur.
" Ya benar." Sahut Arthur.
" Itu bukti dari keculasanmu Bang. Aku membencimu Bang, cukup sudah kau membodohiku selama ini. aku tidak mau lagi hidup bersamamu. Aku akan menceraikanmu secepat mungkin. Pergilah dari rumahku! Dan jangan tampakkan batang hidungmu lagi! Aku benar benar membencimu." Ucap Mara meninggalkan keduanya menuju kamarnya.
Aldo tersenyum smirk sedangkan Arthur mengepalkan erat tangannya.
" Bang sopir, Mara sudah mengusirmu. Aku harap kau tahu diri untuk tidak nekat tinggal di sini, apalagi menjadi suaminya. Setelah Mara menceraikanmu, aku yang akan menikahi Mara dan hidup bahagia bersamanya." Ucap Aldo menatap Arthur.
" Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, jadi buang jauh jauh mimpimu itu." Ucap Arthur meninggalkan Aldo.
" Walaupun aku tidak bisa menguasai haeta Mara tpai setidaknya dendamku bisa terselesaikan dengan melihat Mara menderita. Setelah kami menikah aku akan memberitahu yang sebenarnya. Aku yakin pasti dia sangat syok dan tidak bisa menerima kenyataan. Aku ingin sekali melihatnya gila." Ucap Aldo tersenyum smirk.
__ADS_1
TBC....