Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 38 : Pertengkaran


__ADS_3

Tak terasa sudah setengah tahun pernikahan Andra dan Maira berjalan, Andra yang selalu bersikap sangat dingin sangat berharap agar Maira meminta cerai darinya. Namun Maira yang belum pernah mendapatkan perlakuan baik dari suaminya masih tetap bersabar hingga saat ini, dia ingin tetap mempertahankan rumah tangga nya, Selalu Beristikhomah dalam setiap perjalanan rumah tangga nya.


Maira juga sangat berharap dan selalu berdoa agar Andra dapat menerimanya dan mencintainya sebagai istri seperti mamah bella yang menerimanya sebagai menantu.


Hari ini Andra yang sedang berada di kantor mendapat pesan dari Andini.


(Sayang bisa kita bertemu.)


(ya tentu)


(ditempat biasa)


(ya)


Andra merasa heran biasanya Andini selalu bermanja-manja padanya walau itu lewat pesan, tapi kali ini pesan nya sama sama singkat. Tapi Andra tidak menghiraukan itu semua dia langsung kembali bekerja.


Andra yang hendak pulang akhirnya menemui Andini di sebuah bar tempat dia dan Andini mabuk-mabukan.


Andra melihat Andini sudah menunggu nya di kursi berhadapan dengan meja panjang tempat memesan minuman. Andra datang menghampirinya dan ikut duduk disampingnya.


Wajah Andini terlihat sangat kesal bibirnya cemberut. Andini sepertinya marah tapi Andra tidak tau apa yang membuat Andini marah karena selama ini walau Andra sibuk di kantor dia masih tetap menyempatkan diri menemui Andini dan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan nya.


"Kenapa? apa aku membuat kesalahan" Tanya Andra pada Andini tanpa menyentuh nya.


Biasanya seorang kekasih pria yang romantis akan menyentuh pipi kekasihnya yang sedang marah lalu bertanya, tapi Andra tidak begitu dia sangatlah beku padahal dia sangat mencintai Andini.


"Kamu masih bertanya apa kamu berbuat salah. Coba pikir apa salah mu. " Menatap Andra berharap agar dia mengerti kesalahan nya.


"Apa? " tanya kembali Andra membuat Andini kesal


Andini yang memandang Andra langsung memalingkan tubuhnya menghadap ke meja. "Kapan kamu menceraikan dia.! " ucap culas Andini


Andra langsung tersadar ternyata itu yang membuat Andini marah.


"Aku kan sudah bilang untuk bersabar aku sedang berusaha"


Andini berdiri dan berbicara keras pada Andra "Sudah cukup aku bosan mendengarnya, apa aku tidak cukup sabar. Ini sudah enam bulan kamu menjalani pernikahan dengan nya kamu masih bisa bilang untuk sabar. Jika kamu benar-benar sayang padaku cepat ceraikan dia. Jangan temui aku sampai kamu berpisah dengan nya"

__ADS_1


Setelah Andini memarahi Andra Andini pergi meninggalkan Andra, Andra hendak menghentikan nya dengan memegang tangan nya namun Andini menepisnya dan pergi.


Andra merasa bingung harus melakukan apa, Andra berpikir bagaimana caranya agar Andini tidak marah dan bagaimana cara nya agar Maira mau memutuskan pernikahan ini segera karena Andra merasa tidak pernah memperlakukan Maira dengan baik tapi mengapa Maira masih mau bertahan.


Andra yang merasa kesal pada keadaan nya saat ini terus minum hingga larut malam dan pulang dalam keadaan sangat mabuk dipenuhi kemarahan.


Andra yang pulang di sambut Maira.


Andra membuka pintu dan menutupnya dengan keras.


"Door" bunyi pintu yang dibanting


Andra berjalan dengan sempoyongan, Maira yang melihat Andra merasa takut karena belum pernah melihat mas Andra semarah itu, tapi Maira memberanikan diri untuk membantu Andra yang mabuk dan menggandeng nya.


"Lepas aku tidak butuh bantuan mu." Berteriak Menepis Maira hingga terdorong


"Astagfirullah mas. Aku hanya ingin membantu" ucap Maira yang terdorong dan kembali menghampiri Andra


"Sudah ku bilang aku tidak butuh bantuan mu" Kembali menepis dan Semakin membentak nada bicara Andra


Maira yang berada tepat dibelakang Andra memberanikan diri bicara masalah kebiasaan Andra yang suka mabuk.


Andra yang mendengar perkataan Maira berhenti dan memutar tubuhnya melihat kearah Maira.


Matanya menatap tajam Maira Andra melangkahkan kakinya membuat Maira merasa takut jantungnya berdebar kencang.


