Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 26 : Pulang


__ADS_3

"Baiklah Terima kasih mas." Maira memutar tubuhnya masuk kamar sambil tersenyum.


Siangnya Maira turun kebawah, di teras halaman belakang Maira melihat mamah bella sedang duduk sendiri, Maira pun menghampiri nya.


"Boleh Maira duduk disini mah?" Maira yang datang dan bertanya pada mamah bella


"Ya tentu tidak ada yang melarang." dengan juteknya mamah bella menjawab sambil memegangi secangkir teh.


Maira tidak memasukan kedalam hati ketika mamah bella berkata jutek. Maira duduk di kursi samping mamah bella. Mereka duduk terhalang satu meja berbentuk bulat.


Susananya sangat canggung, tidak ada yang bicara dan memulai pembicaraan. Lalu Maira pun memberanikan diri.


"Mah sebenarnya Maira kesini mau meminta izin, Nanti sore Maira mau ke rumah ayah dan ibu untuk menginap satu hari saja. Apakah boleh? Maira juga sudah meminta izin pada mas Andra dan ayah. " Sambil melihat kearah mamah bella.


"Ya boleh, mamah tidak akan pernah melarang. Mamah kedalam dulu. " Menyimpan gelas dimeja dan Pergi meninggalkan Maira sendiri.


Maira menghela kan napasnya, "Terima kasih mah sudah mengizinkan" bicara pelan sendirian.


****


Sorenya Maira sudah siap siap akan berangkat dengan tas kecil yang dibawanya, Maira tidak membawa pakaian karena di rumah orang tuanya masih ada banyak pakaiannya di sana.


Di kamar Maira minta izin pada Andra. "Mas aku pergi dulu ya" Maira hendak mengulurkan tangan untuk mencium tangan Andra yang sedang duduk menatapi ponselnya.


"Ya" Jawab Andra dengan singkat tanpa melihat Maira dan Maira pun menarik kembali tangan nya.


sebenarnya dalam hati Maira berharap Andra mengantarnya sebagai seorang suami tapi bagaimana lagi Andra tidak perduli sama sekali bahkan Maira yang hendak cium tangan pun diabaikan nya.


Maira keluar kamar dan menghampiri pak Wijaya dan mamah bella diruang keluarga, pak wijaya sebenarnya belum lama pulang dari pertemuan pentingnya dan sekarang dia sedang menghabiskan waktu bersama istrinya sambil menonton TV.


"Ayah ibu maaf Maira mengganggu. " Maira menghampiri pak Wijaya yang duduk memeluk istrinya .


"eh mai, Sudah mau berangkat? " langsung menoleh pada Maira.


"iya yah" ucap Maira sambil tersenyum


pak Wijaya melihat Maira dia hanya sendiri. "Mana Andra?"


"Mas Andra.. " belum sempat Maira meneruskan bicaranya pak Wijaya langsung memanggil bi narsih.


"Bi... bibi.. " Dengan suara yang keras.


"iya tuan" Bi narsih menundukkan badan nya menghampiri pak wijaya.


"Cepat panggilkan Andra. suruh dia untuk turun kesini. "


"Baik tuan" Bi narsih langsung pergi ke kamar Andra.


"tok.. tok.. tok..

__ADS_1


Pintu dibuka kan bi narsih sebagian. " Permisi den, Tuan menyuruh den untuk segera turun ke bawah. "


Andra yang masih memegang ponselnya sembari duduk di kasur melihat ke arah bi narsih "mau apa bi? "


"tidak tau den, Tapi den harus segera turun."


"Ya bi nanti saya ke sana. " Dengan ekspresi yang sangat terpaksa.


"Baik den bibi permisi dulu. " bi narsih menutup kembali pintu.


"Sudah bi, apa Andra mau kesini? " Tanya pak Wijaya ketika bi narsih kembali


"Ya tuan, sebentar lagi."


"Ya sudah bibi boleh kembali pada pekerjaan bibi"


"Kalo gitu saya permisi tuan" Bibi berpamitan dan pergi membereskan rumah.


"ada apa, apa ayah akan memarahi mas Andra, Semoga saja tidak ini akan menjadi salahku jika benar. " Dalam hati Maira yang sedikit merasa tegang.


Andra keluar dari kamar, dia menuruni tangga langkah demi langkah dengan sangat santai sampai dia tiba didepan mereka.


