AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
BELAJAR MEMASAK


__ADS_3

Setelah selesai menata barang barangnya di almari, Mara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia melirik ke arah Arthur yang sedang merapikan almarinya, ia harus mengeluarkan barang barangnya dari alamari sebelah karena barang barang Mara melebihi kapasitas.


" Bang aku lapar." Ucap Mara.


" Kamu lapar? Kamu bisa masak apa?" Tanya Arthur menatap Mara.


" Apa maksudmu bertanya seperti itu Bang?" Tanya Mara.


" Ya kalau kamu lapar, kamu bisa membuat makanan sendiri." Sahut Arthur.


" Aku tidak bisa memasak apapun." Ucap Mara.


" Kalau begitu aku akan mengajarimu masak." Ujar Arthur membuat Mara terkejut. Ia beranjak duduk sambil menatap Arthur.


" Makanya sewa pelayan buat menyiapkan keperluan kita." Ucap Mara.


" Gajiku tidak akan cukup jika harus menyewa pelayan Nona Mara." Sahut Arthur.


" Kalau begitu delivery order saja." Ujar Mara.


" Di sini tidak seperti di Jakarta Nona, di sana kamu bisa memesan apapun yang kamu suka tapi kalau di sini kamu tidak akan mendapatkan itu. Kamu harus bisa memasak sendiri, jadi jika kamu di rumah sendirian kamu tidak akan kelaparan." Ujar Arthur.


" Kau benar benar menyeretku ke dalam kesengsaraan Bang. Aku benar benar tidak percaya ini. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria serba kekurangan sepertimu." Ucap Mara.


" Setidaknya aku bersyukur karena memiliki fisik yang sempurna." Ucap Arthur.


" Kau terlalu pasrah pada keadaan, itu sebabnya kau tidak ada kemajuan." Ujar Mara menatap sinis ke arah Arthur.


" Ayo aku ajari memasak!" Ajak Arthur.


" Nggak mau." Sahut Mara mengerucutkan bibirnya.


" Katanya lapar." Ujar Arthur.


" Ya aku memang lapar tapi kalau di suruh masak sendiri aku nggak mau. Mending aku mati kelaparan daripada harus bersusah payah memasak di dapur." Ketus Mara.


" Aku tidak akan membiarkanmu kelaparan tapi aku juga tidak akan membiarkanmu bersikap manja di sini. Jadi turuti perintahku atau kau akan kesusahan sendiri nantinya. Karena setelah ini aku bakal sering di tugaskan kelaur kota oleh tuan Adi." Ucap Arthur penuh penekanan.


" Harusnya kamu itu bersyukur bisa menikahi gadis kaya sepertiku, setidaknya kamu bisa menumpang hidup padaku. Kita bisa hidup di dalam kemewahan yang aku punya bukannya malah membawaku ke sini. Jadi aku yang harus ikut merasakan penderitaanmu." Gerutu Mara.


" Itu terjadi jika aku hanya menginginkan hartamu saja Nona, tapi di sini aku tulus menerimamu. Aku tulus menikahimu tanpa ada tujuan yang lainnya." Ucap Arthur.


" Bodo' amat! Mending aku tidur saja." Ucap Mara meringkuk di atas ranjang.


Arthur menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mara. Ia mendekati Mara lalu menarik tangan Mara dengan paksa membuat Mara terseret turun dari ranjang.


" Ayo!" Ucap Arthur.


" Apaan sih Bang." Cebik Mara menepis tangan Arthur.


" Kita masak untuk makan siang." Sahut Arthur.


" Aku nggak mau." Protes Mara.


" Harus mau, kamu harus latihan mengurus rumah dengan baik. Kalau tidak mau aku akan bilang ke papa kalau kamu tidak mau berusaha menjadi istri yang sesungguhnya." Ucap Arthur.


" Bilang aja! Aku tidak takut." Ucap Mara menantang. Arthur menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tangan Mara, lalu menatap dengan intens.


" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Mara was was.


" Seumur hidupku aku baru bertemu dengan gadis keras kepala sepertimu, kau sama sekali tidak mau mendengar pendapat orang lain." Ucap Arthur.


" Memangnya kenapa? Apa itu berpengaruh untukmu?" Tanya Mara melipat kedua tangannya di depan dadanya.


" Tidak sama sekali." Sahut Arthur.


" Baiklah kalau kamu menantangku, aku akan mengadukanmu pada tuan Adi sekarang juga. Aku yakin tian Adi pasti akan sedih mengetahui putrinya membangkang suaminya." Ucap Arthur mengambil ponselnya di atas meja.


Mara membulatkan matanya sempurna, ia langsung mendekati Arthur lalu merebut ponselnya.

__ADS_1


" Kembalikan!" Ucap Arthur.


" Nggak mau, nanti kamu telepon papa beneran. Aku nggak mau membuat papa sedih." Ujar Mara membuat Arthur tersenyum.


" Lalu?" Tanya Arthur.


" Baiklah aku akan belajar memasak sama kamu. Kamu benar benar tukang memanfaatkan keadaan. Pertama kamu memanfaatkan keadaan dengan menikahimu, kedua kau memanfaatkan keadaan untuk membuatku keluar dari rumahku. Dan ketiga kau selalu menggunakan ancaman untuk mengendalikan aku. Asal kau tahu, suatu hari nanti aku akan membangkang darimu. Aku tidak akan pernah tunduk lagi padamu." Ucap Mara keluar dari kamar Arthur.


" Aku melakukan ini demi kebaikanmu." Gumam Arthur.


Arthur segera menyusu Mara ke dapur. Sampai di sana ia melihat Mara yang sedang meletakkan penggorengan di atas kompor.


" Mau masak apa?" Tanya Arthur mendekati Mara.


" Telur ceplok." Sahut Mara.


" Memangnya kamu bisa?" Tanya Arthur memastikan.


" Bisa." Sahut Mara asal.


Mara mengisi penggorengan dengan minyak. Ia nampak mencari cari bagian mana yang berfungsi sebagai pematik api.


" Cari apa?" Tanya Arthur.


" Pematiknya yang mana?" Tanya Mara.


" Ini, tinggal di putar saja." Ucap Arthur.


Klik...


" Aw.. " Pekik Mara kaget saat api menyala di sumbu kompor tersebut. Arthur tersenyum melihatnya.


" Sudah biar aku yang melanjutkan, kamu duduk saja di situ." Ujar Mara.


" Beneran?" Tanya Arthur.


" Baiklah." Sahut Arthur duduk di meja makan.


Mara mengambil sebutir telur dari kulkas, lalu ia memecahkannya. Arthur mengerutkan keningnya saat melihat Mara yang memasukkan telur dan cangkangnya ke dalam wajan.


" Apa yang kamu lakukan Nona?" Tanya Arthur mendekati Mara.


" Menggoreng telur." Sahut Mara enteng.


" Bukan begitu cara menggoreng telur yang benar, harusnya kamu tidak memasukkan cangkang telurnya juga Nona." Ujar Arthur.


" Benarkah?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Sepertinya yang aku lihat tadi seperti itu." Gumam Mara menggigit jarinya.


" Memangnya lihat di mana?" Tanya Arthur.


" Utube." Sahut Mara.


" Sepertinya kamu menonton cara yang salah, biar aku saja." Ucap Arthur.


Arthur membuang telur yang di goreng Mara lalu menggantinya dengan yang baru.


" Setelah ini beri bumbu kaldu atau garam. Aku ke kamar kecil dulu, kalau sudah matang tinggal di angkat saja." Ucap Arthur meninggalkan Mara.


" Baiklah aku ambil dulu garamnya." Ujar Mara menuju rak bumbu.


Mara menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia bingung membedakan antara gula dan garam karena warna dan bentuknya yang sama. Mara asal mengambil saja lalu ia membutuhkannya ke telur gorengnya.


