
Siang ini mamah bella duduk di teras depan memandangi bunga-bunga yang dia tanam sendiri, Suasananya sangat sejuk dan tenang, Maira datang ke teras dan menemani mamah bella duduk disampingnya.
Mamah bella melihat Maira disampingnya lalu dia menceritakan Andra pada Maira yang mamah bella ketahui, Selain itu mamah bella juga menceritakan mengapa andra bisa berubah. Maira mendengarkan hingga Maira tau apa yang telah terjadi yang membuat suaminya bersikap dingin.
"Mai kamu tau dulu itu Andra adalah anak yang periang, suka bercanda cerdas baik hati sopan santun dan juga tampan sejak kecil. Mamah ini teman nya ibu kandung Andra, kita sudah berteman lama sejak kecil,itu yang membuat mamah sering main ke rumah ini dan sering melihat Andra."
"Begitu dekat ya mamah sama mamah Vera,"
"Ya begitulah Mai, bahkan sampai saat ini mamah tidak pernah bisa lupakan vera,"
Maira menatap mamah bella yang bicara tanpa melihat kearah nya, Maira mendengarkan apa yang dibicarakan mamah bella,Maira melihat wajah mamah bella betapa tulusnya persahabatan yang dia jalin itu sampai mamah bella belum bisa melupakan sahabatnya.
Selain itu hati Maira juga bertanya tanya mengapa mamah bisa menikah dengan ayah Wijaya dan mengapa mas Andra bisa bersikap dingin seperti sekarang, apa yang sebenarnya terjadi. tidak mungkin jika mamah bella merebut ayah Wijaya dari mamah Vera yang membuat mamah Vera meninggal dan menjadi penyesalan untuknya.
Agar Maira tidak berburuk sangka Maira bertanya pada mamah bella atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu apa yang terjadi dengan mas Andra mah, Kenapa sikapnya seperti itu? "
Mamah bella pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
...**Saat itu Andra keluar ruangan dia menyuruh ayah dan mamah bella masuk keruangan ibu Andra (Vera) yang berbaring di rumah sakit. Dia sudah sangat lama mengidap penyakit jantung dan hari itu adalah hari dimana keadaan nya sudah sangat kritis....
"Ayah tante, ibu mau bicara, Andra tunggu diluar ya sama bibi" Andra menunggu diluar ruangan bersama bi narsih
Sementara mamah bella dan pak Wijaya masuk keruangan.
"Ada apa sayang apa kamu tidak apa apa? " Tanya pak Wijaya pada Vera sambil mengelus keningnya
"iya ver apa ada yang sakit" tanya bella di samping wijaya
"Tidak apa apa mas bell, Sebenarnya aku cuma ingin mengatakan sesuatu. "
__ADS_1
"katakan apa? "
"Tapi kalian harus janji dulu ya, Kalian akan melakukan apa yang akan ku katakan ini"
"Ya kami janji" Mereka mengucapkan janji tanpa tau apa yang akan dikatakan Vera
Vera yang berbaring meminta tangan pak Wijaya dan bella, kedua tangan itu perlahan disatukan untuk saling berpegangan. bella dan Wijaya kaget dan heran hendak melepaskan pegangan nya masing masing, tapi Vera menghentikan nya sambil memohon. "Aku mohon mas bella"
Mereka hanya bisa diam dan menurutinya karena kondisi vera, meski mereka belum paham apa yang akan Vera lakukan.
"Sepertinya aku tidak bisa bertahan lagi" Ucap pelan Vera
"Tidak, apa yang kamu katakan sayang" ucap pak Wijaya
"iya ver, kamu tidak boleh bicara seperti itu, kamu masih bisa aku yakin. Apa kamu tidak kasian dengan Andra.! " ucap bella dengan berlinang air mata menahan tangisnya ketika mendengar kata itu
"Ya Andra, Aku ingin kamu menggantikan ku bella sebagai ibu Andra, aku ingin kamu menikah dengan mas Wijaya" ucapnya dengan penuh harapan
"Apa yang kamu bicarakan. itu tidak mungkin," Ucap marah pak Wijaya
"Mas aku sudah tidak sanggup menahan sakit ini, Aku selalu mencoba bertahan demi kamu dan Andra, tapi hari ini aku merasa sudah sangat lelah.jika Allah berkehendak lain aku hanya bisa pasrah mas." Vera menangis dan memegang tangan Wijaya
Pak Wijaya yang mendengar perkataan istrinya itu seketika meneteskan air mata, pak Wijaya mencium kening pipi istrinya yang terbaring itu. "Kumohon sayang terus lah bertahan"
"Menikahlah dengan bella mas. " ucap Vera dengan menatap suaminya
"Tidak, itu tidak akan terjadi Vera, aku tidak mau menikah dengan mas wijaya. aku yakin kamu bisa pulih kembali." Ucap bella tidak ingin kehilangan sahabatnya itu
"Bella bisakah kamu mendekat" Bella mendekat bergantian posisi dengan pak Wijaya
"Ku mohon demi persahabatan kita, Aku selalu memberi hadiah atas semua prestasinya andra atau aku kabulkan permintaan nya jika aku tiada siapa yang akan memenuhi semua itu, aku cuma bisa percaya padamu bell. Ku titip kan andra padamu . " Ucap lirih Vera
__ADS_1
"tapi.. " Bella yang menangis ingin selalu berusaha meyakinkan sahabatnya untuk selalu bertahan tapi dia tidak bisa berbicara apa apa lagi saat itu, pikiran nya nge blank ketika membayangkan Vera pergi dan meninggalkan Andra.
