
" Sudah Mas lepaskan!" Ucap Gania.
" Aku tidak akan melepaskanmu setelah susah payah aku mendapatkan kamu lagi. Aku harap kau akan tetap selalu di sampingku. Oma sudah meninggalkan aku dan aku tidak mau kau meninggalkan aku juga. Atau aku tidak akan bisa hidup lagi." Ucap Aditya mengeratkan pelukannya.
" Aku berjanji tidak akan kemana mana Mas, apalagi meninggalkanmu. Maafkan sikapku selama ini padamu." Ucap Gania.
" Aku juga minta maaf sayang, bukan kamu yang salah di sini tapi aku. Aku yang lebih dulu menyakitimu, aku benar benar menyesal." Ucap Aditya.
" Baiklah mulai sekarang lebih baik kita lupakan masa lalu. Mari kita bangun masa depan yang lebih cerah dan bahagia. Mulai hari ini kita akan menjalani hidup yang baru." Ujar Gania.
Aditya melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Gania dengan kedua tangannya.
" Terima kasih telah mencintaiku kembali. Aku berjanji akan membuatmu hidupmu bahagia bersamaku." Ucap Aditya.
" Aku percaya padamu Mas." Sahut Gania.
Gania duduk di tepi ranjang di ikuti oleh Raka yang duduk di sebelahnya.
" Apa kamu sudah memastikan tentang kepergian oma Mas?" Tanya Gania menatap Aditya.
" Sudah, oma benar benar sudah meninggal dunia. Aku berkunjung ke makamnya di temani oleh adiknya oma." Sahut Aditya nampak sedih.
" Aku turut sedih atas kepergian oma Mas, aku tidak menyangka oma akan meninggalkan kita secepat ini." Ujar Gania.
" Semua sudah menjadi takdir Tuhan sayang. Aku ikhlas menerima semuanya." Ucap Aditya.
" Oh ya, adiknya oma menitipkan sesuatu kepada Mas untukmu." Ucap Aditya merogoh kantong celananya.
Aditya menunjukkan sebuah cincin permata kepada Gania.
" Kaya oma Lidya, ini cincin turun temurun dari keluarga oma. Kau harus memakainya dan jangan pernah melepasnya. Dimanapun kamu nanti bertemu dengan keluarga besar oma, mereka akan mengenalimu dengan cincin ini." Ucap Aditya memasangkan cincin di jari tengah Gania.
" Apa aku pantas menerimanya Mas?" Tanya Gania menatap cincin tersebut.
" Kenapa tidak pantas? Kau cucu menantu mereka sayang, jadi kau pantas memakainya." Sahut Aditya.
" Aku belum melakukan hal baik satu pun untuk keluarga oma sampai saat ini, aku merasa tidak pantas berada di tengah tengah kalian semua." Ujar Gania.
__ADS_1
" Sttt.." Aditya meletakkan jarinya di bibir Gania.
"Jangan pernah kau mengatakan hal seperti itu lagi. Walaupun kita belum melakukan apa apa, setidaknya sekarang kita bisa mewujudkan keinginan oma. Kita berikan mereka cucu penerus keluarga mereka yang banyak sayang." Ujar Aditya membuat Gania terkekeh.
" Baiklah Mas, mari kita mulai membuatnya nanti malam." Ucap Gania mengerlingkan sebelah matanya.
" Beneran?" Tanya Aditya dengan mata berbinar.
" Hmm." Gumam Gania menganggukkan kepalanya.
" Aaaa... Terima kasih sayang, akhirnya aku bisa buka puasa nanti malam." Sorak Aditya memeluk Gania sambil menciumi pucuk kepalanya karena kegirangan.
" Emangnya waktu itu bukan puasa?" Tanya Gania.
" Bukan... Itu namanya jebakan karena kita sama sama melakukannya akibat obat sialan itu. Dan apa kamu tahu siapa yang telah menjebak kita?" Ujar Aditya di balas gelengan kepala oleh Gania.
" Semua itu kerjaan oma sayang." Ucap Aditya melepas pelukannya.
" Oma?" Gania mengerutkan keningnya.
Gania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak menyangka jika nyonya Nuri bisa melakukan hal semacam itu.
