
Arthur melajukan mobilnya menuju rumah. Di perjalanan Mara nampak diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
" Mau Mas ajak ke pantai?" Tawar Arthur.
Mara menatap Arthur, ia nampak berpikir sejenak.
" Boleh deh." Sahut Mara.
" Kita ukir kenangan indah di awal hubungan kita yang baru." Ucap Arthur.
" Hmm." Mara menganggukkan kepala.
Arthur melajukan mobilnya menuju pantai utara. Satu jam lamanya perjalanan akhirnya mereka sampai di sana.
Arthur turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Mara.
" Ayo turun!" Ucap Arthur.
Mara turun dari mobil, Arthur segera menggandeng tangannya. Keduanya berjalan menuju bibir pantai sambil bergandengan tangan. Nampak anak anak usia enam tahunan sedang bermain bola di dekat pantai. Walaupun matahari mulai mengeluarkan teriknya namun tidak menyurutkan tekad mereka untuk bermain.
" Kita duduk di sini saja Bang." Ucap Mara berhenti di bawah pohon pines.
Arthur nampak celingak celinguk lalu...
Cup...
Mara membulatkan matanya, ia terkejut bukan main dengan apa yang Arthur lakukan.
" Bang Arthur!! Apa apaain sih kamu." Ucap Mara kesal.
Tiba tiba Arthur menarik pinggang Mara membuat Mara menubruk dada bidang Arthur.
Cup...
Arthur kembali mencium Mara namun kali ini tepat di keningnya.
" Aku belum terbiasa memanggilmu Mas, Ba.. Mas. Jadi nggak usah jahil ngerjain aku." Ucap Mara.
" Makanya mulai sekarang harus di biasakan. Mas tidak mau kamu panggil Bang, emangnya Mas abang sopir, abang kernet, abang tukang bakso, abang penjual siomay? Lagian pasti di ketawain orang kalau seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan abang." Cerocos Arthur.
" Siapa yang berani ngetawain Mas? Kamu ada ada aja deh. Udah ah katanya mita ke sini mau mengukir kenangan indah, indah darimana? Kalau baru datang aja sudah ngajakin ribut." Gerutu Mara cemberut.
" Baiklah, baiklah maafkan Mas. Sekarang mita duduk saja." Ucap Arthur.
Mereka berdua duduk di bawah pohon yang teduh sambil melihat deburan ombak dan anak anak yang bermain.
" Mas kayaknya minum es kelapa muda enak nih." Ucap Mara.
" Kamu mau?" Tawar Arthur.
" Yei... Orang aku bilang begitu, pasti aku mau lah Mas. Kamu ini gimana sih." Ujar Mara.
" Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar! Mas akan membelikannya untukmu. Jangan kemana mana!" Ucap Arthur beranjak.
__ADS_1
" Iya." Sahut Mara menganggukkan kepalanya.
Arthur berjalan meninggalkan Mara sendirian. Mara nampak termenung memikirkan masalah yang telah menimpanya.
" Aku tidak boleh terhanyut dengan kesedihan ini. Aku harus melupakan semuanya. Benar kata bang Arthur kalau aku harus memulai hidup dengan kenangan yang baru. Aku tidak perlu meratapi nasib yang telah aku alami selama ini. Aku harus melupakan Aldo dan membuka hatiku untuk bang Arthur. Aku harus hidup bahagia, dan sekarang hanya bang Arthur yang aku miliki. Aku harus bangkit, aku harus menatap hidup baruku mulai sekarang. Bye bye kesedihan, dan wellcome kebahagiaan." Monolog Mara.
Dugh...
Bola mengenai kaki Mara, ia menoleh ke arah anak laki laki yang saat ini sedang berlari ke arahnya.
" Kakak tolong berikan bolanya!" Ucapnya.
Mara menganggukkan kepalanya, ia beranjak mengambil bola lalu memberikannya kepada anak itu.
" Kakak cantik kelihatan lagi sedih, daripada sedih mending Kakak ikut kami main." Ujarnya.
" Emang boleh?" Tanya Mara.
" Boleh lah, iya kan teman teman?" Teriak anak itu di akhir kalimatnya.
" Boleh." Sahut mereka semua.
" Ayo Kak!" Anak itu menggandeng Mara mendekati teman temannya.
" Ayo Kak kita bermain, Kakak jadi kucing yang harus metebut bola ini dari kami. Nanti di tangan siapa Kakak mendapatkan bola, maka dialah yang jadi menggantikan Kakak." Ucap anak itu.
" Heh gue di kerjain nih." Gumam Mara.
