AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

Hari ini Mara pulang bersama Arthur menggunakan jet pribadi yang di sewa oleh Arthur di temani seorang dokter spesialis kandungan. Arthur merencanakan kepulangannya dengan matang, ia tidak mau terjadi sesuatu di jalan. Arthur terus menggenggam tangan Mara, sesekali ia menciuminya.


" Sayang apa ada yang sakit? Atau mungkin kau capek duduk begini? Mas akan memangkumu kalau kamu capek." Ujar Arthur.


" Enggak Mas, kan cuma sebentar. Aku kuat kok kalau cuma duduk selama satu atau dua jam saja." Ujar Mara.


" Beruntung pas kita berangkat kamu tidak apa apa, kalau tahu kamu hamil Mas tidak akan ikut ke sana." Ucap Arthur.


" Tidak apa apa Mas, aku jadi dapat pengalaman tinggal di desa. Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana kehidupan di desa yang sebenarnya." Ujar Mara.


" Tapi kamu punya pengalaman buruk di sana, Mas jadi sangat merasa bersalah padamu. Maafkan Mas yang tidak becus menjagamu." Ucap Arthur menarik kepala Mara ke bahu.


" Tidak apa apa Mas, bukan salah kamu kok. Aku yang tidak pandai membaca situasi." Sahut Mara melingkarkan tangannya ke perut Arthur.


" Sebaiknya kita lupakan hal itu, lagian Vida juga sudah mendapat ganjarannya." Sambung Mara.


" Baiklah mari kita lupakan hal buruk itu, lebih baik kita membicarakan masa depan. Setelah sampai di Jakarta, kamu harus periksakan kandunganmu. Mas tidak mau sampai dan calon anak kita kenapa napa." Ujar Arthur.


" Iya Mas." Sahut Mara.


Perjalanan terasa sangat mengasikkan bagi Mara karena terus mengobrol dengan suami tercinta. Sampai di bandara kota Jakarta mereka turun dari jet. Mereka sudah di jemput oleh asisten Raka yang bernama Mike.


" Silahkan Tuan, Nyonya!" Mike membuka pintu mobil untuk keduanya.


" Terima kasih Mike." Ucap Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mike.


Mike melajukan mobilnya menuju rumah Mara. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai.


" Ayo sayang kita turun!" Ucap Arthur.


Tidak ada balasan dari Mara, Arthur menatap Mara yang ternyata tertidur. Dengan hati hati Arthur menggendong Mara menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuh Mara di atas ranjang lalu menemui Mike di ruang tamu sambil membawa dua kaleng minuman dingin.


" Perusahaan aman kan?" Tanya Arthur duduk di depan Mike sambil menyesap minumannya.


" Semua aman terkendali Tuan." Sahut Mike.


" Syukurlah kalau begitu." Ucap Arthur.


Mereka melanjutkan berbincang bincang masalah perusahaan.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Malam ini entah kenapa tiba tiba Mara mengajak Arthur pergi makan malam di sebuah kafe ternama di kota itu. Mara dandan dengan sangat cantik membuat Arthur terpaku saat menatapnya. Gaun hitam selutut dengan belahan dada rendah, rambut di gulung memperlihatkan leher jenjangnya dan riasan wajah yang nampak natural.


" Sayang sebenarnya kita mau kemana? Kita hanya mau makan malam saja kan? Kenapa kamu dandan secantik ini? Mas nggak rela kecantikanmu di lihat para pria di luar sana. Yang ada nanti mereka tertarik padamu lagi, terus menggodamu. Mas nggak mau ah, mending kita di rumah saja." Ujar Arthur merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


" Mas aku pergi sama kamu, mana mungkin mereka berani godain aku. Aku ingin makan malam spesial sama kamu, untuk merayakan kehamilanku." Ucap Mara.


" Dan mengungkapkan cintaku." Lanjut Mara dalam hati.


Arthur menghela nafasnya pelan.


" Tapi kalau kamu nggak mau, nggak apa apa Mas. Aku bisa sendiri, aku bisa merayakan kebahagiaanku sendiri." Ucap Mara mengambil tas selempangnya.


" Baiklah baiklah Mas ikut denganmu. Ini kebahagiaan kita berdua sayang, tidak mungkin Mas membiarkanmu merayakannya sendirian. Ayo!" Arthur menggandeng tangan Mara keluar dari kamarnya.


Mara tersenyum melihat sikap Arthur. Keduanya berjalan menuju mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Arthur segera melajukan mobilnya menuju kafe xx.


