
"Run apa kamu keberatan, Jika Maira saya jodohkan dengan Andra?" Suara yang dilontarkan pak Wijaya dalam keheningan. Membuat suasana sedikit canggung.
"..... " Pak Harun hanya terdiam dia mengetahui semuanya tentang Andra
" Kenapa kamu diam apa kamu tidak setuju.? " Tanya pak Wijaya karena tidak ada respon dari Harun.
Pak Harun pun tersenyum, "Bukan. bukan seperti itu, aku hanya kaget. Apa kamu serius" Dengan sedikit nada tawa
"Saya serius run, Maira itu wanita yang sangat baik . Seperti nya dia bisa bawa perubahan buat Andra. " memandang Harun dengan penuh harapan.
"Bi bukan aku tak setuju. Semua ku serah kan pada Maira, apa Maira mau menerima perjodohan ini. karena aku takut Maira menginginkan seorang pendamping pilihan nya sendiri. Dan bagai mana dengan Andra.!!" dengan sedikit memelankan nada bicaranya
"Soal Andra itu bisa saya urus. Saya juga tidak memaksa pada Maira , kamu bisa menanyakan nya terlebih dulu. jika dia menolak mungkin bukan keberuntungan saya memiliki seorang menantu baik seperti Maira."sambil menyandarkan tubuh nya di kursi
"Nanti akan ku tanyakan pada Maira. Jika Maira setuju dengan perjodohan ini akan ku kabari"
"Ya run, tapi apakah Maira mau sama Andra putraku." mengangkat kan kembali tubuhnya.
"Kenapa harus tidak mau, Maira itu sosok wanita yang menerima apa ada nya. Aku tau anak mu itu orang baik cuma rasa kecewanya itu membuat dia berubah. " Sambil membenarkan bantal untuk senderan.
"Masalahnya dia itu pemabuk run, apa Maira bisa menerimanya. " dalam hati nya pak Wijaya dia ingin menceritakan tapi dia tidak bisa. karena dia merasa malu terhadap Andra.
"Ya sudah saya serahkan semuanya pada mu, nanti kalo kamu sudah sembuh dan ada kesempatan bicara pada Maira bicarakanlah dan beritahu keputusan nya pada saya. " saya sekarang mau kembali kekantor karena urusan saya masih banyak. Cepat sembuh run, Nanti besok saya akan sempatkan kesini lagi..." berdiri dan sambil merapihkan jasnya.
Mereka pun bersalaman seperti zaman kuliah dulu. Lalu pak Wijaya pun keluar dari kamar.
Pak Wijaya melihat Maira yang menunggu diluar. Lalu dia menghampirinya dan berpamitan.
"Maira, paman pamit pulang. Nanti insya Allah paman kesini lagi. Jaga ayah mu baik-baik ya. " Selalu dengan senyuman
__ADS_1
"Ya paman terimakasih sudah menjenguk ayah, Semoga paman selalu dalam keadaan sehat. Dan Maira juga insyaallah akan selalu menjaga ayah dengan baik. Paman hati-hatilah dijalan." sambil memegang buku ditangan nya dan menundukkan kepalanya.
"Ya terimakasih, assalamu'alaikum" Tersenyum dan semakin kagum pada Maira.
"waalaikum salam".
Maira pun masuk ke kamar ayah nya setelah melihat paman Wijaya pergi. Maira mengetuk pintu dan masuk. Maira senyum pada ayahnya walau tak terlihat tapi ayahnya tau. Maira pun duduk di samping ayahnya.
" Kenapa kamu senyum-senyum? Sepertinya bahagia." Tanya ayah pada Maira
"Alhamdulillah ayah Maira bahagia sekali, karena melihat ayah senyum yang menandakan ayah sembuh." Maira memegang tangan ayah dan menempelkan kepalanya ditangan ayah.
"Apa aku bilang ke Maira sekarang soal rencana kami. Tapi nanti saja lah sampai aku sembuh . Aku takutnya Maira terpaksa menerima karena aku masih sakit." dalam hati pak Harun sambil melihat maira.
Waktu pun menjelang malam. Ibu Maira sudah kembali ke rumah sakit dengan membawakan semua keperluan mereka selama di rumah sakit. Maira dan ayah yang sudah menunggu sekaligus khawatir akhirnya merasa lega karena ibu patimah sudah tiba.
Beberapa hari berlalu pak Harun kini sudah kembali pulih dia sudah sembuh seperti sedia kala tapi sayang nya dia tidak bisa berjalan normal dia harus dibantu dengan tongkat agar benar-benar kuat untuk berjalan.