" Tapi tidak apa apa, aku malah bersyukur oma melakukan itu. Dengan begitu aku bisa menjadikanmu milikku sepenuhnya." Ucap Aditya membuat Gania melongo membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya.
Melihat itu, Aditya tidak membuang waktu. Ia menahan tengkuk Gania lalu mencecap bibir Gania dengan lembut. Gania mengalungkan tangannya ke leher Aditya. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva.
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Kamar yang menjadi saksi cinta mereka berdua.
Malam hari setelah makan malam, Aditya menarik tangan Gania menuju kamarnya. Keduanya duduk bersandar di atas ranjang. Gania menjadikan lengan Aditya sebagai sandaran sedangkan Aditya bersandar pada head board. Ia mengelus kepala Gania dengan lembut.
" Aku tidak pernah menyangka sayang jika saat ini akan tiba secepat ini. Aku pikir kamu akan membenciku selama lamanya. Aku sudah berpikiran buruk tentang itu. Aku takut tidak bisa hidup dengan baik jika sampai hal itu terjadi padaku. Sekali lagi terima kasih telah menerimaku kembali." Ucap Aditya.
" Sama sama Mas." Sahut Gania.
" Aku ke kamar mandi dulu." Gania turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak lama ia keluar dari kamar mandi, ia berdiri di depan pintu kamar mandi membuat Aditya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Glek....
Aditya menelan kasar salivanya begitu melihat Gania yang saat ini memakai lingerie seksi berwarna hitam. Tubuh putihnya terekspos jelas di mata Aditya.
Dengan malu malu, Gania berjalan mendekati ranjang, tanpa membuang waktu Aditya menarik tangan Gania hingga Gania jatuh menimpa tubuhnya. Aditya mengunci Gania dengan melingkarkan tangan pinggang Gania.
" Mas lepas! Jangan seperti ini!" Ucap Gania.
" Kenapa aku harus melepasmu? Bukankah kau mempersiapkan semua ini untukku? Jadi aku tidak akan menyia-nyiakan persiapanmu ini." Ujar Aditya.
Gania mengangkat kepalanya, ia menatap mata Aditya. Tiba tiba ada sesuatu yang mengeras di bawah sana, Gania tahu apa itu. Ia hanya tersenyum geli membayangkannya.
" Kenapa senyam senyum begitu hmm?" Tanya Aditya mengelus leher Gania.
" Ada sesuatu yang mengeras di bawah sana Mas." Bisik Gania.
" Ya kau benar, dan sesuatu itu minta di lepaskan. Apa kau sudah siap?" Tanya Aditya.
Gania menganggukkan kepalanya.
Aditya membalikkan posisi, ia mengukung tubuh Gania. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap mata satu sama lain. Desiran halus merambat di hati mereka masing masing.
Aditya mencium bibir Gania, satu tangannya bergerilya kemana mana mencari area yang menjadi favoritnya.
" Shhhh." Desis Gania saat Aditya meremas salah satu gundukan kembarnya.
Suara Gania membuat Aditya semakin menggila. Ciuman yang semula lembut kini jadi menuntut. Ciuman Aditya turun ke leher, ia membuat beberapa stempel kepemilikan dengan penuh semangat. Seolah ia ingin memamerkan kepada semua orang jika Gania adalah miliknya. Turun ke bawah, semakin turun dan semakin turun.
Tak terasa keduanya kini sama sama polos. Aditya memandangi bentuk tubuh Gania yang terlihat begitu sempurna menurutnya. Ia segera mengarahkan senjata laras pendeknya menuju markasnya. Suara des@h@n terdengar jelas di telinga Aditya saat senjatanya terbenam sempurna. Ia mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur membuat Gania menggila.
" Mas.... " Desis Gania di sela sepa permainannya.
Malam ini Aditya benar benar menyentuh Gania dengan lembut. Mereka berdua merasa sangat bahagia bisa meluapkan cinta mereka malam ini. Keduanya sama sama berharap akan segera hadir Aditya junior yang bersemayam di rahim Gania.
" Aku telah melakukan yang terbaik untuk hubungan ini. Semoga ke depannya kami akan selalu hidup bahagia." Batin Gania.
To be continue...
__ADS_1