
Dua hari setelah kepergian Aditya, Gania merasa sangat kesepian dan kehilangan. Ia duduk di ranjang bersandar pada head board sambil menatap layar ponselnya. Ingin sekali ia menekan tombol hijau pada kontak Aditya, namun ia terlalu gengsi untuk melakukannya.
" Hah... Sudah dua hari ini mas Ditya tidak ada kabar, kenapa dia tidak meneleponku? Selain aku mengkhawatirkannya, aku juga merindukannya." Monolog Gania menatap foto profile yang Aditya pasang pada kontaknya. Yaitu foto pernikahan mereka berdua.
" Aku kira aku bisa membencinya, tapi aku salah. Hati ini masih menyimpan cinta untuknya. Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meneleponnya? Atau aku tunggu saja telepon darinya? Tapi sudah dua hari mas Ditya tidak kunjung meneleponku." Ujar Gania sedikit berpikir.
Satu menit, dua menit, Gania sedang berperang dengan hatinya.
" Aku telepon saja deh." Ucap Gania pada akhirnya.
Gania menelepon Aditya, telepon tersambung tinggal menunggu Aditya mengangkatnya.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah hotel di kota yang sama. Aditya nampak sedang tertidur karena baru pagi tadi ia sampai ke tanah air kembali. Ia sengaja tidak langsung pulang ke rumah untuk mengetes perasaan Gania. Apakah Gania mengharapkan dirinya pulang, atau tidak. Itu sebabnya ia tidak menelepon Gania selama dua hari ini.
Drt... Drt..
Tidur Aditya terganggu dengan suara dering ponselnya. Ia meraba raba nakas mencari ponselnya, setelah ia mendapatkan ponselnya ia segera menjawab panggilannya.
" Halo." Sapa Aditya dengan suara serak khas bangun tidur.
Tidak ada suara di sebrang sana. Sepertinya Gania nampak gugup untuk menanyakan keberadaan Aditya.
Aditya menatap layar ponselnya, ia langsung beranjak duduk saat tahu jika Gania yang meneleponnya. Ia duduk bersandar pada headboard dengan ponsel menempel di telinganya.
" Halo Gania, ada apa kau meneleponku? Apa terjadi sesuatu padamu di rumah?" Tanya Aditya pada akhirnya setelah lima menit dalam keheningan.
" Kau dimana?" Tanya Gania ragu.
" Apa kau peduli aku ada dimana? Bukankah tidak ada bedanya aku ada ataupun aku tiada? Kau sama sama tidak akan menganggapku ada di sekitarmu kan? Lalu untuk apa kau ingin tahu aku ada dimana?" Bukannya menjawab, Aditya malah balik bertanya.
Hati Gania mencelos mendengar ucapan Aditya.
__ADS_1
" Aku minta maaf, mungkin aku egois karena tidak menghargaimu selama ini. Tapi kau tahu dengan jelas jika aku punya alasan melakukan semua itu padamu. Jujur aku marah padamu, aku kecewa atas kebohongan yang kau lakukan padaku. Aku benci dirimu, aku ingin membencimu selama sisa hidupku karena aku merasa di permainkan olehmu." Ucap Gania.
Aditya memejamkan mata menahan rasa sakit yang menjalar di hatinya.
" Tapi sekarang aku sadar, sekuat apapun aku mencobanya aku tetap tidak bisa. Aku gagal." Aditya tersenyum mendengar ucapan Gania.
" Aku gagal membencimu Mas, aku gagal untuk tidak epduli padamu. Dua hari ini kau menyadarkan aku akan perasaanku padamu. Aku ingin bersikap tidak peduli padamu, tapi hati ini terus mendorongku untuk mengkhawatirkanmu. Aku ingin acuh dengan kepergianmu, tapi hati ini justru merindukanmu. Aku ingin menghilangkan ingatanku tentangmu, tapi hati ini justru selalu mengingatmu kemanapun aku melangkah. Sebenarnya aku tidak ingin meneleponmu, tapi lagi lagi hati ini membuatku terus gelisah memikirkanmu hingga akhirnya egoku hilang dengan sendirinya. Dan pada akhirnya aku meneleponmu untuk menanyakan kabar dan keberadaanmu. Sekali lagi maafkan aku." Ucap Gania panjang lebar Ia menghela nafasnya dalam dalam.
