
Andra bangun tepat waktunya untuk minum obat, ketika Andra membukakan mata dimeja samping kasur sudah ada bubur serta air hangat untuk nya.
Andra memposisikan tubuhnya untuk duduk.
Andra tidak memakan nya bahkan menyentuhnya karena Andra tau persis itu bukan buatan bi narsih tercium dari bau bubur itu.
"bi... bibi.. "Teriak Andra dengan sangat keras.
" Kemana sih bi narsih" gerutu Andra.
Datang lah Maira ke kamar "Ada apa mas? mas sudah bangun." Maira menghampiri Andra.
"Aku tidak memanggil mu." ucap ketus Andra
"Iya aku tau mas, Tapi saat ini bi narsih sedang tidak ada. " jawab Maira dengan lembut dan duduk di samping Andra.
"Kemana? "
"aku tidak tau mas,"
"Ah sudahlah minggir," Andra berusaha turun sendiri dari kasur dan menyuruh Maira menyingkir sampai Maira berdiri.
"Sini mas biar aku bantu" Mengulurkan tangan untuk membantu
"Gak usah" Menepis tangan Maira
Andra yang berdiri berpegangan pada meja dan melepas nya, set begitu Andra hendak jatuh Maira dengan sigap menggapainya.
"Mas sini biar aku bantu, mas mau kemana? mas belum kuat untuk berdiri. " Ucap Maira yang peduli padanya.
Andra menahan ego nya karena dia sudah tidak tahan kebelet. Andra pun dibantu Maira berjalan ke kamar mandi.
"Sudah pergi sana" Begitu Andra sampai di kamar mandi.
Maira pergi kembali ke kasur, di kasur Maira melihat ponsel Andra berdering.
tut tut tut...
"Andini, apa aku tidak salah lihat." Maira kaget saat dia melihat nama panggilan di ponsel Andra itu.
Panggilan itu pun berhenti hingga munculah beberapa pesan dari Andini. Maira melihatnya tapi tanpa menyentuh ponsel Andra karena itu fripasi suaminya. Selintas Maira melihat pesan itu.
"Sayang kamu dimana? "
"Kamu kenapa? "
"apa kamu sakit"
Betapa sangat terkejut Maira saat melihat isi pesan yang sekilas ia baca.
__ADS_1
"Sayang, siapa sebenarnya dia"
brug.. Suara Andra yang hampir terjatuh menabrak pintu kamar mandi.
"Mas..!! " Maira pun menghampiri Andra dan membantunya hingga duduk kembali di kasur.
Maira mengangkat kedua kaki Andra ke atas kasur.
"Mas buburnya masih hangat, ini juga saat nya mas minum obat mas harus makan" Ucap Maira dengan tulus.
"Tidak aku tidak mau. dimana bi narsih" Andra masih menanyakan keberadaan bi narsih.
"Sudah aku bilang bi narsih tidak ada, dia sedang pergi ke pasar. " Menegaskan pada Andra.
"Bagaimana mungkin dia tidak pernah pergi ke pasar siang-siang begini" Ucap ketus Andra pada Maira
"Kalo mas tidak percaya panggil saja, tidak akan ada yang saut."
"Bi, bibi. bibi" semakin keras Andra memanggil dan tidak ada terdengar respon apapun.
"Sudah, Sekarang mas harus makan dulu suka atau tidak suka, Kalo mas tidak suka keberadaan ku, mas anggap aja aku tidak ada" Memberikan suapan pada andra.
"Atau mas bisa anggap aku sebagai bi narsih" Ucap Maira sambil memegang sendok berisi bubur
"Tau apa kamu soal bi narsih, sampai kamu berani menyandingkan dirimu dengan dia. " Andra yang masih bersikap dingin
"Bi narsih adalah orang yang paling dekat dengan mas bukan. Orang yang selalu ada untuk mas dari mas masih kecil. Aku tau aku dan bi narsih berbeda aku hanyalah orang baru bagi mas, Orang yang tak diharapkan keberadaan nya. Maka dari itu ubah pandangan mas lihat aku sebagai bi narsih bukan istri mas agar mas berselera makan. " Maira dengan penuh ketulusan dan dengan senyumnya yang ikhlas.
"Aaa.. " Maira menyuapi Andra.
"Ternyata bubur buatannya enak juga" ucap Andra dalam hati ketika memakan bubur itu.
"Gimana mas enak tidak, maaf ya kalo tidak enak soalnya ini pertama kalinya aku bikin bubur. Pada saat mas tidur aku belajar membuatnya dari YouTube dan mempraktekan nya. " Masih dengan senyuman.
Andra hanya terdiam tidak merespon sampai bubur itu habis dimakan nya. Andra baru sadar kenapa dia mau di suapi maira padahal tubuhnya hanya lemas, tangan nya masih bisa dipakai makan sendiri.
"Nih mas minum nya" Maira menyodorkan minum ke mulut Andra.
