
"nyonya bibi mau minta izin untuk cuti" bi narsih yang sedang membereskan pakaian mamah bella.
"Cuti, tapikan ini belum waktunya bi narsih cuti" mamah bella yang sedang duduk di kasur memperhatikan bi narsih
"iya nyonya, saya minta izin karena ingin melihat cucu saya melahirkan. "
"oh memangnya sudah berapa bulan sekarang bi? "
"Sebentar lagi usia kandungan nya menginjak sembilan bulan nya"
"cucu kesayangan bibi itu kan.! "
"Iya nya dia ingin lahiran ditemani saya"
"Ya sudah mau berapa hari bibi cuti"
"Kalo boleh satu bulan nyonya, Soal nya saya mau menghabiskan waktu lebih lama bersama cucu dan cicit saya nanti. itu juga kalo boleh dan nyonya mengizinkan. " bi narsih tersenyum.
"Ya sudah tapi benar satu bulan ya gak lebih, bibi harus cepat kesini lagi. Kapan bibi mau berangkat? "
"Besok nyonya"
"Ya sudah nanti bibi hati hati dijalan ya, salami juga dari saya ke cucunya" mamah bela tersenyum pada bi narsih.
"iya nyonya terimakasih. Oh ya ini sudah selesai nyonya, nyonya mau suruh saya kerjakan apa lagi"
"udah aja bi Terima kasih ya"
Bi narsih keluar dari kamar mamah bella. Saat keluar bi narsih melihat Non Maira yang sedang membuat teh hangat.
"Non mau bibi buatkan"
"Tidak usah bi, Maira bisa sendiri" Sambil mengaduk aduk teh yang di masukan sedikit gula
"Oh Non bibi mau ngobrol sebentar"
"Ngobrol apa bi, duduk di sana yu biar enak, " menunjuk kearah kursi dapur
__ADS_1
mereka duduk berhadapan
"Bibi mau bicara apa? " Tanya Mira dengan lembut
"Gini Non besok bibi izin cuti untuk pulang kampung.! "
"Ya Maira gak ada temen dong"
"Iya Non itu yang bibi pikirkan, bibi khawatir sama keadaan Non jika bibi pulang siapa yang mau temenin Non disini. " menundukkan kepala dengan sedih
"Bi Maira bercanda kok, Kalo mau pulang pulang saja jangan khawatirkan Maira, Maira disini akan selalu baik baik saja dan tentunya bahagia dengan keadaan apapun jadi bibi gak usah pikirkan Maira" Menyentuh kedua tangan bi narsih Dengan senyuman yang begitu tulus
"Bener Non maafkan bibi ya bibi harus pulang" menatap Maira
"iya bi ko bibi minta maaf, senyum dong jangan ada ekspresi sedih gitu seharusnya bibi senang kan mau bertemu keluarga."
"Sebenarnya bibi pulang karena ingin menemani cucu bibi yang mau melahirkan bibi sudah janji padanya untuk pulang, bibi juga sangat rindu anak anak bibi di kampung. Tapi bibi ko rasanya gak mau tinggalin Non" menundukkan kepala dengan raut wajah yang sedih.
Bi narsih cemas pada Maira jika dia pergi siapa yang akan menemani Maira dan mengajak Maira bicara di rumah ini. Karena satu satunya orang yang bisa menemani Maira hanyalah dirinya selain pak Wijaya yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya.
"Bibi ya ampun, segitunya bibi sayang sama aku sampai-sampai tidak mau tinggalin maira" Maira tersenyum dan berkata kembali "Bukan nya bibi akan mendapatkan cicit untuk pertama kalinya, Kalo bertemu dengan maira kan bisa lama bibi selalu berada di rumah ini tapi kalo ketemu keluarga bibi kan jarang. Memangnya bibi tidak mau menghabiskan waktu dengan mereka."
