Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 50 : Antara Dua pilihan


__ADS_3

ah please dong dukungan nya, Untuk dukung cerita Almaira-Cinta Dalam Perjodohan di #YOU ARE A WRITER SEASON 7... tambahin hadiahnya, like komen juga.


oh yah, panggilan Andra pada pak wijaya kita ganti dengan PAPAH ya, soalnya author sendiri suka bingung kalo pak Harun dan pak wijaya dua-duanya dipanggil ayah.


"Pah sudah pulang, Papah kenapa? " Menghampiri dan mengambilkan tas suaminya.


Pak wijaya datang ke kamar dengan keadaan menangis / meneteskan air mata.


"Ayo duduk pah, sebenarnya apa yang terjadi?" mamah bella memegang tangan pak wijaya mempersilahkan nya duduk.


"Andra memanggilku dengan sebutan papah, Aku sangat senang mah, setelah sekian lama aku tidak mendengarnya. " Bicaranya dengan bahagia namun menangis terharu.


"Alhamdulillah, papah serius. mamah ikut senang" mamah bella bersandar di bahu suaminya, namun tiba-tiba wajah mamah bella bersedih, "Pah apa suatu saat Andra mau memanggilku mamah.. " celetus mamah bella.


Pak wijaya memutar tubuhnya dan memegang pipi istrinya "Mah tentu saja, Kamu tau ini awal yang baik, jika Andra mau memaafkan ku dengan memanggilku papah kenapa tidak dengan mu, Suatu saat pasti Andra tau perjuangan mu dan memanggilmu mamah." Pak wijaya merangkul istrinya dan memeluknya.


"Semoga saja"


"Insya Allah mah, Kehadiran Maira membuat Andra sedikit demi sedikit berubah. Berdoa saja"


"iya pah"


...


Paginya Maira terbangun, ketika itu Maira melihat suaminya yang sedang shalat dan itu pertama kalinya Maira melihatnya, Maira tersenyum melihat suaminya yang penuh pesona itu. Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan indah.


Set Maira menengok ke arah lain setelah Andra tiba-tiba melihat kearahnya, Maira takut curi pandangnya diketahui Andra yang akan membuatnya merasa malu.


Andra merapikan kembali sajadah yang telah dia kenakan, "Hari ini aku akan masuk kerja. Aku sudah terlalu lama cuti" Ucapnya sambil memakai kemeja membelakangi Maira.


"eu iya mas"


"Jika kamu butuh sesuatu panggil saja bi narsih. aku berangkat"


Andra pergi meninggalkan Maira sendiri di kamar, tak lupa Andra memanggil bi narsih terlebih dulu menitipkan Maira padanya. Saat itu bi narsih sedang menyiapkan sarapan.


Di Sana ada mamah bella yang terus menatap Andra dari kejauhan dengan penuh harapan.

__ADS_1


.....


Andra pulang dari kantor, begitu membuka pintu Andra dengan sigap berlari memeluk Maira yang hampir terjatuh.


"Astagfirullah al adzim" Ucap Maira Menatap Andra yang tiba-tiba ada dihadapannya, begitupun Andra menatap wajah Maira, Mereka saling tatapan untuk beberapa detik, hingga Andra membantu Maira berdiri kembali.


"Apa.! kamu mau kemana? Apa tidak bisa memanggil seseorang untuk membantumu. Bagaimana kalo terjadi sesuatu padamu lagi" Bentak Andra pada Maira


"Maaf mas aku hanya ingin ke toilet, Aku kira keadaanku sudah cukup baik, jadi aku berusaha jalan sedikit tapi lantainya licin"


"Jika kamu belum benar-benar sembuh panggil siapa saja untuk membantu. Jangan sampai seperti ini lagi . Ayo..! " Andra menyodorkan lengan nya pada Maira.


Maira menatap dengan heran.


"Ada apa..! Cepat pegang" Mengambil tangan Maira dan menaruh di lengan nya.


"Tapi mas" tolak Maira


"Tenang aku akan mengantarmu sampai pintu toilet dan menunggu sampai kamu selesai"


Pipi Maira memerah , dia bahagia dengan perhatian yang ditunjukan Andra padanya.


Setelah Maira duduk kembali, Andra menyimpan tas serta membuka jas dan dasi yang dikenakan nya, "Apa lukamu sudah diobati?" Lagi-lagi tanpa melihat kearah Maira


"Belum mas, karena bi narsih tidak ingin membantu atas perintah papah" jawab ragu Maira


"Oh yasudah dimana obatnya?" Berbalik badan dengan kemeja yang dibukakan dua kancing atasnya lalu mengambil obat dan duduk dibelakang Maira.


Maira kembali membuka cadar dan hijabnya, Kali ini Andra berusaha untuk tidak memandang karena kemarin saja bayangan Maira terus menghantuinya bahkan sampai Andra tidak bisa tidur.


Namun ternyata rasa penasaran masih ada dalam dirinya, sesekali Andra melirik ke arah Cermin hanya untuk melihat wajah Maira.


Padahal jika Andra meminta Maira memperlihatkan wajahnya dengan menghadap kearahnya mungkin Maira akan dengan senang hati memperlihatkan wajahnya itu pada suaminya.


Karena itu akan berbuahkan pahala untuk Maira.


Mungkin karena Andra merasa malu memintanya, sampai Andra lebih memilih curi-curi pandang lewat cermin dari kejauhan.

__ADS_1


.....


Seminggu berlalu, kini waktunya Maira cek up ke dokter. Maira ditemani oleh Andra .


Disaat bersamaan andini juga sedang di rumah sakit untuk menengok Kanza Sahabat nya yang sedang sakit.


"Bagaimana dok." Tanya Andra pada dokter yang sedang memeriksa luka di kepala maira.


"Alhamdulillah pak, lukanya sudah mulai kering, tunggu 1-3 kali olesan lagi sembuh"


"Oh alhamdulillah kalo begitu"


"Keadaan bu Maira ini pemulihan nya sangat cepat, bapak pandai merawatnya" ucap dokter "Oh ya karena bu Maira sudah sembuh sepertinya tidak perlu saya tuliskan resep obat. Cukup menunggu lukanya hilang saja"


"Baik dok terimakasih. Kalo begitu kami permisi"


.....


"Hallo kanz gue udah di rumah sakit bentar lagi gue kesitu.. " Telpon andini pada kanza.


"Iya din, cepetan ya bete gue gak ada temen, "


"Iya iya, nih sekalian gue bawa pesanan lo"


"Ahhh serius"


"Serius lah masa gue bohong"


"makasih lo emang sahabat gue"


"iya,,, udah ya gue menuju kamar lo nih"


"iya ok. ok ditunggu"


Andini memasukan ponselnya kedalam tas setelah selesai bertelepon dengan kanza.


Andini berjalan langkah demi langkah, tubuhnya yang **** membuat iri para wanita yang melihatnya.

__ADS_1


Maira yang selesai cek up keluar ruangan "Kamu tunggu disini ya, aku akan selesaikan dulu administrasinya" ucap Andra pada Maira agar menunggu di kursi tunggu depan ruangan dokter cek up-nya.


Ternyata Kamar tempat Kanza dirawat Sedikit jauh dan melewati ruangan dokter yang menangani Maira, Andini terus berjalan hingga... ....


__ADS_2