
malam itu pak wijaya turun dari mobil setelah pulang bekerja.
"Pak tarjo apa Harun sudah diantarkan dengan selamat.?"
Tanya pak wijaya pada salah satu supir pribadi keluarganya yang sedang mencuci mobil.
"Ya tuan, sudah saya antar kan sampai tujuan" Jawab pak tarjo membungkuk memegangi lap basah
"Baguslah kalo begitu, saya kedalam dulu. "
Pak wijaya berjalan menuju rumahnya, dia masuk kedalam melihat bi narsih menyiapkan makan malam untuk Maira, dibawanya dalam nampan.
"Bi tunggu sebentar...! " melihat kearah bi narsih yang tidak melihat keberadaanya.
"Eh tuan sudah pulang. "
"Iya bi, apa itu untuk Maira? "
"Iya tuan ini untuk non Maira."
"Kalo begitu serahkan pada Andra" Bi narsih terdiam kebingungan "biarkan Andra yang mengobati Maira" ucap pak wijaya kedua kalinya.
"Baik tuan. saya permisi" bi narsih hendak pergi ke lantai atas setelah mengerti apa yang diucapkan pak wijaya.
"Bi.." teriak kembali pak wijaya menghentikan langkah bi narsih, BI narsih menengok "Ingat kan..!! biarkan Andra mengurusi Maira dia harus bertanggung jawab"
"baik tuan"
Bi narsih melangkah menaiki tangga menuju kamar Andra, Tiba-tiba Andra keluar kamar dan berpapasan dengan bi narsih yang hendak ke kamarnya untuk mengantarkan makan malam.
"eh den, ini bibi bawakan makan malam untuk non Maira, karena ini sudah waktunya non Maira minum obat" Ucapnya sambil melihat Andra yang lebih tinggi darinya ditambah posisinya yang berada di tangga lebih bawah.
"Oh ya bi, Bibi masuk aja ke kamar" Andra hendak pergi meninggalkan bi narsih
"Tapi den, tuan ingin den sendiri yang memberi obat pada non Maira" kata itu membuat Andra berhenti, berdiri melihat kearah pak wijaya yang masih berdiri menatapnya. "Ya bi bawa saja dulu ke kamar, nanti biar Andra yang memberikan obatnya pada Maira" Ucap Andra pada bi narsih.
Bi narsih menuruti apa yang di perintahkan Andra padanya, bi narsih pergi menuju kamar.
Andra menghampiri ayahnya, berdiri berhadapan.
"Andra ayah harap kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, dan ayah juga berharap kamu tidak mengecewakan ayah. Rawat dan jagalah Maira dengan baik."
"Ya Andra akan menjaga Maira "
__ADS_1
"Bagus kalo begitu, Ayah pergi dulu ke kamar" pak wijaya berbalik badan, ingin melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun terhenti ketika Andra berbicara kembali.
"Oh ya, Terimakasih sudah perduli dengan ku, karena ayah aku tau sifat asli andini. "
pak wijaya membalikan badannya, dan tersenyum tanpa berkata-kata.
"Ayah dia memanggilku ayah" dalam hati
Andra pergi ke dapur mengambil sesuatu untuk diminumnya lalu kembali ke kamar.
Pak wijaya menatapnya sampai Andra benar-benar pergi ke kamarnya.
Disisi lain Maira yang diam duduk di kasur sambil membaca sebuah buku novel.
tok. tok. tok. "boleh bibi masuk non"
"Oh ya silahkan bi, " Maira Menyimpan buku yang sedang dibacanya dan tersenyum melihat narsih yang menghampiri nya.
"Maaf mengganggu non, ini sudah waktunya non minum obat." Menyimpan nampan dimeja.
"Iya bi makasih, maafin Maira ya sudah merepotkan bibi. "
"Iya non tidak apa-apa, bibi tidak repot ko. eh non mau apa? " tangan nya reflek memegang tangan Maira yang hendak mengambil piring dimeja
"Maaf non hari ini bibi tidak bisa suapin non, Soalnya pak wijaya suruh bibi mengantarkan saja . Tunggu sampai den Andra datang ya,.. "
"Ya Allah bi kalo sekedar makan saja Maira bisa lakukan sendiri, makasih ya.. " Maira mengambil piring itu dan berdoa untuk memakan nya.
