
Hari itu dokter akan melakukan operasi pada maira semua peralatan sudah disiapkan begitupun dokter dan suster yang membantu Pelaksanaan operasi sudah siap dengan tubuh memakai pakaian hijau, Menandakan bahwa operasi siap dilakukan.
Maira membuka matanya perlahan, pandangan nya buram dia mengedip-ngedipkan matanya, sekilas maira melihat cahaya lampu putih buram entah dari mana arahnya.
Maira yang menghadap samping merasakan semua tubuhnya tidak bisa di gerakan, dia merasa tubuhnya begitu lemas dan semakin pusing. Maira memejamkan matanya kembali dan tak sadarkan diri.
Degdeg. degdeg....
Dokter yang mengoperasikan Maira berusaha dengan sangat keras agar operasi ini berhasil. Kepala Maira terus mengeluarkan darah akibat pukulan batu tajam yang cukup keras mengenai bagian belakang kepalanya.
Suasana diluar sangat tegang, Orang-orang yang menunggu begitu khawatir dan cemas.
Ibu Fatimah menangis di pangkuan mamah bella, pak wijaya duduk cemas di samping mamah bella dan pak Harun mondar-mandir menunggu keluarnya dokter dari ruangan.
Semuanya berharap agar operasi ini berhasil agar Maira pulih kembali.
Sementara Andra, dia masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Andra mengendarai mobilnya dengan laju yang cepat agar dia bisa cepat sampai di rumah sakit untuk mengetahui keadaan Maira.
Andra turun dari mobilnya dengan wajah tampan dan tubuh yang gagahnya, pesonanya membuat semua orang yang ada di sekitar ingin melirik kearahnya walau raut wajah Andra saat ini sedang cemas.
Andra berjalan menuju arah ruangan Maira, Andra melihat ada mertua dan orang tuanya yang masih menunggu di sana.
Andra menghampiri ayah dan keluarga Maira yang masih menunggu kabar dari dokter. Mereka melirik ke arah Andra terutama pak Harun, yang awalnya mondar-mandir menjadi berdiri terdiam melihat Andra yang berjalan ke arahnya dan semakin mendekatinya.
Semua menatap Andra. Pak Harun yang masih bertanya tanya dalam hati apa sebenarnya yang telah terjadi pada putrinya sampai Maira dibawa ke rumah sakit.
Andra berdiri tepat dihadapan pak Harun, pak Harun bersiap siaga ingin menampar andra, hatinya menggebu-gebuk mengingat Andra telah mencampakkan maira itulah yang dipikirkan nya.
Tangan nya pak Harun bersiap untuk menampar, namun bu fatimah tiba-tiba berdiri disampingnya menggenggam erat tangan yang penuh amarah itu, pak Harun berusaha menenangkan hati dan pikiran nya dia menarik nafas perlahan dan mulai bertanya pada Andra.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Maira? jawab pertanyaan ayah dra? "
"Maafkan Andra yah, Andra telah meninggalkan Maira dijalan pada saat Andra kembali Maira sedang diganggu dua pria, Andra sudah berusaha menyelamatkan Maira tapi Maira malah menyelamatkan Andra dari pukulan pria itu, sampai dia terluka"
"Kenapa kamu meninggalkan Maira dijalan?"
__ADS_1
"Andra sedang mabuk, Maira melarangnya" Ucap jujur Andra pada pak Harun.
Pak wijaya langsung berdiri dari duduknya, pak Harun langsung terdiam mendengar pengakuan Andra alasan menurunkan Maira dijalan, Tangan ibu Fatimah seketika melepas perlahan pegangan nya pada tangan pak Harun, dia tidak percaya apa yang diucapkan Andra.
Kini pak Harun memiliki kesempatan untuk memukul Andra setelah istrinya melepaskan genggaman nya.
PLAK..... Tamparan keras kedua yang diterima Andra. pak Harun menatap kecewa padanya.
"Ayah kecewa pada mu dra, ayah begitu percaya padamu hingga ayah mau menikahkan Maira dengan mu, walau ayah tau kamu seorang pemabuk. Ayah pikir kamu bisa berubah setelah menikah dan bisa membahagiakan Maira putriku. Tapi kenyataan tidak seperti yang ayah pikirkan."
