Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 33 : Cucu yang melahirkan


__ADS_3

esoknya bi narsih sudah membawakan sarapan dan mengobati mamah bella, keadaan mamah bella yang tidak bisa berdiri dan kaki mulai membengkak membuat bi narsih memilih merawat mamah bella dan tidak jadi untuk pulang kampung.


Mamah bella memperhatikan bi narsih yang sedang memijat nya, mamah bella merasa bersalah karena dirinya bi narsih tidak jadi pulang. "Maafkan saya bi karena keadaan ini membuat bibi jadi batal pulang. " celetus mamah bella


"tidak apa nyonya, saya masih bisa pulang nanti." jawab bi narsih dengan tersenyum


"Mah papah berangkat dulu ya" Pak Wijaya yang tiba-tiba datang setelah sarapan nya selesai


Pak Wijaya mencium kening istrinya ketika dia hendak pergi "Cepat sembuh ya" Ucapnya dengan sangat lembut


Maira yang belum melihat keadaan mamah bella lagi sedang sibuk dengan kebiasaan nya menyiapkan keperluan Andra.


"Mas apa mas tau mamah bella sedang sakit, apa mas juga sudah melihatnya? " Ucap Maira memberanikan diri setelah menyimpan sarapan ke meja.


Andra hanya mendengarkan dan pura-pura tidak mendengar dia pergi tanpa menjawab apa apa, entah mungkin karena Andra tidak perduli pada mamah bella.


Maira pun hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela nafas perlahan "Sebegitu Nya kamu membenci mamah bella mas, padahal mamah bella sangat sayang padamu" Maira membawa kembali sarapan yang disediakan nya setelah Andra pergi.


Di dapur Maira melihat bi narsih yang sedang membereskan meja. Maira menghampirinya sekalian menyimpan piring yang dia bawa bawa dari tadi. " Bi gimana keadaan mamah apa sudah baikan? "


"Ya begitulah non masih sama seperti kemarin. "


"Bi apa sebaiknya kita bawakan mamah orang yang suka memijat. Kalo menurut Maira dokter saja tidak cukup obat hanya bisa meredakan sakit saja tapi tidak menyembuhkan keseleo nya. "


"Iya non, non benar nanti bibi carikan deh"


Maira melihat wajah bi narsih dengan raut yang sepertinya bingung.


"Bibi tidak jadi pulang" Maira bertanya pada bi narsih yang sedari tadi Maira perhatikan wajahnya


"Iya non, bibi gak bisa pulang kasian nyonya bibi gak bisa tinggalkan dia"


Maira hanya bisa menatapnya karena Maira tau mamah bella tidak pernah mau dirawat nya jadi Maira tidak menawarkan diri untuk merawat mamah bella, mau bagaimana lagi sebarnya Maira ingin membantu bibi untuk menjaga mamah bella tapi keadaan membuatnya tidak bisa melakukan itu semua.


"Sabar ya bi, mudah mudahan mamah cepat sembuh agar bibi bisa cepat pulang. dan maafkan Maira karena Maira tidak bisa bantu bibi" Dengan sedih Maira mengatakan nya


"Iya gak apa apa non bibi mengerti"


Siangnya bibi membawa seorang tukang pijat dan dibawa nya ke kamar mamah bella.


tok. tok. tok "permisi nyonya" BI narsih masuk bersama orang tersebut.


Mamah bella menatapnya "siapa dia bi narsih membawa siapa. seperti nya bukan dokter" ucap dalam hatinya


"Saya bawakan tukang pijat nyonya. Saya pikir nyonya bisa cepat sembuh maafkan bibi tidak sempat bilang dulu sama nyonya. " ucap bi narsih seketika memberi jawaban atas pertanyaan dalam hati mamah bella.

__ADS_1


"Oh ya bi silahkan " Mempersilahkan bibi dan tukang pijat untuk mendekatinya


Mamah bella dipijat dia sangat kesakitan sampai memeluk bi narsih dan menangis seperti anak kecil, hingga selesai mamah bella masih meneteskan air mata walau tanpa mengeluarkan suara Karena ini pertama kalinya dipijat baginya.


"Sudah nyonya sudah selesai," Ucap bi narsih merasa kasian melihat mamah bella merengek kesakitan


Mamah Bella yang masih meneteskan air mata berbicara dengan tersedu sedu "Apa rasanya seperti ini bi, ko sakit sekali"


Mamah bella memang lahir dari keluarga yang sangat berada dia dulu adalah sosok yang dimanjakan kedua orang tua nya, bahkan keluarga mamah bella lebih kaya dari keluarga sahabatnya Vera (ibunya Andra).


Makanya hari ini adalah pertama kalinya dia merasakan sakitnya dipijat setelah kakinya keseleo.


"Iya nyonya memang seperti itu nanti juga membaik. Bibi permisi dulu ya mau mengantarkan bapak ini keluar"


Bi narsih langsung keluar kamar mengantarkan orang tersebut ke depan rumah untuk pulang. Ketika bi narsih mau masuk kembali dia mendapati telpon dari keluarganya di kampung.


Malam harinya Maira yang keluar kamar melihat bi narsih yang sedang duduk di meja makan dapur sambil melamun wajahnya sangat cemas tidak tau apa yang sedang bi narsih pikirkan, Maira pun menghampiri bi narsih.