"Kenapa"Teriak Andra " Prenkkk.. "Suara benda di atas meja rias yang berjatuhan ditepis tangan Andra membuat Maira semakin takut " Kenapa kamu bilang, Ini semua karena aku tidak suka orang-orang yang ada di sekitarku." Menggenggam kedua pipi Maira hingga Maira tidak bisa bicara "Termasuk kamu" lalu melepaskan nya dan berbalik badan.


"Perlu kamu ketahui aku memiliki kekasih" Teg hati Maira seakan akan berhenti berdebar mendengar kenyataan bahwa kecurigaan nya itu benar.Maira hanya diam membeku hingga Andra meneruskan kembali kata katanya "dan aku sangat mencintai nya tapi karena keberadaan mu aku tidak tau harus membawa kemana hubungan ku dengan nya." berjalan menjauh lalu menghadap Maira kembali.


"Kalo bukan karena keterpaksaan mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi" Andra sambil mengingat ancaman ayahnya dan pernikahan nya.


"Prengkk.. " Andra memukul cermin yang sempat ia jatuhkan barang barang hingga berkali kali dan pecah berkeping-keping.


"Mas sudah cukup mas cukup" Maira yang menahan Andra sambil menangis "Kumohon cukup mas"


Maira yang hanya seorang perempuan tidak sanggup menahan pukulan keras itu, tapi hati Andra sedikit merasa tidak tega melihat Maira menangis dia menepis Maira dan berjalan menuju kasur untuk duduk menenangkan diri hingga dia membaringkan setengah tubuhnya di kasur sampai benar-benar tenang dan tertidur karena mabuk.

__ADS_1


Maira menangis melihat semuanya, Maira merasa dirinya begitu tidak berarti untuk suaminya dan begitu besar cinta suaminya pada kekasihnya itu. Tapi Maira berusaha menguatkan diri, Maira menghapus air matanya dengan cadar yang sudah membasahi seluruh wajahnya lalu hendak membereskan benda yang berjatuhan itu.


"Tok.tok.tok" Suara yang terdengar dari pintu


"Maira membuka nya perlahan"


Ternyata suara pecahan kaca dan marahnya Andra terdengar hingga ke ruangan lain yang membuat pak Wijaya dan mamah bella terbangun dan menghampiri Maira.


Betapa terkejutnya pak Wijaya dan mamah bella melihat keadaan kamar yang berantakan. Cermin yang pecah dan hancur. pas bunga kecil, parfum mahal yang sudah pecah dengan wangi yang semerbak serta lain lain berjatuhan dan berserakan dilantai.


Pak Wijaya mengepalkan tangan nya, matanya memerah urat-urat nya terlihat Sepertinya dia ingin sekali menerkam Andra yang sudah tak sadarkan diri, Namun Maira berusaha menahan nya hingga pak Wijaya luluh pada nya.


"Ayah sudah, tidak ada terjadi apa apa disini mas Andra hanya mabuk dan dia tidak melukai Maira. " Ucap Maira dengan penuh kelembutan


Mamah bella yang melihat wajah Maira pun juga ikut merelai emosi suaminya "mas sudah, tenang" Sambil memegang tangan serta mengusap usap dada suaminya.


"Tenang.bagaimana aku bisa tenang melihat perlakuan anak ku pada menantuku yang seperti itu. Kamu lihat " Menunjukkan ke arah dalam kamar.


"Iya aku tau tapi ini sudah menjadi masalah Maira dan Andra kita tidak boleh ikut campur. ayo mas" Mendorong pelan suaminya untuk pergi ke kamar kembali.


Maira hanya terdiam dia tidak mempersilahkan masuk kedua mertuanya ke kamar karena keadaan nya sangatlah berantakan.


"Mai nanti mamah panggilkan bibi ya untuk bantu kamu disini"


"iya mah"


Mamah bella hendak pergi dan sedikit melihat ke arah Andra,


"Andini.. "


Mamah bella pun pergi karena dia tidak ingin membuat Maira merasa tidak enak dan tidak nyaman.


Maira menutup pintu setelah kedua mertuanya pergi.


"Bi tolong tanya apakah Maira butuh bantuan bibi.! " Ucap mamah bella turun dari tangga pada bi narsih yang sama sama terbangun.


Bi narsih pun menghampiri Maira mengetuk pintu dan masuk.

__ADS_1


"Oh bi silahkan masuk" Maira tidak menolak bantuan bibi karena ini cukuplah berantakan dan berserakan dimana mana.


Bi narsih hanya diam dia tidak berani bertanya apa apa pada Maira krena bi narsih tau pasti dalam hati Non Maira sangatlah sedih walaupun Maira berusaha tersenyum didepan nya.


__ADS_2