" Aku sudah memberi garam, terus di apain Bang?" Teriak Mara.


" Di balik dulu Nona lalu di angkat." Sahut Arthur dari kamar kecil.


Dengan perlahan Mara membalik telurnya, tiba tiba minta panasnya meletup tepat mengenai pipinya membuatnya kaget.

__ADS_1


" Awh... "


Arthur yang mendengarnya langsung keluar dari kamar kecil menghampiri Mara.


" Kenapa Nona? Apa ada yang sakit?" Tanya Arthur menatap Mara yang sedang mengibas ngibaskan tangan ke pipinya.


" Minyaknya meletup mengenai pipiku Bang, Shhh... Panas sekali." Rintih Mara.


Arthur segera mematikan kompornya.


" Nyala apinya kegedean makanya meletup, sini aku tiup." Ucap Arthur.


Arthur meniup pipi Mara yang terlihat merah. Mara menatap Arthur dengan jantung yang berdetak kencang.


" Tidak Mara... Kau tidak boleh tertarik padanya, dia hanya akan menyusahkan hidupmu saja. Buang jauh jauh pikiran itu Mara." Batin Mara.


Arthur menatap Mara membuat mata mereka bertemu, Mara segera memalingkan wajahnya. Ia jadi salah tingkah setelah ketahuan memandangi wajah Arthur.


" Telurnya sudah matang, ayo kita cicipi." Ucap Mara.


" Baiklah." Sahut Arthur.


Arthur mengangkat telur goreng ke piring lalu menuju meja makan di ikuti Mara di belakang.


" Coba cicipi masakanmu!" Ucap Arthur.


" Nggak mau, kamu aja yang mencicipinya jadi nanti kalau beracun, kamu yang mati lebih dulu." Ujar Mara.


Arthur menyuapkan sepotong telur goreng buatan Mara, ia menyuapkannya ke mulutnya lalu mengunyahnya.


" Gimana rasanya Bang?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Sangat enak, ini pertama kalinya aku memakan masakan istriku. Aku akan menghabiskannya." Ujar Arthur.


" Eh jangan di habiskan! Aku juga mau Bang, kan aku yang lapar." Ucap Mara menarik piring Arthur.


" Jangan! Biar nanti aku buatkan untukmu." Ujar Arthur.


" Nggak apa apa ini aja." Ucap Mara.


Mara menyendok telurnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Tiba tiba...


Hueeekkk....


Mara memuntahkan telur goreng buatannya sendiri.


" Kenapa di keluarkan lagi?" Tanya Arthur.


" Manis." Ucap Mara membuat Arthur terkekeh.


" Bagaimana bisa kamu memakannya Bang? Rasanya sama sekali tidak enak." Ujar Mara.


" Aku harus menghargai usaha istriku. Apapun yang kau berikan aku akan memakannya." Ucap Arthur membuat Mara terharu. Tapi sedetik kemudian Mara terlihat menyunggingkan senyumnya.


" Kalau begitu lain kali aku akan mencampurkan racun ke dalam makananmu supaya kamu ko... Id." Ucap Mara tersenyum smirk.


" Aku tetap akan memakannya, jika kematianku adalah yang terbaik untukmu aku rela. Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia." Ucap Arthur tersenyum lebar.


Senyuman di wajah Mara langsung hilang begitu saja. Ia berlalu dari sana meninggalkan Arthur sendiri.


" *Sebenarnya pria seperti apa yang aku nikahi? Kenapa dia nampak berbaik hati dengan menerima segala perlakuanku dengan sabar? Ya Tuhan... Apakah ini petunjuk yang kau berikan padaku jika dia yang terbaik untukku?" Gumam Mara dalam hati.


" Aku harap kau menyadari cintaku nona Mara*." Batin Arthur.


TBC....


Santai dulu ya... Author akan memberikan konflik setelah mereka dekat...


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2