
Andra yang selesai mandi keluar hanya memakai handuk, Dia mengambil pakaian di lemari, Ketika itu Andra melihat kearah meja dan kursi di sana terdapat piring yang berisi sarapan dan di kursi ada pakaian nya tersimpan dengan rapi.
Tapi Andra tidak memperdulikan itu, Andra tetap mengambil pakaian di lemari padahal di kursi sudah disediakan oleh Maira.
Setelah berpakaian Andra hendak mengambil jam tangan yang di taruh di meja. Ketika tangan nya meraih jam, Andra tak sengaja melihat isi sarapan di piring, Dalam hati Andra tau kalo sarapan itu di siapkan oleh Maira. karena bi narsih tidak pernah mengirimkan sarapan ke kamarnya atas perintahnya.
"Untuk apa dia mengirimiku sarapan, agar aku luluh padanya. Tidak, jangan berharap aku akan membuatmu tidak nyaman di rumah ini. " Ucap Andra dengan sinis
Andra yang hanya melihatnya Lalu pergi berangkat kerja. Seperti biasa dia pergi tanpa berpamitan dengan keluarganya.
Maira yang melihat Andra dari kejauhan, matanya penuh dengan harapan, Berharap suaminya memakan sarapan yang dia sediakan.
Sedang pak Wijaya yang sudah selesai sarapan berpamitan pada Maira dan istrinya dan berkata "Ayah berangkat dulu ya, oh ya suruh bi narsih berobat dan minta supir untuk mengantarnya. Biar keadaanya membaik". Lalu pak Wijaya pun pergi setelah berpesan pada istrinya.
Mamah bella yang selesai sarapan berdiri dari duduknya dia pergi ke kamar tanpa berbicara sepatah kata pun pada Maira. Maira hanya bisa sabar hatinya masih tetap tersenyum meski diperlakukan begitu oleh mamah bella.
Maira membersihkan meja makan serta mengambil piring kotor yang ada dimeja satu persatu. Maira mencucinya hingga selesai.
Setelah selesai Maira langsung pergi ke kamar untuk mengecek sarapan yang dia sediakan untuk Andra.
Dengan rasa penasaran Maira jalan cepat menuju kamar nya.
"deg" dadanya serasa sesak saat Maira melihat isi piring yang masih utuh bahkan sepertinya tidak Andra sentuh, selain itu Maira juga melihat pakaian yang dia sediakan tidak dikenakan Andra.
Maira menghela kan nafas nya "Sabar mai, ini baru hari ke dua. Kamu harus semangat dan yakin suatu saat mas Andra akan menghargai mu. " Mengelus dada sembari menyemangati dirinya sendiri.
Maira menyimpan kembali pakaian yang dia sediakan ke lemari setelahnya dia mengambil nampan yang ada piring dan gelas diatasnya untuk di bawa ke dapur.
__ADS_1
....
Di Kantor Andra dikejutkan oleh kevin yang sudah ada di ruangan nya.
Begitu masuk..
"Hey pengantin baru... akhirnya lo tiba juga. gua minta maaf gua kemarin gak dateng ke nikahan lo, entah apa yang terjadi gue dirawat di rumah sakit karena diare. Lo tau kan penyakit itu buat gue gak bisa kemana mana takut kec*p*r*t. Oh ya gua sedih banget gua dirawat dua hari gak ada yang nengok in sama sekali cuma om Wijaya satu-satunya yang peduli, dan lo sebagai sahabat gue lo gak setia kawan, gue tau lo masih pengantin baru setidaknya lo video call ke ngucapin get well soon gitu. Oh ya gua mau ucapin selamat ya atas pernikahan lo semoga lo bahagia. " Kevin yang duduk di kursi menghampiri Andra dan memeluk Andra berbicara panjang lebar hingga tidak tau letak titik dan koma, dia terus berbicara sampai menjabat tangan nya pada Andra mengucapkan selamat.
