Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 22 : Mulai terbiasa


__ADS_3

Seminggu sudah Maira menjadi istri dan seorang menantu keluarga Wijaya , Maira tak pantang menyerah untuk membuat suaminya berubah. Maira mulai membiasakan diri agar tak mudah sakit hati pada sikap suaminya begitu juga pada sikap mamah bella mertuanya.


Hari ini Maira sudah berias dengan cantik, dia ingin sekali menunjukan wajahnya pada suaminya itu. Tapi ketika Maira selalu ingin melakukan itu Andra selalu membuatnya tak percaya diri mendengar setiap kata-kata yang Andra ucapkan seakan-akan Andra tidak menginginkan nya.


Tapi hari ini Maira benar-benar bertekad dia akan membuka cadarnya itu hanya ketika Maira berada dikamar bersama suaminya.


Maira yang tidak mengenakan cadar sedang memandangi dirinya di kaca, Maira masih ragu apakah Andra akan menyukainya. Maira memakai dan membuka cadar hingga berulang-ulang "Pakai jangan. Mai kamu pasti bisa dia kan suami mu" Maira yang sedang meyakinkan dirinya tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Andra yang pulang kerja lebih awal.


Andra yang melihat Maira di kaca dari kejauhan, pandangannya tidak jelas tapi Andra tau Maira tidak mengenakan cadar.


Andra masuk melewati Maira yang sedang duduk depan kaca, Maira masih tidak percaya diri menunjukan wajahnya.


Andra melemparkan jas ke kursi dan membuka dasi membelakangi Maira.


"Huh" Maira menghela napas agar lebih tenang "Bismillah" ucap dalam hati Maira. Maira menghampiri Andra dan mulai bicara. Posisinya dibelakang Andra.


"Mas kamu tumben sudah pulang.! " Tanya Maira dengan grogi


"Untuk apa kamu membuka cadar mu. Asal kamu tau mau secantik apapun kamu, aku tidak akan pernah tertarik. " Andra meninggalkan Maira tanpa melihat kearah Maira. Dia pergi begitu saja. Bahkan tidak menjawab pertanyaan Maira.


Maira yang masih berdiri terdiam mendengar perkataan Andra itu, air matanya berlinang "apa aku seburuk itu mas, baik jika benar kamu tidak akan pernah tertarik padaku, aku tidak akan pernah membuka cadar ini bahkan saat kita sedang berdua sampai kamu sendiri yang menyuruhku membuka nya. " Ucap Maira dengan mengusap air matanya.


Maira pun mengenakan cadarnya kembali dan dia hendak keluar kamar dan berpapasan dengan Andra yang hendak masuk kamar kembali.


Maira berjalan ke kiri begitupun Andra berjalan ke kiri, Maira ke kanan Andra juga ke kanan, Lalu mereka berdiam di tempat masing masing. Maira menundukkan kepalanya, Andra berkata "Jika kau ingin lewat kanan silahkan, tapi tolong jangan halangi jalan ku. " Ucap Andra dengan dingin

__ADS_1


Andra tidak tau kalo sebenarnya dibalik cadar Maira menyimpan luka di hati dan air mata di pipinya. Andra berjalan ke sebelah kiri dan masuk kedalam. Andra pergi menuju kamar mandi dan Maira turun kebawah mengambilkan makan untuk suaminya.


"Mas Andra pasti belum makan, biasanya kan dia pulang malam tapi hari ini dia sudah di rumah." Maira yang sehabis menangis karena Andra masih tetap menyiapkan Andra makan bahkan membawakan nya ke kamar.


Maira berdiri di depan meja makan dengan piring yang berisi nasi yang sudah dia sediakan "Terserah, mau di makan atau tidak yang terpenting aku sudah melaksanakan kewajiban ku sebagai istri. Aku tidak akan membenci mu mas walau kamu memperlakukan ku seperti itu. " Maira berusaha tersenyum kembali dan hendak mengantarkan piring ke kamar Andra.


Baru setengah jalan di tangga, Maira yang memegang nampan melihat Andra keluar kamar dan melewati Maira kembali dengan wangi khas parfum mewah nya.


"Mas mau kemana? aku baru saja mau mengantarkan mas makanan, mas pasti belum makan. " Ucap Maira ketika melihat Andra


"Kemana pun saya bukan urusan mu, Dan saya tidak pernah menyuruhmu menyiapkan makanan. " Setelah berbicara Andra berjalan menuruni anak tangga dan pergi keluar mengendarai mobil nya.


Sepertinya kali ini Maira sudah benar-benar kuat. Mendengar perkataan Andra Maira hanya bisa mengelus dada, dan Maira kembali turun ke dapur untuk menyimpan piring.


"Maira kangen sama ayah ibu. Lebih baik aku telpon mereka. " Maira yang selesai menyimpan piring pergi ke teras rumah menyempatkan diri menelpon kedua orang tuanya.


"Waalaikum salam mai. Ayah senang kamu telpon. Gimana kabarnya? Kamu baik kan.!! "


"Maira juga seneng bisa dengar suara ayah, mana ibu? Maira kangen banget sama kalian."


"Ibu ada di dapur, Kamu kenapa mai, sepertinya kamu sudah menangis. Kamu juga tidak menjawab pertanyaan ayah. " pak Harun yang mulai khawatir


"Oh iya alhamdulillah Maira baik-baik saja yah, Suara Maira begini bukan karena Maira sudah menangis memang sedang menangis Maira rindu banget sama kalian... " Bicara dengan menangis dan tersenyum. Sebenarnya Maira berusaha menyembunyikan perasaan sakitnya itu.


"Bukan karena Andra kan.? " ayah yang masih belum percaya

__ADS_1


"Ya Allah yah tidak, Maira benar-benar rindu sama kalian, makan nya Maira telpon. Mendengar suara ayah Maira jadi terharu bahagia terus menangis . "


"Oh alhamdulillah kalo benar seperti itu, Apa Andra memperlakukan mu dengan baik? " ayah bertanya kembali


"Mas Andra sangat baik begitupun ayah Wijaya dan mamah bella mereka begitu penuh perhatian. Oh iya dimana ibu" Maira mengalihkan pembicaraan. Agar ayahnya tidak menanyakan Andra dan agar Maira tidak berbohong lebih banyak pada ayahnya.


Maira mengobrol dengan ayah ibunya sampai rasa rindunya terobati.


.......


Beralih ke Andra.


Andra yang pergi menjemput Andini di apartemen.


Mereka pergi menghabiskan waktu bersama, Andini mengajak Andra untuk shoping dan makan bersama. Andini sangat bahagia begitupun Andra yang bahagia melihat Andini.


Hari ini Andra tidak mabuk. Andra pulang tengah malam.


Maira masih belum tidur menunggu suaminya datang, Dari atas jendela kamar Maira melihat mobil suaminya datang. Maira juga melihat di kejuhan suaminya tersenyum bahagia.


Andra masuk kamar disambut dengan Maira "mas sudah pulang? " Tanya Maira


"ya " jawab Andra dan langsung berbaring di sofa. Andra memejamkan matanya sambil tersenyum.


Maira yang melihat suaminya tersenyum membuat Maira senang "Akhirnya aku bisa melihat mas senyum" Maira sambil tersenyum dengan pipi memerah.

__ADS_1


Maira pun berjalan menuju kasur dia duduk dan berdoa dalam hati "Ya Allah teruslah buat mas Andra tersenyum, dan berikanlah jalan terbaik apapun masalahnya itu hingga dia bisa terus bahagia. " Maira membaringkan diri dan tidur.


__ADS_2