Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 47 : Hadiah untuk maira


__ADS_3

Andra pulang ke rumah sakit, didalam kamar Maira ada ibu Fatimah dan pak Harun. "Ayah dan ibu pulang saja, biar Maira aku yang jaga. "


Andra menyuruh mereka untuk pulang dan beristirahat, dia tidak memikirkan dirinya, padahal dia baru pulang kerja.


Pak Harun dan ibu Fatimah pamit pulang dan menitipkan Maira pada Andra.


Andra benar-benar menjaga Maira dengan tulus, hingga malam tiba tangan Maira bergerak tapi hanya sebentar.


Andra yang melihat begitu senang, "Alhamdulillah" dia pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Maira, dokter memberikan kabar baik untuk nya bahwa Maira akan cepat sadar.


Andra memegang erat tangan Maira berharap Maira benar-benar sadar.


sampai dia tertidur di samping Maira memegangi tangan nya.


Tengah malam Maira mulai membukakan matanya perlahan, pandangan nya masih kabur Maira mengedipkan matanya sampai pandangan nya jelas, Maira melihat kearah tangan nya dia melihat ada sesosok pria yang menemaninya, Maira begitu senang melihat itu dia tersenyum bahagia suaminya berada di samping menemani dirinya memegang tangannya dengan erat.


Maira cukup lama memandangi Andra yang tertidur itu, karena sudah terlalu malam Maira memejamkan matanya kembali untuk tidur.


Pada saat Maira sudah terlelap tertidur tepat jam 04.00 pagi Andra bangun bergantian kembali dengan kedua orang tua Maira, Sebelum pergi Andra memberikan kabar baik pada mereka.


Melihat perlakuan Andra pada Maira pak Harun mulai memberikan kesempatan kedua untuk Andra menjadi suami maira dan berharap Andra bisa membahagiakan Maira.


Andra pergi bekerja, di sana dia berpapasan dengan mamah bella namun Andra tidak memperdulikan nya, Andra masih bersikap seperti biasa, sikap baiknya hanya berubah pada Maira tidak untuk mamah bella.


Setelah satu jam Andra pergi dari rumah sakit Maira kembali mengerakkan tangan nya membuat semua orang yang ada di sana melihat kearah Maira yang terbaring.


Ternyata Maira benar-benar bangun, Maira melihat semua orang yang ada di sekeliling nya, Maira tidak melihat andra di sana Maira berpikir 'apa semalam hanya mimpi'.


"Alhamdulillah sayang kamu udah sadar" ucap mamah bella yang senang.


Ibu Fatimah menangis dan memeluk Maira dia sangat senang bahwa putrinya telah sadar. Pak Harun juga mulai meneteskan air matanya karena terharu dia langsung mengambil ponselnya "Andra pasti senang mendengar kabar ini, semalaman dia menunggu Maira sadar" ucapan pak Harun membuat Maira senang dan yakin bahwa yang dilihatnya semalam bukanlah mimpi.


Andra yang baru selesai shalat subuh mendoakan Maira, dia mendengar ponselnya berdering perlahan dia berjalan bangun setelah selesai shalat. Ternyata dia mendapatkan kabar baik dari pak Harun bahwa Maira sudah sadar.


Andra yang tadinya akan kerja, kembali ke rumah sakit untuk melihat maira. Namun dalam perjalanan menuju rumah sakit jalan nya macet membuat Andra lama untuk sampai rumah sakit.


"Huh kenapa harus macet gini sih"


Andra melirik kanan dan kiri, tak sengaja Andra melihat toko bunga di sana.


"Bukankah wanita suka bunga." Andra berpikir membawakan bunga untuk Maira, "Ya suka gak suka aku akan membawakan nya sebagai tanda permintaan maaf. "

__ADS_1


Andra berhenti sejenak, turun dari mobil untuk membeli bunga.


tid. tidid..


Andra berlari membawa bunga yang telah ia beli, mobil dibelakang terus membunyikan klakson, dia segera masuk ke mobil menutup pintu dengan cepat dan menyalakan mesin mobil. "huh"


Sesampainya di depan kamar Maira, Andra yang hendak masuk tak sengaja mendengar percakapan Maira bersama ibunya.


"bu, apa saat maira dibawa kesini mas Andra tidak apa-apa? "


Ibu Fatimah mengerutkan keningnya.


