
Hari ini Maira sudah diperbolehkan untuk pulang, Andra sedang mengurusi biaya administrasi rumah sakit, sedangkan yang lain nya belum tiba di rumah sakit.
Maira yang sendirian menunggu duduk di kasur, melihat sekeliling kamar yang ditempatinya, Mata Maira terarah kesatu titik yaitu bunga pemberian dari Andra yang masih tersimpan rapi di meja.
Maira tersenyum melihatnya, dia mengambil bunga tersebut yang tidak jauh dari kasurnya, Betapa senang hatinya mendapat hadiah pertama dari Andra walaupun hanya sebuah bunga. itu sangat berarti baginya.
Maira menghirup aroma bunga tersebut... eh tiba-tiba ada orang yang hendak membukakan pintu, karena Maira takut itu Andra dia langsung menyimpan bunga tersebut ke tempat semula.
"Assalamu'alaikum... " Ucap keluarganya bu fatimah, pak Harun, pak wijaya dan mamah bella.
"Waalaikum salam"
"Ko kamu sendiri mai, dimana Andra? " Tanya pak wijaya
"Mas Andra lagi ngurus administrasi yah"
"Nih sayang hadiah kecil untuk kamu karena kamu udah mau pulang. " Mamah bella membawakan bingkisan bunga yang cukup besar nan indah.
"Terimakasih mah" "Sama-sama sayang"
"Wah ibu gak bawa apa-apa nih" Ujar bu Fatimah sambil tersenyum bahagia.
"Ya Allah bu tidak apa-apa, ibu selalu ada di samping Maira aja udah bikin Maira senang"
"Iya sayang" Mencium wajah Maira kiri kanan.
Andra datang, Semuanya sudah dikemas dan dirapikan tinggal Maira yang akan turun ke kursi roda.
Ya Maira belum sembuh total dia tidak boleh kecapean, makanya dia harus mengenakan kursi roda, badan nya juga masih lemas dan akan merasa pusing jika berjalan terlalu lama. Saat ini kondisinya dalam pemulihan.
Andra memegang jemari tangan nya ketika Maira hendak turun dari kasur, seketika Maira langsung menatap wajah suaminya itu karena pegangan ditangan nya.
Setelahnya Maira mengalihkan pandangan nya sambil tersenyum dan duduk di kursi roda.
Kursi itu di dorong oleh Andra. Pemandangan itu membuat dua ibu saling bergandengan tangan dan tersenyum bahagia.
"Mudah-mudahan mereka seperti itu seterusnya"
__ADS_1
"amin"
Saat akan pulang dan sampai di rumah Andra sendirilah yang menggendong Maira masuk mobil-keluar mobil.
Hal itu membuat Maira terus memandangi wajah tampan nan cool yang menjadi suaminya itu, seakan-akan tak percaya dan berharap ini bukanlah mimpi.
Sesaat Andra ingin menggendong Maira kedalam rumah ada panggilan masuk ke ponsel Andra, jadi Maira didorong oleh ibu Fatimah, sedangkan pak wijaya kembali ke kantor karena urusan kantornya.
"Eh non alhamdulillah non sudah pulang bibi udah kangen sama non" Kedatangan Maira disambut bi narsih yang sudah lama tak bertemu dengan Maira. Bi narsih sangat mengkhawatirkan Maira tapi dia tidak bisa menjenguk dan hari ini Maira pulang membuat bi narsih menjadi sangat senang.
"Iya bi alhamdulillah"
Saat hendak menuju kamar dengan terpaksa Maira harus berjalan perlahan menaiki anak tangga ke lantai atas karena tidak bisa dilewati menggunakan kursi roda.
Maira berdiri dibantu mamah bella dan bi narsih di dampingi ayah dan ibunya di belakang.
Ya pak Harun tidak bisa menggendong Maira, karena kecelakaan yang menimpanya waktu itu membuat pak Harun tidak bisa mengangkat beban berat. Memang keadaan nya normal akan tetapi jika dia berusaha menggendong Maira apalagi menaiki tangga mungkin kakinya akan terasa sakit kembali.
Maira yang sudah setengah jalan menaiki anak tangga diam sejenak, entah apa yang dirasakan nya, mungkin capek karena dia sudah lama tak menggerakkan kakinya atau mulai pusing karena kondisinya yang masih belum Vit.
Seketika itu Andra menggendong Maira kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Sungguh pemandangan yang begitu romantis membuat mereka yang melihat tersenyum-senyum.