Ayah dan mamah bella yang sedari tadi melihat kearahnya, dan Maira yang menghadap ke arah pak Wijaya membelakangi Andra, Maira pun mengatur posisinya agar tidak membelakangi sisi keduanya orang tua dan suaminya.


Pak Wijaya menatap Andra dengan tajam. "Apa ini.! Kenapa kamu tidak mengantarkan Maira. " dengan sedikit membentak


"Tentu saja, dia istrimu. Apa kamu tidak merasa punya malu ketika istrimu pulang ke rumah mertuamu sendirian. Bagaimana kalo Maira kenapa-kenapa dijalan.! Mana tanggung jawab mu" Semakin membentak.


"Dia tidak keberatan pulang sendiri. Dan masalah dijalan dia bisa diantarkan oleh supir agar aman. " Masih dengan santai Andra berbicara.


hingga membuat pak Wijaya semakin geram.


"Andra...! cepat kamu ganti baju dan antar kan maira, tidak ada alasan atau apapun."


"Ayah berusaha memaksaku.! "


"ya, atau ayah. "


"Sudah sudah cukup Andra sudah mengerti. " Andra tau pasti ayahnya akan mengancamnya kembali.


Andra pun dengan terpaksa mengantarkan Maira.


"Cepat masuk. " Andra yang membuka pintu mobil dan masuk tanpa membukakan pintu untuk Maira.


Maira masuk kedalam mobil di depan di samping Andra. Maira merasa tidak enak karena Andra harus terpaksa mengantarnya mengunjungi ibunya.


"Mas aku minta maaf. Karena ayah mas harus antar kan aku. " Menatap Andra dengan perasaan tidak enak.


"Sudah diam jangan banyak bicara. " Andra langsung menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Maira yang tadinya menatap Andra langsung memalingkan wajahnya ke kaca samping mobil, dia lebih memilih melihat jalanan di samping.


Di perjalanan hingga sampai keduanya membisu tidak berbicara sama sekali. Suasananya sangat canggung.


Maira turun dari mobil dan disambut ayah ibunya di depan rumah. Maira dan suaminya dibelakang melewati beberapa rumah.


"Ayah ibu" Maira memeluk mereka "Maira kangen banget sama kalian." sambil menangis terisak isak.


Sebenarnya Maira menangis bukan cuma karena rindu tapi juga karena perasaan nya yang sering sakit tapi tak bisa diungkapkan.


"Kenapa menangis nak" Ucap kedua orang tuanya.


"Tidak apa apa Maira hanya sangat rindu dengan kalian" Sembari tersenyum.


"Kami juga rindu sama kamu mai. Tapi mau gimana lagi kamu sudah punya suami. " mereka membalas senyuman Maira.


Andra menghampiri mereka dan berpamitan untuk pulang.


"Assalamu'alaikum, pak bu. " Andra bersalaman dengan tutur kata yang lembut jauh dari Andra yang biasanya.


Maira hanya menatap Andra.


"Oh ya Andra mau langsung pulang, Andra tidak bisa menginap seperti Maira karena masih banyak pekerjaan. "


"Kamu serius tidak mau menginap dra?" Tanya pak harun.


"Iya maaf yah Andra belum bisa menginap, karena masih banyak pekerjaan di rumah. "


padahal kenyataan nya pekerjaan Andra sudah selesai semua, itu hanya alasan Andra agar dia bisa cepat pulang.


"Ya sudah kalo gitu. Kamu hati hati dijalan ya. "


"iya" Andra tersenyum manis dan hendak bersalaman.


"Oh ya, Nanti Maira dijemput lagi kan. " Pak harun bertanya kembali.


Andra yang kaget dengan pertanyaan itu menjawab dengan kaku.


"Ya tentu"


Andra bersalaman pada pak harun dan ibu Fatimah, Hingga Maira mengulurkan tangan nya untuk cium tangan Andra, dengan terpaksa Andra pun menyalaminya.


Andra sudah pergi ke mobil dan pergi , rumah Maira hanya terhalang beberapa rumah jalanan masih bisa dilihat dari rumah Maira.


"Ibu kagum sama suami mu mai, selain tampan dia juga sangan baik dan sopan" ibu Fatimah yang masih menatap kearah perginya Andra


"iya bu"


Dalam hati Maira "Seandainya mas bisa bersikap seperti itu pada ku dan kedua orang tua mas pasti kami akan merasa bahagia"

__ADS_1


__ADS_2