Sebelum pulang mereka menunggu kedatangan pak Wijaya untuk berpamitan. pak Wijaya yang selalu sibuk di kantor datang sedikit terlambat. Pak Wijaya dan pak Harun pun akhirnya berpisah kembali. Tidak lupa sebelum pak Harun pulang pak Wijaya memberinya sebuah kode mengenai rencana nya itu. pak Harun pun hanya bisa tersenyum dan berkata "sabar, nanti akan ku kabari keputusannya".pak Wijaya pun menjawab " jangan sampai lupa, aku akan menunggu" Lalu pak Wijaya pun mengucapkan selamat tinggal dan mengatakan untuk berhati-hati dijalan. Maira dan ibu pun bingung melihat tingkah ayah dan pak Wijaya saat itu. Mereka hanya bisa terdiam dan bicara dalam hatinya masing-masing " Apa yang mereka bicarakan". Sembari menatap keduanya. Tapi itu tidaklah penting karena itu adalah urusan ayah nya.
...........
Tibalah Maira dan keluarganya di rumah. Harun yang langsung berbaring dikamar menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan nya pada Maira. Tapi Sebelum dia bicara dengan maira akan lebih baik jika dia membicarakan kepada istrinya terlebih dulu tentang rencananya dan temanya itu.
Maira yang lelah pun pamit pergi untuk istirahat. Setelah Maira ke kamar , pak Harun pun mulai bicara pada istrinya.
"Bu, Apa ibu setuju jika Maira ayah jodohkan.? " Celoteh ayah yang sedang duduk pada ibu yang sedang mengeluarkan pakaian dalam tas.
"Jodohkan.dengan siapa yah?" jawab ibu yang sedikit terkejut dengan pembicaraan suaminya.
__ADS_1
"Dengan anak dari abi maksudnya pak wijaya. Namanya Andra. " jawab santai ayah sambil mengangkat kan kakinya ke kasur.
Ibu fatimah berdiri dan membantu suaminya. " Apa ayah serius, siapa yang mengusulkan semua ini ? pak Wijaya kan orang kaya beda sama kita memangnya dia mau besanan sama kita." ibu yang duduk depan suaminya.
"Ayah serius bu. Justru dia sendiri yang inginkan perjodohan ini. Karena Wijaya lihat Maira adalah gadis yang baik." sambil menatap istrinya.
"Benarkah. Lalu bagaimana dengan putranya apa dia mau dijodohkan?. " masih dengan perasaan tidak percaya.
"Masalah putranya nya katanya dia bisa atur. Apa menurut ibu Maira mau ? "
"Ibu juga tidak tau yah, Coba nanti kita tanya sendiri pada Maira. " ibu yang mulai bengong
"Ibu kenapa? ko bengong. apa ibu tidak setuju?." ujar ayah melihat istrinya yang tiba-tiba diam
"bukan gitu ya ibu masih tidak percaya. Oh ya bagaimana dengan putra pak Wijaya apa dia baik.? " Ibu yang mulai penasaran dengan sosok Andra.
"Ayah yakin dia pasti pria yang baik. ibu mau lihat fotonya.? “ sambil mencari ponsel. Lalu pak Harun memperlihatkan foto Andra pada masa dia masih kuliah.
" Ko masih muda banget ya,!! "
"hehe ini waktu dia masih kuliah bu sekarang dia sudah bekerja di perusahaan ayahnya. " Sambil tersenyum dan menjelaskan
"Oh, Tapi ternyata putranya tampan sekali ya. Dan kelihatan nya juga baik. Jika benar Maira menerimanya Maira beruntung sekali . " Ibu sambil memandangi foto tersebut.
"Tapi bu dia itu pria yang dingin. ..*.. ..**.. ..***... " Pak Harun pun berusaha menjelaskan semua tentang Andra yang dia tahu. Pak Harun hanya tahu kalo Andra adalah seorang yang dingin dan tak pernah mau bicara pada ayah dan ibu tirinya setelah ibunya meninggal. Selain itu pak Harun juga tau kalo Andra adalah anak yang cerdas & bertanggung jawab. Pak Harun tidak tau kalo Andra adalah seorang pemabuk dan memiliki seorang kekasih.
"Oh seperti itu, Lalu bagaimana nanti dengan Maira. apa Maira bisa bahagia? " tanya ibu saat tau tentang Andra.
"InsyaAllah bu, kan ada pak Wijaya dia akan selalu menjaga anak kita dan menjamin semua itu. "
__ADS_1
Ibu pun menuturkan kalo dia setuju dengan rencana suaminya itu tapi kembali lagi semua tergantung pada keputusan Maira apa dia mau menerima atau tidak. Ibu Fatimah berharap Andra benar-benar tidak seperti yang dipikirkannya, Dia berharap jika Maira benar menjadi istrinya, Andra tidak terlalu bersikap dingin pada Maira.