Andra hanya terdiam menyadari bahwa dirinya memang salah, dia hanya bisa meminta maaf.
"Sekali lagi Andra minta maaf yah.. "
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi memberitahukan bahwa operasinya telah berhasil.
"alhamdulillah" semua mengucapkan rasa syukur.
Lalu mereka menghampiri Maira yang sudah pindah ruangan. Sebelum pergi pak wijaya mengatakan sesuatu pada Andra.
Andra hanya menarik nafasnya dan pergi menuturkan langkah mereka.
Dua orang masuk untuk melihat Maira begitu bergiliran hingga waktunya Andra untuk melihat keadaan Maira.
Andra masuk kamar dimana Maira berada, dia duduk di kursi disebelah maira yang terbaring tidak sadarkan diri, hari itu pertama kalinya Andra melihat wajah Maira.
Maira begitu cantik namun Andra tidak memikirkan sampai kesitu dia masih memikirkan kondisi Maira.
"Mai, aku berharap kamu mau memaafkan atas semua kesalahan ku. Ku mohon cepatlah pulih. " Andra memegang tangan Maira mengingat kembali setiap apa yang dilakukan Maira dan perlakuan nya terhadap Maira.
Satu hari berlalu Maira masih belum sadar. Maira dijaga bergantian oleh ibu dan ayahnya.
Hari kedua kevin dan rekan kerja lainya menjenguk maira, hingga hari ketiga Maira masih belum sadarkan diri, Saat itu Andra pergi untuk kerja karena pekerjaan nya, Andra menitipkan Maira pada kedua orang tua Maira di sana juga ada mamah bella.
Andra yang sedang bekerja tidak fokus dengan pekerjaan nya walau begitu dia tetap profesional.
__ADS_1
Sore itu Andra hendak pulang lebih dulu, untuk melihat keadaan Maira. Tiba-tiba seorang sekretaris menelpon ada seorang wanita ingin bertemu dengan nya, Andra kaget ketika mendengar nama andini, terpikir dalam benaknya 'mungkin ini saatnya aku memutuskan hubungan ini.
"Suruh dia masuk..! " ucap Andra pada sekretaris.
tok.tok.tok. Andini diantarkan sekretasis keruangan Andra.
Andini tiba-tiba berjalan dan memeluk Andra "Sayang aku kangen banget sama kamu."
"Lepas....!"
Andra tidak membalas pelukan Andini dia malah melepas pelukan itu.
"Kamu kenapa? "
"Mau apa kamu datang kesini? "
"Aku hanya ingin bertemu kamu sayang" Andini hendak merangkul tangan Andra kembali namun Andra menepisnya "Lagian aku kangen banget sama kamu. kamu kemana sih aku hubungi kamu tidak dijawab terus apa sesibuk itu kamu kerja...! "
Andra menghela nafas "Sudah cukup kita akhiri hubungan ini. " Ucap Andra dengan tegas
"Apa.. apa kamu serius..!. kenapa? " Andini kaget dengan apa yang dikatakan Andra karena setahunya Andra sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
"Ya aku serius.. "
"ini gak mungkinkan, kamu bercanda kan...!!"
"Maaf aku harus segera pulang.." Andra mengambil ponselnya lalu pergi meninggalkan Andini.
"Apa alasannya kamu putusin aku. Apa kamu sudah mencintai dia... " Teriak Andini pada Andra yang berjalan ingin meninggalkan nya.
Andra berhenti dari langkahnya, dia memutar balikan tubuhnya menghadap ke arah Andini. "Mau aku mencintainya atau tidak itu bukan urusan mu,. Yang jelas satu hal yang harus kamu tau dia itu wanita baik- baik. "
Perkataan Andra itu sebenarnya untuk menyindir Andini, wanita yang diam-diam selalu berselingkuh darinya padahal Andra begitu mencintainya hingga apa pun yang Andini inginkan dia berikan tapi balasan Andini padanya membuatnya kecewa.
Bukan cuma itu saja Andra juga menyesal atas apa yang dia lakukan pada Maira selama ini, Andra ingin memperbaiki semuanya.
__ADS_1
Andini terdiam mendengar apa yang diucapkan Andra, dan Andra benar-benar meninggalkan Andini sendirian di sana.