" Bagaimanapun kau tetap suamiku, kau cinta pertamaku dan sampai sekarang perasaan itu masih menetap di hatiku. Pulanglah! Aku menunggumu." Ucap Gania.
Aditya mengembangkan senyuman lebar di sudut bibirnya.
" Ya Tuhan terima kasih akhirnya caraku mengetahui perasaan Gania sesungguhnya berhasil. Aku bahagia sekali mendengar Gania masih memiliki perasaan yang sama denganku. Dia mencintaiku... Aku juga mencintaimu sayang, aku lebih mencintaimu." Ujar Aditya dalam hati.
" Mas apa kau mendengarku?" Tanya Gania membuat Aditya tersadar dari lamunannya.
" Aku mendengarnya, kau tenang saja aku baik baik saja. Aku berada di hotel saat ini. Aku akan pulang setelah rasa kantukku hilang. Akan aku jelaskan kenapa aku ada di sini nanti setelah aku sampai rumah. Terima kasih karena kau telah mengkhawatirkan aku." Ucap Aditya menutup sambungan teleponnya.
" Setelah aku berbicara panjang lebar, hanya itu yang dia katakan? Dan apa tadi? Hotel xx? Berarti dia sudah ada di Indonesia? Lalu kenapa dia tidak langsung pulang? Apa dia sengaja membuatku khawatir padanya?" Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Gania.
" Ah bodoh kamu Gania, sepertinya dia sengaja membuatmu seperti orang gila seperti ini karena mengkhawatirkannya. Menyesal aku telah meneleponnya, tahu gitu aku tidak akan mengungkapkan perasaanku padanya. Dia memang benar benar pintar membodohi orang." Gerutu Gania.
Gania merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia menatap langit langit kamar sambil tersenyum membayangkan Aditya yang hendak pulang.
" Aku menunggumu Mas." Gumam Gania.
----------------
Gania gelisah menungu Aditya pulang namun hingga jam dia siang, Aditya belum kelihatan batang hidungnya. Ia berdiri di dekat jendela sambil terus mengomel.
" Hah menyebalkan sekali, aku mengantuk sampai aku tahan karena menunggunya malah dia belum juga pulang. Aku akan marah kalau sampai jam tiga mas Ditua belum pulang pulang juga. Dia jadi bersikap seenaknya." Ucap Gania menatap keluar jendela.
__ADS_1
Grep...
Tubuh Gania menegang saat seseorang memeluknya dari belakang.
" Jangan marah marah sayang, nanti cepat tua." Ucap Aditya lirih sambil menempelkan dagunya ke pundak Gania.
" Gimana aku nggak marah kalau seseorang yang aku tunggu dari tadi tidak juga pulang." Sahut Gania.
" Sekarang aku sudah pulang, jadi jangan marah marah lagi. Maafkan aku." Ucap Aditya menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Gania.
Tubuh Gania meremang merasakan hangatnya hembusan nafas Aditya yang mengenai lehernya. Keduanya nampak diam membuat suasana menjadi hening. Aditya mencium rambut Gania yang bau wangi aroma stobrery. Benar benar wangi yang menenangkan baginya.
" Kapan kamu sampai ke sini? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah? Kenapa malah tidur di hotel? Apa kamu tidak merindukan aku?" Tanya Gania mengelus tangan Aditya.
" Apa kamu merindukan aku?" Aditya balik bertanya.
" Tadi aku sudah mengakuinya." Sahut Gania.
" Aku juga merindukanmu. Setelah turun dari pesawat, aku merasa pusing dan mengantuk. Aku tidak mau menanggung resiko jika aku paksakan menyetir mobil sampai rumah, jadi aku memilih transit di hotel sebentar untuk sekedar numpang tidur." Jelas Aditya.
Gania membalikkan badannya, ia menatap wajah lesu suaminya yang selama dua hari ia rindukan.
Aditya menangkup wajah Gania, ia memajukaj wajahnya lalu tiba tiba...
Cup...
Aditya mengecup bibir Gania dengan lembut. Gania memejamkan matanya membuat Aditya kembali mengecup bibir Gania. Kali ini tidak hanya sekedar mengecup saja, tapi Aditya ******* bibir Gania. Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Gania untuk mengekspos setiap inchinya.
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Setelah di rasa kehabisan oksigen, Aditya melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Gania dengan jempolnya.
" Terima kasih, ini sambutan yang luar biasa. Aku merindukanmu." Ucap Aditya menarik Gania ke dalam pelukannya.
__ADS_1
TBC...