"Kumohon bella, mas" menatap bella lalu menatap suaminya
Ketika keduanya tidak menjawab apa pun Vera berkata kembali "Kalian sudah berjanji, menikahlah tepat tiga hari setelah pernikahan ku. Demi Andra" Ucapnya yang semakin pelan dan mulai memejamkan mata
Ketika bella dan Wijaya melihatnya mereka langsung mengucapkan janji itu dan menangis tersedu sedu melihat kenyataan bahwa Vera telah tiada.
Wijaya yang terus memeluk istrinya seakan akan tidak percaya pikiran nya kacau dia berlari keluar kamar dan berteriak memanggil dokter.
Tapi kenyataan tetaplah kenyataan kita tidak bisa lari dari kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan kita.
"Maaf pa istri bapak tidak bisa diselamatkan.Kami turut berduka cita. semoga bapak dan keluarga diberikan kesabaran " Dokter pun keluar ruangan.
Andra yang baru pulang dari kantin bersama bi narsih melihat dokter keluar dari ruangan ibunya dia berlari dengan cepat dan melihat ibunya yang sudah di tutupi dengan kain.
"Apa yang kalian lakukan ..! kenapa ibu..! Ayah apakan ibu " mendorong ayah nya dan memeluk jasad ibunya "Ibu ku mohon jangan tinggalkan Andra ibu sudah janji pada Andra bukan bangunlah bu bangun" Andra menangis sejadi jadinya
Pak Wijaya yang sama-sama sedih berusaha menahan tangisnya demi Andra. Dia berusaha menguatkan Andra namun Andra telah marah padanya tanpa mau mendengarkan apapun dari ayah nya.
Andra adalah anak yang sangat dekat dengan ibunya, sedangkan pak Wijaya terlalu sibuk dengan pekerjaan nya dan tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga nya .
Tepat 3 hari setelah kepergian ibunya pak Wijaya dan mamah bella menikah memenuhi janji dan keinginan almarhumah Vera ibu Andra.
Andra semakin kecewa dengan kenyataan itu, dia berburuk sangka marah benci semua ada dalam dirinya hingga dia tidak ingin mendengarkan kata apa pun dari bella ibu tiri dan Wijaya ayahnya. Andra sangat percaya dan dekat dengan bella bahkan dulu bella seperti sosok ibu kedua baginya namun melihat kenyataan bella menikahi ayahnya membuat Andra berpikir jika mereka lah pelaku atas kematian ibunya, "Mungkin ibu kembali terkena serangan jantung mendengar kedekatan mereka hingga membuat ibu meninggal" Ucap dalam hati Andra sambil mengepalkan jari tangan nya.
Semakin sering pak Wijaya berusaha menjelaskan semakin membangkang Andra padanya. Hingga Andra menjadi orang dingin yang tidak ingin dekat dengan siapa pun. Dan datanglah sosok andini. (part pertemuan andini dan Andra nanti ya) *Walau begitu Andra tetap menjadi anak yang berprestasi*
Maira mendengarkan cerita itu dengan tidak sadar meneteskan air matanya, Dia sedih dengan kepergian ibu Vera juga sedih melihat mamah bella yang juga menangis mengingat almarhumah.
Maira menghampiri mamah bella dan memeluknya "Maafin Maira ya mah, Maira sudah membuat mamah menangis" Maira melepas pelukan nya dan menghapus air mata mamah bella dan berkata kembali "Maira mohon jangan salah kan diri mamah terus atas berubahnya mas Andra, Maira tau mamah sudah berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk mas Andra. Maira minta maaf atas nama mas Andra. "
__ADS_1