
KEESOKAN HARINYA...
Maira yang bangun lebih awal, Sudah menyiapkan pakaian dan air hangat untuk mandi suaminya. Sebenarnya Maira masih sedih dan berusaha melupakan kejadian semalam, Maira sadar bagaimana pun sikap Andra sekarang dia adalah suaminya. Maira pun menyibukkan diri dengan membantu bibi menyiapkan makanan di dapur.
Bibi yang terbiasa masak sendiri marasa tidak enak tapi juga senang dibantu Maira. Mereka berdua berbincang layaknya nenek dan cucu. Maira yang mudah akrab dengan siapa pun dan tidak pandang bulu seperti pada pembantu keluarga Wijaya membuat bibi kagum dengan keramahan maira.
"Non bibi yakin den Andra pasti beruntung miliki non" Sambil tersenyum pada Maira
"Ah bibi bisa aja, Memangnya beruntung kenapa? " Maira yang membalas senyum bibi dan bertanya.
"Iya beruntung. Non kan baik selain baik juga cantik. " sambil memotong sayuran.
"Baik...! Amiin bi, Kalo cantik bibi kan belum pernah lihat Maira bagaimana bisa bibi berkata seperti itu.. " masih dengan senyuman.
"Lah Non gak perlu dilihat keseluruhan, tau dari sikapnya saja pasti Non itu orang yang sangat cantik. Den Andra aja belum sadar... Kalo bibi jadi den Andra, lihat matanya non saja sudah langsung terpesona. " bibi yang memuji sambil tersenyum.
"itukan bibi.. " Maira yang tersenyum dibalik cadar dengan pipi memerah karena mendengar pujian bibi. "Tapi mas Andra tidak seperti itu bi, jangankan untuk melihat mataku melihat keberadaan ku dari jauh pun dia tidak mau. " Maira yang berkata dalam hati.
Mereka berdua asyik mengobrol hingga selesai memasak dan datang pak wijaya, mamah bella ke meja makan.
"Waduh-waduh ada yang punya temen nih, udah akrab aja." Ujar pak Wijaya yang hendak duduk
"Eh tuan.. " Bibi yang kaget karena kedatangan pak Wijaya
"Ingat ya bi dia menantu saya, jangan keseringan dibantuin. "pak Wijaya Dengan senyuman
" iya tuan" jawab bibi
" Ah tidak apa ko paman, Maira yang menawarkan untuk membantu bibi. " ucap Maira.
"Paman.jangan panggil paman dong sekarang panggil ayah, kamu kan sudah jadi menantu disini. Masalah membantu bibi boleh tapi jangan keseringan nanti bibi keenakan ya bi. " pak Wijaya yang menjawab perkataan Maira sambil tersenyum
"hehe iya tuan nanti bisa-bisa bibi males-malesan kalo terus dibantuin. " bibi dengan nada sedikit tertawa
__ADS_1
"Bukan begitu, Maira kan disini sebagai seorang menantu kerjanya hanya mengurusi suaminya, kalo kerjanya Maira membantu bibi apa yang harus saya katakan pada harun. " pak Wijaya dengan nada bercanda dan tersenyum.
"iya ayah. " Maira tersenyum
"Ayo sini makan bersama Maira. kelihatanya makanan ini enak. Ini masakan maira, Ayah tidak sabar ingin mencoba. " Sambil melihat ke arah mamah bella.
"Tapi" Maira yang masih berdiri dan menunggu kedatangan Andra untuk sarapan bersama.
"Ada apa?" Tanya pak Wijaya pada Maira " Oh kamu menunggu Andra. Ya sudah kita tunggu sampai Andra turun ayo duduk dulu. " mempersilahkan Maira duduk di kursi makan.
Tak lama setelah itu Andra turun dari tangga ingin bekerja. Padahal seharusnya dia meliburkan diri karena masih pengantin baru. Maira yang melihat Andra turun berdiri.
"Andra kamu mau kemana? Hari ini kamu tidak usah ke kantor. kamu kan masih pengantin baru. ayah sudah urus semua,kamu cuti hari ini. " Ujar pak Wijaya
"Tapi aku tidak ingin di rumah." jawab Andra tanpa melihat kearah ayahnya
"Apa kamu tidak bisa menjaga perasaan Maira jika kamu bekerja..Setidaknya kamu sarapan dulu disini. " pak wijaya yang berdiri dan sedikit berteriak.
Andra tidak mendengar kan perkataan pak Wijaya dan pergi begitu saja.
Tapi Maira sadar ketika melihat pak Wijaya, Andra bersikap seperti itu tidak hanya padanya tapi juga pada ayahnya. Dan dia berusaha sabar dan kuat.
