Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 45 : Menyesal


__ADS_3

Andra tiba di rumah sakit, dia segera turun dari mobil dan menggendong Maira, dia berlari masuk sambil berteriak meminta tolong pada perawat di sana, Perawat menghampiri Andra dengan membawakan Brankar dorong, Terlihat sekali wajah Andra dengan mata memerah karena efek mabuk juga sangat panik saat Maira hendak dibawa keruangan untuk diperiksa dokter .


Dokter membawa Maira masuk ruangan untuk diperiksa, dan Andra tidak diperbolehkan masuk.


"Ah" teriak Andra sambil memukul-mukul kepalanya merasa bersalah telah meninggalkan Maira dijalan sendirian,


Andra menjatuhkan dirinya duduk di kursi tunggu, Dia menelpon ayahnya untuk segera ke rumah sakit dan Andra menunggu kedatangan nya. dia mengepalkan kedua tangan nya dengan kaki yang terus ia gerak-gerakan sambil berharap Maira baik-baik saja.


Tak lama kemudian pak Wijaya dan mamah bella datang masih dengan gaun dan jas pestanya. Pak Wijaya yang berjalan cepat dari kejauhan dengan tatapan penuh kemarahan menghampiri Andra, Seperti singa ingin memakan mangsanya.


Andra berdiri dari duduknya ketika melihat Kedatangan ayahnya, Dia hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada pak Wijaya. Namun Begitu pak Wijaya dihadapan nya dia tidak ingin mendengar apapun dari Andra karena dia sudah benar-benar sangat kecewa pada Andra.


"Plak" Tamparan keras di pipi andra membuat wajah Andra menunduk kesamping "Apa yang kamu lakukan pada Maira.! Dasar anak keras kepala, Sudah ku bilang seharusnya kamu beruntung memiliki Maira dan kamu malah menyakitinya" Ucap nya dengan tatapan yang tajam serta urat-urat leher dan tangan yang mulai terlihat, Jelas sekali bahwa tatapan itu menunjukan bahwa pak Wijaya sangat marah dengan Andra.


"Mas sudah hentikan mas.. " Ucap mamah bella menahan suaminya dengan menarik-narik tubuhnya... " Sabar mas. Kita tunggu dokter agar lebih tau keadaan maira".Pak Wijaya masih menatap kecewa pada Andra kerena tidak bisa menjaga Maira, dia berusaha menahan emosinya karena istrinya dan keadaanya yang berada di rumah sakit "Cepat pulang dan bersihkan wajahmu" Ucapnya melihat keadaan Andra yang masih terlihat efek dari minum mabuk itu.


Pak Wijaya memutar tubuhnya membelakangi Andra dan menghubungi pak Harun untuk memberitahu keadaan maira. Pak Wijaya menatap Andra kembali, Andra masih berdiri dihadapan nya, sepertinya Andra enggan pulang karena masih khawatir dengan keadaan maira. "Mau apa lagi, cepat pulang bukan nya kamu tidak perduli dengan maira..!! " masih dengan nada kasar. " Mas sudah"


Dokter keluar ruangan dan menghampiri pak wijaya yang ada di luar ruangan, Andra yang berjalan untuk pulan berhenti sejenak mendengar jika Maira harus dioperasi kecil di bagian kepala, dan keadaanya saat ini sangat kritis karena terlalu banyak mengeluarkan darah, pak Wijaya merespon dengan sangat cepat agar dokter melakukan yang terbaik untuk Maira walau dengan cara operasi.


Andra pergi setelah mendengar semuanya, tubuhnya merasa sangat lemas mendengar semua itu, tapi apa lagi, itu semua sudah terjadi dan hanya menjadi penyesalan bagi nya karena telah menurunkan dan meninggalkan Maira di jalanan sepi.

__ADS_1


Dia cepat pergi untuk pulang dan mengganti kemeja putih dengan bercak merah di lengan itu, Perasaan Andra saat itu bercampur aduk antara khawatir, marah pada dirinya sendiri, juga menyesal pada kejadian yang menimpa Maira.


pak wijaya merasa bersalah atas apa yang terjadi karena dia orang yang berusaha menjodohkan Maira dengan Andra seorang pria pemabuk yang sama sekali tidak ingin dijodohkan sampai pernikahan ini terjadi dan membuat maira tidak bahagia.


