AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
BERITA KEMATIAN


__ADS_3

Setelah kepergian Raka dan Gania, Mara dan Arthur masuk ke dalam kamarnya. Mara duduk bersandar di atas ranjang, Arthur segera mendekatinya. Ia duduk di samping Mara sambil mengelus perut Mara.


" Sayangnya Papa sedang apa nih di dalam sini? Sekarang sudah nggak mual mual lagi ya." Ujar Arthur.


" Tidak sesering dulu Mas. Tapi kalau bau yang tajam tajam gitu ya masih mual." Sahut Mara.


" Rupanya anak papa sudah pintar. Sehat sehat di dalam sini ya sayang, cepat tumbuh besar biar papa bisa mengajakmu main bola." Ujar Arthur.


" Kalau perempuan gimana?" Tanya Mara.


" Kalau perempuan Mas ajak main bonek atau masak masakan." Sahut Arthur.


" Bohong, kalau perempuan pasti Mas tidak menyayanginya." Ujar Mara.


" Kok gitu sih sayang." Ucap Arthur menatap Mara.


" Mendengar ucapan kamu tadi, sepertinya kamu lebih menginginkan anak laki laki daripada perempuan." Ucap Mara.


" Bukan begitu sayang, Mas akan menyayangi mereka apapun jenis kelamin mereka. Laki laki atau perempuan sama saja bagi Mas, mereka sama sama anak Mas sayang. Darah daging Mas." Ucap Arthur mengelus kepala Mara.


" Benarkah?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Tentu sayang." Sahut Arthur.


Mara melingkarkan tangannya ke perut Arthur, ia menyusupkan wajahnya ke bawah ketiak Arthur.


" Mas besok kita ke mall gimana? Kita beli perlengkapan bayi untuk anak kita." Ujar Mara.


" Apa tidak kejauhan sayang? Belinya nanti aja kalau sudah tujuh bulan, kita sudah tahu jenis krlaminnya jadi kita bisa pilih barang sesuai jenis kelamin anak kita." Ujar Arthur.


" Iya juga ya Mas. Kata ibu juga nggak boleh, kalau orang Jawa bilang pamali katanya. Yah walaupun aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku tidak akan melanggarnya." Ujar Mara.


" Memang pintar istri Mas yang satu ini." Ucap Arthur mengecup kening Mara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pulang dari rumah Arthur, Gania dan Aditya masuk ke dalam. Bi Ida segera menghampiri mereka dan memberitahu mereka jika ada tamu. Keduanya segera menemui tamu tersebut, yang tak lain adalah pak Hendro. Pengacara nyonya Nuri.


" Pak Hendro, ada apa anda kemari? Oma sudah tidak tinggal di sini. Beliau kembali ke luar negeri." Ujar Aditya duduk di sofa sebrang.


" Saya kemari untuk menunjukkan surat wasiat yang di buat oleh nyonya Nuri sebelum beliau kembali ke luar negeri Tuan." Sahut pak Hendro.


" Surat wasiat? Kenapa oma baru membuatnya? Bukankah oma sudah membuat surat wasiat itu sejak lama?" Selidik Aditya.


" Anda benar Tuan, memang nyonya Nuri telah membuat surat wasiat sejak lama. Namun beliau mengubah semua isinya." Jelas oak Hendro.

__ADS_1


" Mengubah? Mengubah bagaimana?" Tanya Aditya memastikan.


" Ini Tuan, silahkan anda baca sendiri!" Ujar pak Hendro memberikan sebuah stopmap yang berisi surat wasiat nyonya Nuri.


Aditya segera membacanya, alangkah terkejutnya ia saat membaca point point penting di dalamnya.


" Saham perusahaan sebesar tujuh puluh lima persen akan jatuh ke tangan Aditya setelah Aditya dan Gania memiliki anak." Ucap Aditya tidak percaya.


" Apa???" Pekik Gania melongo.


Gania merebut stop map yang ada di tangan Aditya, ia pun membawanya point demi point.


" Bagaimana bisa oma melakukan semua ini? Bukankah oma memberikan kebebasan kepadaku untuk berbuat sesuka hatiku kepada mas Aditya? Lalu kenapa oma menulis wasiat seperti ini? Aku harus bertanya pada oma." Ujar Gania.


Gania mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya.


" Saat ini Nyonya Nuri tidak bisa di hubungi Nona." Ucap pak Hendro.


" Kenapa?" Selidik Aditya menatap pak Hendro.


" Karena beliau sudah tiada."


Jeduaarrrr....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Aditya terasa kakum Begitupun dengan Gania, rasanya jantung mereka terasa berhenti berdetak.


" Iya Nona, karena penyakit yang di deritanya Nyonya Nuri menghembuskan nafas terakhirnya tadi malam. Beliau sudah di makamkan pagi tadi, dan beliau meminta saya untuk tidak mengabari kalian." Terang pak Hendro.


" Bagaimana mungkin oma sudah tiada? Dan bagaimana mungkin oma melakukan semua ini padaku? Kenapa aku tidak boleh tahu tentang kepergiannya? Lantas selama ini oma menganggapku apa? Hiks... Oma." Aditya terisak tidak kuasa menahan sesak di dadanya.