"Sudah bicaranya" melepaskan jabatan tangan kevin "sekarang Lo bisa keluar dari ruangan ini". Mempersilahkan kevin untuk keluar.
"Lo ngusir gue dra. "
"iya, Lagian lo ngapain disini." Andra berjalan menuju kursi nya.
"Gue disini buat ngucapin selamat. Gua kaget ketika gue danger berita dari karyawan bahwa setelah kemarin lo menikah besoknya lo kerja. Lo gila apa..! apa lo gak pingin honeymoon. "
Andra yang duduk langsung merespon kevin "hey jangan asal bicara, lo tau kalo gue punya Andini. Gue gak akan lakukan hal itu dengan wanita yang sama sekali gak ku kenal bahkan tidak aku ingin kan. " Menegaskan pada kevin.
"iya, gua masih bersama Andini. Gue tidak bisa kehilangan dia dan begitu pun Andini. " bicaranya mulai perlahan
"Jadi Andini tau lo nikah tapi dia masih mau sama lo.!! dasar wanita.. .. .. " bicaranya terhenti dan melihat ke arah Andra "Ya sudah terserah lo. gua mau balik ke ruangan (berdiri dari duduknya) . Oh ya gua cuma mau bilang jangan sampai lo menyesal dengan pilihan lo sendiri. " Kevin keluar dari ruangan Andra.
Andra yang merasa keputusan nya benar tidak memikirkan perkataan kevin. "Lagian pernikahan gue ini gak akan lama vin. Gue akan berusaha membuat wanita itu memutuskan hubungan ini.
...
Di rumah mamah bella yang tau keadaan bi narsih. pergi ke kamar bibi.
__ADS_1
tok. tok. tok. suara pintu yang diketuk mamah bella
" Boleh saya masuk bi, " Tanya mamah bella sambil membuka pintu
"Iya nyah boleh, " Bi narsih langsung duduk dari tidurnya.
Mamah bella masuk kedalam dan duduk di samping bi narsih.
"Kenapa bibi tidak bilang kalo bibi sakit.! " Ucap mamah bella dengan lembut.
"Maaf nyah, bibi tidak bermaksud. sebenarnya bibi tadi masih kuat tapi non Maira sangat baik hingga menyuruh bibi untuk istirahat. Maafkan bibi nyah bibi tidak bermaksud membuat non Maira menyiapkan semuanya apa tuan marah? . " Bibi yang merasa bersalah.
"Maira memang melakukan hal yang benar. Kalo bibi tidak sehat memang seharusnya bibi istirahat. Dan tuan juga tidak marah, Dia tadi hanya berpesan agar bibi segera ke rumah sakit agar keadaan bibi membaik. "
"Baik nyah, Sebentar lagi bibi akan siap-siap ke rumah sakit."
"Yasudah bibi harus lekas sembuh. Saya keluar dulu" sambil mengusap kaki bi narsih. Dan keluar menutup pintu perlahan.
"Ya Allah keluarga ini begitu baik, Tapi sayang tidak ada kebahagian di rumah ini. Ya Allah berikanlah kesadaran pada den Andra, agar dia mau menerima nyonya dan non Maira. amin" Bi narsih yang merasa terharu karena perhatian keluarga Wijaya.
...
Ketika malam tiba..
Seperti malam kemarin Maira menunggu Andra, tapi kali ini Maira tidak tertidur matanya terjaga menunggu suaminya pulang.
Andra yang membukakan pintu dengan keadaan mabuk, Tapi hari ini mabuknya tidak terlalu parah dia berjalan biasa.
__ADS_1
Andra menaruh jasnya dan dia langsung tidur di kursi. Padahal didekatnya tadi ada Maira yang mengulurkan tangan nya untuk mengambil jas tapi Andra lebih memilih menyimpan nya sendiri.
Maira merasa sakit tapi dia masih bisa tersenyum melihat suaminya pulang dan tidur di kamar bersama nya.