"Maksud Maira apa mas Andra baik-baik saja? apa dia tidak terluka..! "


Andra terdiam ternyata Maira masih memikirkan dirinya padahal saat ini Maira baru siuman karena menyelamatkan nya.


"Suamimu baik-baik saja sayang" Sambil tersenyum melihat putrinya. "Kamu sayang padanya? " pertanyaan itu dilontarkan oleh bu Fatimah secara tiba-tiba. Maira terdiam kaget dengan apa yang ibunya tanyakan "eu".


" iya makanya kamu selamatkan dia kan? "


belum sempat Maira menjawab Andra masuk ke kamar.


"Maaf Bu tadi diperjalanan macet. " Andra mencium tangan bu Fatimah.


Dikamar itu hanya ada bu Fatimah, mamah bella izin untuk pulang sejenak pak wijaya sudah berangkat ke kantor setelah menjenguk maira sedangkan pak Harun pergi untuk sholat duha di mesjid.


Andra melangkah menghampiri Maira, Maira mengangkat tangannya untuk mencium tangan suaminya, Andra melihat tangan itu dengan bingung lalu dia baru sadar kalo Maira ingin bersalaman dengan nya sebagai istrinya.


Andra memberikan tangan nya untuk Maira cium, ini pertama kalinya setelah lama mereka menjalani pernikahan baru kali ini Maira bisa cium tangan Andra.


Dalam hati Maira dia begitu bahagia, Maira juga tidak sekedar mencium tangan andra tapi juga dengan doa terbaik untuk suami dalam hatinya.


Andra sangat gugup,Sampai lupa memberikan bunga pada maira, "Ah ya aku bawa ini untuk mu"


Maira menerima bunga itu dengan pipi merah merona dan tentu dengan senyuman bahagia dibalik cadarnya. " Terima kasih mas".


Bu Fatimah tersenyum melihat mereka berdua, "duh sweet nya, yasudah ibu tinggal keluar ya, biar kalian bisa berduaan" Sambil menggerakkan jarinya, membuat Andra dan Maira merasa malu.


"Eh tunggu bu, biar Andra saja yang keluar. Andra cuma mau ngasih Maira bunga..! "


"Eh kenapa? memangnya tidak ingin kangen kangenan"

__ADS_1


Andra hanya tersenyum "Sekalian Andra mau telpon ke kantor memberi kabar untuk tidak masuk hari ini"


"Oh ya sudah kalo gitu"


Andra keluar dari kamar menutup pintu pelan, jantungnya berdebar seperti orang yang melakukan kesalahan terus dipergoki. "Kenapa aku sampai berdebar seperti ini. ah sudahlah" Andra menelpon ke sekretaris nya memberitahu bahwa dia cuti lagi hari ini.


Pak Harun datang dan bersalaman dengan Andra.


"Ngapain disini dra? kenapa gak masuk"


"Andra lagi hubungi kantor yah"


"Oh. Sudah telpon nya? "


"Sudah yah. Kalo gitu ayo masuk"


Mereka berdua pun masuk kedalam.


"Mai gimana udah enakan badannya?"


"Alhamdulillah yah"


"Ayah sama ibu mau izin pulang dulu ya, Disini juga kan ada suamimu" memegang pundak Andra "Dra ayah titip Maira yah"


Andra hanya menganggukkan kepalanya. Pak Harun dan ibu Fatimah pamit untuk pulang.


Sebenarnya pak Harun pamit pulang atas permintaan istrinya agar Maira dan Andra bisa habiskan waktu bersama dan mulai terbuka satu sama lain (pendekatan).


Kini tinggallah mereka berdua dikamar, suasana nya jadi canggung.


"Apa kamu butuh sesuatu? "


"tidak mas"


"Yasudah kalo kamu butuh sesuatu bilang" Andra duduk di sofa yang berada dikamar itu, karena Maira dirawat dikamar dengan pasilitas yang bagus.


Mereka berdua tidak berbicara sama sekali.


Maira mau mengambil ponsel di meja, dia sedikit sulit untuk menggapainya hingga Maira hampir terjatuh, Untung saja ada Andra yang sigap menangkap dan memeluk Maira.


"Sudah ku bilang jika butuh sesuatu suruh aku" Membenarkan duduk maira dan mengambilkan ponselnya menyerahkan pada maira, "Maaf aku hanya khawatir jika kamu sampai jatuh. "

__ADS_1


__ADS_2