
Paginya seperti biasa Maira yang sudah menyiapkan air hangat untuk mandi Andra serta pakaian untuk dikenakan Andra . Maira membatu bi narsih memotong sayuran, Tak sengaja Maira mengiris jari tangan nya hingga berdarah.
"Aw astagfirullah aladzim, " Maira langsung melepas pisau dan memegang jarinya yang penuh darah.
"Eh non kenapa? " Tanya bi narsih yang kaget dan melihat Maira. "Ya Allah non tangan non berdarah, sebentar bibi ambilkan plester. " Bi narsih langsung pergi dan membawakan plester.
"Gak papa ko bi, ini cuma luka kecil. " Maira yang menahan rasa sakit.
bi narsih memegang tangan Maira dan menempelkan plester di luka tangan Maira "Duh non gak papa gimana, tangan non sampai berdarah kaya gini. Bibi kan sudah bilang jangan bantuin bibi jadi luka gini kan. "
"Ya Allah bi,Maira cuma bantuin potong sayur lagian Maira gak papa ko (tersenyum sambil memandangi bibi). Ngomong-ngomong bibi perhatian banget sih padahal kan maira cuma luka dikit. " Maira tersenyum dan bercanda
"Non bibi tuh sudah anggap non seperti cucu bibi sendiri, makanya bibi perhatian seperti ini, terlebih non kan majikan bibi juga. Nah selesai (pasang plester) . " setelah memasang plester bi narsih menatap maira.
"Lagian non kenapa sampai ke iris gitu sih, bibi lihat-lihat dari tadi non ngelamun terus. " Tanya bibi yang penasaran
"eu..." diam cukup lama "gak papa ko bi, Maira cuma lagi bingung aja. "
"Bingung kenapa non? " Bibi yang masih bertanya
"Bingung Tadi bibi bilang Maira sudah dianggap cucu bibi, memang bibi sudah punya cucu. Ko bibi masih terlihat cantik. " Maira menggoda bi narsih
"Eh si enon bibi kan tanya serius. " Sambil tersipu malu
"Iya bi Maira serius Maira gak papa. Lagian Maira gak ngelamun ko. " Maira yang masih tersenyum dari balik cadarnya.
" bener non, serius? "
__ADS_1
"Serius beneran bi, dua rius malah. Ayo kita masak lagi bi" Maira hendak memegang pisau tapi dihentikan oleh bi narsih.
"Ets gak boleh non duduk aja disini, biar semua bibi yang kerjakan. " Bibi menarik tubuh Maira untuk duduk di kursi makan.
"ih gak papa bi Maira masih bisa bantu ko." hendak berdiri dan disuruh duduk kembali oleh bibi. "Pokoknya non duduk, kalo mau bantu non bantu doa aja. Ok. " sambil mengedipkan mata pada Maira.
Maira tersenyum melihat ekspresi bi narsih. dan bi narsih kembali memasak.
Maira yang melamun memandang meja makan, "Sebenarnya Maira memikirkan mas Andra bi, semalam dia mengigau nama perempuan, Maira ingin menanyakan ini pada bibi tapi Maira takut salah paham. Yasudah Lah sebaliknya bibi juga tidak usah tau. "
****
"Taraa.. Sarapan sudah siap. " Bibi sambil membawakan mangkuk besar berisi sayur.
Maira menatap semua makanan yang di masak bibi dengan senyuman "Wah hari ini sarapannya sepertinya enak sekali. "
"Ya dong non, Hari inikan bibi sudah benar-benar sehat. "
"Semangat non" Menunjukan jari jempolnya untuk memberi dukungan pada Maira yang berjalan membawa sarapan Andra.
Maira dari kejauhan pun hanya tersenyum.
Maira dengan perlahan membuka kan pintu kamar.
Sekarang Maira lebih memberanikan diri untuk sering bicara pada Andra. Andra yang sedang berkaca membenarkan dasinya.
Dia melihat ke arah Maira yang membawa nampan dan Maira terus berjalan menyimpan makanan dimeja.
__ADS_1
"Mas ini sarapan nya" Terlihat dari matanya Maira tersenyum pada Andra. Andra memalingkan pandangan nya dia tidak merespon sampai Maira pergi keluar kembali.
"Suatu saat dia akan bosan mengirimiku makanan seperti itu" Memakai jas dan pergi berangkat untuk kerja. Maira dari meja makan hanya memandangnya pergi. "Hati-hati dijalan ya mas" gumam dalam hati Maira.
*****
Sudah satu bulan berlalu kini Maira sudah semakin kebal terhadap sikap dingin Andra. Maira selalu menguatkan diri dan membentengi hatinya dengan besi ketika Andra berbicara yang sekiranya menyakiti hatinya.
Andra yang selalu berkata kasar pada Maira sebenarnya hanya ingin agar Maira merasa tidak nyaman padanya dan memutuskan hubungan dengan nya. Tapi usaha Andra itu hanyalah sia - sia.
walaupun Andra seorang pemabuk, Andra tidak pernah berlaku kasar(main tangan) pada Maira istrinya. Dia masih bisa mengendalikan dirinya.
*****
Maira yang duduk di kasur merasa rindu pada ayah dan ibunya. "Sudah sebulan aku disini, apa boleh aku pergi menjenguk mereka. Sebaiknya aku tanya pada ayah Wijaya setelahnya aku minta izin pada mas Andra. "
"Assalamu'alaikum yah" Maira menelpon pak Wijaya dan mengungkapkan kerinduan nya pada pak Harun dan ibu Fatimah. Pak Wijaya pun menyarankan Maira untuk pulang ke kampung halaman tentu dengan meminta antar pada Andra.
"Apa mas Andra mau mengantar. Rasanya tidak mungkin. Mm sudahlah nanti aku minta izin dulu aja. " Maira yang baru selesai telpon pak Wijaya.
****Hari sabtu****
Andra yang berada di teras atas depan kamarnya sedang duduk memegangi laptop nya mengerjakan pekerjaan kantor. Maira menghampiri Andra dengan membawakan secangkir teh hangat untuk Andra, Lalu Maira pun meletakan cangkir di meja dekat laptop itu dan Maira duduk di kursi terpisah sebelah Andra.
"Mas aku kangen sama ayah dan ibu." Maira diam menunggu respon Andra tapi Andra tidak merespon sama sekali. "Kalo boleh aku ingin mengunjungi ayah dan ibu dan menginap di sana satu hari Jika mas mengizinkan . Dan jika tidak keberatan boleh aku minta mas antar aku untuk ke sana. Karena aku tidak mau sampai ayah dan ibu berpikir negatif tentang mas. " Maira masih belum dapat respon dari Andra.
Maira berdiri, tidak ada respon dari Andra berarti tidak ada izin darinya. Ketika Maira melangkahkan kakinya satu langkah Andra pun berbicara tanpa melihat ke arah maira, matanya tertuju pada pekerjaannya . "Jika kau ingin pergi pergi saja, Tapi jangan berharap aku akan mengantarmu. "
__ADS_1
Maira tersenyum senang karena Andra merespon nya walau dingin, Maira pun berbalik arah "Jadi mas izinkan terimakasih mas. Tapi apakah tidak apa-apa aku pulang sendiri maksudnya apa aku boleh pergi sendiri. " Maira takut salah bicara yang bisa membuat Andra lebih dingin.
"Aku sudah bilang jika mau pergi pergi saja. "