Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 10: Awal mula terjadinya perjodohan part 1


__ADS_3

..."Hai... Hai... Hai...Para pembaca...!!...


Kalian penasaran tidak kisah dibalik persahabatan pak harun (ayah Maira) dan pak wijaya (ayah Andra).. jika ya silahkan vote, komen yang baik-baik atau kasih saran buat saya biar bagus cara penulisan nya, like juga kalo suka. Terima kasih.. he. he.


*Persahabatan Harun dan Abinawa Wijaya


Semua bermula pada saat Abi (pak Wijaya) mendapatkan beasiswa kuliah di jakarta. Dia seorang anak yatim piatu di saat dia masih sekolah kelas 5 SD.


Abi yang tinggal sendiri berjuang untuk hidup, dan kebetulan dia anak yang sangat cerdas dia selalu mendapat peringkat pertama di setiap sekolahnya, Sekolah SD, SMP, SMA, Itu semua dia dapatkan dari beasiswa. Dan pada saat dia mendapatkan beasiswa kuliah di Jakarta Abi tidak ingin menyia-nyiakan nya. Dia berangkat sendiri tanpa kenal siapa pun di Jakarta dan tanpa berpikir dia akan tinggal dimana.


Sesampainya Abi di jakarta ditempat kuliah dia bertemu dengan Harun. Harun juga dari kampung tapi dia memiliki tempat untuk tidur meski di kos-kosan tidak seperti abi yang lontang lantung.


Harun adalah orang yang sangat sederhana seperti sekarang dia orang yang sangat baik. Begitu Harun tau kalo temannya yang sekarang (abi) tidak punya tempat tinggal dia tawarkan untuk tinggal bersama tanpa harus memikirkan biaya.


Disitulah hubungan mereka menjadi sangat erat. meski perpisahan harus terjadi.


Setelah keduanya lulus kuliah, Harun dan abi memutuskan untuk tetap di jakarta mencari pekerjaan bersama .


Mereka selalu melamar ke perusahaan yang sama akan tetapi Harun menerima kabar buruk dari kampung bahwa bapaknya meninggal dunia. Disisi lain Abi menerima panggilan interview.


Abi yang menghampiri Harun yang sedang duduk termenung dan Abi belum tau keadaan harun. mereka berdua sebenarnya sudah siap-siap untuk melamar kerja kembali setelah beberapa kali melamar belum dapat panggilan.


"Hey run ada kabar baik.. aku diterima kerja, Hari ini interview. " Sambil menepuk pundak Harun yang sedang duduk.


Harun yang tidak merespon membuat Abi melihat wajah Harun yang memang sedang sedih.


"Kamu kenapa run?" sambil duduk di samping harun.


"Ayah ku meninggal Bi, aku harus segera pulang." Jawab Harun dengan sedih.

__ADS_1


"Inalilahi wa inalillahi rojiun, aku turut berduka cita run. Kalo gitu ayo kita siap-siap run untuk pulang ke kampung mu." Abi sambil berdiri akan ber siap-siap.


"Tidak bi aku saja sendiri. Kamu kan ada panggilan interview". sambil menahan abi yang hendak masuk kedalam.


" Hei kita itu sahabat. Biarlah panggilan interview kita masih bisa cari lagi sama-sama. " memegang tangan Harun.


"Bi ini adalah interview di perusahaan besar, kamu tidak boleh menyia-nyiakan nya. Kamu harus merubah hidupmu ."


"Tapi ayah mu.!! aku juga ingin lihat beliau. Aku gak bisa biarkanmu pulang sendiri. " sambil duduk kembali


"Bi jangan cemaskan aku. Terima saja panggilan interview itu demi persahabatan kita. Kamu bisa jadi orang sukses karena kamu sangat cerdas. Dan ingat ketika kamu sukses terus hubungi aku. " Harun yang berusaha menyemangati Abi


"Tapi.. " Abi yang merasa tidak enak kepada Harun


"Sudahlah kita akan selalu jadi teman ok. Kamu harus semangat. dan lagi pula aku gak bakal kesini lagi aku mau membantu ibuku untuk mengurus kebun di sana. " Ucap Harun sambil tersenyum. Harun pun masuk kedalam untuk berkemas.


Abi dan Harun sama-sama akan memilih jalannya masing-masing yang menentukan hidupnya pada masa sekarang ini. Abi yang akan berangkat untuk interview menunggu Harun keluar untuk menanyakan apakah keputusan Harun benar meminta abi untuk tidak ikut dengan nya dan jika benar dia ingin mengucapkan perpisahan.


