
Pagi ini Mara masih terlelap di dalam selimut biru yang membungkus tubuhnya. Arthur yang baru saja pulang dari jogging menggelengkan kepalanya saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Ia segera berjalan menghampiri sang istri tercinta.
" Sayang bangunlah!" Ucap Arthur mengguncang pelan tubuh Mara.
Mara tidak bergeming, hal itu membuat Arthur nampak khawatir.
" Sayang kamu kenapa?" Arthur menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya. Ia meletakkan telapak tangannya pada dahi Mara.
" Ya Tuhan, Mara demam." Ucap Arthur cemas.
" Sayang bangunlah!" Arthur menepuk pipi Mara.
" Sayang bangunlah! Jangan seperti ini!" Arthur kembali menepuk pipi Mara.
Mara mengerjapkan matanya, ia menatap Arthur dengan sayu.
" Sayang apa ada yang sakit?" Tanya Arthur menatap Mara.
Mara menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana kau bisa menggelengkan kepala padahal tubuhmu demam seperti ini sayang." Ujar Arthur mencium kening Mara.
" Aku tidak apa apa Mas, aku hanya butuh istirahat saja. Semalaman kamu menghajarku habis habisan sampai aku kehabisan tenaga." Ucap Mara kembali memejamkan matanya.
Arthur tersenyum mengingat kejadian semalam. Ia benar benar menghajar Mara tanpa ampun sampai pagi, namun ia tetap melakukannya dengan lembut.
" Maafkan aku!" Ucap Arthur.
Arthur melepas kaos yang di pakainya, lalu ia melepas piyama yang di pakai oleh Mara. Ia masuk ke dalam selimut lalu memeluk Mara untuk melakukan skin to skin. Mara melingkarkan tangannya ke perut Arthur lalu menyusupkan wajahnya ke dada bidang Arthur.
" Tidurlah lagi! Mudah mudahan cara ini berhasil menurunkan demammu." Ujar Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mara.
" Kasihan sekali istri Mas yang cantik ini, maafkan Mas sayang." Ucap Arthur mencium kening Mas.
" Udah Mas diem! Aku mau tidur lagi, kalau kamu ngomong terus aku nggak bakalan bisa tidur lagi." Ujar Mara.
" Baiklah sayang." Ucap Arthur.
" Mas tiba tiba aku ingin makan semangka kuning, apa kamu mau membelikannya untukku?" Tanya Mara dengan mata terpejam.
" Mau sekarang apa nanti?" Tanya Arthur.
" Sekarang aja Mas. Buruan beliin gih!" Ujar Mara.
" Baiklah akan Mas belikan." Sahut Arthur turun dari ranjang.
__ADS_1
Arthur segera mengambil baju di almari lalu memakainya.
" Mas pergi dulu sayang." Ucap Arthur mencium kening Mara.
Arthur berjalan menuju pintu, saat ia hendak membuka pintu tiba tiba Mara memanggilnya.
" Mas."
" Ya." Sahut Arthur menatap Mara.
" Nggak usah pergi deh, sepertinya aku sudah nggak kepingin lagi." Ujar Mara.
" Beneran nggak kepingin lagi? Nanti kalau nggak terpenuhi bisa bisa anak kita jadi ileran lhoh sayang." Ujar Arthur.
" Iya udah nggak lagi, aku ingin di peluk kamu aja." Ucap Mara membuat Arthur terkekeh.
" Baiklah." Sahut Arthur kembali naik ke atas ranjang memeluk Mara.
Mara kembali memejamkan matanya, sedangkan Arthur menatap langit langit kamar sambil mengelus kepala Mara.
Tok tok...
Bi Ningsih membuka pintunya, Arthur meletakkan jari di bibirnya memberi tanda kepada ibunya untuk tidak menimbulkan suara. Bi Ningsih menganggukkan kepalanya. Ia berjalan sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya menuju meja lalu meletakkan nampannya di atas sana. Ia segera keluar dari sana lalu menutup pintunya.
Bi Ningsih kembali ke bawah sambil tersenyum bahagia. Pak Jaka yang melihatnya pun merasa heran.
Bi Ningsih duduk di kursi yang ada di sebelah meja makan.
" Ibu baru saja dari kamar Arthur Pak, Ibu merasa Arthur sangat bahagia hidup bersama Mara. Dia terlihat sangat mencintai Mara Pak. Ibu tidak menyangka jika Arthur bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau di lihat dari status sosial, suatu hal mustahil jika Arthur bisa bersatu dengan Mara. Walaupun ibu tahu kalau Arthur mencintai Mara sejak dulu." Ujar bi Ningsih.