"hah (mengeluarkan nafas)begitulah sikapnya dia tidak pernah ingin sarapan disini sekalipun. Maafkan ayah mai, kamu pasti kecewa. Seharusnya ayah tidak menikahkan mu dengan dia.. " pak Wijaya yang geram pada sikap andra
"Ayah jangan bicara seperti itu, jangan minta maaf pada maira ayah tidak salah karena ini juga keinginan Maira menikah dengan mas Andra, Bagaimana pun sikap mas Andra insyaallah Maira akan menerimanya. " Maira yang tersenyum menyemangati pak Wijaya yang mulai merasa tidak enak pada Maira.
"ayah memang tidak salah jadikan kamu seorang menantu, Kamu memang benar-benar akan menjadi istri yang terbaik untuk Andra. " jawab pak Wijaya sambil memuji dan kagum pada perkataan Maira. "Ya sudah, sekarang mari kita sarapan. lupakan saja masalah Andra. " sambil duduk kembali dan berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
Maira yang mulai duduk untuk sarapan melihat kearah pak Wijaya, dan Maira melihat ada kekecewaan besar pada pak wijaya.
" Mas apa kamu selalu bersikap seperti ini pada ayahmu, Coba kamu melihatnya, apa kamu tidak merasa kasian pada ayahmu. " maira yang juga merasa sedih dengan sikap andra. Bukan karena sikap Andra padanya tetapi sikap Andra pada pak Wijaya ayahnya.
Mereka pun akhirnya selesai sarapan. Pak Wijaya pamit pada mamah bella dan Maira untuk pergi bekerja, Sedangkan mamah bella hanya menganggukkan kepalanya, Dan dia hanya terdiam sedari tadi.
__ADS_1
Maira yang merasa tidak pernah melihat ibu mertuanya bicara, memberanikan diri untuk bicara padanya walau dengan perasaan ragu.
"Sini mah biar Maira bantu." Maira yang menghampiri mamah bella dan hendak mengambil piring kotor.
"Tidak usah mamah bisa sendiri" Jawab mamah bella memalingkan tubuhnya tanpa melihat maira.
deg,..Lagi-lagi maira mendapat perlakuan dingin, bukan dari suaminya melainkan dari ibu mertuanya (mamah bella). Dalam pikiran Maira "Sebenarnya ada apa? apa aku melakukan kesalahan..! " Maira yang langsung terdiam dan heran.
Mamah bella yang memberikan piring kotor pada bibi berkata "Tolong bereskan semuanya bi, saya sangat lelah dan mau istirahat " Mamah bella pun pergi ke kamarnya tanpa memikirkan perasaan maira.
Bibi yang melihat Maira terdiam lalu menghampirinya.
"Non yang sabar ya, Non dengarkan yang nyonya katakan dia lelah makanya bersikap seperti itu. " bibi yang berusaha menghibur Maira.
"Ah iya bi gak papa ko Maira ngerti." Maira pun tersenyum kembali. Sebenarnya Maira masih bertanya-tanya mengapa sikap mamah bella seperti itu, tapi kembali pada perkataan bibi Maira pun berpikir positif.
MALAM NYA.....
Maira yang sangat khawatir pada Andra menunggu dikamar sembari mondar-mandir, "Sudah larut malam tapi mas Andra belum pulang, semoga tidak terjadi apa-apa" Maira pun terus berdoa tentang keselamatan Andra. Sampai dia tak sengaja tertidur.
Bugg,, Suara pintu yang terdorong ke tembok.
Maira yang terkejut mendengar nya terbangun. Betapa kagetnya Maira melihat suaminya yang pulang dengan keadaan sempoyongan. Maira pun langsung menghampiri suaminya dan membantu.
"Lepas (menepis tangan Maira),Kamu tidak berhak menyentuh ku. Aku bisa jalan sendiri. " Ucap Andra yang mabuk dan berjalan kearah kursi.
"Mas aku hanya ingin membantu.. " Maira yang mengarahkan tangannya pada Andra.
"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan mu. " Andra yang terus berjalan hingga dia terjatuh di bawah kasur.
Maira pun membantunya tanpa menghiraukan perkataan Andra. Hingga Andra terbaring di kasur dan tak sadarkan diri. Maira yang penuh perhatian membukakan sepatu Andra serta menyelimuti nya. Pada saat Maira hendak tidur dia sadar Andra tidak akan ingin dirinya ada di samping Andra. Lalu Maira pun mengambil bantal dan tidur di sofa.
...........
__ADS_1
...BERSAMBUNG...