Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 53 : Maira yang bahagia


__ADS_3

Selesai sarapan Maira ke atas masuk kamar untuk mengambil kembali sarapan yang biasa dia sediakan. Maira membuka pintu pelan, dia berjalan ke arah meja tempat dia menyimpan sarapan Andra, Maira tersenyum bahagia setelah melihatnya.


Nasi yang selama ini Maira sediakan untuk suaminya akhirnya dimakan juga, dan lebih bahagia lagi tak ada sisa di piring.


Maira mengambil piring dan hendak memutar tubuhnya untuk pergi menyimpan piring tersebut, namun Maira teringat sesuatu dan membuatnya terdiam sejenak. mata Maira mengarah ke kasur tempat Maira meletakan pakaian Andra untuk dikenakan.


ternyata pakaian itupun sudah tidak ada, Maira mengingat kembali ternyata pas tadi Maira membawakan sarapan suaminya mengenakan baju tersebut. Maira tersenyum bahagia kembali dengan mengucap syukur "alhamdulillah, semoga mas Andra benar-benar sudah mau menerimaku. " setelahnya Maira kembali ke dapur.


"Non itu piring bekas den Andra? " Tatapan bi narsih melihat piring yang dibawa Maira dengan rasa tidak percaya.


"Iya bi, alhamdulillah sekarang mas Andra memakan nya" Ucap Maira masih dengan senyuman.


"Non serius. alhamdulillah, ternyata perjuangan Non selama ini tidak sia-sia. berkat kesabaran Non den Andra lama kelamaan semakin luluh. bibi salut sama Non" ucapnya yang ikut bahagia.


"iya bi alhamdulillah"


"Non tau tidak Non benar-benar hebat" ucap bi narsih mengangkat kedua jempolnya untuk Maira.


Maira mengerutkan alisnya tidak mengerti " Hebat...! maksud bibi"


"iya Non hebat, karena selama ini bibi kalo ngasih makan sama den Andra pasti ada sisa gak habis, baru kali ini bibi lihat piring bekas den Andra sebersih itu"


"Bibi serius.. "


"iya Non serius, bahkan almarhum nyonya juga suka pusing sama den Andra yang suka sisain makanan di piring, den Andra itu harus dimarahin nyonya dulu baru dihabisin."


"Oh begitu ya bi, padahal kan sisain makanan itu gak baik"


"Iya Non, tapi Non udah paling hebat loh, buktinya aja tuh makanya sampai habis gitu.. "

__ADS_1


"ah bibi bisa aja mungkin kebetulan" Maira tersenyum tersipu malu.


"Sebenarnya bukan itu aja bi, mas Andra juga mulai mengenakan pakaian yang Maira sediakan, Maira sangat senang" Ucap Maira dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


...... .....


"Mas sudah pulang.!! biar aku siapkan air hangat ya... " Ucap Maira menghampiri Andra dan mencium tangan nya. kini Maira tidak ragu lagi mendekati Andra, bertindak sebagai seorang istri.


Andra yang sedikit agak heran dengan sikap Maira "Kenapa dia seperti itu, rasanya aneh bagiku. Mungkin karena Dulu aku tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan nya. " Andra tersenyum melihat Maira yang pergi ke kamar mandi setelah.


Andra yang baru pulang duduk membuka sepatunya, dan menyimpan jas di kursi. Maira menghampirinya dan membawakan Andra sebuah handuk. "Ini mas handuknya. sini biar aku simpan" mengambil sepatu dan jas. Sebelum pergi Maira berkata kembali " Kalo butuh sesuatu panggil saja ak.. " bicaranya terpotong.


"Ssst....." Andra yang langsung berdiri tepat di hadapan maira "Jangan bicara lagi" Telunjuk tangan Andra berada tepat di bibir Maira.


Andra memandang takjub mata indah Maira itu "mengapa dia sangat cantik, padahal hanya matanya saja yang terlihat" gumam hatinya


Maira menunduk kan wajahnya tersipu malu, dengan senyuman manis yang tersembunyi dibalik cadar.


Andra tersenyum melipat jari telunjuknya kembali. Dan bergegas ke kamar mandi.


Mungkin keduanya sudah saling mencintai, namun mereka belum menyadari, Dan hanya bisa bersembunyi padahal sudah jelas saling mengagumi. statusnya juga sudah suami istri. (aduh author ini apa ya😁gak jelas banget).


Setelah selesai mandi Andra yang sepertinya cukup lelah langsung duduk menyandar di kasur. Maira yang datang membawakan teh hangat untuk suaminya.


"Ini mas teh hangat, biar tubuh mas lebih segar" menyodorkan gelas berisikan teh hangat.


"Terima kasih" Andra mengambil teh tersebut.


Maira masih berdiri di sana "Ternyata mas Andra benar-benar sudah menerimaku." gumam dalam hati Maira.

__ADS_1


"Mengapa kamu masih disitu.? "


"Aku menunggu mas meminum nya"


"Kenapa? "


Maira tersenyum bicara dengan lembut "cangkirnya akan ku simpan kembali"


"Oh" Andra tersenyum kembali sembari menatap Maira membuat pipi Maira merah merona.


Cangkir itu Maira simpan dimeja, Setelah menyimpan nya Maira bingung, dia harus pergi kemana ke sofa atau ke kasur, karena dulu Maira sering tidur di sofa jika Andra tidur di kasur, tapi kemarin Maira tidur bersama. Maira takut jika dia ke kasur dia akan kegeeran karena kemarin, bisa saja Andra akan menyuruhnya tidur di sofa.


ah pikiran Maira kacau saat itu. mungkin bicara pelan sendiri. Andra melihat nya dari kejauhan "Ada apa?. Tidur saja disini, kita sudah menjadi suami istri kan" Ucap Andra sebelum akhirnya dia membaringkan tubuhnya di kasur dengan selimut.


Deg Ucapan Andra itu seakan akan tau isi pikiran Maira. Maira yang sedikit malu dan grogi berjalan pelan menuju kasur dan tidur di bersama suaminya untuk kedua kalinya.


Oh ya sebelum itu Maira membuka cadarnya terlebih dulu.


Andra tidur berbaring, sedangkan Maira tidur menyamping membelakangi Andra.


Sebenarnya tidak boleh tidur seperti itu, tapi karena Maira grogi untuk menyamping melihat suaminya dengan terpaksa Maira tidur dengan posisi membelakangi seperti itu.


Maira tidak bisa tidur, "Gak bisa gak boleh seperti ini" Ucap hati Maira. Maira pun memutar posisi tidurnya dengan menyamping ke arah suaminya agar tidur Maira tidak membelakangi suaminya itu.


Tatapan Maira benar-benar tertuju pada wajah suaminya yang sudah tertidur itu. "Ya Allah mas tertidur saja masih terlihat tampan. Sepertinya gak mungkin kalo kamu gak banyak disukai orang(wanita). Aku sangat beruntung dan bersyukur kamu menjadi milik ku, karena aku tau kamu itu pria yang baik" Maira tak henti menatap suaminya sampai dia tertidur.


Andra yang sama sama tidak bisa tidur mengingat ingat kejadian kemarin malam bersama istrinya, apa lagi saat ini mereka masih tidur di ranjang yang sama.


Andra bangun membukakan matanya melihat ke samping ternyata Maira tidur mengarah padanya. Andra pun memutar tubuhnya seperti Maira, posisi tidur mereka saling berhadapan. Andra menatap dalam-dalam wajah yang jarang terlihat karena sering ditutupi. "Perasaan apa ini kenapa aku tidak bisa berhenti menatap wajahmu"

__ADS_1


__ADS_2