Sampai di cafe, Arthur kembali menggandeng tangan Mara masuk ke dalam.


" Sayang apa kamu tidak membocking kafe ini untuk kita berdua saja? Kenapa masih ada pengunjung lain?" Tanya Arthur mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe yang nampak ramai pengunjung.


" Tidak apa apa Mas, kasihan mereka yang mau ngedate sama pasangannya kalau kita bocking kafe ini. Pesanan kita ada di meja nomer satu, dekat panggung. Ayo!" Mara menarik tangan Arthur ke mejanya.


Keduanya duduk di meja yang sudah Mara pesan, para pelayan langsung mengirimkan pesanan mereka begitu melihat mereka tiba.


Steak beff, ayam lada hitam dan masih banyak lagi yang lainnya yang Mara pesan khusu untuk mereka berdua.


Sang penyanyi pun mulai menyanyi di depan panggung. Suara alunan musik menambah syahdu malam ini.


" Ayo Mas di makan!" Ucap Mara di balas anggukkan kepala oleh Arthur.


" Sayang kamu mau menyanyi?" Tanya Arthur memastikan.


" Sepertinya tidak buruk." Sahut Mara.


Mara maju ke depan, ia naik ke atas panggung. Mara memegang microfone sambil menatap Arthur.


" Lagu ini mewakili perasaanku pada seseorang yang berada di sana." Ucap Mara menunjuk Arthur.


Musik mulai mengalun, Mara mulai bernyanyi.


" Bersyukur kepada Allah, ku telah di pertemukan. Kekasih baik hati sepertimu." Mara menunjuk ke arah Arthur lagi. Arthur tidak menyangka jika Mara memiliki suara semerdu emas.


" Sampai ajal menjemputku, ku selalu mencintamu menyayangmu engkau tulang rusuk ku.. Hingga di syurganya Allah, ku ingin bersamamu dan menjadi bidadari cintamu."


Mara terus menyanyikan lagu bidadari cintamu sampai selesai. Suara tepuk tangan mengiringi langkahnya turun dari panggung menghampiri Arthur.


Arthur menatap Mara dengan intens membuat Mara menjadi salah tingkah.


" Apaan sih Mas menatapku seperti itu." Ucap Mara memalingkan wajahnya menatap ke sembarang arah karena ia tak mampu menatap mata Arthur.

__ADS_1


" Tatap mata Mas sayang!" Ucap Arthur.


Mau tidak mau Mara akhirnya menatap mata Arthur.


" Apa ini bisa Mas artikan sebagai ungkapan cintamu kepada Mas?" Tanya Arthur.


Mara nampak gugup untuk menjawabnya, ia menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Duh kenapa mendadak aku jadi gugup seperti ini sih? Semua kata yang sudah aku rangkai malah jadi buyar entah kemana." Batin Mara.


Arthur tersenyum melihat tingkah Mara.


" Aku tahu kamu gugup sayang, kamu pasti malu mengungkapkan semua isi hatimu. Padahal tinggal bilang, aku mencintaimu Mas, gampang kan." Kekeh Arthur dalam hati.


Arthur menggenggam tangan Mara, keduanya saling melempar tatapan.


" Mas mencintaimu." Ucap Arthur.


Arthur menunggu balasan dari Mara, namun Mara malah diam saja.


" Mas mencintaimu Mara, apa kamu juga punya perasaan yang sama dengan Mas? Apa kamu mencintai Mas?" Tanya Arthur menatap Mara.


Mara menganggukkan kepala tanpa berkata apa apa. Arthur menarik Mara ke dalam pelukannya.


" Terima kasih, Mas sangat bahagia mengetahui hal ini sayang. Mas sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu." Ucap Arthur.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Mara.


" Apa?" Tanya Arthur menyentuh kedua bahu Mara.


" Aku.. Aku... " Ucap Mara gugup.


" Aku apa hmm?" Goda Arthur.


" Ah Mas Arthur rese'." Mara memukul pundak Arthur.


" Bukan rese' sayang, tapi tampan." Ujar Arthur.


Mara tersenyum bahagia menatap Arthur, Arthur kembali menarik Mara ke dalam pelukannya.


" Iya kamu memang sangat tampan, calon daddy babbyku." Ucap Mara.


Arthur merasa sangat bahagia, ia bersyukur pada Tuhan karena telah membuat hati Mara bisa membalas cintanya.


"Semoga kita selalu bahagia sayang." Batin Arthur.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2