" Bagaimana Kak?" Tanyanya.
Anak anak mulai melempar bola dengan cara estafet dari satu anak ke anak yang lain. Mara berlari ke sana kemari untuk merebut bola namun tidak juga berhasil. Arthur yang sudah kembali tersenyum bahagia melihat semua itu. Mara nampak sudah kembali ceria seperti sebelumnya.
" Mas." Teriak Mara memanggil Arthur.
" Ya." Sahut Arthur.
" Sini!" Ucap Mara melambaikan tangannya.
Arthur segera menghampiri Mara sambil membawa es kelapa muda di tangannya.
" Ini sayang es kelapanya." Ucap Arthur memberikan es kelapa muda kepada Mara.
Mara nampak terkejut dengan sebutan sayang yang keluar dari bibir Arthur, namun ia tidak mempermasalahkannya.
Mara menyesap es kelapa itu sedikit, lalu memberikannya kembali kepada Arthur.
" Ayo Mas ikut main!" Ajak Mara. Kali ini Arthur lah yang terkejut.
" Beneran Mas boleh ikut main?" Tanya Arthur dengan mata berbinar.
" Boleh, kenapa tidak? Ternyata seru loh Mas bermain sama anak anak gini." Ujar Mara.
" Baiklah Mas ikut main, Mas meletakkan ini dulu." Ucap Arthur meletakkan es kelapa mudanya di bawah pohon. Setelah itu ia kembali menghampiri Mara.
__ADS_1
" Ayo kota bermain." Ucap Arthur.
" Ayo." Jawab anak anak serempak.
Mereka nampak bermain dengan gembira. Mara belum bisa metebut bola dari tangan anak anak. Arthur merasa kasihan melihat keringat Mara yang nampak mengalir deras di wajahnya. Sesekali Mara menyekanya.
Saat bola berada di tangan Arthur, Arthur sengaja membiarkan Mara merebutnya.
" Yei berhasil.... " Sorak Mara mengangkat tinggi bolanya.
" Yei...."
" Sekarang Om yang jadi." Ucap anak anak.
" Baiklah Om jadi kucingnya, siap ya... Satu, dua, tiga." Arthur berlari ke arah Mara, Mara segera melemparkan bolanya kepada yang lain, begitu seterusnya.
Sampai Arthur mengejar bola di tangan Mara tiba tiba...
Brugh.....
Tubuh Arthur menindih Mara di atas lembutnya pasir pantai di sana. Keduanya saling melempar pandangan dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Deg... Deg... Deg...
" *Ya Tuhan jantungku.. Kenapa berdebar begitu kencang seperti ini? Apa aku menyimpan perasaan untuk bang Arthur? Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Tidak tidak itu tidak mungkin. Beberapa hari lalu aku masih mencintai Aldo, masa' sekarang sudah berpindah ke lain hati. Apa secepat ini aku jatuh hati pada bang Arthur? Tapi wanita mana yang tidak akan jatuh hati dengan pria sebaik dia? Pria yang bertanggung jawab, penyayang dan memiliki sikap sabar yang tiada batas. Jika memang aku mencintainya, tolong berikan petunjukmu ya Tuhan." Gumam Mara dalam hati.
" Mara benar benar kelihatan sangat cantik, aku jadi semakin senang memandangnya. Aku yakin hatinya pasti secantik wajahnya, hanya saja dia selalu menyembunyikannya pada semua orang. Perlahan aku akan mengubahmu menjadi pribadi dirimu yang sebenarnya. Aku mencintaimu Mara, aku sangat mencintaimu, istriku sayang*." Ujar Arthur dalam hati.
" Kak ayo bangun!" Ucap anak tadi membuat keduanya sadar dengan posisi mereka saat ini.
" Ah iya, maafkan kami." Sahut Arthur menjauh dari tubuh Mara.
" Mas bantu sayang." Arthur mengulurkan tangannya.
Mereka kembali bermain dengan senang, setelah puas bermain Arthur mentraktir anak anak makan seafood bersama sama.
" Kapan kapan kita ke sini lagi ya Mas." Ujar Mara.
" Kakak kalau ke sini lagi, panggil aku ya. Rumahku ada di sana, yang catnya berwarna biru." Ucap anak tadi menunjuk rumahnya.
" Oh ya dari tadi belum kenalan. Siapa namamu?" Tanya Mara.
" Arthur.... "
Tiba tiba terdengar seorang wanita memanggil nama Arthur. Arthur dan Mara menoleh ke arahnya dan.....
Apa ya????
Jangan lupa like, koment vote dan mawarnya buat author...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....