"bi" Memegang pundak bi narsih yang membuat bibi terkejut


"astaghfirullah al adzim non maaf bibi kaget" bi narsih mengangkat tubuhnya yang tadinya agak membungkuk


Maira pun duduk disebelah bibi satu tangan Maira simpan dimeja dan satu tangan lagi menggapai tangan bi narsih "Bibi kenapa ko sepertinya cemas. Cerita sama Maira ada apa? "


Maira pun menghapus air mata bi narsih dan memeluknya."Kasian sekali bi narsih pasti saat ini dia sangat cemas pada cucunya (suara hati)" Maira melepaskan pelukan memegang kedua pundak bibi dan menatapnya "Bibi jangan khawatirkan mamah disini kan ada Maira yang bisa menjaganya, Jika ingin pulang pulang saja, berbicaralah pada mamah bella dan jelaskan keadaan cucu bibi di sana, Maira yakin dia akan mengerti keadaan bibi dan menyuruh bibi pulang"


"Apa non yakin lalu bagaimana dengan nyonya nanti jika bibi pulang, bibi tau betul perlakuan nyonya terhadap non,"


"Bibi tenang saja Maira bisa urus itu semua" Maira tersenyum memberikan keberanian pada bibi untuk bicara pada mamah bella, padahal sebenarnya Maira juga sangat bingung mamah bella sangatlah dingin dengan nya selalu menolak keberadaan nya bagaimana mungkin Maira bisa merawat mamah bella dengan perlakuan nya seperti itu.


Tapi kembali lagi ini demi kebaikan semua orang jika niatnya baik insya Allah selalu ada jalan untuknya.


"Baiklah non bibi akan bicarakan ini semua pada nyonya, bibi sudah sangat cemas sekali pada Aira. Bibi harus segera pulang"


Bibi pun pergi menuju kamar mamah bella.


Bibi mengetuk pintu dan menonjolkan wajahnya di pintu kamar "Permisi nyonya" didalam hanya ada mamah bella karena pak Wijaya belum pulang dari kantor.


"eh bi silahkan masuk." bi narsih masuk kedalam berjalan perlahan "Kebetulan sekali bi lihat kaki saya sudah agak mendingan sudah bisa digerakkan." Terlihat dari raut wajah mamah bella yang sangat senang dengan keadaan nya sekarang setelah kemarin dia tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali karena terlalu sakit.


Bi narsih hanya tersenyum melihatnya "Alhamdulillah nyonya kalo sudah baikan"


"Iya ini semua berkat bibi Terima kasih ya" Membalas senyuman bibi


"Sebenarnya tukang pijat itu bibi bawakan karena perintah non Maira nyonya, berterima kasihlah padanya"

__ADS_1


Mamah bella terdiam dan berusaha mengalihkan pembicaraan setelah mendengar nama Maira.


"Oh ya bibi kesini ada apa? "


"sebenarnya.. " Bibi sangat gugup


"Ada apa bi bicaralah." bicara pelan setelah melihat wajah bi narsih


"Sebenarnya begini nyonya, Cucu bibi sudah kontraksi sejak pagi tapi belum melahirkan saya takut karena omongan nya yang ingin lahiran dengan ditemani saya. Saya sangat khawatir nyonya"


"Ya sudah kenapa bibi tidak pulang, jangan pikirkan saya ok. sekarang kemasi barang-barang bibi yang akan dibawa dan pulanglah" Mamah bella berbicara sambil tersenyum menandakan bahwa dia serius, mamah bella menyuruh bi narsih untuk pulang sebelum bi narsih meminta izin padanya.


"nyonya serius" ucap bahagia bibi


"iya bi serius" masih dengan senyuman


"Terima kasih nyonya" membungkukkan tubuhnya "semoga nyonya cepat sembuh. saya pamit untuk pulang" Bi narsih pun hendak pergi dengan kegirangan walau sebenar nya hatinya tidak tenang.


"eh tunggu bi" ucap mamah bella menghentikan langkah bi narsih dan kembali pada mamah bella


"ini ada sedikit bekal untuk biaya melahirkan cucu bibi, maaf saya belum sempat sediakan kado" Menyerahkan amplop yang tebal berisikan uang pada bi narsih


"Terima kasih nyonya, sekali lagi terimakasih saya pamit dulu"


Dari luar Maira masih berada di kursi dapur menunggu bi narsih keluar kamar.


"bi bagaimana? " tanya Maira ketika melihat bi narsih berjalan cepat menuju kamarnya


Maira pun berdiri berjalan kearah bi narsih


"Alhamdulillah non nyonya mengizinkan, bibi harus segera pulang. " sambil memegang kedua tangan Maira "Bibi mau mengambil tas bibi dulu"


"Iya silahkan bi, Sebelum pulang bibi tunggu Maira dulu ya" Maira berlari ke kamar untuk mengambil sesuatu dan bi narsih pergi ke kamar nya mengambil barang yang akan dia bawa pulang.


Bi narsih sudah menunggu di bawah Maira turun dari tangga menghampiri bi narsih


"Bi ini" memberikan kado yang dibungkus dengan rapi pada bi narsih


"apa ini non"


"Untuk cucu bibi, Semoga bayinya cepat keluar.dan semoga ibu dan bayinya dalam keadaan sehat"


"amin Terima kasih non" bibi memeluk Maira dengan erat dan menangis "Bibi pulang dulu ya jaga diri non baik baik"


"iya bi bibi juga hati hati dijalan, salam pada keluarga bibi di sana"

__ADS_1


__ADS_2