" Ini ada surat untuk kalian berdua dari nyonya Nuri Tuan." Ucap pak Hendro. Aditya menatap pak Hendro yang menyodorkan selembar kertas kepadanya. Ia segera mengambilnya.


" Bacalah sayang! Aku tidak sanggup membacanya." Aditya memberikan kertas itu kepada Gania.


Dengan tangan gemetar, Gania mengambil kertas itu lalu membacanya.


" Untuk Gania dan Ditya sayang." Ucap Gania.


" Oma minta maaf pada kalian berdua, saat kalian membaca surat ini oma sudah tenang di alam sana. Oma sengaja tidak memberitahu kalian berdua tentang kematian oma, karena oma tidak mau melihat kesedihan kalian berdua. Oma cukup menanggung penyakit ini selama bertahun-tahun sendirian, dan oma tidak mau kalian ikut menanggungnya. Saat ini bukan saatnya kalian untuk bersedih, tapi untuk bersenang senang. Hiduplah dengan bahagia selamanya sayang, tetaplah bersama selamanya walaupun masalah terus datang menghadang. Yakinlah! Setelah ada hujan pasti ada pelangi. Oma berharap kalian bisa hidup dengan baik setelah ini, jangan pikirkan kepergian Oma karena ini takdir Tuhan yang harus oma jalani."


" Gania, kamu pernah berjanji kepada oma untuk tidak meninggalkan Ditya. Oma menagih janji itu sayang, tetap temani Ditya dan dampingi dia sampai dia bisa menjadi suami yang baik untukmu. Rubahlah kebencianmu menjadi cinta untuk Ditya. Oma memang pernah mengijinkanmu untuk membalas rasa sakit dan membalas sikap Ditya kepadamu. Tapi sekarang oma tidak mengijinkannya lagi."


" Ditya sayang, oma sengaja mengubah surat wasiat itu supaya kalian mau bekerja sama untuk melahirkan keturunan keluarga Prayoga. Kakekmu merintis perusahaan itu dari nol sayang, jangan biarkan perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain. Untuk itu, lahirkan penerus keluarga kita."


" Oma menyayangi kalian berdua, berjanjilah kalian akan hidup bahagia selamanya dan mau mewujudkan keinginan oma untuk mempertahankan perusahaan itu. Selamat tinggal."

__ADS_1


" Hiks... " Tak tahan menahan kesedihannya, Gania menangis sambil meremas kertas goresan tinta dari sang oma.


" Sayang." Aditya menarik Gania ke dalam pelukannya.


" Oma Mas... Hiks.. Kenapa oma meninggalkan kita begitu cepat? Oma bilang oma keluar negeri untuk berobat, tapi kenapa kejadiannya malah seperti ini hiks.. " Isak Gania.


Aditya melepas pelukannya, ia menangkup wajah Gania lalu menatapnya dengan intens.


" Apa oma memberitahumu tentang penyakitnya sebelum ini?" Selidik Aditya di balas anggukkan kepala oleh Gania.


" Kenapa kamu tidak memberitahuku Gania." Bentak Aditya membuat Gania berjingkrak kaget.


" Kenapa kau diam saja dan bersikap seolah kamu tidak tahu apa apa hah?" Teriak Aditya beranjak, ia menarik kasar rambutnya sendiri.


" Hiks.. Maafkan aku Mas! Oma melarangku untuk memberitahumu." Sahut Gania.


" Seharusnya kau memberitahuku Gania, dengan begitu aku bisa mengusahakan kesembuhan oma." Ujar Aditya menatap Gania.


" Kesembuhan bagaimana? Oma mengidap kanker stadium akhir Mas. Dokter sudah menyerah akan penyakit yang di derita oma." Ujar Gania.


" Aku akan ke sana." Ucap Aditya.


" Mau kemana Mas?" Tanya Gania mengusap air matanya.


" Aku mau ke luar negeri, akan aku pastikan jika oma baik baik saja. Aku tidak percaya dengan kabar ini." Ujar Aditya.


" Aku ikut Mas." Ucap Gania.


" Kau di rumah saja, aku akan pergi sendiri." Ucap Aditya segera berlalu dari sana.


" Mas." Panggil Gania namun Aditya tidak menghiraukannya.


Aditya melakukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah. Gania menatap pak Hendro yang masih duduk di kursinya.


" Bagaimana ini Pak? Suamiku pergi begitu saja." Ujar Gania.


" Tidak apa apa Nona, Tuan Aditya pasti baik baik saja. Tinggal anda yang harus sabar menunggu kepulangannya." Ujar pak Hendro.


" Baiklah Pak." Sahut Gania.


" Kalau begitu saya permisi Nona." Ucap pak Hendro.


" Hati hati Pak, terima kasih." Ucap Gania di balas anggukkan kepala oleh pak Hendro.


Gania duduk lesu di sofa, pikirannya melayang kemana mana.

__ADS_1


" Ya Tuhan lindungi suamiku, dia pergi dalam keadaan tidak tenang. Semoga dia tidak kenapa napa." Gumam Gania.


TBC...


__ADS_2