"iya non bibi rindu dan ingin sekali menghabiskan waktu dengan mereka tapi bagaimana dengan non"
"ah bibi sini maira peluk" Maira memeluk bi narsih layaknya seperti pada orang tuanya sendiri "bibi jangan terlalu memikirkan Maira, bibi tau Maira itu orangnya ceria walaupun Maira terkadang selalu merasa sendiri di rumah ini, tapi Maira selalu ingat ada Allah yang selalu menemani dan membuat Maira tidak merasa kesepian lagi, Maira bisa curhat apa saja sebanyak Maira mau, dan apa pun bisa Maira ceritakan padanya yang membuat hati Maira selalu lega di setiap beban yang ada dalam hati Maira. Jadi bibi jangan selalu pikirkan Maira ok. Pikirkan lah kebahagiaan bibi juga"
pelukan bi narsih semakin erat dikala mendengar Maira berbicara seperti itu seakan akan bi narsih tidak ingin kehilangan Maira, Mereka sangatlah dekat walaupun status Maira sebagai majikan dan bi narsih sebagai pembantu. Maira tidak membeda-bedakan bi narsih Maira menghormati dan menghargai bi narsih seperti umumnya orang yang lebih tua darinya.
Mereka melepas pelukan perlahan, mata bi narsih yang berlinang menahan tangisan sambil menatap wajah Maira "bibi senang bisa kenal non, bibi juga senang den Andra mendapatkan jodoh yang baik, walaupun den Andra bukan anak bibi tapi dia sudah bibi rawat dari kecil dan bibi sangat sayang padanya bibi tidak mau sampai den Andra mendapatkan jodoh yang salah"
Ketika Maira mendengar perkataan terakhir bibi Maira berpikir masalah andini, nama seorang perempuan yang ada dalam ponsel Andra yang memanggil Andra dengan sayang.
Tapi seketika itu pula Maira berpikir positif kembali agar dia tidak suudzon pada suaminya.
Maira tersenyum ceria "Betapa beruntungnya mas Andra memiliki cinta dari 3 ibu yang begitu sayang padanya,"
Bi narsih pun membalas senyuman Maira "Dan sekarang bibi juga sangat sayang sama non" Memegang kedua pipi Maira dan mencium kening Maira yang tertutup cadar.
__ADS_1
"Masya Allah boleh peluk lagi" Maira kembali memeluk bi narsih.
Disela-sela Maira dan bi narsih yang berpelukan mamah bella memanggil bi narsih dengan sangat keras
"Bi.. bibi..tolong"
Suara keras seperti kesakitan itu terdengar oleh keduanya, Mereka terkejut dan melepaskan pelukan nya segera dan berlari menuju kamar mamah bella.
"Nyonya...! " Teriak bi narsih ketika membuka pintu dan kaget melihat mamah bella yang sudah terjatuh dilantai
"Nyonya tidak apa apa? sini saya bantu" membopong mamah bella bersama maira, Tapi mamah bella menolak bantuan Maira dan hanya meminta bantuan pada bibi.
Maira yang ingin membantu pun hanya diam, lalu Maira bergegas keluar mengambilkan air hangat dan juga minyak urut
"Sebenarnya apa yang terjadi nya? ko bisa sampai jatuh" Menurunkan mamah bella untuk duduk di kasur dan mengangkat kan kedua kakinya.
"Saya sedang mencari cincin yang jatuh bi dan tak sengaja saya menginjaknya membuat saya terpeleset"
"Ya Allah nyonya harus hati hati, apa ada yang sakit? "
Maira datang kembali ke kamar membawa air hangat.
"Ini silahkan mah di minum dulu" Menyerahkan gelas yang dia pegang. tapi sayangnya mamah bella mengabaikan niat baik Maira.
Bibi mengambil gelas dari tangan Maira "ini nyonya minum dulu" Maira hanya memperhatikan
"gak usah bi, saya sepertinya keseleo butuh minyak pijat " gelas yang dipegang bi narsih disimpan kan di meja.
"ini mah Maira sudah bawakan " jawab Maira dengan cepat memberikan botol minyak pada mamah bella
Bi narsih mengambil obat tersebut lalu memijat kan nya pada mamah bella, Kaki mamah bella memar dan dia merengek kesakitan ketika bi narsih memijat kakinya dengan pelan.
Setelah selesai bi narsih dan Maira keluar agar mamah bella bisa istirahat, bibi yang keluar kamar melamun dia besok akan pulang tapi keadaan nyonya seperti ini apa dia bisa pergi.
Maira yang melihat bi narsih pun langsung bertanya pada bi narsih.
"Bibi kenapa? " tanya Maira dengan lembut
__ADS_1
"ah tidak apa apa non"
Maira tidak bisa bertanya lagi, dia tau bibi pasti memikirkan masalahnya yang akan pulang kampung.