Pak Harun kaget mendengarnya, dia langsung bergegas pergi ke rumah sakit menyusul pak Wijaya di sana, terlihat sekali ekspresi wajah yang begitu khawatir apa lagi ibu Fatimah seorang ibu yang begitu menyayangi putrinya.


Diposisi lain Andra baru tiba di rumah setelah beberapa saat mobil yang membawa pak Harun ke rumah sakit pergi meninggalkan rumah keluarga Wijaya itu.


Andra masuk dengan perasaan aneh seperti pada saat ibunya meninggal. marah, kecewa, menyesal dan rasa tidak ingin kehilangan muncul dalam hatinya.. Andra pun bingung dengan perasaan nya, apakah dia baru sadar bahwa Maira lebih berharga dari Andini kekasihnya yang diam-diam berselingkuh darinya.


Andra terus berjalan setengah sempoyongan dalam kesedihan, Bibi datang menyapa dan menanyakan keadaan non maira, setelah tau dari pak Harun Maira berada di rumah sakit.


Jelas terlihat ke khawatiran bi narsih pada Maira, seperti pada cucu nya sendiri, bahkan bi narsih meneteskan air mata ketika melihat noda darah pada lengan baju Andra lalu bertanya.


"Aku tidak tau bi" Andra menjatuhkan dirinya dan duduk di tangga "Aku benar-benar telah berbuat salah, membuatnya terluka. Apa yang harus ku lakukan bi"


Sikap Andra saat ini tidak seperti Andra yang biasanya yang begitu dingin, seakan akan Andra benar-benar menyesali semuanya.


Bi narsih yang melihat duduk disampingnya dan memeluk Andra, bi narsih memang dekat dengan nya, karena dia orang yang telah merawat Andra dari kecil.


Andra menangis di pangkuan nya mengingatkan kembali kejadian waktu lalu saat Andra sedih kehilangan ibunya.

__ADS_1


Disitulah hanya bi narsih yang bisa menenangkan nya.


"Sudah den jangan sedih lagi, bibi yakin non Maira pasti kuat. "


Mengelus kepala Andra untuk menguatkan nya, Bi narsih menyarankan Andra untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dulu dan kembali pada Maira, bi narsih yakin bahwa non Maira membutuhkan nya saat ini, karena Andra suaminya.


Pak Harun tiba di rumah sakit bersama istrinya, wajahnya begitu tegang menanyakan Maira, dan tidak lupa menanyakan keberadaan Andra dengan raut wajah yang berbeda.


"Bi bagaimana keadaan maira? apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya tiba-tiba pak Harun pada wijaya.


Ketika pak wijaya melihat Harun yang sudah dihadapan nya, dia hendak bersujud padanya, namun itu semua terburu di hentikan oleh pak Harun dengan memegang, kedua pundaknya lalu menyuruhnya berdiri kembali.


"Apa yang kamu lakukan berdiri...!"


"Saya meminta maaf padamu run, Sebenarnya Andra tidak pernah menerima maira, semenjak perjodohan hingga pernikahan terjadi, Saya telah memaksanya untuk menerima perjodohan itu. aku tidak tau apa yang Andra lakukan pada putrimu selama ini, yang aku tau hanya putrimu yang selalu mempertahankan rumah tangganya. Saya benar-benar minta maaf run ini terjadi karena kesalahan saya."


Pak Harun menatap pak wijaya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, Pantas saja Andra tidak pernah makan bersama saat dia dan istrinya berada di rumah wijaya, Harun pikir benar-benar sedang bertengkar dengan Andra makan nya Andra tidak pernah makan bersama.


Tapi kenyataan itu begitu pahit, Selama ini sudah 8 bulan pernikahan maira diperlakukan seperti itu, itu membuatnya merasa sakit hati. Tapi pak Harun tidak menyalahkan pak wijaya teman nya, karena itu bukan sepenuhnya salah wijaya.


"Bi aku benar-benar kaget mendengar apa yang kamu ucapkan, tapi aku tidak akan pernah menyalahkan mu. Saat ini aku benar-benar khawatir pada maira putriku. Oh ya dimana Andra? Aku ingin bertanya langsung padanya apa yang sebenarnya terjadi, mengapa maira bisa sampai dibawa kesini.! "

__ADS_1


__ADS_2