"Sudah aku bisa sendiri" ucap Andra yang sedikit salah tingkah
Maira pun menyerahkan gelas itu dan membukakan obat untuk diserahkan pada Andra. Maira memperhatikan sampai Andra meminumnya "Alhamdulillah insya Allah mas segera sembuh" Maira yang masih tersenyum mengambil gelas yang hendak Andra simpan dimeja dan Maira pergi keluar membawa mangkuk kotor bekas bubur itu.
Andra melihat istrinya yang berjalan keluar "Astagfirullah untuk apa aku memperhatikan nya" Mengalihkan pandangan nya " Sebenarnya bibi kemana kenapa dia tidak muncul-muncul aku tau betul dia tidak mungkin pergi siang siang begini terkecuali hanya membuang sampah ke depan rumah dan tidak mungkin selama ini. "
...Sebenarnya bi narsih tidak muncul atas perintah pak Wijaya agar Maira bisa menghabiskan waktu bersama Andra. Dan agar Andra mau memberikan kesempatan pada Maira, menerima Maira sebagai istrinya. Maira juga mengetahui itu, Maira menutupi itu dan berbohong bi narsih pergi atas perintah pak Wijaya, agar rencana pak Wijaya membuat mereka dekat berhasil....
Maira yang menyimpan dan mencuci mangkuk di dapur terdiam mengingat panggilan dan isi pesan Andra tadi.
"Sebenarnya siapa Andini itu, waktu itu mas Andra mabuk dan mengigau namanya dan tadi pesan kenapa dia memanggil mas Andra dengan sayang. Apa mereka berhubungan..! aku harus mencari tahu sendiri Sebelum aku suudzon(berburuk sangka) "
__ADS_1
"Gimana non berhasil" Maira yang dikagetkan dengan kedatangan bi narsih.
Maira melanjutkan membilas mangkuk dan menyimpan nya. Maira pun berbalik arah ke bi narsih "Berhasil apa nya sih bi."
"Iya berhasil, apa den Andra sudah luluh" Bi narsih sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
"Ah bibi belum juga satu hari, bibi kan tau sendiri mas Andra itu orangnya keras dan dingin banget, rasanya ketika aku berusaha melelehkan nya dia kembali mengeras seperti es."
"Semangat non bibi akan terus dukung non. " menunjukan kedua jari jempolnya
"Iya bi, Maira akan terus berusaha dan berdoa juga, insya Allah kalo kita lakukan dengan usaha serta doa Allah mudahkan jalan kita. " Maira tersenyum pada bi narsih
"iya non amin"
Maira terdiam dalam lamunan nya.
"Apa aku tanyakan masalah Andini pada bi narsih. ah tapi tidak aku tidak mau melibatkan nya. "
Bibi melambai lambaikan tangan nya, "Non non"
"ah iya bi"
"Non kenapa"
"Tidak apa apa bi. Ya sudah Maira pergi dulu ya, Maira takut mas Andra membutuhkan sesuatu." Maira pun pergi ke kamar meninggal kan bi narsih.
"Kasian non Maira. Tapi bibi salut dengan semangat nya, dia terus berusaha membuat den Andra menerimanya. Non bibi takut sekali kalo sampai non menyerah apa lagi ketika non tau kalo den Andra masih memiliki kekasih mungkin perasaan non akan hancur. " Bibi menangis melihat Maira dari kejauhan.
****
Maira yang masuk kamar melihat suaminya yang setengah telanjang dan berusaha berdiri kembali untuk mengambil pakaian ganti, Karena dia sudah satu hari tidak ganti baju walaupun begitu badan nya masih tetap wangi.
Maira yang kagum menatap tubuh suaminya menghampirinya.
"Mas diam saja di situ biar aku ambilkan. Mas mau pakai baju mana biar aku tidak salah ambil. " Ucap Maira yang baru datang ke kamar.
Andra pun hanya mengiyakan karena badan nya masih lemas. Andra menunjuk pakaian yang ingin iya kenakan dan Maira mengambil kan nya.
"Ini mas" Menyerahkan pakaian "Eh tunggu sebentar jangan dipakai dulu " Maira bergegas pergi ke kamar mandi mengambilkan air hangat dan handuk kecil.
Maira duduk samping Andra "Sini mas"
"Untuk apa? " ucap ketus Andra
"Untuk lap lap tubuh mas, memangnya mas tidak gerah kalo hanya ganti baju saja. Sini" memeras kain yang dibasahi nya.
"Tidak usah aku bisa sendiri. " Andra mengambil kain dari tangan Maira dan mengelap-elap tubuhnya. "Nih" memberikan nya pada Maira.
Maira pun menyerahkan handuk kering untuk keringkan badan nya lalu menyerahkan baju kaos yang tadi Maira ambilkan.
__ADS_1
Maira membawa air itu ke kamar mandi dan membuang nya. Dengan penuh rasa sabar dan ikhlas Maira mengurusi suaminya walau perlakuan suaminya begitu.
"Dia sangat baik dan perduli pada ku, Tapi aku tidak bisa memperlakukan nya dengan baik karena itu akan membuatnya merasa nyaman dan jika sudah merasa nyaman akan sulit bagiku membuat dia memutuskan hubungan ini. "