"Tapi non,"
"Mm alhamdulillah enak banget bi"
Bi narsih hanya bisa pasrah, karena itu keinginan Maira.
Selesai makan Maira meminum obat tersebut. Lalu datanglah Andra.
"Den, "
"Biar saya saja bi, bibi bisa kembali kebawah"
"Baik den non Maira sudah makan dan minum obat tinggal lukanya yang belum diobati"
"Ya sudah biar saya saja"
__ADS_1
Deg seketika membuat jantung Maira berdebar, karena mengobati lukanya mengharuskan Maira membuka cadar dan hijabnya.
"baik den bibi permisi"
Maira terdiam mematung.
Andra mengambil salep "Mana lukanya biar aku obati..! " Ucap Andra membuat Maira melihat kearahnya, apa benar suaminya akan mengobatinya dan dia harus membuka cadar dihadapan Andra untuk pertama kalinya.
"Ada apa? Kamu tidak ingin aku mengobati mu,"
"Tidak bukan seperti itu mas" jawab Maira menundukkan pandangannya
"oh ya Aku tau, kamu tidak ingin membuka hijab mu didepan ku, Dengar aku hanya.. .. " belum selesai Andra bicara "Tidak mas" Maira menarik tangan Andra agar Andra duduk disampingnya, Lalu Maira membuka cadarnya perlahan "Aku ini sudah menjadi milikmu mas, tidak ada larangan untuk mas melihat wajah ini" Maira tersenyum setelah dia membuka cadarnya.
(Subhanallah betapa cantiknya Maira) Sampai Andra terpesona melihat nya. Sebenarnya ini kedua kalinya Andra melihat wajah Maira, hari pertama pada saat Maira koma selesai operasi. mulutnya menggunakan oksigen membuatnya tidak mengenakan cadar.
Tapi hari ini pertama kali Andra bisa benar-benar melihat kecantikan Maira, Apalagi saat itu Maira tersenyum dengan manis.
Maira bergeser memutar tubuhnya membelakangi Andra untuk membuka hijabnya.
Andra masih terdiam membayangkan wajah cantik yang dilihatnya.
Maira membuka hijabnya, memperlihatkan luka di kepala yang belum benar-benar kering.
Andra mengolesinya dengan salep perlahan, "Apa sakit. jika sakit bilang saja"
Maira hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Andra diam-diam memandangi Maira dari balik kaca, mungkin Andra masih penasaran dengan wajah cantik yang benar-benar tanpa hijab itu.
"Terimakasih mas" ucap Maira sambil mengenakan kembali hijabnya.
"ah iya, sama sama" dengan salting menyimpan salep di meja lalu berdiri "Sepertinya aku ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Andra langsung pergi mengambil laptop menuju teras kamar tanpa melihat Maira kembali.
Maira saat itu belum mengenakan cadarnya, "Apa mas Andra masih belum melupakan andini, sampai dia masih tidak ingin melihat wajahku" bicara hati Maira dengan raut wajah sedikit sedih.
"Aduh apa-apaan ini, kenapa dengan aku ini. Bisa-bisanya aku terus menatapnya" Andra yang sedang duduk berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan nya.
Andra membuka laptop, Lagi-lagi Andra melihat sosok Maira yang tersenyum itu. "Astagfirullah ini tidak benar. " Andra menutup laptop nya lalu masuk kembali ke kamar. "Ah mungkin aku kecapean, harus segera istirahat"
Maira yang masih duduk setelah selesai mengenakan cadar kembali, melihat Andra yang berjalan menuju sofa dan tertidur dengan menutup kepalanya dengan selimut. "kenapa mas Andra tidur, bukanya dia bilang masih ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan. " Maira berpikir kebingungan "mungkin saja sudah selesai" Maira pen tidur dengan posisi menyamping.
Hai reader, dukungan nya dong kalo udah baca like jika suka, komen, beri author hadiah juga.
__ADS_1
terimakasih.