"Iya Bi, aku serius dan aku yakin dengan keputusan ini. Dengar. berjanjilah padaku kamu akan jadi orang yang besar. dan jangan lupakan aku. " sambil menepuk pundak Abi.


Abi pun hanya bisa memeluk dan meminta maaf pada Harun. Keduanya pun berpisah. Harun yang pulang ke kampung halaman dan mulai mengurusi kebun dari mendiang ayah nya hingga ia menikah. Dan Abi (pak Wijaya) yang pergi interview dan bekerja sampai jabatannya terus meningkat karena kecerdasan nya. Dan dia mulai memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri hingga pak Wijaya menjadi orang sukses seperti sekarang ini.


...kembali ke rumah sakit.......


Dokter pun segera mengambil tindakan untuk operasi begitu surat ditandatangani oleh pak Wijaya. Maira dan ibu pun menangis antara bahagia tapi juga sedih karena pak Harun harus dioperasi.


Detik-detik pak Harun dioperasi pun menjadi kan semua orang di sana deg-degan karena takut operasi nya gagal.


Maira dan ibu Fatimah terus berdoa akan kesembuhan dan keselamatan pak Harun. Momen ini menjadi sangat menegangkan bagi mereka bertiga.

__ADS_1


Maira yang duduk dan terus memeluk ibunya, melihat pak Wijaya begitu khawatir. "Begitu besar persahabatan ayah dan pak Wijaya ini" itu yang diucapkan dalam hatinya.


Setelah beberapa jam kemudian dokter pun keluar ruang operasi. Dokter menatap tajam pada ketiga nya membuat semua semakin tegang "Selamat operasinya berhasil. sebentar lagi pak Harun akan dipindahkan . " Dokter yang sembari tersenyum dan pergi ke ruangan kembali.


Maira ibu Fatimah dan pak Wijaya merasa senang dan tersenyum bahagia. tak lepas dari itu Maira menghampiri pak Harun untuk mengucapkan Terima kasih. "Terimakasih pak. bapak sudah menjadi perantara untuk kesembuhan ayah." Maira sambil membungkuk kan tubuhnya.


"Hei hentikan tidak boleh seperti ini, ini semua sudah kehendak Allah berterimakasih lah padanya." sambil menyuruh Maira untuk berdiri tegak lagi.


"Iya pak kami sangat berterima kasih. kalo tidak ada bapak mungkin sampai sekarang saya masih kebingungan mencari biaya untuk operasi ini. " Ibu yang datang menghampiri pak Wijaya.


"Dengar sudah saya bilang ini kehendak Allah, dan lagi pula Harun itu teman dekat saya. Saya tidak akan biarkan dia kenapa-kenapa." Berhenti sejenak " Oh ya kamu siapa?" sambil menunjuk Maira .


"Ini putri kami, namanya Maira. " jawab ibu dengan senyuman.


"Oh ya saya ingat, Harun memiliki seorang putri. Baru pertama kali saya bisa melihat putrinya. " Pak Harun yang senyum melihat Maira tertunduk.


"Ya sudah mari kita ke sana , Harun akan segera pindah ruangan". Tangannya mempersilahkan kedua wanita itu untuk jalan menuju ruangan pak Harun.


Pak Harun yang sudah pindah ruangan dia masih belum sadarkan diri. luka bekas operasi juga masih belum kering. Maira dan ibu setia menemaninya. Sedangkan pak Wijaya meminta izin untuk pulang dan dia akan kembali ke rumah sakit sampai Harun siuman.


Setelah menunggu beberapa hari pak Harun pun akhirnya sadar. Dia membuka matanya perlahan , penglihatannya belum begitu jelas dan saat itu Maira dan ibu Fatimah sudah dihadapannya menunggu ayahnya membukakan mata.


"Ayah... Ayah sudah sadar. " Maira yang menangis bahagia meneteskan air mata dan membasahi cadar nya.


"Ayah dimana...?" Tanya ayah yang kebingungan melihat ke sekitar ruangan.


"Ayah ada di rumah sakit, ibu senang ayah sudah sadar. " ibu pun memeluk suaminya sembari menangis.


"Hey kenapa kalian menangis. Ayah tidak apa-apa. Sudah, ayah tidak mau melihat bidadari-bidadari ayah menangis." Sambil mengusap kepala keduanya. "Tersenyumlah."

__ADS_1


Ibu dan Maira pun tersenyum kembali.. Mereka bahagia dan bercanda bersama pak Harun.


__ADS_2