" Yang namanya jodoh itu sudah rencana Tuhan Bu. Jika Ibu bahagia melihat Arthur bahagia, maka ibu harus banyak banyak bersyukur kepada Tuhan atas nikmat ini. Bapak juga selalu berdoa semoga mereka selalu di limpahkan kebahagiaan. Apalagi setelah kehadiran cucu kita." Ucap Pak Jaka.
" Amin." Sahut Bi Ningsih.
Jam dua belas siang, Mara baru membuka matanya. Ia menatap Arthur yang saat ini sedang menatapnya juga.
" Mas kamu tidak tidur." Ucap Mara beranjak menyandarkan punggungnya pada headboard, begitupun dengan Arthur.
" Mas tidak bisa tidur karena lapar." Ucap Arthur membuat Mara melongo.
" Eh maaf bukan karena itu, tapi karena...
" Aku tahu Mas, karena aku memelukmu jadi kamu tidak bisa pergi. Aku yang meminta maaf." Ucap Mara memakai bajunya.
" Sayang mau kemana?" Tanya Arthur saat Mara turun dari ranjang.
__ADS_1
Mara berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi. Arthur merutuki kebodohannya karena asal bicara.
" Bodoh kau Arthur.. Kenapa bisa salah ucap sih. Sudah tau istrimu ngambekan dan tersinggungan masih aja jujur banget." Gerutu Arthur.
Arthur duduk di tepi ranjang setelah memakai bajunya sambil menunggu Mara. Tak lama Mara keluar dari kamar mandi.
" Sayang maafkan Mas! Mas tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." Ucap Arthur.
" Tidak apa apa Mas, aku tidak tersinggung kok." Sahut Mara.
" Apa itu ibu yang mengantar ke sini?" Tanya Mara menunjuk nampak di meja.
" Iya tadi pagi." Sahut Arthur.
" Akan aku panaskan lagi untuk makan siang." Ucap Mara.
" Tidak perlu sayang, biar Mas saja. Kamu pasti capek kalau harus bekerja di dapur. Mending kamu tunggu di sini saja." Ujar Arthur menarik Mara.
Mara duduk di tepi ranjang, Arthur berlutut di depannya sambil mengelus perut buncitnya.
" Sayangnya Papa sedang apa nih di dalam? Pasti udah kelaparan ya karena mama kamu belum memberi kamu makan." Ujar Arthur.
Arthur mencium perut Mara lalu mengelusnya lagi.
" Sayang apa belum terasa menendang nendang gitu?" Tanya Arthur mendongak menatap Mara.
" Sudah sih Mas, tapi masih lemah jadi belum begitu terasa kalau di raba pakai tangan." Sahut Mara.
" Sehat sehat di dalam sini sayang, Papa sudah tidak sabar menunggu kamu lahir. Papa akan mengajakmu jalan jalan ke taman setiap pagi sayang." Ucap Arthur berbicara pada bayi yang ada di dalam kandungan Mara.
" Mas besok kalau sudah tujuh bukan, kita USG lagi ya. Aku ingin tahu jenis kelaminnya." Ujar Mara.
" Mas kurang setuju kalau kamu ingin tahu jenis kelaminnya sayang, kalau Mas inginnya biar itu menjadi kejutan saat dia lahir nanti. Kalau kita sudah tahu jenis kelaminnya, rasanya kelahirannya tidak akan jadi surprise untuk kita. Tapi kalau kamu mau tahu ya tidak apa apa, Mas akan menunggumu di luar ruangan, dan Mas harap kamu merahasiakan jenis kelaminnya dari Mas." Ujar Arthur.
Mara nampak sedang berpikir.
" Kamu benar juga Mas, biarkan itu menjadi rahasia Tuhan saja. Aku jadi tidak ingin tahu sebelumnya." Ucap Mara. Arthur tersenyum ke arahnya.
" Ya sudah Mas ambilkan makanan yang baru dulu ya, terus kamu makan yang banyak biar anak kita sehat." Ucap Arthur.
" Iya Mas." Sahut Mara.
Arthur keluar dari kamarnya sambil membawa makanan yang sudah dingin. Mara menatap kepergiannya sambil tersenyum.
" Aku sangat bersyukur bisa memilikimu Mas. Terima aksih ya Tuhan kau telah memberikan yang terbaik untukku."
__ADS_1
TBC....