Maira masih tidak percaya dengan yang dirasakan nya, digendong pria tampan nan gagah dan sosok itu adalah suaminya, Mata indah itu terus menatap wajah suaminya sampai diturunkan dari gendongan Andra pun Maira masih menatapnya hingga Andra melambai-lambaikan tangan nya membuat Maira tersadar dan menundukkan kepalanya karena malu.
"Mai, ibu dan ayah sepertinya harus pulang karena sudah terlalu lama kita disini. " Ucap ibu fatimah
"Iya Mai ayah harus mengurusi ladang di sana, Maafkan ayah dan ibu tidak bisa menemanimu hingga benar-benar sembuh"
"Apa kalian serius akan pulang, maafkan Maira sudah merepotkan ayah dan ibu" Maira memeluk keduanya
"Tidak ada yang direpotkan Mai, kamu kan putri kami"
"Ya sudah ibu dan ayah pamit pulang yah, jaga diri kamu baik-baik" Ibu Fatimah mencium kening Maira berpamitan untuk pulang dan menitipkan Maira pada Andra.
Pak Harun dan ibu Fatimah sudah mengemaskan semuanya tadi pagi, jadi begitu dia menjemput maira pulang semua sudah disiapkan. Mereka juga sudah berpamitan pada pak wijaya yang saat ini sedang di kantor.
"Mamah antar ibumu ke depan ya, Kamu istirahat ya mai, biar cepat sembuh" Ucap mamah bella lalu pergi keluar menggandeng bu Fatimah mengantarkan ke depan rumah sampai bu Fatimah dan pak Harun diantar sopir untuk pulang.
__ADS_1
"Jika kamu butuh sesuatu panggil saja aku, aku mau mandi dulu. " Andra pergi mengambil handuk lalu mandi.
Hati maira masih berbunga-bunga dengan perubahan Andra yang kini mulai perhatian padanya,dia tersenyum membayangkan yang telah terjadi kemarin hingga saat ini, dari mulai diberi bunga hingga digendong. "Ya Allah mai jangan terlalu berharap dan ge er mungkin saja mas Andra seperti itu karena dia merasa bersalah" Dia menurunkan senyum manisnya.
Andra keluar dari kamar mandi, dengan handuk setengah badan. Dia menggosok-gosokan handuk lain ke rambutnya, maira menatapnya betapa tampan Andra saat itu apalagi sehabis mandi auranya terpancar.
Andra melihat kearahnya dan menghampiri maira, wajahnya begitu dekat dengan maira, up ternyata itu hanya bayangan maira saja saking tampan nya Andra membuat maira berpikiran aneh.
Maira menggeleng-geleng kan kepala lalu tersenyum sendiri, Andra yang selesai memakai kaos putih melirik Maira yang seperti nya sedang tersenyum "Ada apa? "
Maira langsung melihat kearah Andra "euh tidak ada apa-apa" Maira berpikir dalam hati "apa mas Andra tau aku sedang tersenyum"
"Oh aku pikir sekilas aku melihatmu tersenyum. Oh ya ini sudah waktunya kamu makan dan minum obat, Aku akan panggilkan bi narsih untuk bawa makanan" Andra keluar memanggil bi narsih
"Aduh kenapa sih aku ini, berpikiran aneh-aneh sampai senyum-senyum sendiri,"
Bi narsih datang membawa makanan untuk Maira "Loh ko cuma bi narsih mas Andra nya kemana" Saat itu Maira berharap bahwa suaminya datang menyuapi nya, tapi yang datang hanya bi narsih saja.
"Non ini makanan nya, bibi suap in ya.. Oh ya den Andra tadi lagi sibuk telpon kayanya dari kantor. Makanya dia nyuruh bibi buat suapin non. "
"Oh ya bi gak apa-apa" Maira tersenyum
Selesai makan Maira di beri obat lalu giliran nya untuk mengobati luka yang masih belum kering.
Maira membuka cadar dan hijabnya.
"Masya Allah non, bibi baru pertama kali lihat wajah non, seperti bidadari. "
"Bibi apaan sih, biasa aja"
"Beneran non, Non cantik sekali.. "
"Bibi jadi tidak obati Maira" Maira tersenyum malu dengan pujian bi narsih
"Non apa den Andra sudah lihat wajah non? den Andra pasti beruntung sekali, punya istri udah baik sholeha, cantik pula" bi narsih terus memuji-muji Maira.
Saat bi narsih selesai mengobati luka Maira, dan Maira mengenakan cadarnya kembali Andra tiba-tiba datang, ternyata Andra tadi mengangkat telpon dari andini yang terus memohon untuk menjalin hubungan kembali namun Andra telah menolaknya dan memblokir nomer andini saat itu juga.
__ADS_1